Saturday, September 20, 2008

I'tikaf

Masjid Nabawi


Kemarin masukkan uang ke kencleng mesjid, terus teringat kata ustad, niatkan untuk menghapus dosa. Ketika uang mulai dimasukkan ... perlahan-lahan ada yang mulai meleleh, kesedihan bercampur dengan keikhlasan dan rasa ridho .... amiiiin.

Ini saatnya, kita memasuki 10 malam terakhir ramadhan. Sang udstad berujar, kalau merubah hidup, inilah saatnya! Kencangkan ikat pinggang, lupakan yang namanya keinginan makan ini dan itu. Hidupkan malam, isi malam-malam dengan ibadah, dengan munajat, dengan doa. Bangunkan keluarga, ajak untuk menghiasi 10 malam terakhir ini. Sang ustad bercerita tentang perang Badar, perang yang dilakukan orang umat muslim pada tahun pertama turunnya kewajiban berpuasa. Dengan jumlah kaum muslimin yang jauh lebih kecil dari musuh, apa yang bisa diharapkan? PertolonganNya, hanya pertolonganNya. Dan subhanalloh ... pertolongan itu sungguh dekat ... sungguh dekat.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS 2.214)

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS 2.153)

I’tikaf
Dakwatuna.com

I’tikaf, secara bahasa, berarti tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jadi, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beri’tikaf bisa dilakukan kapan saja. Namun, Rasulullah saw. sangat menganjurkan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Inilah waktu yang baik bagi kita untuk bermuhasabah dan taqarub secara penuh kepada Allah swt. guna mengingat kembali tujuan diciptakannya kita sebagai manusia. “Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu,” begitu firman Allah di QS. Az-Zariyat (51): 56.

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik menegaskan hal itu, “Adalah Rasulullah saw. beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan, pada tahun wafatnya Rasulullah saw. beri’tikaf selama 20 hari. Para sahabat, bahkan istri-istri Rasulullah saw., selalu melaksanakan ibadah ini. Sehingga Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuan saya tak seorang ulama pun mengatakan i’tikaf bukan sunnah.”

“I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah,” begitu kata Ibnu Qayyim.

Itulah urgensi i’tikaf. Ruh kita memerlukan waktu berhenti sejenak untuk disucikan. Hati kita butuh waktu khusus untuk bisa berkonsentrasi secara penuh beribadah dan bertaqarub kepada Allah saw. Kita perlu menjauh dari rutinitas kehidupan dunia untuk mendekatkan diri seutuhnya kepada Allah saw., bermunajat dalam doa dan istighfar serta membulatkan iltizam dengan syariat sehingga ketika kembali beraktivitas sehari-hari kita menjadi manusia baru yang lebih bernilai.

I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam, yaitu:

1. I’tikaf sunnah, yaitu i’tikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Alah. Contohnya i’tikaf 10 hari di akhir bulan Ramadhan.
2. I’tikaf wajib, yaitu i’tikaf yang didahului oleh nadzar. Seseorang yang berjanji, “Jika Allah swt. menakdirkan saya mendapat proyek itu, saya akan i’tikaf di masjid 3 hari,” maka i’tikaf-nya menjadi wajib.

Karena itu, berapa lama waktu beri’tikaf, ya tergantung macam i’tikafnya. Jika i’tikaf wajib, ya sebanyak waktu yang diperjanjikan. Sedangkan untuk i’tikaf sunnah, tidak ada batas waktu tertentu. Kapan saja. Bisa malam, bisa siang. Bisa lama, bisa sebentar. Seminimal-minimalnya adalah sekejab. Menurut mazhab Hanafi, sekejab tanpa batas waktu tertentu, sekedar berdiam diri dengan niat. Menurut mazhab Syafi’i, sesaat, sejenak berdiam diri. Dan menurut mazhab Hambali, satu jam saja. Tetapi i’tikaf di bulan Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah saw. adalah selama 10 hari penuh di 10 hari terakhir.

Syarat dan Rukun I’tikaf

Ada tiga syarat orang yang beri’tikaf, yaitu muslim, berakal, dan suci dari janabah, haid dan nifas. Artinya, i’tikaf tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir, anak yang belum bisa membedakan (mumayiz), orang yang junub, wanita haid dan nifas.

Sedangkan rukunya ada dua, yaitu, pertama, niat yang ikhlas. Sebab, semua amal sangat tergantung pada niatnya. Kedua, berdiam di masjid. Dalilnya QS. Al-Baqarah (2): 187, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka bertakwa.”

Masjid yang mana? Imam Malik membolehkan i’tikaf di setiap masjid. Sedangkan Imam Hanbali membatasi hanya di masjid yang dipakai untuk shalat berjama’ah atau shalat jum’at. Alasannya, ini agar orang yang beri’tikaf bisa selalu shalat berjama’ah dan tidak perlu meninggalkan tempat i’tikaf menuju ke masjid lain untuk shalat berjama’ah atau shalat jum’at. Pendapat ini diperkuat oleh ulama dari kalangan Syafi’i. Alasannya, Rasulullah saw. beri’tikaf di masjid jami’. Bahkan kalau kita punya rezeki, lebih utama kita melakukannya di Masjid Haram, Masjid Nabawi, atau di Masjid Aqsha.

Rasulullah memulai i’tikaf dengan masuk ke masjid sebelum matahari terbenam memasuki malam ke-21. Ini sesuai dengan sabdanya, “Barangsiapa yang ingin i’tikaf denganku, hendaklah ia i’tikaf pada 10 hari terakhir.”

I’tikaf selesai setelah matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi, beberapa kalangan ulama lebih menyukai menunggu hingga dilaksanakannya shalat Ied.

Ketika Anda i’tikaf, ada hal-hal sunnah yang bisa Anda laksanakan. Perbanyaklah ibadah dan taqarub kepada Allah. Misalnya, shalat sunnah, tilawah, bertasbih, tahmid, dan tahlil. Beristighfar yang banyak, bershalawat kepada Rasulullah saw., dan berdoa. Sampai-sampai Imam Malik meninggalkan aktivitas ilmiahnya. Beliau memprioritaskan menunaikan ibadah mahdhah dalam i’tikafnya.

