Thursday, July 06, 2006

Kata Tasya, "Libur tlah tiba ..."



Ya .... saatnya berlibur. Lupakan semua beban pekerjaan ... buang semua itu ... saatnya berhenti, istirahat, refleksi, dan menikmati waktu bersama keluarga. So, undur diri sejenak ya teman-teman dan especially sang-blog ... :). Tentunya kalau ada yang menarik dan di tempat liburan ada akses internet, mudah-mudahan saya diberikan kesehatan, semangat, dan waktu untuk menulis ... ^_^

Yang benar-benar lucu (sekaligus memprihatinkan) ialah ketika tadi sore saya menjinjing tas laptop, menutup pintu kantor, dan berjalan menyusuri jalan keluar kantor, saya merasakan kebebasan yang luar biasa. Mungkin seperti orang yang baru keluar dari penjara kali ya? Lebih jauh lagi, ketika tubuh sudah menjejak keluar dari ruangan AC, udara luar itu segaaaaar banget rasanya ... benar-benar seperti orang yang habis ditahan sekian lama ....

Tahun ini perjuangannya memang berat ... berat sekali ...

'Peperangan' Yang Mengecewakan ...


Gambar dari http://fifaworldcup.yahoo.com


Benar kata Fitra, ini blog lama-lama jadi harian Bola hehehe ... nggak papa, tokh tinggal 2 pertandingan lagi ... :-P

Pertandingan Perancis vs Portugal dini hari ini buat saya cukup mengecewakan. Serasa menonton pertandingan di babak penyisihan. Jauh kalah kelas dibandingkan Jerman vs Argentina atau Perancis vs Brazil. Padahal udah bela-belain bangun jam 2 pagi hari ...

Bagaimana pertandingannya? Entah kenapa kali ini Perancis tidak seagresif seperti sewaktu melawan Brazil. Bola-bola juga tidak terlalu dipusatkan ke Zidane, sebagian malah berupa umpan-umpan panjang. Memang lini tengahnya tetap hebat seperti sebelumnya. Pinalti Zidane sangat cantik, dia nggak perlu ambil ancang-ancang, cukup 2 langkah di belakang bola. Man of the match menurut saya adalah Lilian Thuram. Sangat efektif dan efisien dalam menangkal penyerang Portugal. Tacklingnya juga bersih. Belum lagi daya jelajahnya yang luar biasa ... jempol banget! Padahal udah veteran ya seperti Zidane. Titik lemah Perancis yang saya sudah lihat dari beberapa kali pertandingan adalah sang penjaga gawang, Barthez. Itu yang namanya nangkap nggak pernah lengket ... untung dia nggak terlalu ceroboh untuk keluar dari gawangnya dan kualitas pertahanan Perancis yang memang bagus.

Portugal? Cuma mengesankan di 20 menit pertama. Selebihnya mereka seperti kehilangan akal untuk menembus lahan pertahanan Perancis. Aksi-aksi Ronaldo sebenarnya sangat efektif untuk menggoyang Thuram dkk, tapi entah kenapa setelah 20 menit pertandingan ia berhenti melakukan hal itu. Kekecewaan saya terhadap Ronaldo adalah seperti kekecewaan pada Brazil. Dia punya bakat dan kemampuan yang luar biasa. Tapi entah kenapa selalu terlihat seperti main-main di lapangan, cuma mau memperlihatkan kemampuan dribblingnya saja ...

So, Perancis vs Italia di final. Hmmm .... mudah-mudahan puncak dari pesta piala dunia ini ... :)

Wednesday, July 05, 2006

Kekecewaan dan Batu Bata



Kekecewaan adalah bagian dari perjalanan hidup ini. Mulai dari hal yang paling remeh sampai yang hal-hal yang fundamental. Kecewa karena atasan tidak memenuhi permintaan kita, kecewa karena pasangan kita tidak sesuai harapan kita, kecewa pada pengguna lalu lintas yang amburadul, kecewa pada petugas kebersihan kantor yang kurang rapi, kecewa pada pemerintah, kecewa ini ... kecewa itu ...

Yang mungkin menjadi pertanyaan, apakah kita akan larut dalam kekecewaan ini? Apakah kita akan melepaskan segala kekesalan ini pada apa saja, terutama yang berada di sekitar kita maupun dalam lingkup pengaruh kita? Atau bagaimana?

