Monday, June 26, 2006

Kajian 26 Juni 2006

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. QS An Nahl 78.

Thursday, June 22, 2006

Berada di Sini, Saat Ini


Berada di Sini, Saat Ini
Arvan Pradiansyah - Majalah Swa

Dua astronot mendapatkan tugas melakukan penelitian di bulan. Ketika kembali ke bumi, salah seorang di antaranya menceritakan bagaimana ia harus menekan naluri seninya ketika sampai di sana.

Ia ingat ketika ia melihat kembali ke bumi dan tertegun oleh pemandangan itu. Beberapa saat ia berdiri terpaku dan berpikir, “Bukan main, sungguh indah!”

Namun, kawannya segera menyadarkannya dan berkata, “Jangan buang-buang waktu. Mari segera mengumpulkan batu!”

Cerita tadi sebenarnya menggambarkan apa yang kita alami sebagai manusia modern. Kita harus berpikir cepat dan bergerak cepat, bahkan kadang kita bergerak tanpa banyak berpikir. Moto kita adalah “lebih cepat, lebih murah, lebih baik”. Karena itu, berpikir, belajar, merenung, berkontemplasi dan rekreasi sering dianggap sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu dan tidak produktif.

Hal ini akan menjadi berlipat ganda bagi para pengusaha, mereka yang terlibat dalam bisnis inti serta mereka yang menangani penjualan. Bisnis memang sering membuat kita berorientasi pada kegiatan. Kita berusaha sedapat mungkin supaya jangan ada sedikit pun waktu terbuang tanpa melakukan kegiatan. Kita terus berjalan, bergerak, mencari peluang, menembus pasar, mengalahkan pesaing dengan kecepatan yang bertambah dari hari ke hari.

Apakah semua itu memberikan hasil yang kita inginkan? Secara jangka pendek, mungkin ya. Namun, secara jangka panjang, Anda harus membayar harganya sangat mahal. Beberapa di antara Anda barangkali akan membantah keras pernyataan saya ini. Namun tunggu dulu, saya jelaskan apa yang saya maksud.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah berkurangnya kemampuan kreativitas dan inovasi. Ini risiko yang terkait langsung dengan kegiatan bisnis itu sendiri. Kegiatan bisnis yang bertubi-tubi telah menyandera pemikiran kita. Kita jadi lupa meluangkan waktu sejenak untuk berpikir dan merefleksikan tindakan kita. Kita akhirnya hanya menjadi robot dari target-target kita. Kita hanya melakukan business as usual. Benar, kita menjadi sangat tangguh, disiplin dan memiliki motivasi yang tinggi. Akan tetapi, lama- kelamaan produk kita menjadi aus dan ketinggalan zaman. Makin cepat tidaklah akan menjadi makin baik kalau kita bergerak ke arah yang salah. Bisnis sering hanya memikirkan jam dan lupa memikirkan kompas.

Harga kedua yang harus Anda bayar adalah berkurangnya kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup Anda. Padahal, apa yang Anda cari di dunia ini: pekerjaan ataukah kebahagiaan? Di sini juga ada rumus menarik. Sementara bisnis identik dengan kecepatan, kebahagiaan justru identik dengan kelambatan. Jangan salah, yang dimaksud bukanlah kelambatan yang berarti lamban, lelet atau telmi. Kelambatan di sini adalah sikap hidup yang mantap, penuh dan tidak tergesa-gesa. Kelambatan adalah sesuatu yang sangat bermakna spiritual dan berkaitan dengan kebahagiaan hidup.

Agar bisa berbahagia, yang harus kita lakukan sebenarnya bukanlah berjalan lebih cepat, tapi justru berjalan lebih lambat. Di kantor-kantor yang sangat sibuk sekarang sudah ada kebiasaan melakukan lunch meeting, yaitu makan siang sambil rapat. Pertanyaannya, dapatkah mereka menikmati makan siang? Boleh saja Anda mengatakan bahwa yang penting perut Anda sudah terisi, tapi sebetulnya Anda kehilangan kenikmatannya. Yang Anda lakukan bukanlah menikmati makan siang, melainkan hanya menelan makanan.