Meski begitu, orang yang beri’tikaf bukan berarti tidak boleh melakukan aktivitas keduniaan. Rasulullah saw. pernah keluar dari tempat i’tikaf karena mengantar istrinya, Shafiyah, ke suatu tempat. Orang yang beri’tikaf juga boleh keluar masjid untuk keperluan yang diperlukan seperti buang hajat, makan, minum, dan semua kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Tapi setelah selesai urutan itu, segera kembali ke masjid. Orang yang beri’tikaf juga boleh menyisir, bercukur, memotong kuku, membersihkan diri dari kotoran dan bau. Bahkan, membersihkan masjid. Masjid harus dijaga kebersihan dan kesuciannya ketika orang-orang yang beri’tikaf makan, minum, dan tidur di masjid.

I’tikaf dikatakan batal jika orang yang beri’tikaf meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Sebab, ia telah mengabaikan satu rukun, yaitu berdiam di masjid. Atau, orang yang beri’tikaf murtad, hilang akal karena gila atau mabuk. I’tikaf juga batal jika wanita yang beri’tikaf haid atau nifas. I’tikaf juga batal kalau yang melakukannya berjima’ dengan istrinya. Begitu juga kalau ia pergi shalat Jum’at ke masjid lain karena tempatnya beri’tikaf tidak dipakai untuk melaksanakan shalat jum’at.

I’tikaf bagi muslimah

I’tikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas, yaitu, pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua. Apabila izin telah dikeluarkan, tidak boleh ditarik lagi.

Kedua, tempat dan pelaksanaan i’tikaf wanita sesuai dengan tujuan syariah. Para ulama berbeda pendapat tentang masjid untuk i’tikaf kaum wanita. Tapi, sebagian menganggap afdhal jika wanita beri’tikaf di masjid tempat shalat di rumahnya. Tapi, jika ia akan mendapat manfaat yang banyak dengan i’tikaf di masjid, ya tidak masalah.

Terakhir, agar i’tikaf kita berhasil memperkokoh keislaman dan ketakwaan kita, tidak ada salahnya jika dalam beri’tikaf kita dibimbing oleh orang-orang yang ahli dan mampu mengarahkan kita dalam membersihkan diri dari dosa dan cela.

Contoh Agenda I’tikaf

Magrib: ifthar dan shalat magrib
Isya: Shalat Isya dan tarawih berjamaah, ceramah tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan kajian akhlak. Tidur hingga jam 02.00. Qiyamullail, muhasabah, dzikir, dan doa. Sahur.
Subuh: shalat Subuh, dzikir dengan bacaan-bacaan yang ma’tsur (al-ma’tsurat), tadarus Al-Qur’an.
Pagi: istirahat, mandi, cuci, dan melaksanakan hajat yang lain.
Dhuha: shalat Dhuha, tadzkiyatun nafs, dan kuliah dhuha.
Zhuhur: shalat Zhuhur, kuliah zhuhur, dan tahsin tilawah.
Ashar: shalat Ashar dan kuliah ashar, dzikir dengan bacaan-bacaa yang ma’tsur (al-ma’tsurat).

Friday, September 19, 2008

Panah Yang Tak Pernah Melesat

Masjid Namirah - Arafah


Panah Yang Tak Pernah Melesat
(Al Fikrah No.17 Thn VIII/6 Dzulqa'dah 1428 H)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS 2:186)

Tanyakan kepada semua orang, adakah manusia yang tidak memiliki persoalan hidup? Siapa di antara kita yang sepanjang hidupnya diliputi kesenangan? Siapa pula di antara kita yang tidak memiliki obsesi yang tak kunjung terealisasi? Adakah di antara kita yang merasa tenang karena yakin bahwa dosa-dosanya tidak akan menyeretnya ke dalam neraka?

Mereka tentu akan menjawab, "Tidak ada!"

Kita semua memiliki beragam persoalan. Kita pun sering diliputi kesedihan dan duka. Cita-cita dan harapan yang masih tertunda. Bayangan-bayangan dosa pun senantiasa menghantui. Lalu kemana hendak mengadu?

Mengapa Ragu Berdoa


Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita itu jauh sehingga kita menyeru-Nya, ataukah Dia dekat, sehingga kita cukup berbisik kepada-Nya?" Maka turunlah firman Allah "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, ….." (QS. Al Baqarah: 186).

Pertanyaan yang ditanyakan oleh lelaki tersebut adalah pertanyaan yang begitu mudah. Tapi Rasulullah tidak menjawabnya. Apakah Rasulullah tidak mengetahui jawabannya? Tentu saja Rasulullah tahu.

Marilah kita cermati kembali firman Allah di atas, "Apabila ia memohon kepada-Ku". Ayat ini mengandung konsekuensi berdoa terlebih dahulu sebelum berharap pengabulannya. Ya, Allah akan mengabulkan permintaan Anda, tapi dengan syarat, Anda mesti berdoa terlebih dahulu.

Perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan Allah dalam ayat-ayat berikut ini, dan perhatikan pula jawabannya. Allah berfirman, "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji." (QS. Al Baqarah: 189).

"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar." (QS. Al Baqarah: 217).

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul." (QS. Al Anfâl: 1).

Setiap pertanyaan dalam ayat-ayat di atas jawabannya selalu didahului dengan kata "qul" (katakanlah). Berbeda dengan ayat berikut ini, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (QS. Al Baqarah: 186).

Dalam ayat ini, Allah yang langsung menjawabnya tanpa menggunakan kata "qul" (katakanlah), sebab hubungan yang ada adalah hubungan langsung, kontak terbuka antara kita dengan Allah kapan dan di mana saja, tanpa ada perantara antara kita dengan-Nya. Apalagi yang menghalangi tangan kita untuk tengadah berdoa kepada-Nya? Bukankah Allah Yang Mahakaya lagi Mahakuasa atas segala sesuatu telah berkata kepada kita, "Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan permohonanmu"?

Allah yang Mahakaya, Pemilik segala sesuatu, menyuruh Anda untuk meminta kepada-Nya. Tapi mengapa ketika kita ditimpa musibah, atau didera cobaan dan kesulitan, kita lebih memilih untuk meminta dan mengadu kepada sesama makhluk? Masuk akalkah seorang yang sedang tenggelam, memohon pertolongan dari orang yang juga tenggelam? Masuk akalkah, seseorang yang sedang membutuhkan, meminta pertolongan kepada orang yang juga membutuhkan?