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan ceramah pagi dalam perjalanan ke kantor. Sang penceramah memberikan ilustrasi kekecewaan ini seperti tumpukan batu bata yang menghalangi jalan ataupun kegiatan kita. Makin besar kekecewaan ini makin tinggi dan lebar pula tumpukan batu bata ini.

Apa yang kita lakukan menghadapi tumpukan batu bata ini? Mengumpat sebisanya? Menendangnya dengan konsekuensi kaki sakit dan tumpukan ini menjadi terserak tidak keruan? Ngambek? Dendam? Apa pun bentuknya, pelampiasan kemarahan ini ternyata tidak menyelesaikan masalah. Sang tumpukan masih ada di situ ... tertumpuk maupun terserak ....

Menurut beliau yang terbaik ialah menyalurkan emosi ini dengan berbuat yang positif. Apa itu? Yaitu dengan mulai bergerak, memungut 1 buah batu bata dari tumpukan itu dan memindahkannya ke tempat yang tepat dan aman. Banyak sekali batu batanya! Nggak apa-apa, pindahkan saja. Satu per satu. Lambat laun akan makin banyak. Jangan patah semangat, pindahkan saja.

Sambil bekerja, kita berdoa semoga dimudahkan dan semoga orang yang melihat akan tergerak hatinya. Sambil bekerja kita pun mengajak orang lain yang melihat untuk turut serta. Mudah-mudahan dengan aksi ini orang-orang lain yang tadinya mengutuk akan turut tergerak untuk turut beraksi memindahkan batu bata ini.

Cepat atau lambat, seluruh batu bata itu akan terpindahkan ....

Kalau boleh disimpulkan, dalam menghadapi kekecewaan, ada 3 langkah. Pertama, jangan larut dan segera bertindak untuk mengatasinya. Kedua, kita mengajak orang untuk juga tidak larut dan menyingsingkan lengan untuk menyelesaikan masalah ini. Dan ketiga, meminta pertolongan kepadaNya dalam setiap langkah dalam hidup ini, termasuk dalam menghadapi kekecewaan ...

Kajian 5 Juli 2006

Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. QS An Nahl 95.

Gemerincing Piala Dunia ...


Gambar dari http://sportsillustrated.cnn.com


Sejak Senin badan saya sudah tidak enak. Seperti melayang. Mimpi. Lalu kemarin pagi buang-buang air. Akhirnya jam 11 pagi saya pulang. Tidur. Istirahat. Nonton bola? Nggak ah ... dari pada sakitnya makin parah. Goodbye dulu untuk Piala Dunia ... :). Padahal Jerman vs Italia ya ....

Pagi ini bangun mau subuh, eh pertandingannya belum selesai! Akhirnya Italia menyarangkan 2 gol ke gawang Jerman. Pada menit-menit terakhir. Luar biasa ...

Apa saya menyesal Jerman kalah? Nggak juga ... :) Buat saya pribadi, Jerman sudah menunjukkan bagaimana sebuah tim yang biasa-biasa saja, jika dikelola dan dibangun dengan seksama dan penuh semangat, dapat menjadi suatu tim yang luar biasa. Baik fisik maupun mental.

Apalagi baca ulasan pertandingannya di internet, ternyata cukup seru ya. Kedua belah pihak pantas jadi pemenang pertandingan ini. Wong sampai perpanjangan waktu segala. So, saya kira Jerman sudah mempersembahkan yang terbaik bagi kancah sepak bola dunia (bagaimana PSSI? hiks ...)

Kemenangan bukanlah tujuan akhir. Perjalanan itu yang harus menjadi tujuan. Kalau kata Aa Gym (kalau nggak salah lho ..), "Yang seharusnya itu bukanlah menjadi yang terbaik, tetapi mempersembahkan yang terbaik ...."

So ... balik lagi, bagaimana nih piala dunia? Sangat-sangat menarik nih. Italia, Perancis, Portugal. Amat sangat menjanjikan pertandingan final yang sangat merangsang dan pantas ditonton .... mudah-mudahan semua diberi kesehatan dan kelapangan untuk nonton finalnya yak!

