Aaah ... tempat 'berhenti' sejenak ntuk mikir-mikir mau dibawa kemana sih hidup ini ... :-)
Thursday, March 11, 2010
Tuesday, March 09, 2010
Develop Your Compassion
Develop Your Compassion
"Don't Sweat the Small Stuff" by Richard Carlson, PhD
Nothing helps us build our perspective more than developing compassion for others. Compassion is a sympathetic feeling. It involves the willingness to put yourself in someone else's shoes, to take the focus off yourself and to imagine what it's like to be in someone else's predicament, and simultaneously, to feel love for that person. It's the recognition that other people's problem, their pain and frustations, are every bit as real as our own - often far worse. In recognizing this fact and trying to offer some assistance, we open our own hearts and greatly enhance our sense of gratitude.
Compassion is something you can develop with practice. It involves two things; intention and action. Intention simply means you remember to open your heart to others; you expand what and who matters, from yourself to other people. Action is simply the "what you do about it." You might donate a little money or time (or both) on regular basis to a cause near to your heart. Or perhaps you'll offer a beautiful smile and genuine "hello" to the people you meet on the street. It's not so important what you do, just that you do something. As Mother Teresa reminds us, "We cannot do great things on this earth. We can only do small things with great love."
Compassion develops your sense of gratitude by taking your attention off all the little things that most of us have learned to take too seriously. When you take time, often to reflect on the miracle of life - the miracle that you are even able to read this book - the gift of sight, of love, and all the rest, it can help to remind you that many of the things that you think of as "big stuff" are really just "small stuff" that you are turning into big stuff.
Sunday, March 07, 2010
Menentukan Tujuan Hidup
Tambahin dikit, dimana Yang Maha Kuasa dalam kehidupan anda? :)
Menentukan Tujuan Hidup
Andrew Ho - pembelajar.com
“Life is a promise; fulfill it. – Kehidupan ini adalah sebuah janji; Penuhi janji itu.” Mother Teresa
Tujuan hidup adalah keyakinan, moral, atau standar yang akan mengendalikan hidup kita, sebab ia (tujuan hidup) memandu pola pikir dan perilaku kita. Contoh seorang ayah ingin meluangkan waktu bersama anak lelakinya. Ia merencanakan nonton pertandingan sepak bola. Tetapi ia kecewa karena mobilnya terjebak macet parah.
Sesaat kemudian ia segera melupakan rasa kecewa dan kembali ceria, sebab ia ingat tujuannya adalah meluangkan waktu bersama anak tersayang. Nonton bola hanya sarana untuk mencapai tujuan dan bisa diganti dengan cara lain. Lalu ia mampir ke sebuah kafe di pinggir jalan dan ia merasa senang karena benar-benar mencapai tujuannya yaitu menghabiskan waktu berdua dengan anaknya sepanjang hari.
Contoh lain misalnya dulu menikah tujuannya untuk mencari kebahagiaan berdua. Tetapi setelah dalam proses beberapa tahun, justru masing-masing mencari kesenangan sendiri-sendiri. Proses yang berat atau bahkan sangat mudah terkadang membuat kita lupa pada tujuan semula, sehingga menimbulkan kehancuran, kecewa, kesedihan, dan hal negatif lainnya.
Itulah mengapa tujuan hidup begitu penting, sebab tujuan hidup menjadikan sikap, perkataan, dan perbuatan kita tetap fokus dan kosisten. Tak jarang segala macam kejadian yang kita alami mempengaruhi emosi dan pengambilan keputusan, sehingga kondisi dan tujuan ikut berubah. Dengan kembali memikirkan tujuan hidup maka kita dapat menemukan makna dan kepuasan dari segala sesuatu yang kita lakukan.
Memiliki tujuan hidup juga dapat membangkitkan seluruh potensi dan membantu kita menemukan kekayaan sejati. Sebab tak jarang, tujuan hidup itu menggerakkan kita secara aktif, kreatif, dan disiplin dalam melakukan langkah-langkah ekspansi. Dengan kata lain, tujuan hidup itu menjadikan energi dan vitalitas kita meningkat dalam upaya mencapai sesuatu yang jauh lebih bermakna.