Allah berfirman, "Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah; dan Allah Dialah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Mahaterpuji." (QS. Fâthir: 15).

Alangkah dalam pengertian ayat ini! Setiap kita membutuhkan Allah! Orang kaya di antara kita adalah fakir. Penguasa kita adalah fakir. Rakyat jelata kita pun fakir. Setiap kita adalah hamba-hamba Allah yang fakir! DAn Allahlah yang Mahakaya, Al Ghaniy Al Hamîd. Kata-kata Al Ghaniy ini disebutkan dalam bentuk ma'rifah, agar kita tahu bahwa kekayaan ini adalah kekayaan (ketidakbutuhan) yang sifatnya mutlak dan absolut.

Anda bertanya, "Siapakah sebenarnya Sang Pemberi yang begitu Dermawan itu?" Dialah Allah! Salah satu nama-Nya adalah "Al Karîm", yang berarti Zat Yang Mahamemberi tanpa diminta. Subhanallah! Maka apalagi jika diminta!

Keutamaan Doa

Pernahkah Anda memperhatikan susunan surah-surah dalam Al Qur'an? Ternyata Kitabullah dimulai dengan doa, surah Al Fatihah. Bukankah surah ini berisi doa agar kita ditunjuki jalan yang lurus? Lalu surah An-Nâs, surah penutup dalam Al Qur'an. Surah ini pun berisi doa perlindungan dari kejahatan bisikan setan, jin maupun manusia.

Maka Al Qur'an dibuka dengan doa lalu ditutup dengan doa pula, menunjukkan keutamaan yang agung dari doa ini.

1. Yang Paling Mulia di Sisi Allah
Rasulullah bersabda, "Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah melebihi doa." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

2. Karenanya Allah C
Rasulullah bersabda, "Siapa yang tidak berdoa kepada Allah I, maka Allah akan murka kepadanya." (HR. HR. Ahmad dan selainnya, dinyatakan hasan oleh Al Albani).

Dari hadits ini, kita bisa pahami bahwa doa adalah ibadah yang dicintai oleh Allah. Demikian pula orang yang berdoa dicintai oleh Allah. Mengapa demikian? Karena Allah murka kepada hamba-Nya yang tidak mau berdoa.

Nah, sekarang Anda dihadapkan pada dua pilihan, Anda tetap enggan dan malas berdoa lalu Allah murka kepada Anda, atau Anda berdoa dan Allah pun cinta kepada Anda? Jiwa-jiwa yang sehat tentu akan memilih pilihan kedua, seperti halnya Anda. Bukan begitu?

3. Ibadah yang Paling Utama
Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata, "Ibadah yang paling afdhal adalah doa." (HR. Hâkim, juga diriwayatkan secara marfu’ dan dinyatakan hasan oleh Al Albânî).

Bentuk-bentuk Pengabulan Doa

Sekian banyak kenikmatan yang telah Allah karuniakan kepada Anda merupakan jawaban atas doa-doa Anda kepadaNya. Anda bertanya, "Bagaimana bisa seperti itu?"
Ternyata, doa yang kita panjatkan tidak ada yang sia-sia, karena bisa jadi doa yang kita panjatkan itu dikabulkan dalam bentuk lain.

Di antara bentuk pengabulan doa adalah:
Pertama: Doa Anda dikabulkan di dunia.
Kedua: Ditangguhkan sampai hari kiamat.
Ketiga: Sebagai penangkal kejelekan yang mungkin akan menimpa Anda.

Inilah rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia tak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang kita lakukan.

Tapi mungkin Anda tidak tertarik dengan hal ini. Dan Anda berkata, misalnya ketika Anda sedang butuh uang untuk suatu keperluan dan Anda telah berdoa kepada Allah agar diberi rezeki, "Allah Maha Mengabulkan doa, dan saya menginginkan doa saya dikabulkan di dunia. Saya hanya ingin uang, bukan dalam bentuk lain."

Ini adalah hal yang wajar. Tapi apakah Anda yakin bahwa setiap doa Anda akan mendatangkan kebaikan? Sebab bisa jadi, sebagian doa Anda justru akan mendatangkan kejelekan bagi Anda. Anda mungkin telah berdoa agar bisa lulus di perguruan tinggi favorit di kota Anda. Anda betul-betul menghiba bahkan sampai meneteskan air mata dalam berdoa.

Namun Anda ternyata tidak diterima di perguruan tinggi itu. Apa yang akan Anda katakan? "Allah tidak mengabulkan doaku!".

Namun sebenarnya Allah telah mengabulkannya! Yaitu dengan menghalangi kejelekan yang hampir menimpa Anda tanpa Anda sadari jika Anda diterima kuliah di tempat tersebut. Bisa jadi di PT itu Anda akan dipertemukan dengan teman-teman yang buruk akhlak dan perangainya, yang justru akan menggelincirkan Anda dalam kebinasaan dunia dan
akhirat.

Atau, Allah menangguhkan jawaban doa tersebut di akhirat dalam bentuk pahala yang tidak pernah Anda sangka-sangka sebelumnya. Demikian menakjubkannya pahala itu, sampai-sampai Anda berharap agar doa-doa Anda tidak dikabulkan di dunia. Semua untuk simpanan akhirat saja.

Wednesday, September 17, 2008

Tersenyum ... :)

Smile


Dalam hidup ini begitu banyak hal yang silih berganti mengisi hidup kita. Mulai dari urusan serius sampai yang kita rasa remeh-remeh. Misalnya kita mau dipromosi di kantor, motor kita yang menyerempet orang yang mau menyeberang jalan, senyuman bos di kantor sewaktu bertemu, anak kita yang cerita soal ulangannya yang bagus, harga telur yang naik, keinginan ibu untuk naik haji, mobil yang mogok ketika mau dipakai, menu berbuka nanti sore, dan banyak lagi ....

Begitu banyak yang lewat, sibuk silih berganti. Begitu banyaknya sampai sering kali kita melihatnya sebagai sesuatu yang rutin. Sesuatu yang memang pantas kita terima, tanpa perlu pusing memikirkannya. Udara pagi, matahari pagi, kendaraan yang berfungsi, rutinitas di kantor, situasi rumah yang kondusif, segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, dan kita menerimanya dengan anggapan bahwa ini semua adalah hak kita, kita pantas menerimanya.