Monday, July 03, 2006

Foto Album



Alhamdulillah sudah mulai pasang beberapa foto di internet. Tadinya sempat bingung, mau upload dimana ya? Akhirnya coba pakai Picasa-Web. Maklum, blognya ada di google, ngedit foto pakai Picasa, ya simpannya sementara ini di picasa-web dulu deh ... :). Kalau mau lihat, ada linknya di sebelah kiri, di bawah profile. Atau klik ke sini juga boleh ....

Sayang untuk mengomentari foto di picasa-web ini anda harus punya account .... sama seperti situs gratisan lainnya ya ....

Kajian 3 Juli 2006

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lainnya. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. QS An Nahl 92.

Sunday, July 02, 2006

France and Zidane are back!!


Gambar dari http://sportsillustrated.cnn.com


Selamat tinggal Brazil. Anda boleh saja tim terhebat, sayang anda tidak serius di kompetisi ini. Oleh karena itu, memang lebih baik anda pulang lebih awal ....

Nggak sia-sia begadang jam 2 pagi menunggu pertandingan ini. Pertandingan berlangsung sangat menarik, terutama di babak kedua. Saya bukan pelatih bola, tapi kelihatannya Perancis menerapkan strategi yang sama seperti yang dilakukan Argentina terhadap Jerman, merebut lapangan tengah dan tidak membiarkan Brazil berlama-lama memegang bola. Yang berbeda dengan Argentina, ialah meski mereka sudah memasukkan goal lewat Henry (saya baru tahu ngucapinnya 'Anry ...), mereka tidak mengendurkan tekanan hingga pertandingan usai.

Zidane luar biasa! Inilah penampilan playmaker terbaik yang saya sempat lihat di piala Dunia 2006. Distribusi bola sangat tajam dalam mencari peluang, permainan tik-tak 1-2 pemain di lapangan tengah yang mengacaukan Brazil, sampai pada keahlian individualnya yang sangat asyik untuk ditonton. Kemarin Cak Min ngomel soal permainan yang tidak bakal menarik lagi, mudah-mudahan dia sempat lihat pertandingan ini ... :). Kelihatannya mungkin "agak tua" karena seperti lambat dan loyo, tapi di sisi lain merupakan mesin penghancur Brazil. Luar biasa ... !

Penampilan lain yang luar biasa juga ialah oleh Malele (atau Malolo?). Mesin lapangan tengah ini juga ada dimana-mana dengan keperkasaan fisiknya. Menyerang, menghadang, men-tackle ...

Satu kunci kemenangan Perancis menurut saya (lagi-lagi dari mata orang awam) ialah perubahan posisi Henry. Kalau di babak pertama dia sendirian di tengah sebagai target man, pada babak kedua dia mulai sibuk menyerang dari sisi lapangan, dan membuka lapangan tengah untuk para gelandang ... serangan menjadi jauh lebih efektif ....

So ... tinggal Eropa yang bertahan di piala Dunia, bagaimana analisis anda? Yang pasti masih harus begadang lagi nih ... :-P

Saturday, July 01, 2006

Kemenangan yang Berharga ....


Gambar dari http://sportsillustrated.cnn.com


Jerman menang! Luar biasa ... apalagi menyaksikan permainan Argentina yang superior di lapangan tengah. Kalau mau jujur kalau saja tidak ada adu penalti, mungkin Argentina lebih pantas menang. Kekalahan Argentina dimulai seketika seusai gol pertama mereka (aneh memang ... ). Pekerman dan timnya entah kenapa langsung menurunkan tempo permainan, mengganti pemain, dan melepas lapangan tengah. Mereka lupa lawan mereka adalah Jerman yang konsisten, pantang menyerah dan berjuang hingga menit terakhir. Di sinilah latihan fisik, ketekunan, dan disiplin yang diterapkan oleh Klinsmann membuahkan hasil. Yes ... Jerman menang!

Ini mungkin juga jadi bukti bahwa untuk berhasil dalam hidup, kita harus berjuang. Mungkin kita orang biasa-biasa saja. Tapi cari dan temukan kelebihan diri kita. Latih, disiplin, berjuang. Cari, galang teman-teman untuk sama-sama berjuang. Dan puncaknya setelah semua usaha dilakukan, serahkan kepada Yang Maha Kuasa ...