Tujuan hidup juga akan membantu kita menggunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin, sebab kita mengetahui kemana akan menuju. Coba bayangkan jika setiap bangun tidur kita tak mengerti apa yang harus dilakukan? Tanpa tujuan hidup yang jelas akan membuat kita cenderung menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, tidak mampu bertindak cepat dan senang menunda-nunda pekerjaan.
Memiliki tujuan hidup merupakan hal yang menakjubkan. Oleh sebab itu, maka langkah pertama dan terpenting dalam mengarungi kehidupan adalah menentukan tujuan hidup. Beberapa hal berikut mungkin dapat membantu Anda segera menemukannya (tujuan hidup).
Langkah pertama dalam menentukan tujuan hidup adalah mengenali diri sendiri; apa kekurangan dan kelebihan, apa yang Anda sukai dan inginkan. Keinginan hati yang terdalam seringkali menjadi motivasi yang kuat untuk melakukan langkah-langkah pencapaian. Orang-orang yang terkenal di dunia karena prestasi mereka umumnya memiliki tujuan hidup yang berkaitan erat dengan apa yang ada dalam diri mereka, terutama keahlian dan apa yang mereka sukai.
Tujuan hidup haruslah baik. Leo Nikolaevich Tolstoy (1828-1910), seorang pemikir dan novelis Rusia, mengatakan, “Satu-satunya arti kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan.” Maka pastikan tujuan hidup Anda berkaitan erat dengan kebaikan dunia sekitar & semua orang, memberi kebahagiaan dan ketenangan; tidak menimbulkan kekesalan, kecurigaan, amarah, kesengsaraan apalagi peperangan, serta hal-hal negatif lainnya.
Dalam menentukan tujuan hidup, Anda harus memikirkan kemana akhir perjalanan hidup Anda. Langkah ini hampir sama dengan memikirkan bagaimana tipe pekerjaan yang Anda inginkan, tipe rumah yang Anda sukai, dan lain sebagainya. Terlebih dahulu deskripsikan kehidupan ideal itu, yang membuat Anda benar-benar merasa senang, sehingga dengan senang hati pula Anda menciptakan kemajuan-kemajuan serta menikmati sensasi tantangannya.
Untuk menentukan tujuan hidup, Anda juga harus menggunakan akal sekaligus hati nurani. Sebab kehidupan yang terbaik adalah selaras dengan pikiran dan hati. Banyak orang lebih bahagia dan sukses, karena mereka hidup dalam keseimbangan; dalam arti menjalankan moral-spiritual, mendapatkan ketenangan dan kepuasan batin, memiliki bisnis, karir dan keuangan yang baik, keharmonisan keluarga, kebugaran fisik, kehidupan sosial menyenangkan, dan lain sebagainya.
Menentukan tujuan hidup adalah langkah hidup terbesar yang akan membuat Anda mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Sebab tujuan hidup yang jelas menjadi sebuah peta untuk membimbing Anda tiba tepat pada tujuan. Jadi jangan tunda lagi, segera tentukan tujuan hidup Anda, sekarang!
Sunday, February 14, 2010
Prinsip-Prinsip Pikiran
Prinsip-Prinsip Pikiran
Arvan Pradiansyah - Institute for Leadership and Life Management
Pointers:
Prinsip-Prinsip Pikiran (dirangkum dari buku The 7 Laws of Happiness).
Prinsip 1 : Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.
Prinsip 2: Kita tak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.
Prinsip 3: Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu memasukkan makanan ke dalam pikiran kita.
Prinsip 4: Kita hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu.
Prinsip 5: Pada saat kepala Anda terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.
Prinsip 6: Kemampuan untuk mengubah pemikiran adalah seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.
Prinsip 7: Pikiran tidak dapat membedakan mana kejadian yang telah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi. Begitu Anda memikirkan kejadian yang Anda alami walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-oleh kejadian tersebut baru saja terjadi.
Wednesday, February 10, 2010
Sunday, February 07, 2010
Be Aware of the Snowball Effect of Your Thinking
Be Aware of the Snowball Effect of Your Thinking
"Don't Sweat the Small Stuff" by Richard Carlson, PhD
A powerful technique for becoming more peaceful is to be aware of how quickly your negative and insecure thinking can spiral out of control. Have you ever noticed how uptight you feel when you're caught in your thinking? And, to top it off, the more absorbed you get in the details of whatever is upsetting you, the worse you feel. One thought leads to another, and yet another, until some points, you become incredibly agitated.