Ritme hidup yang selalu tergesa-gesa ini juga menghalangi Anda menikmati hubungan yang berkualitas dengan rekan kerja. Hubungan yang berkualitas tidaklah dibangun dengan kecepatan, tetapi dengan kelambatan. Anda harus membangun kepercayaan secara perlahan, bersabar untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan, dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran Anda secara perlahan. Hubungan yang berkualitas adalah hubungan yang didasari kesabaran. Dan kesabaran identik dengan kelambatan, bukan kecepatan.

Inilah cara hidup yang berkualitas. Inilah hidup dengan penuh kesabaran. Yang terpenting, kesabaran bukanlah berarti mengurut dada seperti yang selama ini sering dikatakan orang. Kesabaran adalah rahasia terpenting menikmati hidup yang berkualitas. Hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang menikmati detik demi detik. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang mengalir perlahan, bukannya hidup yang senantiasa dilanda ketergesa-gesaan. Inilah hidup yang dijalankan dengan sabar. Sabar adalah kenikmatan luar biasa. Sabar bahkan merupakan kunci utama memasuki spiritualitas. Kita memang perlu memberikan makna baru pada kata “sabar”. Inilah yang sedang saya tulis dalam buku The 7 Laws of Happiness yang segera terbit. Dalam buku tersebut, saya menuliskan 8 makna baru kesabaran.

Untuk dapat menikmati hidup, Anda harus hidup di masa kini. Anda harus menjadi human being, Anda harus merasakan kekinian. Mengapa? Hanya masa kinilah yang nyata, yang sungguh-sungguh ada. Bagaimana dengan masa depan? Saya akan mengatakannya dengan sungguh-sungguh kepada Anda bahwa masa depan itu tidaklah nyata. Masa depan hanyalah ada dalam pikiran kita. Hal ini juga sama dengan masa lalu. Masa lalu juga tidak nyata.

Dari sini kita dapat membedakan tiga jenis manusia. Pertama, orang yang hidup di masa lalu. Orang ini tak akan pernah maju karena telah mengikat pikirannya dengan hal-hal yang telah usang. Kebalikan dari tipe ini adalah pebisnis dan profesional yang selalu tergesa-gesa dalam hidupnya. Mereka memang terus maju, tapi persoalannya, mereka tak pernah berada di masa kini. Mereka senantiasa hidup di masa depan yang juga tidak nyata. Kedua tipe ini tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Kita hanya akan menikmati kebahagiaan kalau kita mengikat pikiran kita dengan masa kini dan menikmati segala yang mengalir dengan penuh keindahan.

Kajian 22 Juni 2006

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS An Nahl 77.

Wednesday, June 21, 2006

Foto Perkemahan Bambu Apus - Ciwedey



Duh .. seneng banget foto ini dapat komentar positif dari peserta Forum Kamera ... Akhirnya ... hehehe.

Bagaimana menurut anda? :-P

Saung Angklung Mang Udjo (bagian III-habis)



Selain menonton pertunjukan kita pun belajar main angklung! Mulai dari pelajaran sederhana sampai baca not-not seperti di bawah. Untung nggak disuruh baca not balok ya ... bisa 'kriting' beneran ... :)


Pertunjukan diakhiri dengan acara menari bersama ...


Waktu 2 jam tidak terasa mengalir begitu saja. Pertunjukan silih berganti, interaksi yang hidup dengan penonton, tata lampu yang semarak, belajar main angklung, hingga rasa senang bermain dengan anak-anak yang lincah dan riang gembira. Kami sekeluarga pulang dengan rasa puas dan senang ... :)

Saya merekomendasikan anda untuk ikut menonton pertunjukan ini. Dapat hiburan yang meriah dan turut mempertahankan seni angklung sebagai budaya kita. Psst jangan lupa ... bisa beli berbagai souvenir juga lho ... :-P

Kajian 21 Juni 2006

Maka janganla kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS An Nahl 74.