Bangun bung ... perjuangan belum usai!

Thursday, June 29, 2006

Radio Rusak



Pencerahan ini saya dapatkan ketika mendengarkan radio dalam perjalanan pulang. Lupa saya nama radio, yang pasti gelombang FM ...

Sebagian besar dari anda tentunya punya radio sejak dahulu. Mulai dari yang ukurannya gede (en tebal en berat) sampai radio saku. Pada jaman waktu kaset atau CD (apalagi DVD en teman-temannya) belum populer, radio adalah salah satu teman kita dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang biasa kita lakukan ketika radio kita mulai kresek-kresek, suaranya mengecil tiba-tiba, atau suaranya jadi tidak jelas? Biasanya kita tepuk-tepuk kan? Biasanya di awal, dengan tepukan halus di bagian belakang radio, suaranya jadi membaik lagi. Kadang di bagian belakang, kadang pula bagian atas, kadang radionya kita angkat dan goyang-goyang dst dst ....

Semakin parah kondisi radio itu, semakin keras tepukan atau goyangan kita. Kalau perlu digebrak biar bunyi ... hehehe. Kenapa kita lakukan itu padahal kita tahu makin lama style ini akan menyebabkan radio kita makin rusak. Alasannya biasanya sederhana, malas ....

Ketimbang mencari obeng, membuka radio, kemudian mencoba mencari sumber kerusakan, jauh lebih mudah menepuknya. Tokh habis itu bunyi kembali! Apalagi kalau kita termasuk orang yang tidak menyukai mengutak-ngutik elektronik. Udah ... gebuk ... eh tepuk aja ... :)

Makin lama makin rusak, makin lama tepukan menjadi gebukan gemas campur kesal. Dan akhirnya ... rusaklah sang radio itu. Apa yang kita lakukan? Ya biasanya masuk keranjang sampah dan siap-siap beli yang baru ...

===

Apa maksud cerita di atas? Secara tidak sadar mungkin sebagian kita melakukan hal yang sama terhadap anak-anak kita. Ketimbang sibuk mendidik, kita lebih senang memarahi mereka. Lebih praktis dan hasilnya langsung kelihatan.

Namun lambat laun, mereka makin bandel dan kita semakin keras memarahi mereka. Akhirnya? Ya seperti cerita-cerita di sinetron lah, broken home, orang tua berantem terus, rumah seperti neraka, penyesalan yang tak ada gunanya ...... :(

Hikmah cerita di atas ialah kita harus bisa meluangkan waktu bagi anak-anak kita. Memarahi sangat mudah sekali, namun itu sama sekali tidak mendidik. Seperti memelihara radio agar awet, kita harus belajar dan sabar dalam mendidik anak. Jika tidak, situasi kita akan berakhir dengan rusaknya 'sang radio'. Jika radio bisa dibeli lagi, bagaimana dengan anak kita?

Satu pelajaran buat saya sendiri ....

Kajian 29 Juni 2006

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. QS An Nahl 90.

Wednesday, June 28, 2006

8 Besar Piala Dunia


Gambar dari Wikipedia


Akhirnya Piala Dunia memasuki babak 8 besar. Jerman vs Argentina, Italia vs Ukrania, Inggris vs Portugal, dan Brazil vs Perancis. Yang di luar perkiraan saya adalah Spanyol bisa tersingkir ... akhirnya Perancis menunjukkan giginya ya ... :)

Bagaimana dengan anda, apakah anda tetap menunjukkan gigi anda? Hehehe ... maksud saya tetap setia mengikuti dan menonton hiruk-pikuk ini? :)

Kemarin malam saya tidak menyelesaikan menonton Brazil vs Ghana. Kenapa? Badan sudah mulai nggak enak. Biasanya tidur cepat, ini hampir setiap malam sibuk nongkrong di depan TV. Akhirnya semalam saya putuskan untuk tidur setelah babak pertama usai. Daripada besoknya sakit en nggak bisa ke kantor maupun beraktivitas ... harus tahu dirilah ....