For example, you might wake up in the middle of the night and remember a phone call that needs to be made in the following day. Then, rather than feeling relieved that you remembered such an important call, you start thinking everything else you have to do tomorrow. You start rehearsing a probable conversation with your boss, getting yourself even more upset. Pretty soon you think to yourself, "I can't believe how busy I am. I must make 50 calls a day.Whose life is this anyway?" and on and on it goes until you're feeling sorry for yourself. For many people, there's no limit to how long this type of "thought attack" can go on. In fact, I've been told by clients that many of their days and nights are spent in this type of mental rehearsal. Needless to say, it's impossible to feel peaceful with your head full of concerns and annoyances.
The solution is to notice what's happening in your head before your thoughts have a chance to build any momentum. The sooner you catch yourself in the act of building your mental snowball, the easier it is to stop. In our example here, you might notice your snowball thinking right when you start running through the list of what you have to do in the next day. Then, instead of obsessing on your upcoming day, you say to yourself, "Whew, there I go again," and consciously nip it in the but. You stop the train of thought before it has a chance to get going. You can then focus, not on how overwhelmed you are, but on how grateful you are for remembering the phone call that need to be made. If it's the middle of the night, write it down on a piece of paper and go back to sleep. You might even considering keeping a pen and paper by the bed for such moments.
You may indeed a very busy person, but remember that filling your head with thoughts of how overwhelmed you are only exacerbates the problem by making you feel even more stressed than you already do. Try this simple little exercise the next time you begin to obsess on your schedule. You'll be amazed at how effective it can be.
Thursday, February 04, 2010
SBY launches third album
Terus terang baca ini ... bingung .... :D. Ada yang bisa menjelaskan? :). Terus kenapa fotonya yang ini? Hmmm ... :) :) :)
SBY launches third album
The Jakarta Post
Taking a break from political tension facing his administration, President Susilo Bambang Yudhoyono released his third album of songs, at Taman Ismail Marzuki culture center on Sunday, kompas.com reports.
Titled Ku Yakin Sampai ke Sana [I am sure I can get there], the new album comprises nine songs of various genres. A number of noted musicians were involved in the creation of the album, including Jay Tobing, Rio Febrian, Fariz RM, Elfa Singers, Tantowi Yahya, Koswoyo Junior and Vidi Aldiano.
The lyrics of the songs look to represent the President’s mood.
"Amid my endeavors and struggles to fulfill the people’s mandate, I sometimes express my feelings in an artistic way. Through art I hope to communicate my mood to the general public, the children of Indonesia," Yudhoyono said in his speech at the launch.
He said the album was a reflection of his conviction, commitment and determination to lead the country to prosperity.
The release comes as Yudhoyono completes the first 100 days in office for his second term, and in the wake of mounting pressure from House of Representatives lawmakers for Vice President Boediono and Finance Minister to resign in connection with the controversial Bank Century bailout.
Wednesday, February 03, 2010
Sunday, January 31, 2010
Superachievers
Let Go the Idea that Gentle, Relaxed People Can't Be Superachievers
from "Don't Sweat the Small Stuff" by Richard Carlson, PhD
One of the major reasons so many of us remain hurried, frightened, and competitive, and continue to live life as if it were one giant emergency, is our fear that if we were to become more peaceful and loving, we would suddenly stop achieving our goals. We would become lazy and apathetic.
You can put this fear to rest by realizing that the opposite is actually true. Fearful, frantic thinking takes an enormous amount of energy and drains the creativity and motivation from our lives. When you are fearful and frantic, you literally immobilize yourself from your greatest potential, not to mention enjoyment. Any success that you do have is despite your fear, not because of it.
I have had the good fortune to surround myself with some very relaxed, peaceful, and loving people. Some of these people are best selling authors, loving parents, counselors, computer experts, and chief executive officers. All of them fulfilled in what they do and are very proficient at their given skills.