Kita mengucapkan rasa syukur karena diberikan kesehatan, kekuatan, kelapangan, iman, dan islam. Namun apakah kita benar-benar merasakan itu? Merasakan dan mensyukuri ketika kita bangun untuk sahur tadi badan kita sehat? Kita bisa bangun dari tempat tidur, mengambil wudhu, lalu melangkah ke meja makan. Mensyukuri kita masih bisa mengangkat tangan kita, mengambil sendok. Mensyukuri kita masih bisa mengunyah dengan baik, meminum dengan mudah.

Menelusuri apa-apa yang kita lakukan sejak bangun saja tadi, kita temukan begitu banyak kejadian – sesederhana apapun itu – yang seharusnya membuat kita tersadar dan menyadari betapa banyak nikmat ya Allah curahkan untuk kita.

Apa yang terjadi kalau kita tadi tidak bisa bangkit? Kalau kita merasakan kesakitan yang amat sangat? Kalau ketika wudhu kita terpleset? Kalau tenggorokan kita tercekat dan kita tak bisa menelan apapun. Subhanalloh ....

Firman Allah:
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.
(QS Al A’raaf 7:10)

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS Al Mulk 67:23)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 14:7)

Jadi bagaimana kita bisa meresapi setiap kejadian yang menimpa diri kita dan senantiasa mensyukurinya, setiap detik darinya?

Ada resep sederhana. Kita mulai dan kita senantiasa dalam keadaan tersenyum. Kita sunggingkan senyum, meski ketika mobil kita mogok, karena kita ingat bahwa keluarga melepas kita berangkat dengan senyum. Kita tersenyum ketika harga telur naik, karena kita masih bisa beli telur meski mungkin jumlahnya harus dikurangi. Dan seterusnya ...

Yang mungkin kita sering lupa bahwa ternyata tersenyum itu sangat menyenangkan. Sangat menyenangkan :) Bukan hanya tersenyum itu, tapi seluruh prosesnya. Mulai dari proses belajarnya, bagaimana otot-otot pipi yang tadinya kaku ini rileks dan secara alamiah bisa menarik pipi dan bibir ini untuk tersenyum. Lalu bagaimana otot ini secara perlahan-lahan mendesak dan mendorong hati ini untuk turut tersenyum dan memancarkannya di wajah kita.

Proses lain ialah bagaimana kita melemparkan senyum itu. Kita belajar tersenyum pada tukang parkir, pada petugas saat bayar parkir, pada keamanan yang mau memeriksa mobil, pada supir angkot, pada tukang ojek, pada tukang yang sedang bekerja di rumah tetangga, pada tukang nasi goreng cek-cek, pada teman kantor, pada orang yang kita temui di lift, pada kasir dan pelayan tempat saya makan siang, pada istri, pada anak-anak, pada tetangga, pada para bapak-bapak di mesjid ...

Lebih jauh lagi, mudah-mudahan – Insya Allah – kita akan mulai menikmati reaksi balik dari orang-orang yang kita temui. Ada yang segera membalas dengan tulus, ada yang heran (siapa sih ini orang, kok senyam-senyum), ada yang ragu-ragu (eng ... ini bapak kerja di sini kaya'nya deh), sampai ada yang diam saja (kaya'nya karena bingung ....).

Namun, itu tak sepenting kenyataan bahwa kita perlu dan senantiasa tersenyum. Tersenyum untuk menghargai setiap detik kita dan setiap butiran rezeki yang senantiasa dilimpahkanNya ...

Mari ... sejak sekarang, sejak saat ini, kita biasakan diri untuk tersenyum ...

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu kesempatan pernah bersabda, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

Abdullah bin Al-Harist Radliyallahu’anhu menuturkan, yang artinya,”Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebuh banyak tersenyum daripada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)

Tuesday, September 16, 2008

Cobaan

Stone mountain ...


Monyet, menjadi contoh sang ustad ketika bercerita tentang cobaan. Beliau bercerita tentang seekor monyet yang naik pohon. Ketika angin menerjang pohon itu, sang monyet tidak jatuh karena ia berpegang dengan erat ke pohon itu. Begitu juga ketika angin itu berubah menjadi badai. Si monyet makin mengencangkan pegangannya ke pohon itu, sehingga ia tak terjatuh. Namun ketika badai telah usai dan berganti dengan kesejukan dan angin sepoi-sepoi, sang monyet pun pelan-pelan terlena. Sampai pada akhirnya ia terjatuh ... bukan karena angin keras, tapi karena angin sejuk yang meninabobokan ...

Apakah sang monyet bisa naik kembali ke atas pohon? Apakah sang monyet lantas memetik pelajaran dari kejadian yang baru ia alami?

Sang ustad mengingatkan bahwa kesulitan itu murid kehidupan. Kita memerlukan itu agar kita bisa menghargai pegangan kita pada iman, taqwa, islam(buat si monyet - pohon), baik saat kita sulit, terlebih lagi ketika hidup kita dalam kemudahan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS 3:14)

Apa hikmah dari suatu kesulitan/cobaan?

Yang pertama, itu semua terjadi karena izinNya. Tiada sesuatu di alam ini yang terjadi tanpa izinNya
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (QS 6:59)

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 64.11)

Yang kedua, kita harus ridho pada takdirNya, keputusanNya
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS 2:286)

Minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa payah. Bila suatu perkara menimpamu, maka katakanlah "Allah telah mentakdirkan. Dan apa saja yg Dia kehendaki, terjadilah." Dan janganlah kamu mengatakan "Kalau aku melakukan ini, tentulah seperti ini." Karena mengatakan kata 'kalau saja' akan membuka usaha setan (hadits)

Yang ketiga, meyakini sepenuhnya bahwa kesulitan yang kita terima itu sudah diukur, sesuai dengan kekuatan iman kita. Jalani, karena bersama kesulitan ada kemudahan

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS 94:5-6)

Monday, September 15, 2008

light ... seek for it


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang mempersekutukan Allah, maka ia sungguh telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisa 4:48)

Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid 57:21)

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At Tahriim 66:8)

Allah Berfirman:
"Wahai anak manusia, setiap kali engkau meminta kepada-Ku dan mengharap dari-Ku, maka Aku akan ampunkan bagimu apa yang telah lalu dan Aku tidak peduli betapapun besar dan banyaknya dosamu. Wahai anak manusia, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak manusia, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa setumpuk dosa sebesar bumi, kemudian engkau berjumpa dengan-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku akan memberikan ampunan sebesar bumi itu pula"
(Hadits Qudsi Riwayat Turmudzi)

Saturday, September 13, 2008

Ramadhan

waiting for sunrise


Sang ustad bercerita tentang penyakit rohani seperti munafik, dengki, sombong, riya, cinta dunia, tidak ikhlas, menuhankan selain dJJ, dan banyak lagi. Beliau mengingatkan, bahwa persoalannya tidak selesai ketika kita meninggal. Kita akan ditanya, dan astagfirullah begitu banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mengingatkan kita tentang ini ...