Ghana permainannya sangat cantik. Punya ketrampilan di atas rata-rata, mereka dengan nyaman mengontrol bola di daerah pinalti Brazil tanpa rasa ragu dan cemas akan 'dirampas' oleh lawan. Sayang penyelesaian akhirnya kurang tajam. So, Brazil juga yang menang. Meski menurut saya masih kurang maksimal tapi Brazil sudah jauh lebih tajam dari pertandingan sebelumnya. But .... kok kaya'nya gol pertama dan kedua itu berbau offside ya?

Anyhow ... masih 1 1/2 minggu lagi harus (harus nih yeee ...) begadang demi pesta yang cuma 4 tahun sekali ini ... ;-P

Kajian 28 Juni 2006

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya). QS An Nahl 81.

Tuesday, June 27, 2006



Telinga Pemimpin
Andrias Harefa - Pembelajar.com

Pemimpin seharusnya orang yang bertelinga
Ia bukan saja harus dapat mendengar (hearing),
tetapi mampu mendengarkan (listening)


Salah satu rahasia kepemimpinan Mary Kay Ash adalah kemampuannya dalam mendengarkan orang lain. Ia pernah mengatakan bahwa pada saat ia sedang berusaha mendengarkan orang lain, “Saya akan menutup mata dan telinga terhadap hal-hal lain. Saya langsung memandang orang yang berbicara kepada saya. Bahkan andai ada seekor gorila yang berjalan memasuki ruangan, barangkali saya tidak akan memperhatikannya”.

Mary Kay Ash mungkin mendramatisir soal seni mendengarkan ini. Namun, ia agaknya benar-benar meyakini bahwa kemampuan mendengarkan merupakan suatu kemampuan yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya. Ketika beberapa konsultan kecantikan (beauty consultant) yang bekerja di perusahaannya datang untuk minta nasihat, ia seringkali merasa bahwa yang perlu dilakukannya hanyalah mendengarkan cukup lama, sampai pihak yang meminta nasihatnya itu menemukan sendiri cara penyelesaian masalah yang mereka hadapi.

Mendengarkan adalah seni, sama halnya dengan kepemimpinan. Dan seni tidaklah sepenuhnya bertalian dengan soal-soal kecerdasan intelektual. Kalau toh seni mendengarkan ingin dikaitkan dengan soal kecerdasan, maka mungkin ia merupakan bagian dari kecerdasan emosional (emotional intelligence) atau bahkan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, mendengarkan lebih berurusan dengan telinga hati ketimbang telinga fisik. Itu sebabnya mendengarkan harus dibedakan dengan sekadar mendengar. Jika orang memiliki masalah dengan pendengaran fisiknya, maka ia memerlukan hearing aid, alat bantu mendengar yang bisa dibeli di beberapa toko. Namun jika orang tidak mampu mendengarkan orang lain, ia tidak bisa membeli alat bantu apapun di toko manapun. Ia hanya perlu menata hati dan pikirannya agar tidak melanglang buana ketika orang lain sedang berbicara kepadanya.

Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan, perihal mendengarkan ini juga sering dilatihkan. Sejumlah teknik diajarkan untuk dipraktekkan berulang-ulang. Namun saya kira mendengarkan sebagai seni tidaklah bisa dilatihkan. Sebab seni bukan cara, bukan teknik. Namun tidak berarti latihan mendengarkan tidak perlu. Latihan dan bahkan disiplin untuk mendengarkan tetaplah perlu, bahkan penting. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa mendengarkan hanya bisa dilakukan bila hal itu merupakan keputusan hati.

Sebagai teknik, mendengarkan hanyalah soal menciptakan kesan. Dan mereka yang terlatih untuk bersikap dan berpenampilan “seperti” orang yang mendengarkan, memang dapat dilatih. Mata kita dapat dilatih untuk memandang lawan bicara kita. Tubuh kita dapat diatur posisinya agar terkesan sungguh-sungguh memperhatikan orang lain. Namun pikiran dan hati kita tidak bisa dipaksa untuk mengikuti penampilan fisik kita, kecuali bila penampilan fisik itu benar-benar merupakan ekspresi yang jujur dan tulus dari hati kita.