I have learned the important lesson: when you have what you want (inner peace), you are less distracted by your wants, needs, desires, and concerns. It's thus easier to concentrate, focus, ahieve your goals, and to give back to others.
Friday, January 22, 2010
Tuesday, January 19, 2010
Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan
Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan
Andrew Ho - pembelajar.com
"If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man can have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability. – Jika Anda menyandarkan harapan hidup mandiri pada uang, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Satu-satunya hal yang menjamin kehidupan seseorang adalah cadangan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan."
Henry Ford, Pendiri Ford Motor Company (30 Juli 1863 – 7 April 1947)
Kalau dulu bekerja pada orang lain dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, tetapi sekarang berwirausaha menjadi trend masa depan, karena dianggap lebih prospektif untuk meraih kebebasan waktu dan keuangan. Namun berwirausaha juga memerlukan pengetahuan, kecakapan, serta pengalaman, sehingga harus dipupuk sejak dini. Beberapa hal berikut ini merupakan hal yang perlu kita perhatikan dan lakukan berkenaan dengan upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan tersebut.
Menumbuhkan jiwa wirausaha terkait erat dengan usaha memperbaiki kualitas diri sendiri dan kehidupan rohani, agar kita mampu menjadi personifikasi yang dapat dipercaya dan dihormati karena memiliki standar moral tinggi. Keunikan atau kualitas produk atau jasa maupun kecanggihan pola pemasaran bukan faktor utama produk atau jasa yang kita tawarkan diterima dengan baik. Sebab sukses dalam berwirausaha erat kaitannya dengan kemampuan meraih kepercayaan banyak orang, yang membuat konsumen tidak pernah ragu untuk membeli produk atau memakai jasa yang kita tawarkan.
Dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan, kita juga harus membiasakan diri menciptakan impian, memiliki keyakinan luar biasa, serta ketekunan berusaha. Sebab seorang pewirausaha haruslah berjiwa pionir sejati. Artinya, syarat untuk menjadi pewirausaha yang berhasil itu harus mampu membuat perencanaan yang baik, cepat dan efisien, berani menanggung resiko dengan melakukan investasi materi, waktu, usaha, serta ekstra kesabaran memelihara dan menjaga usahanya dengan baik sebelum melihatnya tumbuh sukses.
Memupuk kebiasaan berpikir positif merupakan hal penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebagaimana diketahui bahwa tak seorangpun pebisnis sukses di dunia ini yang tidak pernah gagal. Disamping profesional, memiliki etos kerja dan dedikasi yang tinggi, mereka juga selalu mampu bangkit ketika mengalami kegagalan. Bila kita selalu dapat berpikir positif, tentu saja kita juga mampu menjadikan setiap kegagalan sebagai motivasi untuk terus bergerak maju.
Memupuk kemampuan mencetak laba adalah bagian dari upaya-upaya menumbuhkan jiwa wirausaha. Untuk itu kita harus belajar tentang bagaimana melakukan pemasaran yang baik dan juga meningkatkan kedisiplinan dalam melakukan manajemen keuangan. Sebab dalam dunia usaha, keuntungan sekecil apapun sangat penting untuk memperkuat stabilitas sekaligus untuk melakukan ekspansi usaha.
Mengembangkan rasa empati atau kepedulian juga penting berkenaan dengan usaha menumbuhkan jiwa wirausaha. Rasa empati yang tinggi akan membantu kita menghasilkan karya yang tidak hanya dapat dinikmati dan menguntungkan diri sendiri tetapi juga dapat dinikmati dan menguntungkan sesama. Prof. Philip Kotler, yang dijuluki Bapak Marketing Modern, memberikan nasihatnya kepada para pebisnis di Indonesia; “Think customers and you’ll be save. – Rengkuhlah para pelanggan Anda supaya bisnis Anda bisa tetap berlangsung baik.” Keunggulan bisnis seperti itu lebih menjamin kesuksesan dan pasti sulit dibajak pesaing manapun.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan ini mencakup kemauan menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan selalu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, cukup berolahraga, minum, dan istirahat. Sebab pada fase awal berwirausaha itu membutuhkan tingkat energi tinggi, ketahanan mental, dan motivasi yang besar, sehingga sangat membutuhkan kebugaran fisik. Lagipula tak mungkin bukan kita menikmati hasil usaha bila kita terbaring sakit?