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. 1:5-7)

Untuk itu, mari kita isi ramadhan ini dengan mencuci diri kita, rohani kita, iman kita. Bersihkan niat kita. Apa niat hidup kita? Untuk apa kita hidup, kenapa kita hidup, mau kemana hidup kita?

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS :88-89)

Sungguh, Allah sayang pada kita. Dosa bertumpuk, tapi kita terus diberikan kesempatan utk minta ampun. Jika kita ridho padaNya, keputusanNya, takdirNya, Allah akan ridho dgn keadaan kita yang compang-camping, sholat tidak khusyu, ibadah yang ikhlas, dosa yg senantiasa menggunung, insya Allah.

Pintu taubat selalu terbuka bagi yang dengan ikhlas menginginkannya. Mintalah padaNya, dan hanya padaNya ...

Mari kita isi bulan yang istimewa ini dengan belajar melatih diri untuk mengenyampingkan nafsu duniawi dan mengoptimalkan rohani kita.

Kemarin pas sholat Jum’at, subhanalloh ... serasa di Madinah. Suasana khidmat, ramai tapi khusyu, dan semua orang sibuk mencariNya. Pas sholat sunnat air mata sempat bergulir, terharu karena masih dikasih umur untuk sholat dan meminta ampunanNya. Dan ketika ayat-ayat Al Qur’an mulai dilafazkan, subhanalloh nikmat sekali ...

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55:13)

Sunday, August 31, 2008

Kendalikan Waktu, Optimalkan Ramadhan

take me back here

Kendalikan Waktu, Optimalkan Ramadhan
Tim dakwatuna.com

Saudaraku, kami sangat senang sekali bisa mendampingi para pembaca dan kita semua untuk berusaha menjadi muslim dan muslimah yang kaffah, terutama sekali di Bulan Suci Ramadhan yang dalam hitungan hari lagi akan menjumpai kita. Menjadi muslim dan muslimah yang sukses meraih piala dan pahala dari Tuhan semesta.

Oleh karena itu, kami berusaha untuk memberi “acuan” kegiatan dan pengaturan atau pemanfaatan waktu selama Ramadhan dengan full ibadah. Di antara point-point itu adalah:

Pertama, Memenej Waktu.
Artinya menjadikan waktu yang dua puluh empat jam sehari itu penuh makna dan manfaat. Paradigma memenej waktu yang efektif dan efesien adalah bagaimana bisa meraih target besar dengan seminim cara dan sarana yang ada.

Harus diketahui terlebih dahulu, “apa target yang kita inginkan”, dari sini kita berusaha untuk memenej waktu sebaik mungkin.

Kedua, Menyusun Prioritas
Menyusun “Yang terpenting kemudian yang penting”, karena waktu yang tersedia tidak lah mencukupi untuk melaksanakan segala sesuatu. Waktu yang tersedia hanya cukup untuk melaksanakan yang penting saja. Kita harus menyusun daftar kegiatan, kerja, amal dan shedulle waktunya untuk kemudian dilaksanakan sesuai prioritas. Sudah waktunya kita tinggalkan rutinitas harian, dan lebih mengedepankan pada skala prioritas.

Ketiga, Gunakan Teknologi
Kita sudah sangat dimanja dengan kemajuan teknologi yang ada. Dalam rangka memenej waktu gunakanlah teknologi yang ada, seperti HP, komputer, radio, televisi dan lain-lainnya.

Ada beberapa langkah teknis guna membantu kita untuk sukses Ramadhan:
  1. Tentukan apa yang Anda inginkan di Bulan Ramadhan secara garis besar, dalam point-point yang jelas. Seperti, mengkhatamkan Al Qur’an 4 kali. Tahajjud 10 rakaat, silaturrahim dengan kerabat dan seterusnya.
  2. Usahakan target umum di atas dirinci secara detail. Seperti, khatam Al Qur’an 4 kali itu berarti, 120 Juz dibagi 30 Juz, sehingga sehari harus membaca 4 Juz. 1 Juz misalkan dibaca setelah shalat Subuh. Dua Juz setelah Ashar sampai Maghrib, dan 1 Juz ketika shalat tahajjud atau menjelang sahur. Demikian juga dengan kegiatan silaturrahim kerabat dan shalat malam… rencanakan dan laksanakan.
  3. Mulai laksanakan. Jika ada yang harus direvisi, adakan revisi namun harus juga disertakan target yang jelas dan tahapan yang realistis.
  4. Efisiensi setiap menit. Ingat nilai waktu laksana emas. Waktu adalah kehidupan. Optimalkan waktu di setiap kesempatan dan tempat. Seperti saat-saat menunggu atau antri. Jauhkan diri dari kebanyakan omong, karena sebaik-baik omongan adalah sedikit tapi berarti.
  5. Ramadhan bulan shiam, bukan bulan makanan. Usahakan menggunakan waktu se-efesien mungkin dalam berurusan dengan makanan. Baik dalam penyajian atau dalam menyantapnya.
  6. Pendelegasian… Jangan lakukan semua, kita hanya punya dua tangan saja. Kita tidak bisa melaksanakan segalanya. Dengan pendelegasian, menjadikan kita mampu menggunakan banyak tangan yang bisa merealisasikan banyak hal, seperti pendelegasian terhadap orang lain, anak kita, teman kita, tetangga kita, istri kita dan seterusnya.
  7. Pertama dan terakhir adalah do’a. Do’a keberkahan waktu dalam ta’at, amal shaleh, dan agar Allah swt. menerima semua amal kita.
Akhirnya, marilah kita rencanakan dengan rapih apa yang kita inginkan di bulan Ramadhan, kemudian susun strategi pelaksanaannya, yang terbagi dalam setiap waktu dan hari atau shedule, selanjutnya laksanakan sesuai rencana, kemudian kita evaluasi dan revisi kekurangan untuk meraih apa yang kita inginkan. Yaitu sukses Ramadhan meraih piala dan pahala dari Allah swt. Allahu a’lam.