Tuesday, June 20, 2006

Saung Angklung Mang Udjo (bagian II)

Ngelanjutin cerita ... :). Ternyata dalam rentang 2 jam pertunjukan (15.30-17.30) cukup banyak yang dipertunjukkan. Mulai dari:

Wayang

yang diiringi oleh musik:


Setelah itu ada contoh prosesi pengantin sunat:


Ketrampilan anak-anak bermain silat ...


Dan permainan angklung dan teman-temannya oleh anak-anak yang memang masih anak-anak ... :)


Lanjut lagi besok ya ... :)

Kajian 20 Juni 2006

Allah menjadikan bgi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah? QS An Nahl 72.

Monday, June 19, 2006

Saung Angklung Mang Udjo (bagian I)



Buat yang belum pernah dengar, padepokan ini ada di Bandung Utara, daerah Suci. Berdiri sejak tahun 1967, salah satu tujuan utama padepokan ini adalah untuk melestarikan angklung sebagai salah satu ciri khas budaya bangsa ini.

Jum’at siang kemarin, seusai training, saya dan keluarga berkesempatan mampir ke Saung ini. Mereka mengadakan acara untuk umum setiap hari pukul 15.30-17.30. Orang dewasa dipungut biaya 35 ribu rupiah, sementara anak-anak di atas 5 tahun setengah harga.


Kami sampai di sana sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Setelah membayar, kami pun dipersilahkan masuk ke ruang pameran/toko mereka. Cukup menarik koleksinya. Berbagai jenis angklung, besar hingga kecil, wayang golek, dll dll.

Terus terang saya sudah mulai tidak konsen (-trasi), maklum bawa kamera dan tripod dengan obyektif untuk mengambil foto-foto. Jadi ketimbang melihat-lihat isi pameran, saya sibuk mencari obyek yang menarik, sudut pengambilan yang fantastis (maunya hehehe), sampai pada urusan kutak-katik kamera untuk mendapatkan pencahayaan yang optimal.

Selesai urusan toko, saya pun beranjak masuk ke ruang acara, semacam stadiun mini. Yang bikin langsung frustasi ialah karena suasananya gelap! Bagaimana bisa ngambil foto ... :(.

Akhirnya pasang tripod, dan coba ambil beberapa foto, sebelum acara dimulai. Untuk benda tak bergerak seperti wayang, gendang, angklung ... bisa diambil pakai tripod. Tapi giliran orang bergerak .... ndak bisa eh ... panik dan agak frustasi hehehe.


Untung punya banyak teman jago foto. SMS, langsung dapat tips yang ketika dipraktekkan hasilnya tidak buruk ... :)

(bersambung)

Apakah Brazil Pantas Jadi Juara Dunia?


Gambar dari http://www.theage.com.au


Pertanyaan di atas memenuhi benak saya ketika menunggu pertandingan Brazil kemarin malam pukul 11 melawan Australia. Memang sih keesokan harinya itu harus masuk kantor, Cuma godaan Piala Dunia ini sungguh menyiksa ... hehehe.

Alhamdulillah bisa nonton .... persis seperti saya baca mengenai pertandingan Brazil yang pertama, di pertandingan kedua ini mereka tidak kalah menjemukan. Tidak jelas mau main atau tidak. Yang agak rajin Keke (ganteng juga ya orangnya ... menurut saya Beckham kalah hehehe), dan malah back sekaligus sayap Roberto Carlos. Ronaldinho lumayan, tapi nggak jelas mau ngapain. Keke sibuk lari sana-sini, ada di mana-mana, kadang di sayap kiri, di kanan, kadang di tengah, tetapi tidak pernah penetrasi ke daerah pinalti Australia. Yang mengherankan juga, Brazil sibuk mengangkat bola dari sisi lapangan ke kotak pinalti ... ya jelas kalah sama Australia yang jangkung-jangkung. Bukannya harusnya menari Samba alias gocek sana-sini?