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan artinya juga harus melatih diri kita menciptakan dan memperbarui visi masa depan serta merencanakan tindakan dan pencapaian-pencapaian untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kemampuan menciptakan visi akan membuat kita mampu mengukur tingkat kemajuan, melakukan langkah-langkah perbaikan, mengurangi hambatan maupun dampak negatif, serta memaksimalkan keuntungan. Keahlian menciptakan dan memperbarui visi akan sangat kita perlukan jika ingin usaha yang kita jalankan terus mengalami perkembangan.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan berarti juga harus meningkatkan kemampuan mengorganisasi, yaitu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat pula. Mulailah dengan membuat jadwal yang teratur dan disiplin menjalankan jadwal tersebut dan berteman dengan orang-orang yang memberi inspirasi dan teladan mulia. Latihan semacam itu potensial menjadikan kita mampu mengorganisasi usaha dan memastikan usaha terus berekspansi.
Meningkatkan kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebab kemampuan berkomunikasi ini sangat penting untuk menggali informasi dari target pasar tentang produk atau jasa yang sangat diinginkan sekaligus untuk menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dengan pelanggan. Bila kita sudah mampu memenuhi kebutuhan konsumen, lalu menjalin komunikasi dengan baik, menghargai, dan bersikap sopan terhadap mereka, maka dengan sendirinya para pelanggan akan selalu setia menggunakan produk atau jasa kita bahkan ikut mempopulerkan bisnis kita.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan juga harus meningkatkan daya kreatifitas, yaitu mengubah sesuatu yang biasa menjadi komoditas yang bernilai tinggi dan mengguncang pasar. Mengembangkan keterampilan dan ilmu pengetahuan dari buku atau sumber informasi lainnya dan aktif memodifikasi bagian-bagian yang diperlukan sangat penting untuk menciptakan terobosan baru untuk produk, iklan, maupun mencari pelanggan. Kreatifitas menjadikan usaha Anda tidak pernah mengenal krisis.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan akan membantu kita menguasai seluruh kemampuan berwirausaha, mulai dari pola pikir, kemampuan, karakter, serta pengetahuan wirausaha itu sendiri. Oleh sebab itu, tumbuhkan terus jiwa kewirausahaan Anda, dengan terus mengembangkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Pastikan di masa akan datang Anda menjadi orang yang lebih baik, sukses dalam berwirausaha, hidup lebih kaya dan bahagia, dan sekaligus berempati tinggi. Salam hebat dan luar biasa!
Sunday, January 17, 2010
Make Peace with Imperfection
Make Peace with Imperfection
from "Don't Sweat the Small Stuff" by Richard Carlson, PhD
I've yet to meet an absolute perfectionist whose life was filled with inner space. The need for perfection and the desire for inner tranquility conflict with each other. Whenever we are attached to have something in certain way, better than it already is, we are, almost by definition, enganged in a losing battle. Rather than being content and grateful for what we have, we are focused on what's wrong with something and our need to fix it. When we are zeroed in on what's wrong, it implies that we are dissastified, discontent.
Whether it's related to ourselves -- a disorganized closet, a scratch on the cat, an imperfect accomplishment, a few pounds we would like to lose -- or someone else's "imperfections" -- the way someone looks, behave, or lives their life -- the very act of focusing imperfection pulls us away from our goal of being kind and gentle. This strategy has nothing to do with ceasing to do your very best but being overly attached and focused on what's wrong with life. It's about realizing that while there's always a better way to do something, this doesn't mean that you can't enjoy and appreciate the way things already are.
The solution here is to catch yourself when you fall into your habit of insisting that things should be other than they are. Gently remind yourself that life is okay he way it is, right now. In the absence of your judgement, everything would be fine. As you begin to eliminate your need for perfection in all areas of your life, you'll begin to discover the perfection of life itself.