Saturday, August 30, 2008

Sunday, August 24, 2008

waiting ... together

waiting ... together

waiting for sunset
for new day, new hope
together,
always

Photo taken @ Sanur Beach, Bali

Friday, August 22, 2008

Shot!

Shot!


After all, it's just a show ... just like our life ...

Photo taken @ Kecak performance, Uluwatu temple, Bali

Tuesday, August 19, 2008

Praying ...

Karena satu dan lain hal - gaya amat bahasanya yak :-P - saya lagi 'sibuk' dengan foto-foto saya. So untuk sementara blog ini akan lebih banyak berisi foto-foto saya ... semoga ada yang menarik ... :)


praying


To the most gracious, most merciful ....

Photo taken somewhere in Ubud, Bali, Indonesia

Sunday, August 17, 2008

hey ... it's me!

hey ... it's me!


yeah it's me
who always cheer us up
make a perfect day for us
everyday!

Photo taken @ Desa Panglipuran, Ubud, Bali

Thursday, August 07, 2008

Menjadi Pribadi Yang Bersyukur

up to the sky


Menjadi Pribadi Yang Bersyukur
Dr. Attabiq Luthfi, MA - dakwatuna.com

"Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur". (Saba’:13)

Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari.

Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”.

Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”.

Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.

Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman Allah yang bermaksud, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.

Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.

Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt.

Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari).

Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.

Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33.

Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam.

Tuesday, August 05, 2008

Jangan Hinakan Nikmat Allah

blossom


Jangan Hinakan Nikmat Allah
Muhammad Nuh - dakwatuna.com

Hidup kadang tak ubahnya seperti untaian benang panjang yang punya dua warna. Silih berganti warna itu menghias untaian benang. Ada warna suka, ada duka. Benang akan tampak menarik ketika terhias suka. Dan, akan dibenci ketika warna duka terlalui.

Namun demikian, sebagian orang kadang lupa bahwa seperti itulah warna kehidupan. Mungkin, keterbatasan rasa manusia yang bahagia ketika suka. Dan sedih ketika duka. Tak jarang, keterbatasan itu pun menggiring pandangannya kepada Pembuat Hidup. Bahwa, suka adalah kemuliaanNya. Dan, duka adalah penghinaanNya.

Dalam surah Al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah swt berfirman, “Ada pun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanKu. Ada pun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.”

Fakta takaran kemuliaan dan kehinaan dalam pandangan sebagian manusia berkait dengan seberapa besar anugerah Allah berupa kenikmatan. Semakin kaya seseorang, semakin besar kemuliaan yang ia terima. Dan semakin miskin seseorang, seperti itulah kehinaan yang Allah berikan.

Sebagian manusia mungkin merasa sulit untuk menterjemahkan bahwa hidup bukan dua takaran tadi. Teramat sulit buat mereka untuk menggunakan kacamata iman bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian tidak melulu melekat pada satu warna. Dalam duka memang ada ujian. Pun, dalam suka ada ujian.

Penjelasannya begitu gamblang ketika Allah swt berfirman dalam surah Al-Anbiyaa ayat 35. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Seperti itulah Thalut ketika sang komandan ini ingin mendapatkan bukti kualitas pasukannya. Ia tidak ingin para pejuangnya berorientasi hanya pada kesenangan hidup. Dan tidak lagi punya semangat ketika hidup tak lagi mampu memberikan kesenangan. Karena itu, mereka harus diuji.

Ujian pun dimulai. Orang yang berkualitas biasanya akan menangkap sebuah isyarat tes. Terlebih ketika kisi-kisi tes itu sudah digambarkan begitu jelas: ketika kita melalui sungai, dilarang meminum airnya kecuali dengan cidukan tangan. Penjelasan yang begitu jelas. Tapi, begitulah orang yang tak berkualitas. Penjelasan tinggallah penjelasan. Kelakuan tak juga berubah. Kenyataannya, sedikit sekali dari pasukan itu yang menikmati air sungai dengan cidukan tangan. Selebihnya, larut dalam kenikmatan. (Al-Baqarah: 249)

Jadi, ketika nikmat Allah diterjemahkan hanya dari satu sisi yaitu kesenangan, di situlah orang terjebak dalam kedangkalan nalarnya sendiri. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, atas segala nikmatNya. Namun, ketika anugerah menempati sisi lain yang tak sesuai harapan, syukur dan terima kasihnya lenyap. Syukurnya menguap bersama kecewanya: Allah menghinakan saya.

Padahal, cocok atau tidaknya sebuah harapan dengan kenyataan yang Allah berikan, kalkulasinya begitu luas. Mungkin, kita pernah kecewa ketika kereta yang kita kejar-kejar sehingga harus ditebus dengan lewatnya sarapan pagi, ternyata harus berlalu mendahului kita. Kita kecewa. Padahal, itulah nikmat Allah. Karena, kereta itu ternyata mengalami kecelakaan. Allah menyelamatkan kita dengan sesuatu yang sebelumnya kita anggap mengecewakan.

Kita mungkin pernah kecewa ketika calon suami atau isteri yang selangkah lagi akan syah menjadi pendamping, menyatakan pembatalan sepihak. Kita kecewa. Padahal, di saat itulah Allah sedang memberikan kebaikan. Karena ternyata, beberapa bulan kemudian sang calon meninggal dunia karena penyakit dalam yang kronis.

Kekecewaan-kekecewaan itu mungkin bisa dianggap wajar. Karena ada sesuatu yang belum kita peroleh. Dan sesuatu itu memang mahal. Bahkan, seorang Nabi Musa a.s. pun harus bersusah payah mendapatkan sesuatu itu. Dan sayangnya, ia sempat gagal di tengah jalan.

Pelajaran itu bisa kita lihat ketika Allah swt mengisahkan dua hambaNya yang mulia: Musa a.s. dan Khidr a.s. Dalam surah Al-Kahfi ayat 65 hingga 82, Allah swt. menggambarkan bagaimana Musa a.s. gagal menangkap maksud tiga tindakan yang tidak menyenangkan Khidr a.s. Yaitu, melubangi perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Padahal, ketiga tindakan Khidr a.s. itu punya maksud yang amat baik. Di situlah Musa a.s. belajar tentang anugerah kebaikan dan keburukan.