Yang jelas, Ronaldo adalah kartu mati. Boleh saja dia mengelak dan mengatakan dia tidak gemuk. Cuma kenyataan di lapangan bicara lain. Jarang sekali kelihatan berlari, hanya berjalan saja. Kalau mendapat kesempatan, sentuhan dan keakuratannya nyaris hilang. Belum lagi kalau mengolah bola, kelihatan jelas kalau perutnya menghalangi kelincahannya. Maaf ya Ronaldo ... but, that is the fact ... :(

Menurut saya, gara-gara Ronaldo, permainan tim Brazil makin pincang.

Baru babak kedua setelah Ronaldo diganti oleh Robinho, permainan menjadi hidup. Robinho sibuk berkeliaran dan membahayakan gawang lawan. Sedap menontonnya .... :)

Secara keseluruhan, maaf, sementara ini Argentina masih lebih pantas menjadi juara dunia.

Kajian 19 Juni 2006

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. QS Al An Nahl 70.

Sunday, June 18, 2006

Sihir Piala Dunia ...


Gambar dari http://imgsrv.1010wins.com


Hehehe ... iya, Piala Dunia telah seminggu-an ini menyihir kegiatan saya. Setiap malam nongkrong di depan TV, melihat bagaimana kelihaian para pemain kelas dunia dalam mengendalikan sang bola bundar ... :)

Bagaimana penampilan tim favorit menurut versi saya? Berikut analisis saya, meski datanya terbatas ... :)

Jerman, nonton pertandingan pertamanya. Menyerangnya boleh, tapi pertahanannya parah banget. Dirigen lapangan juga kurang, sehingga arah serangan kurang bervariasi. Katanya sih pertandingan kedua lebih baik, meski baru memasukkan gol pada menit terakhir ...

Inggris, penuh bintang, tapi buruk banget! Maaf buat penggemar Inggris. Saya juga suka tim ini, Lampard, Gerrard, Owen, Beckham, Ferdinand. Cuma buruk banget. Saya lihat di depan Crouch dan Owen harus diganti oleh pemain lain yang tajam dan bisa saling mengisi. Sering banget ada umpan ke mulut gawang lawan, tapi tidak ada yang menyambut. Di tengah, menurut saya kalau Gerrard dimajukan supaya jadi gelandang serang, mungkin pertandingan akan lebih semarak. Tokh di belakang ada Ferdinand yang cukup dingin mengendalikan ujung tombak lawan.
Sayang Roney masih belum fit. Di pertandingan kedua dia sempat main sebentar, tapi belum all out.

Belanda, baru nonton pertandingan pertamanya. Kurang pantas sebagai tim dunia menurut saya. Untung ada Robben dengan aksi individunya. Sayang setelah mencetak gol pertama dia jadi kebablasan, asyik gocek sendiri dan lupa kalau dia bermain dalam satu tim. Yang parahnya juga, asal ada umpan dari belakang/tengah, pasti arahnya ke Robben juga .. :(

Australia cukup ganas, nonton pertandingan ini karena mengharapkan Jepang yang menang ... sayang. Pertandingan malam ini melawan Brazil akan membuktikan apakah mereka pantas masuk tim kelas dunia atau belum.

Perancis? Saya nonton waktu melawan Swiss. Menyedihkan ya ... Henry tendangannya lembek banget. Kalau di Indonesia pasti sudah dituding kena suap. Untung ada Zidane yang cukup efektif mengkoordinir timnya. Cuma jelek banget mainnya. Tidak pantas disebut tim kelas dunia.