Tuesday, January 12, 2010
Dua Dimensi Syukur
Dua Dimensi Syukur
Arvan Pradiansyah - Swa Online
Dalam berbagai pelatihan dan seminar The 7 Laws of Happiness, saya mendapat banyak pertanyaan mengenai penerapan The 7 Laws untuk bisnis. Salah satu yang paling sering ditanyakan para profesional dan pelaku bisnis adalah mengenai bersyukur. Mereka sepakat bahwa bersyukur memang penting untuk hidup yang bahagia, tetapi apakah bersyukur itu cocok bagi dunia bisnis? Bukankah bersyukur identik dengan cepat puas yang tentu saja bertentangan dengan formula bisnis? Bukankah dalam berbisnis kita justru harus terus memasang target yang meningkat dari waktu ke waktu? Bukankah bersyukur dapat mengurangi semangat dan keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi?
Kekhawatiran tersebut tentu saja beralasan karena selama ini syukur sering dimaknai “melihat ke bawah”, sedangkan bisnis senantiasa “melihat ke atas”. Bukankah, hanya melihat ke ataslah yang akan menghasilkan kemajuan dalam bisnis dan kehidupan kita? Melihat ke atas akan membuat kita terpacu untuk meningkatkan prestasi. Namun, di lain pihak, ini membuat kita tidak puas terhadap pencapaian kita. Kita akan selalu merasa kurang. Bila demikian, bagaimana kita bisa bersyukur dan berbahagia?
Para pembaca yang budiman, memahami syukur sebagai “melihat ke bawah” sesungguhnya kurang tepat. Pemahaman itu baru mengungkapkan satu dimensi bersyukur yaitu penerimaan (acceptance). Padahal bersyukur mengandung satu dimensi lain yang sangat penting yaitu melakukan eksplorasi (exploration). Bersyukur sejatinya bukanlah sekadar menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita, melainkan juga “melihat ke dalam” diri untuk menjelajahi potensi dan bakat kita yang terdalam, menemukan kemudian memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Untuk mempermudah, saya memberikan sebuah analogi. Misalkan, Anda memperoleh hadiah sebuah telepon genggam yang canggih dari sahabat Anda. Bagaimana Anda menunjukkan bahwa Anda sangat berterima kasih kepadanya? Pertama, tentu saja dengan senang hati menerima pemberian itu. Namun bila Anda kurang memahami teknologi dan menggunakan telepon itu hanya buat menelepon dan mengirim SMS, sesungguhnya Anda belum benar-benar bersyukur. Anda baru bisa dibilang bersyukur bila Anda mau menjelajahi fungsi lain telepon genggam itu, misalnya fungsi browsing, mengecek e-mail, video, kamera, multimedia, dan sebagainya.
Dengan menjelajahi berbagai fungsi yang ada, Anda akan merasa bahwa telepon genggam yang diberikan sahabat Anda itu memang luar biasa. Anda akan lebih berterima kasih kepadanya. Selain itu, sahabat Anda pun merasa bahwa Anda benar-benar menghargai pemberiannya karena Anda memanfaatkan semua fungsi telepon itu. Coba Anda bayangkan apa yang dirasakan sahabat Anda bila ia tahu bahwa Anda memanfaatkan telepon genggam yang canggih itu hanya buat bertelepon dan SMS. Bila ia tahu, mungkin ia membelikan Anda telepon yang standar saja dengan fungsi terbatas.
Dengan dua dimensi ini maka kita dapat membedakan orang ke dalam empat perilaku. Perilaku pertama adalah tidak menerima apa yang diberikan dunia kepadanya dan juga tidak mengeksplorasi ke dalam diri sendiri untuk menemukan potensi yang masih tersembunyi. Perilaku ini menghasilkan rasa frustrasi yang mendalam.
Perilaku kedua, menerima apa yang diberikan dunia tetapi tidak mengeksplorasi untuk menemukan potensi diri yang masih tersembunyi. Orang seperti ini memang akan puas dan menikmati hidup, tetapi prestasinya tidak berkembang. Ia senantiasa melihat ke bawah dan ini akan membuatnya berada dalam kondisi stagnan. Ia tidak merasa terdorong untuk menemukan potensi tersembunyi dan meningkatkan dirinya.