Jadi, ridha atas segala sesuatu yang Allah berikan adalah pijakan awal dari lahirnya rasa syukur seorang hamba. Terhadap anugerah apa pun: besar atau kecil. Ridha dengan anugerah yang besar adalah kesiapan diri agar senantiasa menjaga amanah, agar nikmat tidak terselewengkan dalam maksiat. Dan ridha dengan yang kecil adalah kebersihan hati dari buruk sangka atas pemberian Allah.

Seorang sahabat Rasul pernah terperanjat ketika malam pertamanya tiba. Ia seperti hampir tak menerima kenyataan wajah isterinya. Ada keraguan terselip di situ. Bahkan, ketidaksukaan pun nyaris mendominasi hatinya. Seolah, hatinya bicara, “Ah, seperti inikah nikmat yang Allah berikan kepada saya?”

Namun, semua itu sirna seketika saat sang isteri mampu menangkap gelisah itu. Ia langsung membacakan sebuah ayat di surah An-Nisa. “Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)

Ketika ridha menutup segala prasangka, syukur terungkap dengan seketika. Ia muncul dari hati yang dalam. Bersih tanpa pamrih. Lahir dari kesadaran bahwa tak seorang pun yang pernah dan akan memiliki sesuatu. Tak semua kesenangan melahirkan bahagia. Dan tak semua kesusahan membawa celaka. Semuanya pinjaman dari Allah. Dan akan kembali kepada-Nya pula.

Jangan hinakan nikmat Allah. Syukurilah anugerah Allah apa adanya. Justru, dalam keridhaan dan syukur itulah kenikmatan terasa ganda. Kita tidak sedang menikmati anugerah fisik saja. Melainkan, belaian kasih sayang Allah yang tak hingga. Nikmatilah warna-warni hidup. Karena hidup memang penuh warna.

Sunday, August 03, 2008

foto: landscape vs macro

center of universe


Lagi-lagi soal foto ... :) sewaktu ke Bali kemaren rasanya saya menemukan satu hal lagi soal foto. Terutama jika membandingkan gaya foto pemandangan (landscape) dan gaya foto makro (detil bunga, serangga, pokoknya serba detil deh ...).

Jika kita datang ke suatu tempat, dan ingin mengambil foto pemandangan, maka mata kita biasanya mencari cakrawala, pemandangan terbentang, luas. Mata akan cenderung melihat ke depan dan ke atas. Kita akan sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, untuk mendapatkan cakrawala yang maksimal, pencahayaan yang optimal, dan tentunya pemandangan yang terbentang, entah itu danau, horison, laut, dan lain sebagainya.

Sementara jika kita datang untuk berfoto makro, yang terjadi adalah sebaliknya. Mata kita akan cenderung ke bawah. Ke tanah, ke pepohonan, dedaunan, ranting, sesuatu yang tergeletak di tanah, ada di ranting pohon, sesuatu yang hinggap di batang pohon dan seterusnya. Kita akan cenderung diam dan dengan tenang meneliti, menikmati, serta menghargai sesuatu yang ada di dekat kita.

Lantas kenapa? :D

Entahlah, saya merasakan memfoto landscape itu seperti memvisualisasikan masa depan. Berpikir ke depan, membayangkan apa yang kita ingin, dan lantas bergerak untuk mencapainya.

Sementara foto makro menyiratkan keinginan untuk menikmati apa yang ada, saat ini. Tiada keinginan untuk melihat dan berpikir ke depan, tetapi justru diam, dan menikmati apa yang ada saat ini di sekeliling kita .... :)

Ga' jelas apa betul hubungannya seperti ini atau bagaimana ... yang jelas ini yang saya rasakan. Ketika berada di suatu danau misalnya, ketika foto landscape, saya akan sibuk berjalan kian kemari, mencari sudut yang pas, pencahayaaan yang tepat, maupun pencarian obyek yang akan saya jadikan point of interest (POI).

Namun ketika saya berhenti, dan mulai melihat tanah yang saya pijak, dedaunan yang saya sibak, bunga yang saya lintasi, saya pun tertegun dan berhenti. Ternyata banyak sekali keindahan yang terlewati oleh saya. Saya pun bisa lenyap hanya di sepetak tanah di sudut danau itu ....

Jadi mana yang lebih bagus? Menurut saya sih dua-duanya bagus. Di satu sisi kita harus senantiasa berorientasi ke depan, menyongsong hari depan. Namun di sisi lain, kita jangan sampai tenggelam dan melupakan bahwa saat ini - detik ini - kita diberikan berbagai nikmat olehNya - nikmat sehat, nikmat iman, nikmat semangat, nikmat kekuatan ... banyaaaaaak :). Kita harus sepenuhnya sadar bahwa kita harus benar-benar mensyukuri setiap detik yang kita lalui ...

Balik ke urusan foto, ini makin bikin saya 'terjerat' kalau sedang mengambil foto. Landscape diambil, makro juga mau ... duh ... kapan kelarnya ... :-P

Friday, August 01, 2008

Simfoni di Dalam Diri

blue


Simfoni di Dalam Diri
Gede Prama - Kompas.com

Ada sebuah institusi sosial yang menyelamatkan peradaban dalam waktu lama sedang mengalami keruntuhan. Institusi itu bernama keluarga. Disebut menyelamatkan peradaban karena di keluarga kita lahir, bertumbuh, menjadi tua, dan akhirnya mati. Lebih dari itu, di keluarga juga sebagian besar kekurangan disempurnakan.

Bersamaan dengan runtuhnya bangunan keluarga (melalui perceraian, menurunnya respek masyarakat, dan semakin minimnya tokoh yang menjadi contoh dalam hal ini), di mana-mana kehidupan ditandai oleh lingkungan yang semakin panas.

Di kantor panas oleh perebutan kekuasaan, di jalan panas oleh kemacetan, bahkan sebagian tempat ibadah pun sudah mulai kehilangan kesejukan. Sejumlah media cetak, radio, dan televisi hanya memberitakan sesuatu yang panas. Yang sejuk-sejuk tidak termasuk dalam klasifikasi berita. Jadi, tidak terbayang panasnya wajah peradaban. Di satu sisi cuaca di luar memanas, di lain sisi keluarga mulai kehilangan atap yang menyejukkan.