Spanyol pertandingan keduanya luar biasa ... aksi individu plus permainan tim yang menggairahkan. Ini baru tontonan yang menarik. Tapi mungkin ditopang oleh permainan Ukraina yang buruk ....

Argentina di pertandingan kedua penampilannya sangat fenomenal! Gocekan para pemainnya benar-benar menyihir! Asyik banget ... ini baru pertandingan kelas dunia. Gol-golnya rata-rata sangat asyik. Yang sangat menarik memang Messi. Meski cuma main beberapa menit, tapi gerakan, kecepatan, dan aksi individunya sangat nikmat ditonton ... mirip Maradona ya .. meski tidak segempal kawan yang satu itu .. hehehe

Portugal, saya sempat melihat pertandingan keduanya melawan Iran. Figo cukup pantas disejajarkan dengan Zidane. Meski sudah cukup berumur, tapi tetap fit untuk bermain 90 menit. Secara keseluruhan tim cukup bagus, meski belum kelas dunia. Ini ditunjang oleh permainan Iran yang buruk (sayang ya ...). C. Ronaldo sebetulnya pemain yang potensial menurut saya. Tinggi, akselerasi hebat, keahlian mengolah bola, kemampuan menendang dari sudut sempit dll. Sayang lama-lama saya lihat dia asyik sendiri, sibuk memamerkan keahliannya, dan tidak berfikir bagaimana menjaringkan bola ke gawang lawan.

Terakhir, Brazil. Belum sempat nonton oi ... malam ini, insya Allah ... :)

Saturday, June 10, 2006

Libur Dulu ... ??



Minggu depan insya Allah saya mau training ke luar kota. Nggak jauh-jauh amat sih ... cuma nggak tahu di sana seberapa mudah/sulit koneksi internet. So, kalau ternyata sulit, libur dulu ya blog ... :)



En karena semalam sempat nonton Jerman vs Costa Rica ... selamat datang Piala Dunia Sepakbola!!

:)

Thursday, June 08, 2006

Hikmah Bencana



Luar biasa ... Vaye dan Cak Min asyik betul bercanda 'di rumah' ini .. sampe tuan rumah bingung melayani tamunya ... :-P. Dikau Vaye en Cak Min, jangan lupa kalau udah kelar bantuin nyapu, ngepel dan nyuci piring ya ... :)

Kali ini saya ingin membahas komentar Cak Min berikut, "Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang tapi sekali mbunuh orang Indonesia kok yah ribuan gitu lho. Hampir 2 tahun lalu malah puluhan ribu. Kontradiktif emang yah :))".

Kenapa lama sekali baru dibahas sekarang? Menurut saya karena kita perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu, yaitu dengan tulisan saya mengenai dogmatis dan Konsep Penciptaan. Kalau anda tidak sependapat dengan kedua tulisan ini, pembahasan selanjutnya ini mungkin kurang menarik ... :)

Dalam kedua tulisan di atas saya sudah singgung betapa ternyata ilmu Tuhan itu sangat jauh melebihi ilmu kita. Kalau orang Betawi bilang, "Lu mah ... cetek banget ... ." Kalau mau dianalogikan secara sederhana, mungkin seperti anak balita yang menangis meminta permen. Ia sudah mendapat permen cukup banyak untuk hari itu, namun masih ingin lagi. Sementara sang orang tua berfikir kalau permen terlalu banyak efeknya sakit gigi dan selera makan rusak. Namun bagi si anak, seperti apa pun penjelasannya, tetap ia tak mengerti. Ia ingin permen ... dan itulah keinginannya.

Menurut saya amatlah salah jika kita mencoba mendudukkan Tuhan sejajar dengan kita dan mencoba memahami keputusanNya dengan ilmu kita yang sangat amat terbatas. Kalau mau dianalogikan lagi seperti anak SD (yang normal tentunya ya ... bukan yang jenius) yang mencoba perhitungan kalkulus, teori relativitas, dan teori ketidakpastian. Yang terjadi tentunya ia akan menyalahkan perhitungan.

