Aaah ... tempat 'berhenti' sejenak ntuk mikir-mikir mau dibawa kemana sih hidup ini ... :-)
Wednesday, June 07, 2006
Kajian 8 Juni 2006
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkannya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). QS An Nahl 65.
Tuesday, June 06, 2006
Apakah Kita Dogmatis?

Apa ya dogmatis itu? Mudah-mudahan ini artinya .. mempercayai secara membabi-buta, tanpa dasar (akal) yang valid. Ini menyangkut pernyataan Cak Min (nama beliau Minarwan, tapi berhubung udah kenal lama di dunia nyata, panggilan akrab beliau adalah Cak Min .. :) ) mengenai keterbatasan otak kita dalam menyikapi hidup ini. Contoh paling gress ialah musibah gempa di Yogya.
Saya kurang tahu persis, tapi rasanya para ilmuawan besar (pake contoh ilmuawan soale Cak Min lagi asyik menuai ilmu lagi di kampus) di dunia ini juga akhirnya menyadari kebatasan otaknya dalam menyikapi hidup ini. Saya sendiri dulu pernah kuliah di Fisika (entah kenapa sekarang sekarang terdampar di belantara blog hehehe) jadi sedikit banyak pernah bergelut dengan hal-hal yang teoritis, yang bikin puyeng ... :-P
Ketika kita telusuri alam ini, semakin dalam kita di dalamnya, semakin takjub kita pada kerumitan dan pesonanya. Semakin kita kaji, semakin kita terpukau pada penciptaan alam ini, bagaimana segala sesuatu yang diatur sedemikian rupa. Sebagian pengaturan ini menghasilkan sesuatu yang (menurut otak kita) cocok seperti peredaran planet-planet mengelilingi matahari. Namun sebagian pengaturan ini pun membentuk sesuatu yang nalar kita tak sanggup memahaminya seperti apakah alam semesta itu diciptakan oleh satu letusan besar (Big Bang) atau bagaimana?
Semakin kita pelajari, semakin banyak faktor-faktor ketidakpastian dalam hal-hal yang menurut otak kita, nalar kita pasti sifatnya. Seperti contoh istilah benda padat, apakah sesungguhnya itu benda padat? Cahaya, apakah itu cahaya? Bagaimana dengan teori relativitas Einstein yang jelas-jelas menggugurkan teori dan hukum-hukum alam yang sebelumnya sudah berlaku?
Pernah melihat ilustrasi gambar-gambar dari teori relativitas? Kalau ya, tentunya kita sepaham bahwa mata dan otak kita ternyata menipu kita.
Kalau tidak salah Einstein pernah berkata, "Science without religion is blind, religion without science is lame" (Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh). Menurut saya ini adalah pengakuan Einstein bahwa otak ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penciptaan alam semesta ini.
So, dengan uraian yang disederhanakan di atas, apakah kita masih meyakini bahwa otak kita sanggup mencerna semua hal di hidup ini? Apakah kita masih percaya bahwa otak kita ini merupakan satu-satunya sumber kita dalam mempercayai sesuatu?
Bersambung ....
Kajian 6 Juni 2006
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS An Nahl 64.
Thursday, June 01, 2006
Kuat Tapi Lemah

Dalam salah satu pelatihan motivasi yang saya ikuti (sebenarnya baru 2 kali saya ikut pelatihan motivasi he3x) salah satu prinsip dasar yang diajarkan ialah konsep bahwa kita semua ini adalah sang juara. Kita semuanya sebenarnya punya kekuatan dan ketahanan mental yang hebat untuk menghadapi hidup ini.
Kali ini saya tidak membahas mengenai pelatihan itu, tetapi bagaimana kalau kita tilik prinsip ini dengan memasukkan unsur Sang Maha Pencipta?
Ketika ruh kita dihembuskan, Tuhan pasti sudah punya rencana pada kita. Jika tidak, buat apa kita dijadikan .. diwujudkan. Dalam Islam jelas disebutkan bahwa tujuan manusia adalah menjadi pemimpin di muka bumi sekaligus sebagai hamba Tuhan. Juga dijelaskan bahwa semua masalah yang kita hadapi tidak di luar batas kemampuan kita, semua sudah ditakar dan kita seharusnya sanggup mengatasi itu semua.