Sejumlah pakar ilmu komunikasi dan kepemimpinan sering membedakan soal kemampuan mendengarkan ini dalam berbagai tingkatan. Pertama, kita dapat mendengar (hearing), tetapi sama sekali tidak mendengarkan (listening). Ini hanya berarti bahwa secara fisik telinga kita normal (tidak tuli). Misalnya, saat ada demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, sejumlah orang memberikan semacam orasi dan yang lain mendengar tapi tidak sampai mendengarkan. Buktinya, banyak orang sibuk sendiri dengan obrolan dan kegiatan lainnya yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan orasi yang sedang disampaikan. Jadi, secara fisik mereka mendengar, tapi dalam hati mereka berkata “emangnya gue pikirin”. Juga bila orang sedang mengunjungi berbagai pameran, ikut sekatenan atau pasar malam, dan sejenisnya. Pada saat itu ada banyak suara disana sini, termasuk suara radio, televisi, atau peralatan multi media yang sedang didemonstrasikan penggunaannya. Namun, kebanyakan orang yang mendengar tidak pernah mendengarkan, tidak memberikan perhatian penuh. Apa yang mereka dengar tidak mempengaruhi pikiran dan perilaku mereka.

Kedua, kita dapat mendengar tapi tidak sampai mendengarkan ketika kita memberikan kesan seolah-olah mendengarkan tetapi sesungguhnya tidak. Artinya, kita cuma pura-pura mendengarkan, cuma basa basi sosial untuk tidak membuat orang lain tersinggung. Pada tahap ini apa yang masuk dari telinga kanan, langsung keluar dari telinga kiri. Informasi, keluhan, nasihat, kritik, atau apapun yang disampaikan lawan bicara kita tidak sampai menetap di otak, apalagi sampai ke dalam hati. Jadi, pada tahap ini pun keterlibatan pikiran dan hati belum terjadi. Biasanya inilah yang terjadi saat seorang pegawai mendengarkan atasannya memberikan pengarahan yang membosankan. Para penatar P-4 di masa Orde Baru, mungkin banyak didengarkan dalam arti ini juga.

Ketiga, kita dapat mendengarkan secara amat selektif. Kita mendengarkan juga, tetapi tidak sampai memahami secara utuh apa yang sebenarnya ingin disampaikan lawan bicara. Kita hanya sibuk mencari cara untuk memberikan tanggapan balik kepada lawan bicaranya, entah dengan maksud untuk menyenangkan ataupun dengan maksud untuk mencari kelemahan dari kata-kata yang disampaikan lawan bicara kita. Misalnya, dalam diskusi yang sarat dengan adu argumentasi. Pihak-pihak yang setuju dan pihak-pihak yang berpendapat sebaliknya hanya mendengarkan pihak lain dalam rangka mencari-cari alasan untuk “memukul balik”. Tidak ada kejujuran dan ketulusan untuk memahami secara sungguh-sungguh. Kita berusaha mencari pembenaran dari pendapat kita sendiri.

Keempat, kita dapat mendengarkan secara logika. Pada tahap ini kita sudah melangkah lebih jauh dari sekadar hearing. Kita mendengarkan dengan “otak”, mampu mengingat/menghafal apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita. Jika kita diminta mengulangi apa yang telah dikatakannya secara verbal, maka kita dengan mudah akan dapat melakukannya. Sebagian besar mahasiswa, saya kira, mendengarkan kuliah-kuliah dikampus dalam arti ini. Mereka ikut kuliah dan bisa menjawab soal ujian semester persis seperti yang dikuliahkan dosen sebelumnya. Masalahnya, apakah mereka sungguh-sungguh mengerti (understanding) atau baru sekadar tahu (knowing)?

Kelima, kita dapat mendengarkan sampai benar-benar memahami apa yang sesungguhnya ingin disampaikan lawan bicara kita. Pada tahap ini kita mendengarkan dengan tujuan untuk memahami sepenuhnya. Dan ini tidak saja menuntut keterlibatan pikiran, tetapi juga ketulusan hati. Sebagian orang menyebut tahap ini sebagai empathic listening.

Jika Mary Kay Ash mengatakan bahwa mendengarkan adalah seni, saya kira ia bicara soal empathic listening di atas. Dan dalam pengertian ini mendengarkan tidak saja menyangkut soal apa yang didengar secara verbal (kata-kata) atau fisik (mimik muka yang bisa dibuat-buat), tetapi juga pesan yang disampaikan secara nonverbal, yakni lewat bahasa tubuh, intonasi, dan kecepatan suara. Lebih jauh, empathic listening dapat dikatakan upaya mendengarkan dari hati ke hati, bukan sekadar dari telinga ke telinga atau dari pikiran ke pikiran. Jadi ada keterlibatan diri secara total.

Mendengarkan dengan melibatan diri secara total (telinga, pikiran, dan hati) mengandung sedikitnya dua konsekuensi. Pertama, kita harus bersedia membuat pikiran kita terbuka (open mind) untuk dipengaruhi. Kedua, karena kita bersedia dipengaruhi, maka kita dimungkinkan untuk mengubah persepsi awal kita yang mungkin keliru. Dengan kata lain, empathic listening membantu kita untuk memahami kerangka pikiran dan perasaan lawan bicara kita, dan dengan pemahaman itu kita diperhadapkan pada kemungkinan mengubah persepsi awal kita. Bila persepsi kita berubah, maka kemungkinan sikap dan perilaku kita pun akan berubah. Inilah, hemat saya, yang tidak disukai banyak orang. Kita, khususnya orang berusia dewasa, tidak suka berubah. Kita cenderung mempertahankan apa yang kita miliki, termasuk pandangan dan sikap dasar kita terhadap persoalan-persoalan hidup. Kita sudah merasa benar, merasa tahu, merasa mengerti persoalan, dan sikap dasar gede rasa ini menutup telinga pikiran dan hati kita.

Saya kira, proses reformasi yang sedang kita jalani di negeri ini terhambat oleh ketidakmampuan banyak pihak, terutama para pemimpin formal (baca: pejabat) di lembaga tertinggi dan tinggi negara untuk mendengarkan aspirasi rakyat banyak secara empatik. Dari hari ke hari sangat sulit mencari tanda-tanda bahwa para pejabat itu benar-benar mendengarkan pandangan pihak-pihak yang berbeda dengan dirinya. Demonstrasi buruh yang sering marak juga mengindikasikan bahwa eksekutif puncak perusahaan, baik milik negara maupun swasta murni, juga tidak mendengarkan aspirasi para buruh yang ketakutan karena merasa periuk nasi satu-satunya selalu terancam hilang dalam hitungan detik. Sangat sulit mengusahakan adanya kesepahaman, sekalipun ada begitu banyak forum “dialog” yang dibuat. Akar masalahnya adalah karena masing-masing atau salah satu pihak tidak pernah sungguh-sungguh mendengarkan secara empatik. Para pejabat dan eksekutif perusahaan cenderung merasa paling benar, sudah tahu, sudah mengerti dan tidak mau mendengarkan. Pada sisi lain, rakyat banyak dan kaum buruh merasa tetap tidak dimengerti, tidak dipahami, tidak didengarkan sungguh-sungguh. Akibatnya buntu, mandeg, not going anywhere. Kebuntuan ini memicu berbagai bentuk tindak kekerasan sebagai cara menyatakan dan memaksakan kehendak.

Mungkin baik jika setiap pemangku jabatan kepemimpinan di berbagai organisasi politik maupun ekonomi/bisnis, belajar kembali ilmu psikologi komunikasi. Kita perlu mengingatkan para pejabat itu bahwa perasaan “didengarkan” ibarat oksigen bagi jiwa. Pihak-pihak yang merasa tidak didengarkan berada dalam posisi sesak nafas, kekurangan oksigen. Jiwanya meronta-ronta. Ekspresi dari jiwa yangsekarat ini bisa macam-macam. Mulai dari diam, apatis, sampai demonstratif atau bahkan beringas tak karuan. Yang dibutuhkan mungkin bukan sekadar alternatif solusi yang rasional, tetapi perasaan “didengarkan” secara empatik, dimengerti, dipahami apa adanya. Apabila rakyat banyak atau kaum buruh merasa bahwa para pemimpin formal itu sungguh-sungguh mendengarkan jeritan hatinya, maka solusi alternatif yang rasional tentu banyak gunanya. Namun tidak sebaliknya. Banyaknya solusi yang rasional tidak dengan sendirinya membuat rakyat dan buruh pabrik merasa didengarkan. Jadi, dengarkanlah lebih dulu, berusahalah mengerti lebih dalam, bukalah pikiran, rendahkanlah hati untuk menerima kemungkinan bahwa anda keliru mempersepsi persoalan.

Sejauh yang saya pahami, di dunia ini tidak ada hal yang lebih mengerikan daripada pemimpin yang merasa dirinya paling benar, paling tahu/pintar, paling mengerti dan karenanya tidak bersedia berubah sama sekali. Sebab bila pemimpin merasa dirinya serba super, maka ia telah kehilangan kemanusiawiannya dan tak lagi mampu mendengarkan dengan pikiran hatinya.

Sekali lagi, mendengarkan sebagai salah satu atribut penting kepemimpinan, adalah seni dalam mengelola perubahan. Dan mengelola perubahan di tengah paradok globalisasi versus otonomi daerah, pertama-tama dan terutama memang merupakan tanggung jawab para pemimpin. Pemimpinlah yang harus mengambil inisiatif untuk lebih banyak mendengarkan, dalam arti membuka pikiran dan menyediakan hati untuk mengubah salah persepsi yang mungkin dimilikinya. Pemimpinlah yang pertama-tama harus mentransformasikan dirinya untuk menjadi lebih manusiawi. Dengan cara itu ia dapat benar-benar memimpin proses transformasi masyarakat dan organisasi dimana ia dipercaya untuk kurun waktu tertentu.

Haruskah kita mengundang Mary Kay Ash untuk memberikan “pelatihan” kepemimpinan kepada para pemimpin kita? Mudah-mudahan tidak.

Kajian 27 Juni 2006

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. QS An Nahl 79.

Monday, June 26, 2006

Racun Piala Dunia 2006


Gambar dari http://www.football.fr


Harus saya akui, piala dunia kali ini benar-benar menyihir saya. Urusan blog jadi mundur prioritasnya hehehehe .... bagaimana dengan anda? Yang pasti pekerjaan saya setiap pagi adalah memasukkan hasil pertandingan ke aplikasi di PDA saya dan setiap sore mengecek apa jadwal pertandingan hari ini. Sehabis magrib kalau perlu tidur dulu agar bisa bangun untuk menonton sepak terjang 22 orang dalam mengolah sang kulit bundar dan memasukkannya ke gawang lawan .... dengan jadwal yang sangat ketat ... :-P

Siapa favorit anda? Sedari dulu favorit saya adalah tim Jerman. Kenapa? Karena mereka melambangkan kerjasama suatu tim, disiplin, kemauan keras, dan semangat pantang menyerah. Mereka juga biasanya tidak bergantung pada 1-2 pemain bintang, tapi mengutamakan kekuatan tim. Dan mereka biasanya memiliki semangat turnamen.

Namun kali ini awalnya saya ragu menjagokan Jerman pada piala dunia kali ini. Penampilan mereka yang tidak menggembirakan di masa-masa penyisihan, uji coba. Tim mereka pun merupakan kombinasi pemain muda miskin pengalaman internasional dengan pemain-pemain yang sudah berumur.

Namun rupanya saya salah. Sejauh ini, permainan mereka semakin lama semakin menarik. Ruh semangat turnamen sudah merasuki mereka. Duet Klose dan Podolski merupakan duet maut yang menurut saya duet terbaik hingga saat ini. Yang paling utama ialah Klose yang sangat kreatif dalam menciptakan peluang maupun menciptakan goal.

Klose sendiri menurut saya pemain yang sangat menarik. Dia tidak punya ’bakat’ jadi bintang. Orangnya biasa saja, penampilannya pun sangat ’Jerman’. Tidak pernah mengeluarkan pernyataan kontraversial, dan hidupnya pun tidak ada yang tidak lazim. Sulit untuk jadi bahan gunjingan pers ... :)

Harus diakui memang lapis belakang Jerman masih perlu pembenahan. Namun keberhasilan mereka hingga saat ini buat saya sudah menunjukkan bahwa dengan semangat kerjasama, displin, kemauan keras, dan pantang menyerah ini mereka bisa bersaing dengan tim-tim yang bertaburan bintang-bintang dunia.

So ... kali sampai piala dunia berakhir ini blog lebih banyak berisi ulasan bola ... setidaknya untuk mengkritik habis Inggris dan Perancis ... hehehe