Contoh lain ialah ternyata ternyata Hukum Newton itu tidak berlaku pada saat-saat tertentu, misalnya ketika kecepatan mendekati kecepatan cahaya (kalau nggak salah yaaaaa ... udah lama banget nggak megang fisika nih ...). Yang berlaku adalah teori relativitasnya Einstein. Jika kita memaksakan hukum Newton pada situasi itu, jelas kita melakukan kesalahan.

Jadi kembali lagi, janganlah sekali-kali kita berani maupun memberanikan diri untuk mensejajarkan diri denganNya ataupun mencoba menafsirkan kehendakNya dengan ilmu kita. Tulisan saya sebelumnya menyebut diri kita sebagai makhluk yang lemah. Ya ... memang kita makhluk yang lemah ... ilmu, panca indera, otak kita sangat terbatas ... sangat terbatas.

Jadi bagaimana kita menyikapi bencana yang tak kunjung reda menimpa negeri kita ini? Minggu lalu dalam perjalanan kantor saya mendengarkan diskusi di radio soal ini (harusnya ini jadi satu topik blog nih ... :) tapi ya sudahlah he3x).
Ada 3 hikmah, yang pertama, kembali lagi kita diingatkan kalau dunia ini fana. Kecintaan yang berlebihan pada dunia tanpa penghambaan padaNya akan membuat kita sangat tergantung pada dunia ini. Kita lupa kalau harta, jabatan, rumah, mobil, istri/suami, anak, semua hanya titipan dariNya dan Ia dapat mengambilnya kapan saja.
Yang kedua, bahwa kita ini lemah. Kita boleh sombong (dan mungkin inilah yang menghinggapi masyarakat negeri ini) dengan ilmu kita, membangun bangunan megah, menimbun harta, bersenang-senang dengan kekayaan, berdiri di atas hukum dan kesengsaraan orang lain dan lain sebagainya. Namun jika Tuhan menghendaki, tidak perlu waktu lama, dalam sekejap hilanglah itu semua .... (Cak Min, kalau Ia menghendaki, tidak perlu waktu lama-lama, jadilah ... dan terjadi ...)
Yang ketiga, kita yang selamat diberikan kesempatan untuk membersihkan nurani kita, membantu sesama. Selama ini hati kita yang kalau diibaratkan cermin mungkin sudah saat berdebu dan kotor sehingga sulit untuk bercermin. Inilah saatnya untuk membersihkan cermin itu dan berkaca, karena mungkin selama ini kita sudah lupa akan penderitaan saudara-saudara sebangsa.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menderita dan meninggal? Seperti saya utarakan di atas, ilmu kita tidak mencukupi untuk menafsirkan ini. Kita bisa berburuk sangka padaNya, namun kita juga bisa berbaik sangka padaNya ... saya misalnya, bisa menelurkan berbagai teori di sini ... tapi terus terang saya nggak berani ... tidak punya ilmu ...

Masih ingat soal circle of influence dan circle of concernnya Stephen Covey? Kalau lupa mungkin bisa ngintip ini dan ini .. :). Dari sudut ini jelas kalau keputusanNya adalah circle of concern, sesuatu yang di luar kuasa kita. Tidak ada gunanya kita menghabiskan energi kita di sini, lebih baik kita berfokus pada circle of influence, seperti ketiga hikmah di atas.

Buat saya pribadi, kalau saya tertimpa musibah, sedikit apapun, biasanya saya berusaha refleksi. Lupa bayar zakat? Tadi nyerempet orang di jalan? Muka terlalu tegang? Suara terlalu keras ke anak? Dari pada meributkan musibah itu dan apakah kita layak menerimanya atau tidak, lebih baik kita gunakan kejadian itu untuk melakukan refleksi terhadap diri dan perbuatan kita.

Panjang juga tulisan ini ... semoga bermanfaat. Seperti biasa kalau ada komentar silahkan .... :)

Kajian 8 Juni 2006

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. QS An Nahl 69.

Wednesday, June 07, 2006

Konsep Penciptaan



Jika anda seorang IT-man, apa yang yang muncul di benak anda melihat suatu sistem IT yang solid? Rasanya anda akan mengagumi, bertanya siapa yang membuatnya dan memberikan pujian pada sang pembuat. Jika anda penggemar makanan, bagaimana sikap anda terhadap makanan yang luar biasa lezat dan indah penampilannya? Rasa-rasanya kekaguman akan muncul, pada benda tersebut dan tentu terlebih-lebih pada pembuatnya.

Melihat meja, rumah, mobil, hasil lukisan, dan berbagai benda di dalam hidup ini yang indah, cantik, serasi, tidak salah lagi jika timbul rasa kekaguman dan rasa hormat kepada pembuatnya.

Namun sayang sering kita lupa mencermati alam ini sendiri. Cara pepohonan tumbuh, matahari yang bersinar, air danau dan langit yang biru (seperti foto saya di atas hehehe), bintang-bintang, desiran angin, dan lain sebagainya sampai pada penciptaan tubuh kita sendiri. Kalau sebuah meja saja ada pembuatnya, apakah sistem yang kompleks seperti aliran darah di dalam tubuh, sistem alam surya, mengalirnya air dari posisi tinggi ke posisi rendah, dan lain-lain - ini semua muncul begitu saja, tanpa ada yang menciptakannya?

Kita mengagumi dan mengakui kehebatan para ahli pembuat chip komputer. Namun kenapa ya kita tidak pernah berfikir apakah otak manusia yang jauh lebih rumit dan ruwet itu muncul begitu saja ... plong ...! Atau ada Zat yang menciptakannya?

Dari logika kita, jelas tidak mungkin suatu meja tiba-tiba muncul begitu saja tanpa ada yang membuatnya(kecuali tentunya di Hogwarts hehehe). Namun entah kenapa, kita tidak mau bersusah-payah berpikir dan mau begitu saja menerima kalau alam ini muncul tanpa ada yang membuat dan mengelolanya.

Jika membuat suatu pesawat ruang angkasa membutuhkan waktu bertahun-tahun, berapa waktu yang dibutuhkan oleh kumpulan otak manusia untuk menciptakan dan mengelola seluruh isi alam semesta ini? Jelas otak kita dan manusia tidak mampu melakukannya. Ada suatu Zat Yang Maha Besar, Maha Tahu, Maha Kuat yang berada di balik ini semua.

Ditarik balik ke tulisan mengenai dogmatis, menurut saya seharusnya kita bisa melihat bahwa kedua sisi pemikiran ini ujung-ujungnya berakhir pada suatu titik yang sama.
Dari sisi pemikiran otak melihat alam ini, kita sadar kalau otak kita sangat terbatas.
Dan jika dibalik dari sisi alam ini sendiri, mau tak mau kita menyadari adanya pencipta yang luar biasa, Sang Pencipta, the one and only one ...

Kesimpulan lebih lanjut buat saya pribadi ialah bahwa kita adalah makhluk yang sangat lemah dan adanya suatu Zat Yang Maha Besar yang mengatur ini semua.

Akhirnya - buat saya - menerima kesimpulan di atas adalah sangat penting dalam perjalanan hidup kita. Dengan menerimanya kita bisa mendudukkan diri kita pada posisi yang tepat dan bertindak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita ... sesuai takarannya ... tidak kurang ... tidak lebih ...

Ada komentar? Monggo ... Ini pemikiran sederhana 30 menit seusai pulang kerja ... :). Bersambung? So pasti ... lagi banyak ide nih, thanks to Cak Min ...