Kita dijadikan sebagai pemimpin. Kita dibekali segala sesuatu yang kita perlukan untuk mengarungi, memimpin, dan memenangkan hidup ini. Itulah kenapa sejak di kandungan kita berjuang. Kita berjuang dalam kandungan, berjuang untuk lahir, berjuang untuk menangis. Berjuang dengan belajar di TK, SD, SMP, SMA dan seterusnya dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Kita berjuang menjadi manusia. Kita berjuang ketika menjadi pegawai atau pengusaha. Kita berjuang ketika menjadi anak, suami/istri, ayah/ibu. Kita jatuh, jatuh, dan jatuh. Tapi kita bangun, bangun, dan bangun ... tanpa kita sadari. Kita nikmati kelebihan kita dan kita ikhlaskan kekurangan kita.
Sebagai seorang insan manusia, kita adalah pemimpin dan pemenang hidup ini.
Namun, ternyata di balik kekuatan itu, kita sebenarnya adalah makhluk yang lemah. Tiada daya usaha kita yang akan berhasil tanpa ridhoNya. Kita berusaha, tapi Ia-lah yang menentukan hasilnya.
Naluri kita pun menyatakan bahwa kita memerlukan suatu zat, suatu kekuatan tempat kita bersandar, baik di kala senang apalagi di kala susah. Zat tempat kita ’melampiaskan’ kesenangan, tempat kita merendahkan diri memohon, tempat kita menangis ketika kesulitan tak kunjung reda.
Sebagian orang mencari pada tempat yang salah, pada hal-hal yang fana. Sehingga ketika hal yang fana itu sirna, mereka pun tergagap dan berusaha mencari pegangan yang lain. Sementara sesungguhnya tempat bersandar yang sebaik-baiknya ialah Tuhan Yang Maha Kekal.
Kita adalah pemimpin dan pemenang hidup ini, sekaligus kita adalah makhluk yang menghambakan diri pada Tuhan Yang Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sangat kontradiktif namun harmonis, kekuatan saling bersahutan dengan kelemahan ...
Ya Tuhan ... hanya kepadaMu-lah aku berlindung dan memohon pertolongan ...
Kajian 1 Juni 2006
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepda mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). QS An Nahl 55.
Wednesday, May 31, 2006
Tujuan Akhir, Apakah Itu Nyata Atau Abstrak?

Melanjutkan lamunan kemarin, semakin jauh kita melangkah, rasanya semakin ’jauh’ titik akhirnya. Atau mungkin lebih tepat lagi titik itu semakin mengabur dengan perjalanan itu sendiri.
Ini jadi tepat dengan pemikiran saya kalau kepemimpinan pada akhirnya bukanlah suatu tujuan tapi proses atau perjalanan ke tujuan itu. Agak abstrak ya?
Memang abstrak. Agak sulit membayangkan kalau kita tidak menjalani jalur ini. Seperti kata Morpheus (kira-kira hehehe) di film Matrix, ”It is not about knowing the path, it is about walking the path”.
Meneruskan soal film Matrix, saya lupa-lupa ingat. Apa ya endingnya? Bahwa segala sesuatu itu relatif, tidak ada yang pasti/absolut? Bahwa hidup ini harus berjalan dengan berbagai konsekuensinya dan masing-masing kita punya peranan masing-masing? Seperti Dunia ini Sandiwara-nya God Bless? (hehehe dari Matrix melenceng ke God Bless)
Di sini saya berbeda. Menurut saya akhir yang nyata, titik akhir yang sebenarnya adalah kembalinya kita pada Prima Causa, Sebab Utama alam dan kehidupan ini. Tiada lain tiada bukan Allah SWT.
Untuk apa kita hidup di dunia ini? Kenapa kita musti hidup? Apa tugas kita dalam hidup ini? Siapakah yang paling kuasa? Apa tempat bersandar yang sebaik-baiknya?
Abdullah artinya hamba Allah. Menurut saya inilah pernyataan mendasar mengenai hidup ini. Kita diciptakan atas kehendakNya, kita diberikan tugas dalam hidup ini sebagai pemimpin di muka bumi, dan hanya kepadaNya lah kita mengharapkan segala kekuatan dalam mengemban tugas ini.
Tujuan hidup kita adalah untukNya, maka kecintaan kita yang utama pun hanya padaNya. Seperti kata anak-anak ABG kepada pacarnya, ”Gue nggak bisa hidup tanpamu ...”, begitulah perasaan kita padaNya.
Aaah ... melamun kian kemari ... besok lanjutkan lagi ya ... :). Ada komentar?
Kajian 31 Mei 2006
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. QS An Nahl 53.
Tuesday, May 30, 2006
A Leader, Is It a Destination or a Journey?

Pertanyaan ini muncul di benak saya ketika sedang mengobrol dengan teman kantor. Pembicaraannya seputar bagaimana menjadi seorang leader atau pemimpin.
Pada awal pembicaraan saya menggambarkan di benak saya tahap-tahap yang harus dilakukan dan dilalui sebelum seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun lambat laun, saya jadi tercenung sendiri, “Apa akhirnya kita akan menjadi seorang pemimpin?"
Menurut saya, yang terjadi ialah kita adalah seorang murid. Seorang pelajar. Kita belajar dan belajar. Kita senantiasa dalam suatu perjalanan. Banyak cabang. Banyak yang buntu. Mendaki. Menurun. Hujan. Cerah. Badai. Gelap. Senang. Susah. Bahagia. Gembira. Berbagai hal silih berganti, namun satu hal yang pasti, kita senantiasa dalam perjalanan.
Banyak yang kita bisa pelajari dan ambil dalam perjalanan, banyak pula yang bisa hilang dan lenyap. Semakin jauh, semakin banyak yang kita dapat atau yang hilang dari kita.
Inilah mungkin yang membedakan apakah kita makin mendekati sosok seorang pemimpin atau tidak. Terlepas dari bentuk perjalanan itu – mendaki, menurun, cerah, badai – semakin banyak yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya, rasanya semakin dekatlah kita pada sosok seorang pemimpin. Namun semakin sering kita mengutuk perjalanan ini, menyesalinya, tidak mau belajar dari padanya, semakin jauhlah kita dari sosok itu.
Apakah kita akan pernah mencapainya? Mencapai suatu titik dimana kita bisa menganggap diri kita sebagai seorang pemimpin?
Rasanya tidak akan pernah. Semakin jauh kita berjalan, semakin jauh titik itu rasanya. Namun karena makin banyak yang didapat dan masih bisa dipelajari, rasanya perjalanan ini tidaklah merugikan, membosankan, ataupun membuang waktu. Meski curam, hujan, badai, gelap, perjalanan rasanya tetap ceria.
Apakah selalu begitu? Namanya manusia, pasti ada titik-titik dimana semangat berada pada posisi terendah. Di sinilah pentingnya penghambaan padaNya, ketika seluruh kekuatan dalam melewati perjalanan itu senantiasa bersandarkan pada pengakuan pada Zat Yang Maha Kuasa. Yang berujung pada keikhlasan.
Saya pun tercenung lagi ... alhamdulillah, pemikiran di atas kembali menguatkan hati dan semangat menyusuri hidup ini. Bismillah ....
Kajian 30 Mei 2006
Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertaqwa kepada selain Allah? QS An Nahl 52.
Monday, May 29, 2006
Satu Tahun Umurku ....

Tak terasa blog ini sudah berumur 1 tahun. Artikel/tulisan/kutipan/dll sebagai 440 buah, hits sebanyak 7260, alhamdulillah. Apapun hasilnya, patut disyukuri ... :)
Cuma belakangan ini kok susah banget ya ngisinya. Bukan cuma itu ... mampir ke blog teman-teman juga jarang banget. Sibuuuuuuk melulu ... hobi baruuuuu melulu ....
Payah ya ...
Sunday, May 28, 2006
Bencana Gempa Djogyakarta dan Sekitarnya
Tuesday, May 23, 2006
Hubungan Segi Tiga

Hubungan Segi Tiga
Arvan Pradiansyah - Swa Majalah
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini seorang bijak memasuki sebuah pasar. Namun, ia tidak menemukan lelaki tua yang setiap pagi selalu menyambutnya dengan kata-kata hinaan. Dari orang-orang di pasar, orang bijak ini mengetahui bahwa si lelaki tua sedang sakit. Ia kemudian memutuskan membesuk lelaki ini di rumahnya.
Ketika ditanya orang mengapa ia berbuat baik pada orang yang telah memperlakukannya dengan tidak hormat, ia hanya berkata singkat, “Ini bukanlah persoalan antara aku dan lelaki itu. Ini adalah urusanku dengan Tuhanku.”
Para pembaca yang budiman, bagaimana pendapat Anda mengenai perbuatan si orang bijak?
Inilah yang saya sebut sebagai ”hubungan segi tiga”. Dan inilah paradigma yang lebih lengkap dalam mencermati hubungan antarmanusia. Dalam tataran yang lebih komprehensif, tidak pernah ada hubungan yang terjadi semata-mata antara kita dan orang lain. Apa pun yang terjadi antara kita dan orang lain senantiasa melibatkan pihak ketiga, yaitu Tuhan. Dalam situasi sehari-hari, kita mengingat hubungan segi tiga ini hanya dalam waktu-waktu tertentu seperti perkawinan. Dua orang manusia yang menikah bersaksi dan berjanji di hadapan Tuhan. Namun, situasi ini sering kita lupakan dalam keseharian kita yang lain. Padahal, peristiwa pernikahan tersebut juga berlangsung setiap saat dalam kehidupan kita. Tak pernah ada perbuatan yang tidak mengikutsertakan Tuhan. Kita tak akan pernah dapat mengatakan, ”Ini cuma antara saya dan Anda.” Karena apa pun kondisinya, kita akan selalu berhadapan dengan hubungan segi tiga ini.
Konsekuensi kenyataan ini adalah bahwa apa pun yang kita lakukan pada seseorang pastilah akan kita pertanggungjawabkan pada orang tersebut dan Tuhan. Bahkan, pertanggungjawaban kepada Tuhan sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang pertanggungjawaban kita kepada yang lain.
Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, sering ada bagian dari kita yang menyuruh kita membalas kejahatan itu. Setiap aksi memang sering menimbulkan reaksi. Setiap stimulus pasti akan menghasilkan respons. Namun bila Anda memahami hubungan segi tiga ini, Anda akan memberikan respons yang berbeda. Bahkan, Anda akan merasa bahwa antara stimulus dan respons seolah-olah tidaklah memiliki hubungan. Orang-orang yang seperti ini sebenarnya telah mencapai puncak spiritualitas. Mereka hidup seperti Eknath Easwaran, spiritualis asal India, yang mengatakan, ”Saya tidak lagi hidup dalam dunia stimulus dan respons setiap hari, tetapi saya hidup di dunia kebebasan.”
Pemahaman terhadap adanya hubungan segi tiga ini akan benar-benar mengubah hidup Anda. Ketika ada orang yang menipu, memfitnah, menggosipkan dan berbuat jahat kepada Anda, Anda tidak akan membalas kejahatan itu dengan kejahatan yang sepadan. Ini karena Anda sadar sepenuhnya bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan Anda dan bahwa melakukan kejahatan akan merusak hubungan Anda dengan Tuhan. Anda sadar sepenuhnya bahwa membalas perbuatan jahat tidak ada hubungannya dengan perbuatan jahat itu sendiri. Anda tak membalas bukanlah karena Anda tak dapat melakukannya, tetapi karena Anda sadar bahwa Tuhan melihat Anda. Anda tak ingin sedikit pun mengecewakan Tuhan. Lebih jauh lagi, Anda tak ingin merusak harkat dan martabat Anda sendiri dengan membalas perbuatan jahat tersebut. Anda sama sekali tak ingin mencederai jiwa Anda dengan perbuatan yang akan senantiasa Anda sesali.
Pemahaman terhadap hubungan segi tiga akan membuat Anda mampu menjaga segala perbuatan Anda. Bahkan, seandainya Anda merasakan keinginan yang menggelegak untuk membalas kejahatan tersebut, pasti ada suatu kekuatan dari dalam jiwa Anda sendiri yang akan mengambil alih semua keresahan Anda dan kemudian menenangkan Anda kembali.
Saya ingin menutup tulisan saya kali ini dengan sebuah untaian kata yang sangat mencerahkan dari Ibu Theresa. Cobalah Anda baca dan resapi ungkapan yang luar biasa berikut ini, yang mampu membuat saya tergetar setiap membacanya.
”Orang kerap tak bernalar, tak logis dan egois. Biarpun begitu, maafkanlah mereka.”
”Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biarpun begitu, tetaplah bersikap baik.”
”Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biarpun begitu, tetaplah meraih sukses.”
”Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biarpun begitu, tetaplah jujur dan berterus terang”.
“Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam. Biarpun begitu, tetaplah membangun.”
“Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri. Biarpun begitu, tetaplah berbahagia.”
“Kebaikan yang engkau lakukan hari ini sering bakal dilupakan orang keesokan harinya. Biarpun begitu, tetaplah lakukan kebaikan.”
“Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup. Biarpun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.”
“Ketahuilah, pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan; tak pernah antara engkau dan mereka.”
Kajian 23 Mei 2006
Allah berfirman, "Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." QS An Nahl 51.
Silaturahmi ke Dalam Hati

Silaturahmi ke Dalam Hati
Gede Pramana
Ada seorang sahabat dengan nama Sudomo yang baru pertama kali mengunjungi Jepang. Di tempat dia memulai kunjungan kerjanya, setiap orang yang disalami menyebut kata ‘doomo’ sambil merunduk sedikit. Heran dengan keramahan orang Jepang ini, kemudian sesampai di Indonesia ia bertutur amat antusias : ‘Orang Jepang tidak hanya ramah, tetapi semuanya menyebut nama saya dengan sopan santun yang amat tinggi’. Anda yang mengerti bahasa Jepang, tentu tersenyum dengan cerita kecil ini, karena doomo singkatan dari doomo arigatoo yang berarti terimakasih.
Lain Jepang lain juga dengan tanah Sunda. Tidak kalah ‘ramah’-nya dengan orang Jepang, orang Sunda bahkan memberikan sesuatu kepada siapa saja yang bersilaturahmi. Begitu Anda menyebut kata punten, pasti tuan rumah menjawab mangga. Namun jangan harap mangganya akan datang kemudian, karena ia berarti silahkan. Sahabat saya Dedi Gumelar (Miing) pernah bertutur sejarah dalam canda. Dulu, ketika Belanda mau datang menjajah Sumatera Barat, semua pasukan pada ketakutan kendati membawa senjata lengkap. Ternyata, masih menurut Miing yang punya seribu cara untuk mengocok perut, tentara Belanda amat ketakutan dengan rumah orang-orang Sumbar yang lancip-lancip. ‘Kalau rumahnya saja demikian lancip, bagaimana dengan pedangnya ?’.
Tertawa ataupun tidak terhadap cerita silaturahmi di atas, Anda dan saya sama-sama punya kewajiban untuk melakukan silaturahmi. Dalam dunia bisnis, ia disebut bagian dari net working. Dalam dunia politik, ia adalah oli pelicin banyak urusan. Dalam dunia penyembuhan, silaturahmi yang tepat adalah bagian dari proses penyembuhan yang meyakinkan. Dalam dunia sosial, ia kerap diberi stempel katup-katup pengaman yang mengurangi resiko peledakan-peledakan yang mendadak dalam masyarakat manapun. Dalam dunia cinta, ia adalah rangkaian usaha menggali sumur-sumur cinta dalam rangka menemukan kejernihan.
Apapun bidangnya, dan bagaimanapun caranya, silaturahmi tetap sebuah sarana yang menyejukkan. Mungkin saja ia menyejukkan yang dikunjungi, tetapi ia lebih menyejukkan sang pengunjung. Masih jelas tergambar dalam memori, ketika dalam beberapa hari menjelang lebaran, saya memaksa diri untuk memberikan sarung dan peci kepada seorang tukang potong rumput yang telah lama menjengkelkan karena tidak melakukan kewajibannya. Ketika saya datang, ia tampak terkejut. Mungkin karena dikira saya akan memarahinya. Namun ketika senyum saya diikuti oleh sarung dan peci, sinar mukanya berubah. Saya tidak tahu perasaannya, tetapi ada beban perasaan yang mengganjal di dalam diri, yang tiba-tiba hilang melalui kegiatan silaturahmi sambil memberi ini.
Di hampir setiap minggu, selalu saja saya sempatkan untuk bersilaturahmi ke teman-teman dekat melalui SMS. Begitu dikunjungi rasa malas sebentar – terutama karena kesibukan yang menggunung – ada tidak sedikit teman yang protes sambil marah-marah : ‘mana SMS-nya ?’. Ketika jari-jari ini menekan nomer-nomer dan nama-nama yang layak dikirimi pesan SMS hari itu, ada semacam keengganan untuk mengirimi orang-orang yang baru saja sempat menyakiti hati ini. Tetapi karena tidak mau hidup mewah ala anak kecil – yang hanya mau bermain dengan orang-orang yang disukai – tetap saya paksa diri ini untuk mengirimkan SMS ke semua teman. Dan begitu orang-orang yang menyakiti hati ikut terkirimi pesan, ada bagian dari hati ini seperti habis dibersihkan.
Inilah yang saya sebut dengan silaturahmi ke dalam hati. Mungkin saja ada orang lain yang memperoleh kesejukan dari sini. Tetapi, kesejukan di dalam hati ini sudah pasti hadir ketika kita berani mengungkapkan pesan-pesan hati kepada orang-orang yang juga membenci kita. Di dunia ini memang tersedia banyak racun dan senjata yang siap membunuh siapa saja. Namun, ada sarana penetral racun dan senjata yang tidak menimbulkan luka dan kebencian baru, ia bernama hati. Secara fisik ia berlokasi di sebelah bagian dada, secara spiritual hati berlokasi dekat ulu hati. Mirip dengan organ-organ yang lain, hati juga memerlukan stretching. Demikian juga dengan hati spiritual. Hazrat Inayat Khan dalam The Heart of Sufism pernah menulis : ‘By stretching the heart and making it large and larger, you turn your heart into the sacred Book’. Dengan kegiatan peregangan, hati bisa menjadi tambah besar dan lebar. Kalau itu terjadi, kita sedang merubah hati menjadi sebuah buku keramat.
Nah silahturahmi ke dalam hati, terutama dengan cara melawan kemewahan anak-anak yang hanya mau berbagi ke orang-orang yang memuji, adalah sejenis peregangan (stretching) yang bisa membuat kita memiliki sebuah buku keramat di dalam diri. Bedanya dengan buku-buku biasa yang harus dibaca dan dihafal serta dihayati, buku keramat ini dibacakan ketika dibutuhkan, ditanamkan ketika kita mengalami pendangkalan, dan bersuara seperti kita membawa inner teacher ke mana-mana.
Ada banyak sahabat yang bertanya - bahkan tokoh bisnis sekaliber Pak Ciputra pernah bertanya ke saya tentang indahnya meditasi - bagaimana semua itu bisa terjadi ? Inilah rumitnya orang-orang yang mau penyelesaian instan tanpa biaya. Ada semacam proses purification of mind yang lama dan panjang serta berharga mahal. Lama dan panjang karena tidak pernah bisa dilakukan secara cepat dan instan. Orang-orang sekaliber Jelaludin Rumi dan Rabindranath Tagore bahkan melalui serangkaian jalan panjang yang berbelok, berbatu dan bahkan berbahaya. Mahal harganya, karena seringkali menuntut pengorbanan yang tidak kecil. Untuk alasan inilah, maka kerap saya dikira aneh oleh keluarga dan kerabat dekat. Mundur dari jabatan tertinggi ketika orang lagi susah-susahnya mencari kerja. Pergi bertapa dalam keheningan dengan meninggalkan tidak sedikit materi, ketika orang kelangkaan materi.
Tidak disebut gila saja sebenarnya sudah untung. Namun, seorang sahabat produser tawa dan canda menyebut gila sama dengan gede itunya loyo anunya. Dan ini adalah sejenis silaturahmi ke dalam dunia canda bukan ?
Sunday, May 21, 2006
Selamat Menempuh Hidup Baru untuk Mas Tom!

Selamat untuk Mas Tom yang pagi ini telah melangsungkan akad nikah dan walimahnya. Mohon maaf cuma bisa datang pas akad nikah karena masih ada undangan walimah yang lain .. :)
Atas nama keluarga kami mendoakan, "Mudah-mudahan Allah memberimu berkah. Mudah-mudahahan Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mudah - mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam kebajikan."
Wednesday, May 17, 2006
Maap ya ...

Minggu ini benar-benar harus berjuang ... tetap fokus dengan pekerjaan yang menumpuk. Ya beginilah rezekinya. So, dear blog, mohon maap ya ... minggu ini nggak bisa ngisi apa-apa ... ya mudah-mudahan gambar gunung di lokasi perkebunan teh Puncak ini bisa menghibur dan menyejukkan hati dan kepala ... :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