Perilaku ketiga, tidak menerima apa yang diberikan dunia, tetapi senantiasa “melihat ke atas”. Orang ini selalu tidak puas dengan pencapaiannya, dan berusaha mencapai hasil terbaik melebihi orang-orang yang ia temui. Mereka sangat kompetitif dan selalu merasa tertantang.
Perilaku keempat, menerima apa pun yang diberikan dunia kepadanya, tetapi sekaligus mengeksplorasi hal-hal yang masih tersembunyi dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Perilaku inilah yang disebut bersyukur. Orang yang bersyukur menikmati segala yang ia dapatkan dengan penuh sukacita. Ia beristirahat sebentar untuk menyelami, menghayati dan mendalami nikmat yang telah ia dapatkan. Namun kepuasan itu tidak membuatnya berhenti untuk meningkatkan diri dan menjelajahi potensi terbesar yang masih tersembunyi dalam dirinya. Ia tak henti-henti melakukan “perjalanan ke dalam” sehingga di akhir hidupnya ia dapat mengatakan, ”Ya Tuhan, apa pun yang Engkau anugerahkan kepadaku sudah aku manfaatkan semaksimal mungkin. Tidak ada sedikit pun potensi yang Kau berikan padaku tersia-sia.”
Sunday, January 10, 2010
Don't Sweat the Small Stuff
Don't Sweat the Small Stuff
Taken from book with the same title by Richard Carlson, PhD
Often we allow ourselves to get all worked up about things that, open closer examination, aren't really that big a deal. We focus on little problems and concerns and blow them way out of proportion. A stranger, for example, might cut in front of us in traffic. Rather than let it go, and go on with our day, we convince ourselves that we are justified in our anger. We play out an imaginary confrontation in our mind. Many of us might even tell someone else about the incident later on than simply let it go.
Why not instead simply allow the driver to have his accident somewhere else? Try to have compassion for the person and remember how painful it is to be in such an enormous hurry. This way, we can maintain our own sense of well being and avoid talking other people's problems personally.
There are many similar, "small stuff" examples that occur everyday in our lives. Whether we had to wait in line, listen to unfair criticism, or do the lion's share or the work, it pays enormous dividends if we learn not to worry about little things. So many people spend so much of their life energy "sweating the small stuff" that they completely lose touch with the magic and beauty of life. When you commit working toward this goal you will find that you will have far more energy to be kinder and gentler.
Thursday, December 24, 2009
Rahasia Hijrah
Rahasia Hijrah
DR. Amir Faishol Fath - Dakwatuna.com
Hijrah adalah keniscayaan. Allah swt. membangun sistem di alam ini berdasarkan gerak. Pelanit bergerak, berjalan pada porosnya. Allah berfirman: ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38). Imam Syafii' menggambarkan dalam sya’irnya yang sangat indah bahwa air yang tergenang akan busuk dan air yang mengalir akan bening dan jernih. Seandainya matahari berhenti di ufuk timur terus menerus, niscaya manusia akan bosan dan stres.
Benar, hijrah sebuah keniscayaan. Karena dalam diam tersimpan segala macam keburukan. Mobil yang didiamkan berhari-hari akan karat dan hancur. Jasad yang didudukkan terus menerus akan mengidap banyak penyakit. Itulah rahasia mengapa harus olah raga. Syaikh Muhammad Al Ghazali berkata: ”Bahwa orang-orang yang nganggur adalah manusia yang mati. Ibarat pohonan yang tanpa buah para penganggur itu adalah manusia-manusia yang wujudnya menghabiskan keberkahan.”
Terbukanya kota Mekah adalah keberkahan hijrah. Seandainya Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya tetap berdiam di kota Mekah, tidak pernah terbayang akan lahir sebuah kekuatan besar yang kemudian menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sungguh berkat hijrah ke kota Madinah kekuatan baru umat Islam terbangun, yang darinya kepemimpinan Islam merambah jauh, tidak hanya melampaui kota Mekah, pun tidak hanya melampaui Jazirah Arabia, melainkan lebih dari itu melampaui Persia dan Romawi.
Ada beberapa dimensi hijrah yang harus kita wujudkan dalam hidup kita sehari-hari di era modern ini, agar kita medapatkan keberkahan:
Pertama, dimensi personal, bahwa setiap mukmin harus selalu lebih baik kwalitas keimannya dari hari kemarin. Karenanya dalam Al-Qur’an Allah swt. selalu menggunakan kata ahsanu amala (paling baiknya amal). Maksudnya bahwa tidak pantas seorang mukmin masuk di lubang yang sama dua kali. Itulah sebabnya mengapa sepertiga Al-Qur’an menggambarkan peristiwa sejarah. Itu untuk menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah dalam membangun ketaqwaan. Dari sini kita paham mengapa Allah swt. dalam surah Al Hasyr:18 menyandingkan perintah bertaqwa dengan perintah belajar dari sejarah: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Kedua, dimensi sosial, bahwa seorang mukmin tidak pantas berbuat dzalim, mengambil penghasilan secara haram dan hidup bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Seorang mukmin harus segera hijrah dari situasi sosial semacam ini. Seorang mukmin harus segera membangun budaya takaful –saling menanggung-. Itulah rahasia disyari’atkannya zakat. Bahwa di dalam harta yang kita punya ada hak orang lain yang harus dipenuhi. Allah berfirman : ”Walladziina fii amwaalihim haqqun ma’luum (dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”) (QS. Al Maarij: 24).
Dan ini telah terbukti dalam sejarah bahwa membangun budaya takaful akan menyelesaikan banyak penyakit sosial yang akhir-akhir ini sangat mencekam. Terlalu tingginya angka kemiskinan dan penganggguran di tengah negeri yang kaya secara sumber alam, sungguh suatu pemandangan yang naif. Namun ini tentu ada sebabnya, di antaranya yang paling pokok adalah karena kedzaliman dan ketidak jujuran. Dari sini jelas bahwa hijrah yang harus dibuktikan saat ini adalah komitmen untuk tidak lagi mengulangi budaya korupsi. Sebab dari budaya inilah berbagai penyakit sosial lainnya tak terhindarkan.
Ketiga, dimensi dakwah, bahwa seorang mukmin tidak boleh berhenti pada titik sekedar mengaku sebagai seorang mukmin secara ritual saja, melainkan harus dibuktikan dengan mengajak orang lain kepada kebaikan. Ingat bahwa syetan siang dan malam selalu bekerja keras mengajak orang lain ke neraka. Syetan berkomitmen untuk tidak masuk neraka sendirian.
Dari sini saatnya seorang mukmin harus bersaing dengan syetan. Ia harus hijrah dari sikap pasif kepada sikap produktif. Produktif dalam arti bekerja keras mengajak orang lain ke jalan Allah. Sebab tidak pantas seorang mukmin bersikap pasif. Pasifnya seorang mukmin bukan saja akan membawa banyak bakteri pelemah iman, melainkan juga membawa bencana bagi kemanusiaan.
Itulah sebabnya mengapa seorang pemikir muslim abad ini dari India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi menulis sebuah buku yang sangat terkenal dan menomental: maadzaa khasiral aalam bin khithaathil muslimiin ( betapa dahsyatnya kerugian yang dialami dunia ketika umat Islam tidak berdaya).
Ini benar, bahwa dunia ini memang membutuhkan umat Islam yang berdaya. Umat Islam yang produktif. Bukan umat Islam yang pasif. Dan kini kita menyaksikan dengan mata kepada betapa kerusakan merejalela melanda kemanusiaan akibat dari lemahnya umat Islam. Bandingkan dengan dulu ketika Umar Bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz memimpin dunia. Inilah hijrah yang harus segara kita buktikan. Wallhu a’lam bishshawab.
Tuesday, December 22, 2009
Koran itu ...
Sungguh geram saya membaca koran hari Minggu kemarin. Salah satu koran terkemuka memuat artikel Foto Pekan Ini dengan judul Kilas Balik Peristiwa Dunia 2009. Yang sungguh menjengkelkan dari foto-foto yang ditampilkan tidak ada satu buah pun yang menceritakan penyerangan Israel ke Palestina awal tahun ini. Malah ada foto seputar kematian Michael Jackson ... lebih penting rupanya ya ... :(
Pers memang memihak, kita harus akui. Tapi rasanya ini sungguh keterlaluan ...
Subscribe to:
Posts (Atom)