Lahan penerimaan
Ketika sayur-sayuran ditanam kemudian gagal bertumbuh segar, manusia otomatis mencari sebabnya pada kekeliruan-kekeliruan kita sendiri. Namun, begitu berhadapan dengan orang lain, terlalu sering dalam kehidupan, manusia mencari kesalahannya pada orang lain. Bukan mencari kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan, sebagaimana ketika berhadapan dengan tetumbuhan.

Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, tidak elok bila menimpakan seluruh kekeliruan kepada Descartes yang mengultuskan ”aku” mulai ratusan tahun lalu, pada kapitalisme yang membuat semuanya jadi materialistik. Serupa dengan logika sayuran tadi, mari kita cari sebab-sebab dalam diri yang membuat semua ini terjadi.

Bila diandaikan dengan daun kelapa yang bergoyang, goncangan kehidupan manusia sekarang memang jauh lebih keras. Bahayanya, sudah tambah berguncang kemudian berpegangan pada sesuatu yang bergoyang kencang.

Di dalam diri, manusia labil oleh ketersinggungan, kemarahan, kecemburuan. Pada saat yang sama, nyaris semua hal luar (termasuk rumah dan keluarga) mengalami guncangan-guncangan. Oleh karena itulah, membangun rumah dan keluarga yang sejuk menjadi sebuah isu penting pada zaman ini.

Sebagaimana rumah sesungguhnya, kekokohannya bergantung pada seberapa kuat fondasinya. Bila boleh jujur, kenapa fondasi banyak rumah keluarga demikian keropos, karena dimulai dengan keserakahan hanya mau kelebihan, menolak kekurangan. Belajar dari sinilah, maka penting menata ulang rumah keluarga dengan belajar saling menerima kekurangan.

Rumah mana pun akan indah menawan bila setiap kali pulang ke rumah kita saling menyirami. Seperti pohon yang kekeringan di musim kemarau (konflik di kantor, macet di jalan), demikianlah keadaan emosi tatkala pulang ke rumah. Betapa indahnya kemudian bila kita saling menyirami di rumah (baca: menerima kekurangan). Inilah bibit-bibit cinta yang menawan. Cinta yang mekar dari kesadaran bahwa semua punya kekurangan, semua membutuhkan siraman-siraman.

Mengalir bersama simfoni
Sulit membayangkan mekarnya bunga-bunga cinta kalau hubungan dimulai dengan harapan orang harus sempurna. Sebagaimana alam yang memeluk dualitas sama mesranya (musim hujan rumput menghijau, musim kemarau bunga-bunga bermekaran), cinta baru mulai tumbuh dalam totalitas. Dalam kelebihan ada kekurangan, dalam kekurangan ada kelebihan (love as a totality).

Kebanyakan kecelakaan kehidupan (perceraian, peperangan, perkelahian, kerusuhan) berasal dari mau kelebihan tidak mau kekurangan. Bila ada seribu laki-laki berkumpul, kemudian ditanya siapa yang mau menerima kecantikan dan kebaikan istri, kemungkinan besar semua orang akan angkat tangan. Namun, bila ditanya, siapa yang mau menerima (maaf) kecerewetan dan kekerasan istri, jika ada yang menaikkan tangan, dengan mudah dituduh kurang waras. Atau sekurang-kurangnya dicurigai menjadi ketua dewan pembina ISTI (ikatan suami terinjak-injak istri).

Di tengah hamparan bahan-bahan kosmik seperti ini, suatu sore seorang putri bertanya kepada papanya tentang rumah (home), terutama setelah lama ia lelah mencari. Dengan tersenyum papanya berbisik, ”Home is not a place. It is a journey. Those who totally flow with the journey, they’re at home already.” Rumah indah kehidupan bukanlah tempat, ia adalah perjalanan itu sendiri. Siapa yang mengalir penuh harmoni dengan keseharian, ia sudah sampai di rumah.

Seperti belum jelas dengan jawaban tadi, putri ini bertanya lagi, apa cahaya penerangnya agar rumah ditemukan? Dengan lembut papanya berbisik, ”The light is not outside. It is within your love. Those who are full of love see light everywhere.” Cahaya penerangnya tidak di luar. Ia tersembunyi dalam keseharian yang penuh cinta. Siapa saja yang melangkah dengan penuh cinta, perjalanannya terang benderang.

Lebih dari sekadar terang, sebagaimana pengalaman para master, kehidupan menjadi seperti simfoni indah yang dibentuk berbagai alat musik. Benar-salah, sukses-gagal, semuanya mengukir keindahan.

Ada yang bertanya, bila ada simfoni di dalam diri, lantas siapa dirigennya? Bertanya tentu tidak dilarang. Namun, yang perlu diwaspadai, siapa yang menunggangi pertanyaan. Kerap ada keraguan, kadang ada ketakutan, ada waktunya pertanyaan didorong keingintahuan, sering pertanyaan ditunggangi kecurigaan. Keraguan, ketakutan, apalagi kecurigaan, hanyalah tanda bahwa seseorang masih jauh dari rumah. Keingintahuan adalah pikiran yang lapar. Dalam banyak kehidupan, pikiran lapar adalah awal keguncangan-keguncangan.

Jadi, bisa dimaklumi bila para guru yang sudah lama tinggal di rumah, menyatu dengan rumah, hanya mengenal dua bahasa, silent and smile. Senyuman pertanda persahabatan dengan kehidupan. Keheningan tanda tidak ada lagi yang diragukan.

Mungkin itu sebabnya Zenkei Shibayama memberi judul karyanya A Flower does not talk. Bunga mekar dalam keheningan, layu dalam keheningan. Bisa jadi ini juga alasan tatkala murid-muridnya berselisih paham, Buddha Gautama memilih berdiam diri di hutan bersahabatkan gajah dan pepohonan. Perhatikan apa yang ditulis Rumi dalam Masnavi: The wages of religion are love, inner rapture. Upah buat mereka yang tekun berjalan ke dalam adalah cinta, rasa terpesona dari dalam yang tidak terucapkan.

Inilah simfoni di dalam diri. Simfoni yang membuat batin beristirahat sempurna dalam hening. Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingya.