Showing posts with label leadership. Show all posts
Showing posts with label leadership. Show all posts

Wednesday, December 09, 2009

Agar Tak Hilang

steady

Agar Tak Hilang
Andrias Harefa - pembelajar.com

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis: “Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari… Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Wow! Jika Anda tak menulis, nama Anda akan hilang dari sejarah. Jangankan orang lain, cucu-cicit-canggah yang merupakan keturunan langsung Anda sendiri, tidak akan mengenal Anda lagi. Mereka mungkin akan kenal Socrates, Plato, Aristoteles, atau Dale Carnegie dan Stephen Covey yang semuanya mencatatkan nama dalam buku sejarah karena menulis.

Saya adalah contoh “korban” dari kakek-nenek yang tak menulis. Kakek saya bahkan meninggal jauh sebelum ayah saya menikah. Dari pihak ibu, kakek-nenek saya benar-benar tak saya kenali sedikitpun, karena mereka wafat sebelum saya lahir. Jadi, saya tak pernah tahu kiprah kakek-nenek saya, apa yang pernah dialaminya; bagaimana pergulatan hidupnya; apa yang sering dipikirkannya; bagaimana gejolak perasaannya menghadapi situasi-situasi kehidupan di masa silam; dan sebagainya.

Karena saya tak mau hilang dari sejarah keluarga sendiri, maka saya menulis. Saya senang bahwa kelak cucu-cicit saya akan tahu apa saja yang menjadi impian dan cita-cita besar kakeknya yang satu ini.

Jadi, agar nama Anda tak hilang dari sejarah keluarga, menulislah!

Thursday, March 26, 2009

Jalan Kelapangan dalam Mencari Rezeki

wait for ...


Jalan Kelapangan dalam Mencari Rezeki
dikutip dari www.pengusahamuslim.com



Akhir zaman rupanya sudah dekat, banyak sekali ramalan-ramalan Rosulullah shallallahu`alaihi wa sallam yang sudah menjadi kenyataan. Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda,

"Akan datang pada manusia suatu saat dimana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram." HR Ahmad dan Bukhari

Dari masalah suap menyuap dan mark up harga saat mencari proyek hingga hutang piutang dengan sistem riba serta berbagai kemaksiatan lainnya seolah-olah telah menjadi kewajaran dan keharusan untuk sukses di zaman ini, sungguh sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan, sepertinya kita tidak lagi yakin bahwa rezeki kita ditentukan oleh Allah Ta’ala, bahkan dalam mencari RezekiNya kita harus bermaksiat kepadaNya ?

Padahal Allah Ta'ala berfirman : "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 32

Dalam Ayat diatas dengan tegas Allah Ta'ala mengatakan, bahwa Dialah yang membagi kehidupan (ma'isyah) untuk manusia, bukan diri kita sendiri, bukan dukun, bukan jimat, bukan pelanggan, bukan pejabat, dan bukan siapapun kecuali hanya Allah semata!

Lemahnya iman telah menyebabkan kita tidak yakin lagi dengan janji-janji Allah Ta'ala, kita tidak lagi mengenal sifat-sifatNya, tidak lagi mengenal hakekat kehidupan, kita lupa seolah-olah tujuan hidup kita hanyalah dunia, mencari makan, kekuasaan dan kekayaan.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." QS. Adz Dzaariyaat : 56

Sehingga akhirnya kebanyakan dari kita secara sadar atau tidak telah menyetujui konsep perdagangan yang sudah menyimpang, mereka telah berputus asa dan bersikap pragmatis dengan keadaan. Banyak yang berkeyakinan bahwa “jangankan cari rezeki halal, yang haram saja sulit”.

Semua ini adalah ujian kehidupan, oleh karena itu bersabarlah wahai saudaraku ! bersabarlah dalam menjaga larangan Allah, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan kepadaNya, bersabarlah dalam menjalankan usaha yang jujur, bersabarlah untuk selalu bekerja keras dan tekun dalam mencari rezeki yang halal.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” QS. Ath Thalaaq:2-3

Justru dengan berorientasi akhirat, menjauhi larangan Allah, melaksanakan ketaatan kepadaNya dan bertawakal, akan membuka pintu - pintu rezeki dan jalan keluardari setiap kesulitan yang kita hadapi.

Bekerjalah dengan niat beribadah ikhlas semata-mata mencari RidhoNya, maka insyaAllah dunia akan datang menghampirimu tanpa harus engkau berpayah-payah dan berletih-letih mencarinya.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara :

- pertama, Allah menjadikan kecukupan dihatinya
- yang kedua, Allah mengumpulkan urusannya
- yang ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar -pent)

dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara :

- yang pertama-tama, Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata
- yang kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya
- yang ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja"


HR. At Tirmidzi dan lain-lain (Hadits Shahih)

Bersabarlah! jangan engkau melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah hanya karena ingin mengejar dunia dan kenikmatan semu, rezeki yang sudah ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah diambil oleh orang lain bahkan pesaing kita sekalipun!

"Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram" (HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Jika engkau masih berambisi mengejar dunia semata dengan meninggalkan ketaan kepadaNya, maka boleh jadi Allah Ta'ala akan memenuhi ambisimu, tapi ingat di akhirat engkau tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali siksa yang sangat pedih.

Allah Ta’ala berfirman “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

Karena dengan melalaikan hakekat kehidupan ini justru engkau akan disiksa oleh dunia, bekerja dengan sangat keras namun kemiskinan selalu menghantuimu, atau boleh jadi dunia engkau kuasai dengan kekayaan berlimpah, namun itu semua hanyalah menambah siksa dan penderitaanmu di dunia ini,

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." QS. Al An'aam : 44

Kekayaan yang Engkau dapatkan tidak akan pernah membuatmu bahagia, justru akan membuat hatimu sempit, jiwamu terasa sesak, anak dan istrimu menjadi musuh bagimu, teman-teman setia kini menghianatimu, sedekahmu tidak lagi bermanfaat, dan akhirnya engkau berakhir di rumah sakit tanpa ada yang menemani, sebuah penyesalan yang tiada berguna.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." QS. Thaahaa : 124

Befikirlah wahai saudaraku para pengusaha muslim, jika Anda ingin dirahmati Allah Ta’ala dan ingin berbahagia dunia akhirat, sesungguhnya banyak jalan untuk sukses tanpa harus bermaksiat kepada Allah Ta'ala, Ia yang telah memberikan kita kenikmatan hidup dan kesehatan, akal pikiran dan kehidupan.

Wallahu Ta'ala a'alam,

Disusun oleh Fadil Basymeleh

Terinspirasi dari ceramah Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah Ta'ala,
di Radio Rodja dengan judul "Jalan kelapangan dalam mencari rezeki".

Monday, March 16, 2009

Sifat-sifat Pemimpin Luar Biasa

always


Sifat-sifat Pemimpin Luar Biasa
dikutip dari penguasahamuslim.com

Saat seseorang memutuskan (baik secara sadar atau tidak) untuk mengikuti kepemimpinan anda, keputusan itu terutama karena satu atau dua hal berikut:
karakter anda atau kemampuan anda. Mereka ingin memastikan apakah anda adalah seseorang yang pantas mereka ikuti, atau apakah anda memiliki kemampuan untuk membawa mereka pada keberhasilan. Tentu ada banyak pertimbangan, namun kali ini kita akan memusatkan perhatian pada diskusi untuk mengetahui macam-macam karakter yang membuat orang lain mengikuti kepemimpinan anda.

1. Integritas.

Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakan akan anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan anda. Integritas adalah penepatan janji-janji anda.Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke tujuan yang anda janjikan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

2 Optimisme.

Takkan ada orang yang mau mengikuti anda bila anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik, dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah anda melihat gelas itu separuh kosong? Bila ya, anda adalah seorang pesimis. Apakah anda melihat gelas itu separuh berisi? Bila ya, anda adalah seorang optimis.

Apakah anda melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi berisi udara? Maka anda adalah seorang yang super optimis. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

3. Menyukai perubahan.

Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikannya dengan para pengikut mereka. Jika anda tidak berubah, anda takkan tumbuh. Apakah anda anda dikenal sebagai seseorang yang memicu perubahan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

4. Berani menghadapi resiko.

Kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting.Kebanyak orang menghindari resiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang berani mengambil resiko? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

5. Ulet.

Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, "Jika anda gagal di langkah pertama, sudahlah menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain." Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang ulet, tangguh, dan berdaya tahan tinggi? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

6. Katalistis.

Seorang pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zone kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

7. Berdedikasi/komit.

Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian anda pada tujuan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

Sumber : Chris Widener, Character Traits of Extraordinary Leaders

Wednesday, March 11, 2009

Setiap Insan Adalah Spesial

from above

slowly you realize
how wide, high, big nature is
and you're nothing
compare with it

From Above, taken on the way to Nini hill, Pangalengan, West Java


Setiap Insan Adalah Spesial
Andrie Wongso - CyberMQ.com

Alkisah, disebuah kelas sekolah dasar, bu guru memulai pelajaran dengan topik bahasan, "Setiap insan adalah spesial". Kehadiran manusia di dunia ini begitu berarti dan penting. "Anak-anakku, kalian, setiap anak adalah penting dan spesial bagi ibu. Semua guru menyayangi dan mengajar kalian karena kalian adalah pribadi yang penting dan spesial. Hari ini ibu khusus membawa stiker bertuliskan warna merah "Aku adalah spesial". Kalian maju satu persatu, ibu akan menempelkan stiker ini di dada sebelah kiri kalian". Dengan tertib anak-anak maju satu persatu untuk menerima stiker dan sebuah kecupan sayang dari bu guru mereka. Setelah selesai, bu guru melanjutkan "Ibu beri kalian masing-masing tambahan 4 stiker. Beri dan tempelkan 1 kepada orang yang kalian anggap spesial, sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih dan kemudian serahkan 3 stiker lainnya untuk diteruskan kepada orang yang dirasa spesial pula olehnya, begitu seterusnya. Mengerti kan.......".

Sepulang sekolah, seorang murid pria mendatangi sebuah kantor, diapun memberikan stikernya kepada seorang manajer di sana. "Pak, bapak adalah orang yang spesial buat saya. Karena nasehat-nasehatpak berikan, sekarang saya telah menjadi pelajar yang lebih baik dan bertanggung jawab. Ini ada 3 stiker yang sama, bapak bisa melakukan hal yang sama, memberikannya kepada siapapun yang menurut bapak pantas menerimanya".

Lewat beberapa hari, manajer tersebut menemui pimpinan perusahaannya yang emosional dan sulit untuk didekati. Tetapi mempunyai pengetahuan yang luas dan telah memberi banyak pelajaran hingga dia bisa menjadi seperti hari ini. Awalnya sang pemimpin terkesima, namun setelah mengetahui alasan pemberian stiker itu, dia pun menerimanya dengan haru. Sambil mengangsurkan si manajer berkata,"Ini ada 1 stiker yang tersisa. Bapak bisa melakukan yang sama kepada siapapun yang pantas menerima rasa sayang dari bapak". Sesampai di rumah, bergegas ditemui putra tunggalnya. "Anakku, selama ini ayah tidak banyak memberi perhatian kepadamu, meluangkan waktu untuk menemanimu. Maafkan ayahmu yang sering kali marah-marah karena hal-hal sepele yang telah kamu lakukan dan ayah anggap salah. Malam ini, ayah ingin memberi stiker ini dan memberitahu kepadamu bahwa bagi ayah, selain ibumu, kamu adalah yang terpenting dalam hidup ayah. Ayah sayang kepadamu". Setelah kaget sesaat, si anak balas memeluk ayahnya sambil menangis sesenggukan. "Ayah, sebenarnya aku telah berencana telah bunuh diri. Aku merasa hidupku tidak berarti bagi siapapun dan ayah tidak pernah menyayangiku. Terima kasih ayah". Mereka pun berpelukan dalam syukur dan haru serta berjanji untuk saling memperbaiki diri.

Pembaca yang luar biasa,
Kehidupan layaknya seperti pantulan sebuah cermin. Dia akan bereaksi yang sama seperti yang kita lakukan. Begitu pentingnya bisa menghargai dan menempatkan orang lain di tempat yang semestinya. memuji orang lain dengan tulus juga merupakan ilmu hidup yang sehat, bahkan sering kali pujian yang diberikan disaat yang tepat akan memotivasi orang yang dipuji, membuat mereka bertambah maju dan berkembang, dan hubungan diantara kitapun akan semakin harmonis, mari kita mulai dari diri kita sendiri, belajar memberi pujian, menghormati dan memperhatikan orang lain dengan tulus dengan demikian kehidupan kita pasti penuh gairah, damai dan mengembirakan.

Salam sukses luar biasa!

Monday, March 09, 2009

Mengapa Harus Menunggu?

misty morning
Misty morning, photo taken @ Pangalengan, West Java


Mengapa Harus Menunggu?
Andrie Wongso - cyberMQ.com

Dikisahkan, ada seorang anak berusia 9 tahun. Saat dia sedang membantu ayahnya mengangkut batu bara demi mengumpulkan dana untuk kegiatan amal, terjadilah kecelakaan yang telah merubah seluruh kehidupannya. Dia terjatuh, dan kakinya terlindas kereta api barang sehingga sepasang kaki harus diamputasi. Berbulan-bulan, hari-harinya diwarnai dengan penderitaan panjang, dia harus berjuang dari satu meja operasi ke meja operasi lainnya dan menghabiskan jam-jam yang sangat menyakitkan.

Namun dia tidak pernah patah semangat dan dengan tegar menjalaninya sehingga dokter mengijinkannya keluar dari rumah sakit dengan berkursi roda. Tanpa membuang waktu dia ingin menguji fisiknya dengan belajar berenang. Pertama kali masuk ke air, dia pun langsung tenggelam sampai ke dasar kolam renang. Pelatihnya menggunakan jala untuk mengangkatnya naik ke permukaan. Pelajaran mengapung dan seterusnya dilakukan setiap hari dan 5 bulan kemudian dia mampu berenang sebanyak 52x panjang kolam renang tanpa berhenti! Sungguh luar biasa!

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginannya untuk melakukan kegiatan fisik layaknya orang-orang yang bertubuh normal. Dia belajar menyetir mobil, ikut balapan dan berhasil menjadi atlet gokart yang handal, disegani dan terkenal.

Ketekunannya berlatih fisik di kolam renang dan tempat tinggalnya yang tak jauh dari pantai, menginspirasinya belajar menjadi surf lifeguard, yaitu penjaga pantai yang melindungi dan menyelamatkan para peselancar. Dia satu-satunya manusia di dunia, tanpa kaki yang berprofesi seperti itu. Dia juga belajar Taewondo hingga memperoleh Dan 3. Olahraga lempar cakkram, tolak peluru dan lempar lembing berhasil mengalungkan 35 medali dalam kehidupannya. Pencapaian prestasinya melandasi kepercayaan dirinya membina hubungan dengan seorang wanita yang dicintai. Akhirnya dia menikah dan memperoleh 3 orang anak. Bersama istrinya, mereka bahu membahu menjadi pengusaha sukses. Berkat prestasi dan keinginannya membantu orang lain agar tidak menyerah, akhirnya menghantarkannya menjadi pembicara motivasional kelas dunia. Pemuda hebat itu bernama Tony Christiansen.

Saat ditanya apa rahasia suksesnya? Dia menjawab: Mengapa harus menunggu? Jangan menghabiskan waktu dengan duduk dan menunggu tertabrak kereta api sebelum melakukan sesuatu dan mencetak berprestasi. Kecelakaan yang saya alami telah mengasah karakter serta hidup saya dalam beragam cara! Membantu saya dalam menyampaikan pesan kepada semua orang yang mau mendengar, mau belajar serta mau merubah hidup lebih baik! Jadi, mengapa harus menunggu? Segera lakukan! - TAKE ACTION!!"

Smart listener,

Hidup adalah tindakan! Live is action! Sebuah cita-cita yang indah, jika hanya menunggu tanpa bertindak nyata, maka tinggal hanya mayat cita-cita, sebuah perencanaan yang matang tanpa action! Cuma menyisakan coretan kosong.

Cerita manusia luar biasa Tony Christiansen tadi cukup jelas pelajaran yang bisa kita ambil. Bagaimanapun keadaan fisik kita , atau betapapun jeleknya keadaan di luar kita, semuanya bisa di rubah, nothing is impossible, tiada yang mustahil!

Manusia yang paling penting adalah jangan krisis mental. Dengan kekayaan mental, seseorang akan berani memulai dari apa adanya dia, dan semua perjuangannya diarahkan pada titik target besar yang punya bobot dan bernilai. Dengan cara hidup punya kaya mental seperti itu, kita pasti akan selalu menyambut hari-hari baru penuh dengan syukur, optimis, gembira dan menciptakan sukses yang luar biasa!

Sunday, March 01, 2009

Mengapa Sulit Melihat ke Dalam Diri?

life

complicated in harmony
colorful in it's way
peaceful once we be part of it

life can be miserable
but can also full of meaning
live with it, enjoy the journey

Life, Photo taken @ Situ Patenggang, Ciwidey

Mengapa Sulit Melihat ke Dalam Diri?
Arvan Pradiansyah - SwaOnline

Empat murid yang sedang belajar meditasi saling berjanji untuk menjalankan tujuh hari dalam keheningan. Pada hari pertama dan kedua semuanya diam. Meditasi mereka berlangsung dengan khusyuk. Namun, ketika malam ketiga tiba dan nyala lampu menjadi remang-remang, salah seorang murid tidak bisa menahan diri dan berseru kepada pelayan, ”Tolong perbaiki lampu itu!”

Murid kedua heran mendengar suara temannya. ”Kita tidak boleh berbicara,” komentarnya. Melihat hal ini murid ketiga merasa jengkel, ”Kalian bodoh. Mengapa berbicara?” ia bertanya. ”Sayalah satu-satunya orang yang tidak berbicara,” murid keempat menyimpulkan.

Pembaca yang budiman, apakah yang menarik dari cerita di atas? Ternyata melihat ke luar itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan melihat ke dalam. Ini tentu saja tidak mengherankan, melihat ke luar hanya membutuhkan mata lahir, sedangkan melihat ke dalam membutuhkan mata batin. Melihat ke luar dapat kita lakukan di tengah kesibukan, sementara melihat ke dalam hanya bisa kita lakukan dalam keheningan, manakala kita melakukan dialog yang tak terputus dengan diri kita sendiri.

Yang menarik, karena kita hanya dapat fokus pada satu hal di satu waktu, maka ketika fokus ke luar, kita akan lupa untuk melihat ke dalam. Lantas, apa yang membuat kita sulit untuk melihat ke dalam?

Menurut saya, ada tiga alasan mengapa melihat ke dalam diri sendiri itu sulit. Pertama, karena kita sering merasa sudah benar. Kita tidak sadar bahwa kebenaran hanyalah posisi kita pada saat ini, dan sama sekali tidak ada jaminan bahwa kita tetap berada di posisi ini di masa mendatang. Kita lupa bahwa posisi kita bisa berubah seperti bandul yang berayun.

Selain itu, kita kerap menganggap diri kita berada di zona aman. Kita merasa diri kita baik dan bijak. Kita merasa mempunyai kedudukan yang menjamin kita berbuat baik seperti penegak hukum, aktivis antikorupsi, ahli agama, ilmuwan dan sebagainya. Semua posisi dan label ini menciptakan perasaan aman yang pada gilirannya menghasilkan sikap kurang hati-hati, lengah dan longgar. Tanpa disadari kita mengendurkan standar kita sendiri. Inilah yang membuat banyak penegak hukum melakukan aktivitas yang melanggar hukum, aktivis antikorupsi malah melakukan tindakan korupsi, ahli agama melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan agama yang diyakininya.

Kedua, kita lebih mudah melihat ke luar karena kita senang menyalahkan orang lain. Kita acap kali merasa bangga bila kita dapat menunjukkan kesalahan orang lain. Seolah-olah dengan menunjukkan kesalahan orang lain itu kita menjadi lebih baik dan lebih besar. Secara diam-diam dan tanpa disadari, kita masih memiliki penyakit ini dalam diri kita. Kita ingin lebih dibandingkan dengan orang lain. Kita membangun ego kita dengan cara seperti itu.

Ada sebuah cerita inspiratif mengenai tiga orang anak yang dibawa penduduk kampung ke pengadilan dengan tuduhan mencuri buah semangka. Ketiga anak itu sangat ketakutan karena berpikir akan menerima hukuman yang berat.

Ketika sampai di hadapan hakim, hakim yang dikenal sebagai orang yang sangat keras sekaligus bijaksana itu mengatakan, “Kalau di sini ada orang yang ketika masih anak-anak belum pernah mencuri buah semangka, silakan tunjuk jari.” Ternyata tak seorang pun termasuk hakim yang mengangkat jari telunjuknya. Maka, hakim pun langsung berkata, “Perkara ditolak.”

Jadi, sebelum bicara apa-apa, lihatlah diri Anda lebih dulu. Walaupun melihat diri sendiri memang amatlah sulit. Analoginya seperti melihat telinga Anda sendiri. Telinga itu berada sangat dekat dengan diri kita, tapi bisakah kita melihatnya? Tidak bisa, Anda membutuhkan alat, yakni cermin.

Ketiga, kita sulit melihat ke dalam diri karena kita sering merasa bahwa masalah berada di luar, bukan di dalam. Padahal, bukankah semua masalah yang ada di luar itu sebenarnya bersumber dari masalah yang ada di dalam, seperti halnya orang lebih suka mengarahkan telunjuknya ke luar tetapi lupa untuk bercermin. Bukankah semua kejahatan, permusuhan, dan peperangan bersumber pada sesuatu yang ada di dalam – dan bukan di luar – diri kita?

Karena merasa bahwa masalah ada di luar bukannya di dalam, maka perilaku kita seperti perilaku orang yang membaca buku psikologi dan bukan buku kesehatan. Ketika membaca buku psikologi kita akan cenderung menganalisis perilaku orang lain yang ada di sekitar kita. Kita mengatakan, “Ya, saya tahu, rekan kerja saya memang seperti ini, begitu pula dengan pasangan hidup saya.” Ini tentu saja berbeda dari perilaku ketika membaca buku kesehatan. Bayangkan kalau Anda membaca tulisan mengenai gejala diabetes atau jantung koroner. Siapakah yang akan langsung Anda pikirkan? Tentu saja, kita akan melihat ke dalam diri kita sendiri.

Seorang bijak pernah mengatakan, “Orang yang tahu mengenai alam semesta tetapi tidak tahu apa-apa mengenai dirinya berarti belum tahu apa-apa.” Karena itu tepat sekali Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya yang terkenal mengatakan, ”Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat...” Dalam lagu yang sama ia juga berpesan, ”Bercermin dan banyaklah bercermin. Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini. Berusahalah agar Dia tersenyum...”

Tuesday, February 24, 2009

Willingness to Be More

a flower

detail, delicate, and colorful
fragile yet, strong
it's God creation
The Most Gracious, Most Merciful

Photo taken @tea plantation, Puncak

Willingness to Be More
Paulus Bambang W.S.

Trying to do more make you busy and to have more make you lousy but to be more make you easy.

Salah satu petuah sakti yang sering didengungkan atasan pada bawahan adalah ”Willingness to do more”. Artinya, mau kerja lebih banyak. Itu menyiratkan suatu tugas bahwa bawahan harus mau menerima pekerjaan bukan berpatokan pada deskripsi pekerjaan atau tolok ukur kinerja, melainkan pada kemauan untuk bekerja apa saja seperti yang diperintahkan atasan.

Bila ada bawahan menolak tugas karena tidak sesuai dengan keahlian, kompetensi atau ruang lingkup pekerjaannya, ia akan dianggap memiliki sikap kurang bagus. Dalam bahasa dimensi para psikolog, sering disebut sebagai kandidat yang memiliki willingness to do more kurang. Bahasa awam akan berbunyi: siapa yang mau mengerjakan lebih banyak, dari segi kuantitas, dianggap memiliki sikap dan karakter yang lebih baik dibandingkan dengan kandidat yang berani memilah atau menolak tugas.

Paradigma itu seharusnya tidak dilanjutkan di zaman ini. Tidak selalu do more itu baik buat perusahaan. Do more bisa berarti ketidakefisienan sistem kerja dan pembagian kerja sehingga muncul kegiatan di luar struktur tugas. Itu bisa berarti tidak ada perencanaan tugas yang baik. Atau lebih jelek lagi, do more berarti menutupi kekurangan tenaga kerja karena alasan efisiensi dan penghematan biaya. Apalagi, kalau ini dilakukan oleh karyawan yang tidak memiliki status pekerja jalur lembur. Ini trik penghematan yang tidak etis dan paksaan dari atas yang tidak mendidik.

Do more yang baik kalau itu dikerjakan untuk menyelesaikan tugas buat memuaskan pelanggan karena mau going an extra mile. Bukan soal kerja lebih banyak, tapi mau memberikan nilai dan kontribusi lebih banyak sehingga menjadi keunggulan kompetitif perusahaan. Dalam bahasa pasar pagi, ”tidak hitung-hitungan pada jangka pendek”. Memberi nilai lebih disertai penurunan ongkos karena melakukan going an extra mile. Ini adalah do more yang cerdas dan tidak manipulatif. Bukan banyaknya jumlah jam dan tugas, melainkan banyaknya tambahan nilai yang dikontribusikan.

Do more, yang buruk ataupun yang baik, akan beriringan dengan have more. Di zaman yang serba komersial ini, selalu ada hitungan untuk setiap langkah lebih. Insentif dan what’s in it for me seakan-akan sudah menjadi dua sisi mata uang yang harus disediakan oleh setiap pemimpin. I want to do more to get more. More sudah berarti menjadi tuntutan atas return on investment dari segi waktu dan tenaga.

Have more akan menjadi mantra yang mengerikan kalau itu dijadikan simbol sebuah kinerja yang disebut kesuksesan. Entah itu dalam bentuk uang, jabatan, kepemilikan kebendaan, sampai jumlah piala hasil ajang penghargaan dari berbagai instansi mulai dari yang terhormat sampai gurem sekalipun. Bagi yang mempunyai paradigma semacam ini, memiliki menjadi lebih penting daripada menikmati. Ketenangan jiwa disandingkan dengan kepemilikan kebendaan. Semakin banyak berarti semakin tenang. Semakin atas berarti semakin dihormati.

Tidak mengherankan, para pengidap virus ini justru mengalami ketidaktenangan dan ketidaknyamanan terhadap apa yang dimiliki sekarang. Selalu terasa kurang, karena cukup adalah musuh virus have more. Api, dunia orang mati dan keserakahan tak mengenal arti kata cukup. Titik berhenti ada pada titik asimtotis yang berada pada ujung tak terhingga. Dalam bahasa matematikawan, have morea little bit more berujung pada dunia infinity. Tak akan bisa terkejar oleh siapa pun karena dunia ini sebenarnya cukup untuk semua orang, tapi tidak cukup untuk satu orang yang serakah.

Have more menyebabkan pebisnis menggurita di luar kompetensinya. Apa saja yang dilihat sebagai kesempatan menjadi pohon uang akan selalu ditanamnya. Tak peduli risiko jangka panjang, apalagi jangka pendek masyarakat sekitar. Ia membuat pengusaha tidak peka terhadap persoalan komunitas di sekitarnya dan berlindung di dalam dalil legal formalistis tanpa melihat fakta realistis. Kalau ia memberi artinya, dia akan terkena hasil have less. Akibatnya, memberi adalah kalimat yang paling ditakuti. Ia takut kehilangan sesuatu akibat pemberian yang tidak menghasilkan return.

Bersyukurlah, masih banyak pemimpin yang mampu mengendalikan do more dan have more, serta bergelut menjadi be more. Be more berarti berupaya menjadi pribadi yang lebih baik. Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Pribadi yang mementingkan human being dibandingkan dengan human doing atau human having.

Semakin manusia tidak berani menolak do more, ia akan tenggelam pada tugas yang secara fakta tak akan pernah berkurang. Dalam zaman kompetisi yang hiperkompetitif seperti ini, do more seakan menjadi satu-satunya jawaban. Do more dalam jangka panjang akan menyebabkan orang burn out. Habis terbakar oleh banyaknya aktivitas sehingga menjadi mesin pekerjaan tanpa tahu bagaimana menikmati enaknya pekerjaan itu sendiri. Ia menciptakan manusia mesin yang hanya berhalusinasi akan output yang akhirnya berujung pada uang, pada kondisi have more.

Kalau kedua more ini -- do dan have -- tidak dikelola dengan baik, ia akan be more dangerous than the devil. Ia kehilangan jati diri yang seharusnya dikembangkan bersama pekerjaan dan kekayaan. Sebaliknya, pekerjaan dan kekayaan telah menenggelamkan dirinya dalam kuburan maniak yang membuat ia tidak menjadi pribadi manusia seutuhnya.

Kalau gejala ini ada, kita harus segera ganti haluan. Carilah pekerjaan dan pemimpin yang mampu membuat kita menemukan kembali jati diri seperti yang dirancang Sang Pencipta Agung. Bukankah pekerjaan, kekayaan, keluarga dan segala atribut ini hanyalah alat untuk membuat kita menjadi semakin segambar dengan-Nya? Hanya orang yang berorientasi be more yang mampu berkata tidak pada do dan have more yang membuat hakikatnya menjadi berantakan. Hidup memang tidak sekadar kerja untuk menghasilkan uang. Carilah kehidupan dalam be more, maka kita akan menemukan do dan have more yang pas untuk menikmati hidup ini.

Friday, February 13, 2009

Berani Berubah, Mengubah, dan Diubah

the lake


Berani Berubah, Mengubah, dan Diubah
Arvan Pradiansyah - Majalah Swa Online

Bagaimana cara menjadi orang yang menarik untuk diajak bercakap-cakap? Edward De Bono dalam bukunya How to Have a Beautiful Mind mengemukakan dua cara untuk menjadi orang yang menarik. Pertama, jangan selalu setuju dengan apa yang dikatakan lawan bicara Anda. Kedua, jangan selalu tidak setuju dengan apa yang dikatakan lawan bicara Anda. Selalu setuju bisa diartikan menjilat. Lebih jauh lagi kalau dua orang yang berbicara selalu setuju dengan apa pun yang dikatakan lawan bicaranya, maka sebetulnya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kondisi yang sebaliknya juga sulit. Kalau dua orang yang berbicara selalu tidak setuju mengenai topik apa pun, maka tak ada lagi yang bisa diperbincangkan.

Jadi bagaimana cara menjadi orang yang menarik? Menurut De Bono, Anda harus berada di antara kutub Selalu Setuju dan Selalu Tidak Setuju. Namun menurut saya, perbedaan pendapat bukanlah hanya bermanfaat untuk membuat percakapan lebih hangat dan menarik. Perbedaan pendapat dibutuhkan karena hanya dengan perbedaan pendapatlah kreativitas, ide dan pengetahuan baru akan bermunculan.

Ketika semua orang sepakat, maka tidak akan pernah lahir pengetahuan (knowledge) yang baru. Padahal, tantangan dan perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis senantiasa menghendaki kreativitas dan ide brilian. Sebuah ide akan benar-benar siap ketika ide itu telah diperdebatkan, dibahas, dan dijajaki secara sungguh-sungguh. Namun menjajaki sebuah ide bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Hambatan utamanya terletak pada ego kita masing-masing, yaitu keinginan untuk menjadi yang paling benar dan paling hebat. Betapa banyaknya pembahasan ide yang kemudian berkembang menjadi ajang pertempuran antarego. Dan ketika ego kita terlibat, sebenarnya kita tengah mengebiri ide itu sendiri. Kita bukan lagi menjajaki ide, kita malah sibuk membuktikan bahwa kita benar dan orang lain salah. Ketika serang-menyerang terjadi tak ada lagi yang membicarakan ide. Ide itu sudah selesai, dan tak akan berproses menjadi lebih baik.

Untuk mencapai kemajuan, sebenarnya kita benar-benar perlu menggodok gagasan itu sendiri. Bukankah sebuah gagasan hanya merupakan hasil pemikiran satu orang? Hanya mewakili satu sudut pandang? Bukankah akan lebih lengkap bila ada orang lain yang dapat memberi masukan mewakili sudut pandang yang berbeda?

Lebih jauh lagi, kita sebenarnya perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat relatif. Yang mutlak hanyalah Tuhan. Karena itu, kebenaran yang kita kemukakan sebenarnya hanyalah kebenaran relatif, kebenaran yang pasti tidak lengkap karena sebagai manusia kita memiliki kecenderungan untuk melihat dari sudut pandang kita sendiri. Maka, bila ada orang yang menyerang gagasan kita, sebetulnya orang ini sedang berusaha melihat gagasan itu dari sudut pandang yang berbeda. Bila ini yang terjadi, bukankah berarti orang ini sedang melengkapi dan memperkaya gagasan kita?

Kalau demikian, ketika kita berlaku defensif terhadap ide orang lain, ada dua hal yang mungkin terjadi pada kita. Pertama, kita melihat bahwa kebenaran versi kita adalah kebenaran yang mutlak, kebenaran yang final sehingga tidak bisa dibicarakan dan dipersoalkan oleh siapa pun. Kalau ini yang terjadi, kita sebenarnya sedang mempertuhankan diri kita sendiri.

Kedua, kita mengidentifikasi diri dengan gagasan kita. Padahal keduanya sangatlah berbeda. Orang yang bijak adalah orang yang mampu melepaskan gagasan dari si pemiliknya. Orang yang bijak menyadari bahwa sebelum sebuah gagasan dilempar ke pasar, gagasan itu perlu diuji, diserang, dieksplorasi lebih dulu sampai benar-benar matang dan teruji.

Semakin kita mampu melepaskan diri dari gagasan kita semakin bebaslah kita. Dengan kemampuan ini kita dapat melakukan dialog dan diskusi tanpa beban apa pun. Keinginan kita untuk mendapatkan gagasan yang benar-benar brilian telah membuat kita mampu mengalahkan ego kita sendiri. Dan karena itu, kita akan siap untuk berubah, mengubah dan bahkan diubah.

Tanpa kemampuan seperti ini, tidak akan pernah terjadi sebuah diskusi yang menghasilkan pertukaran gagasan dan pemikiran. Tidak pernah ada peningkatan pemahaman terhadap topik yang dibicarakan ataupun pemahaman terhadap individu-individu yang terlibat. Ketika kita belum dapat melepaskan diri dari gagasan kita, maka yang akan tercipta adalah perdebatan, pertahanan diri, dan keinginan menjatuhkan pihak lawan.

Dalam situasi seperti ini kemenangan yang akan kita peroleh sebenarnya merupakan kemenangan semu, sebab ide kita tidak memperoleh pengayaan, pengembangan dan peningkatan apa pun. Maka, menang dalam hal ini sebenarnya tak jauh berbeda dari kalah.

Kemenangan yang hakiki baru bisa kita dapatkan bila kualitas ide yang berkembang jauh di atas kualitas ide ketika pertama kali dikemukakan. Akan tetapi, bila hal ini terjadi biasanya sudah tidak jelas lagi siapa yang paling banyak memberi kontribusi terhadap ide itu. Stephen Covey memberi ilustrasi menarik untuk menggambarkan hal ini, ”This is not my way, this is not your way, this is the better way.

Hal ini sudah tentu bertentangan dengan kemauan ego. Bukankah ego ingin dikenal, dianggap lebih pandai dan lebih hebat? Padahal ketika seseorang sudah meniti tangga kearifan, faktor “apa” akan jauh lebih penting ketimbang faktor “siapa”? Dan bukankah kebahagiaan yang tertinggi hendak kita peroleh ketika kita berhasil meninggalkan kebaikan di dunia ini? Adapun mengenai faktor “siapa”, bukankah sebaiknya kita serahkan saja pada perhitungan Tuhan?

Wednesday, January 21, 2009

Peperangan

no entry


Ceramah hari ini ba’da dhuhur bercerita tentang peperangan. Kata sang ustad, sebenarnya kita ini setiap saat dalam keadaan berperang. Setiap saat, yang hak dan batil bergantian mengisi relung jiwa kita, ada kalanya kita memilih yang hak dan kadang pula kita memilih yang batil. Dan peperangan ini terjadi setiap saat, makan dulu atau sholat dulu, sabar atau marah, diam atau berkata-kata, tegur atau biarkan, ikhlas atau berharap ... betul-betul kita setiap saat dalam peperangan.

Sang ustad lantas mengutip QS An Nisa 76 yang artinya: Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita tahu kita menang? Apa kriterianya? Kalau dilihat dalam peperangan fisik, kemenangan biasanya bersangkut paut dengan matinya musuh, adanya tawanan perang, dan bertebarnya harta pampasan perang. Namun, bagaimana dengan peperangan yang setiap saat kita alami ini, apa kriterianya?

Lanjut sang ustad, ada 3 kriteria.

1) Komitmen dengan kebenaran.
Secara fisik mungkin kalah, mungkin kita dipenjara, kalau kita partai, mungkin perolehan kursi sedikit. Namun semua ‘kekalahan’ ini tidak menyurutkan langkah, tidak membuat kita lantas menghalalkan cara. Karena kita tahu dan yakin, bahwa arti kemenangan itu adalah seberapa komitmen kita pada kebenaran.

2) Kemenangan dakwah yang menyebar kemana-mana
Secara fisik mungkin kita kalah, tapi dakwah kita, prinsip, keyakinan yang kita perjuangkan masuk ke hati teman-teman, rekan-rekan, masyarakat dan mereka yang akan menggantikan kita dalam memperjuangkan prinsip, keyakinan dan iman terhadap Islam. Inilah tolak ukur seberapa kita menang dalam pertarungan ini

3) Allah selamatkan dari tipu daya musuh
Ketika Nabi Muhammad dipaksa keluar dari Mekkah dan hijrah ke Madinah, secara kasat mata kita akan melihatnya sebagai sesuatu kekalahan. Dan sungguh ini adalah tipu muslihat musuh yang membuat kita mempercayai, kalau Rasulullah harus hijrah, maka agama Allah telah kalah dalam perjuangannya. Padahal, justru setelah hijrah, Islam berkembang pesat, melebihi bayangan setiap orang dan tidak butuh lama bagi Islam untuk kembali dan menaklukkan Mekkah. Bukan cuma secara fisik, tetapi juga hati-hati penduduk Mekkah yang mendapat hidayahNya.

Firman Allah dalam surat At Taubah 40: Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Apa pelajaran di sini buat kita? Pertama, bahwa kita ini sebenarnya selalu dalam pertarungan, peperangan. Kedua, bahwa kemenangan dan kekalahan dalam setiap peperangan yang kita hadapi bukanlah sesuatu yang kasat mata, tetapi yang lebih tepat adalah seberapa jauh kita mendapat 3 nilai di atas. Dan ketiga, sesungguhnya pada akhirnya semuanya bermuara pada nilai-nilaiNya, pada nilai dakwah, dan pada seberapa keridhoanNya pada setiap yang kita usahakan.

===
Jadi, perang di Gaza ... siapa yang menang?

Thursday, January 15, 2009

We Will not Go Down (Song for Gaza)

blue on white


Per pagi ini, 15 Januari 2009, setidaknya 1,017 orang telah meninggal dunia dan 4,750 orang terluka, mayoritas anak-anak, wanita, dan orang tua. Biadab!!!

We Will not Go Down (Song for Gaza)
Composed by Michael Heart - Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Thursday, December 25, 2008

Agungkan Allah, Semua Jadi Kecil

ied mubarak 1429H

Agungkan Allah, Semua Jadi Kecil
Ulis Tofa, Lc - dakwatuna.com

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil, Cukuplah bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik penolong”. Ungkapan diatas disenandungkan oleh kekasih Allah swt, Ibrahim as, saat penguasa dan pengikutnya mengeroyok dan menceburkan dirinya dalam bara api, namun Ibrahim selamat dan menjadi pemenang.

Ungkapan itu juga yang dilantunkan oleh nabiyullah Muhammad saw. tatkala mendapat pengkroyokan dan penganiayaan dari pasukan Ahzab. Rasul pun keluar sebagai pemenang. HR. Bukhari.

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. QS. Ali Imran: 173

Sudah menjadi sunnatullah dalam dakwah, bahwa jalan dakwah tidaklah bertabur kenikmatan, kesenangan dan kemewahan. Dakwah diusung menghadapi penentangan, konspirasi, persekongkolan, isolasi, pengkroyokan, bahkan ancaman pembunuhan. Oleh karenanya dakwah hanya bisa diemban oleh mereka yang mewakafkan diri dan hidupnya untuk Allah swt semata. Dakwah tidak mungkin akan dipikul oleh mereka yang mengharapkan kemewahan dunia, bersantai dengan kesenangan materi.

Rasulullah saw didalam memulai perjuangan menyeru kerabat dan kaumnya, mendapatkan taujihat Robbaniyyah – arahan Allah swt - agar menguatkan keimanan, kepribadian dan kesabaran: yaitu arahan untuk senantiasa mengagungkan Allah, membersihkan jiwa, mejauhkan diri dari maksiat, mengikhlaskan kerja, dan sabar dalam perjuangan.

Berikut taujihat rabbaniyyah dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7 untuk Muhammad saw dan tentunya untuk umatnya semua. Allah swt berfirman:

”Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu agungkanlah!. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” QS. Al Muddatstsir: 1-7.

Bekal pertama, Agungkan Allah.
Allah swt menanamkan dalam persepsi dan keyakinan Muhammad agar hanya mengagungkan Allah swt semata, selain-nya kecil tiada berarti. Baik dalam konteks tawaran kenikmatan duniawi, pun dalam konteks siksaan, penolakan dan pembunuhan di dunia yang dilakukan musuh-musuh dakwah, maka jika dibandingkan dengan pemberian, keridloan dan surga Allah swt sungguh tiada ada artinya.

Pengagungan Allah swt dalam qalbu, lisan, fikiran dan perilaku. Dalam setiap kesempatan dan kondisi Rasulullah saw selalu berdzikir dan mengagungkan Allah swt, sehingga inilah rahasia do’a Nabi saw ketika kelur dari buang hajat: “Ghufranaka: Aku mohon ampunan-Mu Ya Allah.”. Hasil penelitian para ahli hadits menyimpulkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan dzikir dan pengagungan Allah swt, namun karena tidak diperkenankannya berdzikir di saat buang hajat, maka ungkapan pertama saat keluar dari buang hajat adalah, mohon ampun karena beliau tidak melakukan dzikir pada saat buang hajat.

Dengan sikap inilah, ma’iyatullah –kebersamaan Allah- dalam bentuk pertolongan-Nya selalu datang pada saat dibutuhkan.

Inilah rahasia dikumandangkannya kalimat takbir “Allahu Akbar wa lilLahil Hamd, Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian”.

Bekal kedua, Bersihkan Hati.
Dalam upaya mengagungkan Allah swt dalam setiap kesempatan, maka dibutuhkan hati yang bersih dan jiwa yang suci. Hati adalah panglima dalam tubuh seorang manusia. Jika panglima itu baik, sudah barang tentu tentaranya akan menjadi baik, sebaliknya jika panglima buruk, maka buruklah semua tentaranya.

Mayoritas ahli tafsir sepakat bahwa perintah mensucikan pakaian disini kinayah atau kiasan, bukan makna dzahir. Artinya perintah pembersihan hati dan pensucian jiwa. Penampilan fisik tidak akan berarti, apabila apa yang dibalik fisik itu busuk.

Hati senantiasa dijaga kefitrahannya dan dibersihkan dari beragam penyakit hati, seperti sombong, iri, riya, adu domba, meremehkan orang, dan yang paling berbahaya adalah syirik, menyekutukan Allah swt dengan makhluk-Nya.

“…..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun….” (QS. At Taubah : 25-26).

Bekal ketiga, Jahui Maksiat.
Agar keagungan Allah swt menghiasi diri, maka diri harus menjauhkan dari dosa dan maksiat. Begitu pun sebaliknya, meninggalkan maksiat akan mewariskan ma’iyyatullah.

Allah swt hanya akan turut campur kepada orang beriman dengan menurunkan pertolongan-Nya, jika orang beriman itu dekat dan taat kepada-Nya. Sebaliknya jika mereka berbuat maksiat dan dosa, maka apa bedanya mereka dengan orang lain? Bedanya orang lain lebih canggih perlengkapannya dan lebih besar jumlahnya. Sehingga secara hitungan rasio manusiawi orang lain mampu mengalahkan orang beriman.

Ada kisah menarik, dalam sebuah peperangan melawan kaum kuffar, kaum muslimin beberapa kali mengalami kekalahan. Sang panglima segera mengevaluasi pasukannya, mengapa kekalahan demi kekalahan bisa terjadi? Tak ada yang kurang. Semua perlengkapan lengkap, pun ibadah-ibadah dilakukan dengan baik. Namun saat pagi menjelang, sang panglima mengamati pasukannya dan baru menyadari bahwa ternyata pasukannya melupakan satu sunah Rasul, yaitu bersiwak! Panglima segera memerintahkan menggosok gigi dengan siwak (sejenis kayu) kepada seluruh pasukannya. Pasukan pengintai dari pihak musuh menjadi takut karena melihat para tentara muslim tengah menggosok-gosok giginya dengan kayu, dan mengira pasukan kaum muslimin tengah menajamkan gigi-giginya untuk menyerang musuh. Pihak musuh menjadi gentar dan segera menarik mundur pasukannya.

Sepele, lupa bersiwak, namun besar dampaknya. Inilah rahasia pertolongan Allah swt.

Bekal keempat, Ikhlaskan dalam Berjuang.
Hidup seorang mukmin adalah untuk prestasi amal dan kontribusi manfaat untuk umat manusia. Kesemuanya itu dilakukan semata-mata dilandasi mencari keredloan Allah swt semata. Balasan Allah swt jauh lebih baik dan lebih mulya, dibandingkan dengan kemewahan dunia berikut kemegahannya. Seorang mukmin akan selalu mengejar mimpinya, yaitu keridloan Allah swt, di dunia dan di akhirat kelak.

Menarik disini seruan Allah swt dalam bentuk ”larangan”, sedangkan yang lainya menggunakan bentuk ”perintah”. ”Jangan kamu memberi untuk mengharapkan mendapat imbalan yang lebih”. Artinya, peringatan keras dari Allah swt agar manusia senantiasa mengikhlaskan amal perbuatan dan perjuangan. Tidak merasa paling berjasa dan juga tidak meremehkan andil orang lain.

Bekal kelima, Sabar Di Jalan Allah.
Sabar dalam kesunyian pengikut, sabar dalam penolakan ajakan, sabar dalam kekalahan, dan sabar dalam kemenangan dan kemewahan.

Ketika Rasulullah saw mengetahui kondisi keluarga sahabatnya, Yasir yang mendapat siksaan berat dan pembunuhan keji, Rasulullah saw langsung memberi kabar gembira kepada mereka:

“Sabar wahai keluarga Yasir, Sungguh surga buat kalian kelak!.”

Sabar dalam berdakwah mencakup segala hal yang positif, seperti banyak ide, solusi, perencanaan, kerja keras, kerja sama, pendelegasian, pemanfaatan sarana dan adanya evaluasi. Sabar bukan dikonotasikan negatif seperti pasrah, nerimo, malas, menunggu dan tidak berusaha.

Dengan bekalan itu terbukti dalam sejarah, Rasulullah saw mampu melewati dua masa sulit sekaligus: Masa sulit mendapatkan tawaran kemewahan, jabatan, pengikut, bahkan wanita. Dan masa sulit tatkala beliau harus berdarah-darah menerima pengkroyokan dan penganiayaan dari kaumnya.

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Inilah bekalan bagi penyeru kebajikan dan penerus perubahan dari masa ke masa.

Allahu A’lam.

Sunday, November 02, 2008

Capek

glowing ...


Minggu malam atau Senin pagi tuh biasanya saat yang sulit ... :-P Senin pagi "harus" kembali beraktivitas. Entah ke kantor atau tempat kerja, kuliah, sekolah, dan lain-lain. Sementara rasa bosan, capek mungkin akan muncul. Kalau di wiken kita bisa melupakan itu semua, maka di Senin pagi, suka tidak suka, harus kita hadapi ... :)

Biar semangat, mungkin ini tips sederhana (maap kalau ternyata ga sederhana huehehehe ... )

Pertama, apa tujuan kita beraktivitas di atas? Cari uang? Kewajiban? Terpaksa? kalau masih seputar urusan dunia, ujung-ujungnya pasti memang capek dan bosan. Yang terbaik adalah mengembalikan semua urusan dengan tujuan penghambaan padaNya. Hanya untukNya, IA yang tak pernah mengecewakan kita.

Kedua, karena niatnya hanya untukNya, kita lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya. Mungkin situasi di sekeliling kita kurang kondusif, mungkin rekan kerja kita kurang mendukung, tapi tetap, kita lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya. Insya Allah jika kita berbuat kebaikan, kebaikan itu akan kembali pada kita.

Ketiga, bersabar dalam mengerjakan setiap aktivitas kita. Ini memang sulit. Namun kalau niat kita memang hanya untukNya, kan IA menyuruh kita sabar. Lah kalau ga mau dengerin IA, siapa lagi yang mau kita dengerin? :D

Terakhir, kita ridho dan ikhlas pada setiap hasil yang kita kerjakan. Kalau IA menghendaki, tidak ada yang sulit. Dan karena semua kita kerjakan untuk Pemilik Alam Semesta ini, ya pantas dong kalau kita ikhlas pada setiap putusanNya ... :)

===
Mungkin kita lantas bertanya-tanya, kenapa kita harus berusaha hanya untukNya? Sungguh, ada imbalan tak terkira yang menunggu kita ... amiiin ...

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya. (QS 29:58-59)

Tuesday, October 28, 2008

Para Perebut Masa Depan

praying


Para Perebut Masa Depan
Eep Saefulloh Fatah - Kompas.com

Pepatah klasik mengatakan bahwa hidup memang bisa dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi hanya bisa dijalani dengan melangkah ke depan. Peristiwa sejarah pun, tutur sejarawan Taufik Abdullah, suatu ketika menjadi penting bukan lantaran apa yang terjadi pada saat sang peristiwa berlangsung, melainkan karena apa yang mengikutinya kemudian.

Dalam kerangka semacam itulah, menurut saya, peristiwa 28 Oktober 1908 selayaknya kita posisikan. Benar bahwa peristiwa itu—bersama dengan Manifesto Politik 1925 yang dibuat oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda—telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi keindonesiaan. Benar bahwa generasi kita sekarang mesti berterima kasih untuk langkah genius para pemuda 80-an tahun lampau itu yang telah menegaskan prinsip persatuan, persamaan, kesetaraan, dan kemerdekaan sebagai sukma Indonesia.

Namun, peristiwa itu menjadi penting dan bermakna manakala dalam masa-masa sesudahnya kita bisa mengelola Indonesia dengan mendamaikan berbagai paradoks kebangsaan.

Persatuan Indonesia mesti ditegakkan tanpa mencederai keberagaman. Persamaan mesti diwujudkan bukan sebagai hadiah dari negara bagi tiap orang, melainkan hasil perjuangan orang per orang dalam kompetisi sehat. Kesetaraan terbangun di tengah tegaknya keadilan.

Kebesaran Sumpah Pemuda 1928 (dan Manifesto Politik 1925) pun tidak ditandai oleh kemeriahan ingatan kita atas peristiwa pada masa lampau itu, melainkan oleh pembuktian sukses kita mengelola bangsa majemuk pada hari-hari ini. Pada titik ini, ada baiknya kita mendaftar sejumlah kekeliruan yang berpotensi membikin kita gagal.

Selama ini, berindonesia lebih kerap kita pahami sebagai titik berangkat, bukan sebagai alamat yang kita tuju. Indonesia kita tempatkan sebagai sesuatu yang sudah selesai, bukan sesuatu yang sedang digapai. Akibatnya, Indonesia yang definisinya sudah final itu melahirkan tuntutan bagi setiap bagian di dalamnya—individu, komunitas, dan lokalitas—untuk menyesuaikan diri dengan ”formula besar” bernama Indonesia.

Kekeliruan sikap dasar itu menjadi ibu kandung dari kekeliruan berikutnya: penyeragaman dan sentralisasi. Penyeragaman dan sentralisasi dipandang sebagai mantra, formula paling ampuh untuk mengelola Indonesia. Anasir-anasir kecil dari bangsa tak diperkenankan tumbuh membentuk karakternya karena dipandang sebagai ancaman bagi rumusan Indonesia yang sudah selesai, final.

Alih-alih dipahami sebagai aset bagi kemajuan kolektif, keberagaman pun kerap disalahpahami sebagai ancaman. Alih- alih dipandang sebagai mekanisme yang penuh manfaat, otonomi individu, komunitas, dan lokalitas kerap kali dipercaya sebagai penggerus integrasi.

Kekeliruan-kekeliruan mendasar itulah yang memfasilitasi musim kering sejarah yang cukup panjang dalam kehidupan kebangsaan kita. Dari baliknya terbangunlah manusia-manusia Indonesia dengan karakter-karakternya yang khas.

Sentralisasi mengajari kita berserah diri kepada pemilik otoritas di pusat-pusat kuasa politik dan ekonomi. Sentralisasi mendidik kita untuk menjadi ”penunggu”, bukan ”penjemput” masa depan.

Penyeragaman mengubur toleransi dan mendidik kita menjadi pemaksa kehendak. Penyeragaman membikin kita kehilangan kekayaan kebangsaan yang terpokok: semangat merebut kemajuan melalui ”kebenaran” yang tersebar dan tak tunggal. Penyeragaman mendidik kita mematikan karakter dan menggantinya dengan topeng- topeng palsu kebersamaan.

Suka atau tidak, kita masih mewarisi kekeliruan-kekeliruan di atas beserta segenap konsekuensi kebudayaannya yang sungguh serius. Demokratisasi yang gegap gempita selama sekitar satu dasawarsa terakhir memang telah membikin kita menjadi demokrasi elektoral yang sibuk dengan segenap tata cara bernegara yang rumit dan makan ongkos.

Pada tataran ini, kemajuan- kemajuan besar memang kita raih. Namun, mesti diakui bahwa demokratisasi itu masih harus bergulat dengan agenda pembugaran budaya seusai kekeliruan-kekeliruan gawat dalam musim kering sejarah panjang itu.

Kelompok kreatif
Namun, sejarah kita tentu saja tak sepenuhnya berupa cerita kelam. Dalam setiap zaman selalu tumbuh sedikit orang yang melawan. Merekalah yang oleh Arnold Toynbee, sejarawan Inggris yang masyhur itu, disebut sebagai ”minoritas kreatif”.

Mereka memiliki energi besar di tengah masyarakat yang sudah kepayahan, punya gagasan- gagasan besar di tengah lingkungannya yang tersesat, dan terus memelihara daya hidup yang menyala-nyala di tengah masyarakat yang sudah putus asa.

Merekalah yang sesungguhnya menjadi perebut masa depan itu. Mereka memosisikan dirinya bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku utama. Mereka memelihara optimisme tentang Indonesia yang gilang-gemilang ketika banyak orang di sekitarnya lebih senang mengolok-olok bangsanya sendiri sebagai kapal yang hendak karam.

Pembaca, pada 28 Oktober ini ada baiknya kita becermin. Mudah-mudahan kita termasuk di antara para perebut masa depan itu.

Monday, October 27, 2008

Mengapa Sulit Melihat ke Dalam Diri?

side


Mengapa Sulit Melihat ke Dalam Diri?
Arvan Pradiansyah - Majalah Swa

Empat murid yang sedang belajar meditasi saling berjanji untuk menjalankan tujuh hari dalam keheningan. Pada hari pertama dan kedua semuanya diam. Meditasi mereka berlangsung dengan khusyuk. Namun, ketika malam ketiga tiba dan nyala lampu menjadi remang-remang, salah seorang murid tidak bisa menahan diri dan berseru kepada pelayan, ”Tolong perbaiki lampu itu!”

Murid kedua heran mendengar suara temannya. ”Kita tidak boleh berbicara,” komentarnya. Melihat hal ini murid ketiga merasa jengkel, ”Kalian bodoh. Mengapa berbicara?” ia bertanya. ”Sayalah satu-satunya orang yang tidak berbicara,” murid keempat menyimpulkan.

Pembaca yang budiman, apakah yang menarik dari cerita di atas? Ternyata melihat ke luar itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan melihat ke dalam. Ini tentu saja tidak mengherankan, melihat ke luar hanya membutuhkan mata lahir, sedangkan melihat ke dalam membutuhkan mata batin. Melihat ke luar dapat kita lakukan di tengah kesibukan, sementara melihat ke dalam hanya bisa kita lakukan dalam keheningan, manakala kita melakukan dialog yang tak terputus dengan diri kita sendiri.

Yang menarik, karena kita hanya dapat fokus pada satu hal di satu waktu, maka ketika fokus ke luar, kita akan lupa untuk melihat ke dalam. Lantas, apa yang membuat kita sulit untuk melihat ke dalam?

Menurut saya, ada tiga alasan mengapa melihat ke dalam diri sendiri itu sulit. Pertama, karena kita sering merasa sudah benar. Kita tidak sadar bahwa kebenaran hanyalah posisi kita pada saat ini, dan sama sekali tidak ada jaminan bahwa kita tetap berada di posisi ini di masa mendatang. Kita lupa bahwa posisi kita bisa berubah seperti bandul yang berayun.

Selain itu, kita kerap menganggap diri kita berada di zona aman. Kita merasa diri kita baik dan bijak. Kita merasa mempunyai kedudukan yang menjamin kita berbuat baik seperti penegak hukum, aktivis antikorupsi, ahli agama, ilmuwan dan sebagainya. Semua posisi dan label ini menciptakan perasaan aman yang pada gilirannya menghasilkan sikap kurang hati-hati, lengah dan longgar. Tanpa disadari kita mengendurkan standar kita sendiri. Inilah yang membuat banyak penegak hukum melakukan aktivitas yang melanggar hukum, aktivis antikorupsi malah melakukan tindakan korupsi, ahli agama melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan agama yang diyakininya.

Kedua, kita lebih mudah melihat ke luar karena kita senang menyalahkan orang lain. Kita acap kali merasa bangga bila kita dapat menunjukkan kesalahan orang lain. Seolah-olah dengan menunjukkan kesalahan orang lain itu kita menjadi lebih baik dan lebih besar. Secara diam-diam dan tanpa disadari, kita masih memiliki penyakit ini dalam diri kita. Kita ingin lebih dibandingkan dengan orang lain. Kita membangun ego kita dengan cara seperti itu.

Ada sebuah cerita inspiratif mengenai tiga orang anak yang dibawa penduduk kampung ke pengadilan dengan tuduhan mencuri buah semangka. Ketiga anak itu sangat ketakutan karena berpikir akan menerima hukuman yang berat.

Ketika sampai di hadapan hakim, hakim yang dikenal sebagai orang yang sangat keras sekaligus bijaksana itu mengatakan, “Kalau di sini ada orang yang ketika masih anak-anak belum pernah mencuri buah semangka, silakan tunjuk jari.” Ternyata tak seorang pun termasuk hakim yang mengangkat jari telunjuknya. Maka, hakim pun langsung berkata, “Perkara ditolak.”

Jadi, sebelum bicara apa-apa, lihatlah diri Anda lebih dulu. Walaupun melihat diri sendiri memang amatlah sulit. Analoginya seperti melihat telinga Anda sendiri. Telinga itu berada sangat dekat dengan diri kita, tapi bisakah kita melihatnya? Tidak bisa, Anda membutuhkan alat, yakni cermin.

Ketiga, kita sulit melihat ke dalam diri karena kita sering merasa bahwa masalah berada di luar, bukan di dalam. Padahal, bukankah semua masalah yang ada di luar itu sebenarnya bersumber dari masalah yang ada di dalam, seperti halnya orang lebih suka mengarahkan telunjuknya ke luar tetapi lupa untuk bercermin. Bukankah semua kejahatan, permusuhan, dan peperangan bersumber pada sesuatu yang ada di dalam – dan bukan di luar – diri kita?

Karena merasa bahwa masalah ada di luar bukannya di dalam, maka perilaku kita seperti perilaku orang yang membaca buku psikologi dan bukan buku kesehatan. Ketika membaca buku psikologi kita akan cenderung menganalisis perilaku orang lain yang ada di sekitar kita. Kita mengatakan, “Ya, saya tahu, rekan kerja saya memang seperti ini, begitu pula dengan pasangan hidup saya.” Ini tentu saja berbeda dari perilaku ketika membaca buku kesehatan. Bayangkan kalau Anda membaca tulisan mengenai gejala diabetes atau jantung koroner. Siapakah yang akan langsung Anda pikirkan? Tentu saja, kita akan melihat ke dalam diri kita sendiri.

Seorang bijak pernah mengatakan, “Orang yang tahu mengenai alam semesta tetapi tidak tahu apa-apa mengenai dirinya berarti belum tahu apa-apa.” Karena itu tepat sekali Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya yang terkenal mengatakan, ”Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat...” Dalam lagu yang sama ia juga berpesan, ”Bercermin dan banyaklah bercermin. Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini. Berusahalah agar Dia tersenyum...”

Friday, August 01, 2008

Simfoni di Dalam Diri

blue


Simfoni di Dalam Diri
Gede Prama - Kompas.com

Ada sebuah institusi sosial yang menyelamatkan peradaban dalam waktu lama sedang mengalami keruntuhan. Institusi itu bernama keluarga. Disebut menyelamatkan peradaban karena di keluarga kita lahir, bertumbuh, menjadi tua, dan akhirnya mati. Lebih dari itu, di keluarga juga sebagian besar kekurangan disempurnakan.

Bersamaan dengan runtuhnya bangunan keluarga (melalui perceraian, menurunnya respek masyarakat, dan semakin minimnya tokoh yang menjadi contoh dalam hal ini), di mana-mana kehidupan ditandai oleh lingkungan yang semakin panas.

Di kantor panas oleh perebutan kekuasaan, di jalan panas oleh kemacetan, bahkan sebagian tempat ibadah pun sudah mulai kehilangan kesejukan. Sejumlah media cetak, radio, dan televisi hanya memberitakan sesuatu yang panas. Yang sejuk-sejuk tidak termasuk dalam klasifikasi berita. Jadi, tidak terbayang panasnya wajah peradaban. Di satu sisi cuaca di luar memanas, di lain sisi keluarga mulai kehilangan atap yang menyejukkan.

Lahan penerimaan
Ketika sayur-sayuran ditanam kemudian gagal bertumbuh segar, manusia otomatis mencari sebabnya pada kekeliruan-kekeliruan kita sendiri. Namun, begitu berhadapan dengan orang lain, terlalu sering dalam kehidupan, manusia mencari kesalahannya pada orang lain. Bukan mencari kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan, sebagaimana ketika berhadapan dengan tetumbuhan.

Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, tidak elok bila menimpakan seluruh kekeliruan kepada Descartes yang mengultuskan ”aku” mulai ratusan tahun lalu, pada kapitalisme yang membuat semuanya jadi materialistik. Serupa dengan logika sayuran tadi, mari kita cari sebab-sebab dalam diri yang membuat semua ini terjadi.

Bila diandaikan dengan daun kelapa yang bergoyang, goncangan kehidupan manusia sekarang memang jauh lebih keras. Bahayanya, sudah tambah berguncang kemudian berpegangan pada sesuatu yang bergoyang kencang.

Di dalam diri, manusia labil oleh ketersinggungan, kemarahan, kecemburuan. Pada saat yang sama, nyaris semua hal luar (termasuk rumah dan keluarga) mengalami guncangan-guncangan. Oleh karena itulah, membangun rumah dan keluarga yang sejuk menjadi sebuah isu penting pada zaman ini.

Sebagaimana rumah sesungguhnya, kekokohannya bergantung pada seberapa kuat fondasinya. Bila boleh jujur, kenapa fondasi banyak rumah keluarga demikian keropos, karena dimulai dengan keserakahan hanya mau kelebihan, menolak kekurangan. Belajar dari sinilah, maka penting menata ulang rumah keluarga dengan belajar saling menerima kekurangan.

Rumah mana pun akan indah menawan bila setiap kali pulang ke rumah kita saling menyirami. Seperti pohon yang kekeringan di musim kemarau (konflik di kantor, macet di jalan), demikianlah keadaan emosi tatkala pulang ke rumah. Betapa indahnya kemudian bila kita saling menyirami di rumah (baca: menerima kekurangan). Inilah bibit-bibit cinta yang menawan. Cinta yang mekar dari kesadaran bahwa semua punya kekurangan, semua membutuhkan siraman-siraman.

Mengalir bersama simfoni
Sulit membayangkan mekarnya bunga-bunga cinta kalau hubungan dimulai dengan harapan orang harus sempurna. Sebagaimana alam yang memeluk dualitas sama mesranya (musim hujan rumput menghijau, musim kemarau bunga-bunga bermekaran), cinta baru mulai tumbuh dalam totalitas. Dalam kelebihan ada kekurangan, dalam kekurangan ada kelebihan (love as a totality).

Kebanyakan kecelakaan kehidupan (perceraian, peperangan, perkelahian, kerusuhan) berasal dari mau kelebihan tidak mau kekurangan. Bila ada seribu laki-laki berkumpul, kemudian ditanya siapa yang mau menerima kecantikan dan kebaikan istri, kemungkinan besar semua orang akan angkat tangan. Namun, bila ditanya, siapa yang mau menerima (maaf) kecerewetan dan kekerasan istri, jika ada yang menaikkan tangan, dengan mudah dituduh kurang waras. Atau sekurang-kurangnya dicurigai menjadi ketua dewan pembina ISTI (ikatan suami terinjak-injak istri).

Di tengah hamparan bahan-bahan kosmik seperti ini, suatu sore seorang putri bertanya kepada papanya tentang rumah (home), terutama setelah lama ia lelah mencari. Dengan tersenyum papanya berbisik, ”Home is not a place. It is a journey. Those who totally flow with the journey, they’re at home already.” Rumah indah kehidupan bukanlah tempat, ia adalah perjalanan itu sendiri. Siapa yang mengalir penuh harmoni dengan keseharian, ia sudah sampai di rumah.

Seperti belum jelas dengan jawaban tadi, putri ini bertanya lagi, apa cahaya penerangnya agar rumah ditemukan? Dengan lembut papanya berbisik, ”The light is not outside. It is within your love. Those who are full of love see light everywhere.” Cahaya penerangnya tidak di luar. Ia tersembunyi dalam keseharian yang penuh cinta. Siapa saja yang melangkah dengan penuh cinta, perjalanannya terang benderang.

Lebih dari sekadar terang, sebagaimana pengalaman para master, kehidupan menjadi seperti simfoni indah yang dibentuk berbagai alat musik. Benar-salah, sukses-gagal, semuanya mengukir keindahan.

Ada yang bertanya, bila ada simfoni di dalam diri, lantas siapa dirigennya? Bertanya tentu tidak dilarang. Namun, yang perlu diwaspadai, siapa yang menunggangi pertanyaan. Kerap ada keraguan, kadang ada ketakutan, ada waktunya pertanyaan didorong keingintahuan, sering pertanyaan ditunggangi kecurigaan. Keraguan, ketakutan, apalagi kecurigaan, hanyalah tanda bahwa seseorang masih jauh dari rumah. Keingintahuan adalah pikiran yang lapar. Dalam banyak kehidupan, pikiran lapar adalah awal keguncangan-keguncangan.

Jadi, bisa dimaklumi bila para guru yang sudah lama tinggal di rumah, menyatu dengan rumah, hanya mengenal dua bahasa, silent and smile. Senyuman pertanda persahabatan dengan kehidupan. Keheningan tanda tidak ada lagi yang diragukan.

Mungkin itu sebabnya Zenkei Shibayama memberi judul karyanya A Flower does not talk. Bunga mekar dalam keheningan, layu dalam keheningan. Bisa jadi ini juga alasan tatkala murid-muridnya berselisih paham, Buddha Gautama memilih berdiam diri di hutan bersahabatkan gajah dan pepohonan. Perhatikan apa yang ditulis Rumi dalam Masnavi: The wages of religion are love, inner rapture. Upah buat mereka yang tekun berjalan ke dalam adalah cinta, rasa terpesona dari dalam yang tidak terucapkan.

Inilah simfoni di dalam diri. Simfoni yang membuat batin beristirahat sempurna dalam hening. Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingya.

Thursday, July 17, 2008

Menikmati Kehidupan

peace on earth ...


Menikmati Kehidupan
Andrew Ho - Pembelajar.com

"Health, happiness and success depend upon the fighting spirit of each person. The big thing is not what happens to us in life – but what we do about what happens to us." – Kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan terletak pada semangat juang masing-masing individu. Hal yang besar bukanlah apa yang terjadi di dalam hidup kita, melainkan apa yang sudah kita lakukan terhadap setiap kejadian di dalam hidup kita.
~ George Allen

Pesan yang disampaikan oleh George Allen mengajak kita agar memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Memang kehidupan ini penuh dengan masalah, dari yang ringan sampai yang paling berat. Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak dapat menikmati kehidupan ini, karena ada banyak cara untuk menikmati kehidupan ini sekaligus mengatasi beban yang sedang kita hadapi.

Salah satu langkah menikmati kehidupan ini adalah selalu mensyukuri karunia kehidupan dari Tuhan YME, apakah Anda sedang bahagia atau mengalami kepedihan. Berusahalah untuk selalu berpikir positif, bahwa Tuhan YME selalu memberikan yang terbaik. Karena tanpa kita sadari sebenarnya selalu ada solusi di balik semua kesulitan dan manfaat yang ditujukan untuk kebaikan kita.

Salah satu contoh adalah waktu demi waktu berlalu hingga kita sampai pada saat sekarang ini. Cobalah menelisik betapa uniknya kesempatan yang sudah banyak Anda lewati. Begitu banyak keajaiban dan kenikmatan di sepanjang jalan yang Anda lalui. Bila Anda mencoba mengingat semua itu dalam keheningan doa dan memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan YME, di sanalah Anda akan merasakan kedamaian hati dan kenikmatan hidup yang luar biasa.

"Believe it is possible to solve your problem. Tremendous things happen to the believer. So believe the answer will come." – Percayalah sangat mungkin masalah Anda terselesaikan dengan baik. Kejadian yang luar biasa selalu terjadi pada mereka yang percaya. Jadi percayalah, jawaban itu pasti ada, kata Norman Vincent Peale.

Anda juga dapat menikmati kehidupan ini dengan mengingat kembali keberhasilan yang sudah Anda ciptakan. Cara ini juga dapat membantu Anda memfokuskan diri pada hal-hal positif di dalam diri Anda sendiri. Sehingga timbul semangat yang lebih besar untuk melaksanakan tanggung jawab sebaik mungkin dengan mengerahkan potensi diri yang ada.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, "When we do the best we can, we never know what miracle is wrought in our life, or in the life of another." – Ketika kita sudah mampu melakukan yang terbaik, maka kita tak akan pernah menyadari keajaiban yang akan terjadi dalam kehidupan kita atau dalam kehidupan orang lain.”

Sementara itu hilangkanlah keserakahan dan pamrih. Kedua sifat tersebut menambah beban kehidupan, diduga kuat menghalangi keinginan Anda untuk menikmati kehidupan ini. Saya pernah membaca kisah tentang sekelompok orang yang berjalan dengan napas terengah-engah, letih, dan keadaan mereka begitu menderita. Tetapi satu di antara mereka justru terlihat riang. "Karena barang bawaan saya sedikit," jawabnya ketika ditanya. Ternyata sesederhana itu cara menikmati kehidupan, yaitu melepaskan keserakahan dan pamrih.

Cara lain yang masuk kategori paling indah untuk menikmati kehidupan ini adalah berbagi untuk orang-orang yang kurang beruntung. "The only worthwhile achievements of man are those which are socially useful." – Prestasi manusia yang paling berharga adalah prestasi-prestasi yang bermanfaat bagi kehidupan sosial, kata Alfred Adler. Kalaupun kemampuan Anda terbatas, berikan saja rasa persaudaraan yang tulus atau kegembiraan untuk orang lain.

Dikisahkan tentang anak kucing yang tubuhnya mungil. Sekilas dari bentuk tubuhnya sama sekali tak nampak potensi yang dapat ia andalkan. Tetapi kucing kecil itu setiap hari selalu menyambut majikannya dengan riang. Ia lalu bermain dan berguling-guling di atas rumput bersama sang majikan.

Setiap hari sang majikan merasa sangat terhibur, bahkan sering tertawa sampai terbahak-bahak. "Meskipun kamu binatang yang paling kecil disini, tetapi kamu adalah binatang yang paling berharga," kata sang majikan sambil memberikan kecupan mesra. Setelah menyimak kisah tersebut, saya berpikir kucing kecil saja bisa menghadirkan kegembiraan kepada orang lain apalagi kita manusia yang pandai dan berakal.

Sementara bersabar dan lapang dada mungkin sikap yang paling sulit dilakukan. Padahal bersabar dan lapang dada adalah cara paling efektif untuk menikmati kehidupan. Sampai-sampai Jean De La Fontaine mengibaratkan kesabaran dan waktu itu mampu berbuat lebih dibandingkan kekuatan atau semangat. "Patience & time do more than strength or passion," katanya.

Ibarat Anda sudah puas berusaha, tetapi tidak juga mendapatkan hasil atau solusi yang diharapkan. Bukankah jauh lebih baik bila Anda menerima saja kenyataan dengan lapang dada? Hanya dengan bersabar memungkinkan Anda dapat kembali mengerahkan energi yang masih tersisa untuk menjadikan situasi lebih baik.

Jika ada waktu senggang cobalah untuk menuliskan beberapa hal untuk menyenangkan hati, misalnya jalan-jalan pagi hari, rekreasi, ke salon, olahraga, spa, dan lain sebagainya. Tak ada salahnya manfaatkan waktu luang untuk menyegarkan pikiran dan menikmati aktivitas selingan yang tertera daftar tersebut. Dengan catatan aktivitas tersebut tidak sampai disalahgunakan atau melanggar aturan, dan sesuai dengan kemampuan atau tidak memaksakan diri. Pepatah mengatakan jalani hidup sesuai dengan apa yang seharusnya bukan yang Anda sukai. "If you would live your life with ease; do what you ought, not what you please," anonim.

Tuhan YME sengaja merancang kehidupan ini untuk kebaikan manusia. Kunci untuk menikmati kehidupan ini sesungguhnya terletak pada kemampuan kita menciptakan keseimbangan terhadap elemen-elemen kehidupan, yaitu; material, sosial, spiritual, emosional, intelektual, dan lain sebagainya. Jadi di samping beberapa hal yang saya ungkapkan di atas, tentu saja masih banyak lagi cara untuk menikmati kehidupan ini. Selamat menikmati kehidupan, karena siapa pun Anda berhak mendapatkannya!

Sunday, July 13, 2008

Oh Bali ...

a new hope, always ...


Akhir-akhir ini, saya sering berucap pada diri sendiri ... "Rasanya aku harus mencari sesuatu selain memfoto pemandangan. Pemandangan memang bagus, tapi rasanya ada sesuatu yang hilang. Mungkin perlu sosok manusia di situ ... yang membuatnya menjadi hidup ... membuatnya menjadi fotoku .. perlu sesuatu yang memberikan warna, pergulatan ... bagaimana agar foto ini unik ... dan seterusnya ... dan seterusnya ..." Sampai liburan saya kemarin ke Bali ...

Duduk di pantai, sendirian. Ditemani sebuah kapal layar di horison dan desau angin, mendengarkan deburan ombak, membuat saya harus mengakui kalau saya salah.

Apalagi melihat awan berarak di langit yang berangsur kekuningan, menyadarkan saya akan indahnya dan luasnya kekuasaan Allah, Sang Maha Pencipta.

Ombak, horison datar sejauh mata memandang, dan matahari yg perlahan muncul dr batas air dan langit ... Subhanalloh, segala puji hanya bagiNya, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Pada saat seperti ini ... untaian kata dan yang kita bisa tangkap lewat bidikan kamera sungguh menjadi tak berarti. Itu semua menjadi tak ada artinya dibandingkan keajaibanNya yang IA tunjukkan. Dan ini hanya satu sudut di muka bumi ini. Masih banyak sudut-sudut lain ...

Maha Besar Engkau ya Tuhan ... sungguh aku hanyalah seorang hamba yang hina yang senantiasa mengharap ridhoMu ...

Thursday, June 26, 2008

Memupuk Sikap Tangguh



Memupuk Sikap Tangguh
Republika - KH Abdullah Gymnastiar

Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.

Saya pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih manusia "terkuat" di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam lomba tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.

Hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah berjanji akan membahagiakan orang-orang sabar dan tangguh mengarungi hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali (QS Al Baqarah [2]: 155-156).

Ciri manusia tangguh
Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya. Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang. Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan. Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: "Kita harus menjadi manusia tangguh". Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan?

Tuesday, June 24, 2008

Bisnis: Antara Uang dan Spiritualitas

we are still sleeping


Bisnis: Antara Uang dan Spiritualitas
Arvan Pradiansyah - Majalah Swa

Suatu ketika, penyair George Bernard Shaw bercakap-cakap dengan seorang perempuan cantik. "Maukah kamu tidur denganku kalau kubayar sejuta pound?" tanya Shaw "Tentu saja, aku mau," jawab si wanita. "Kalau begitu," sambung Shaw, "ini lima pound." Si wanita terkejut, "Lima pound!? Memangnya kau pikir aku ini apa?" Namun, Shaw menanggapi keterkejutan wanita ini dengan tenang, "Lho, kan tadi kita sudah sepakat. Sekarang, ayo kita tawar-menawar harga."

Para pembaca yang budiman, cobalah Anda perhatikan dialog di atas. Bukankah Shaw benar? Setelah prinsip disingkirkan, sisanya tinggal masalah tawar-menawar.

Bisnis juga demikian. Dalam bisnis, keputusan hanya dibuat sekali, dan setelah itu tinggal masalah teknis. Ketika keputusan dibuat itulah terjadi peperangan yang sengit antara kejahatan dan kebaikan, antara setia pada yang benar dan yang menguntungkan, antara spiritualitas dan uang.

Ke arah mana sebenarnya bisnis harus berpihak? Mengapa banyak orang lebih berpihak pada uang ketimbang spiritualitas? Ada empat hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, karena keyakinan. Kita tidak percaya bahwa keberpihakan pada kebenaran akan membuat kita kaya, sukses dan bahagia. Bukankah uang lebih konkret dan lebih menjanjikan? Orang yang korupsi tidak percaya bahwa kebaikan, kebenaran dan kejujuran akan menghasilkan keuntungan. Mereka tidak percaya pada janji Tuhan yang akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik kepada orang-orang yang melakukan kebenaran dan kebaikan. Padahal, bukankah sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang memihak pada kebenaran selalu mendapatkan kebaikan dari Tuhan?

Kedua, masih banyak orang yang menganggap bisnis semata-mata sebagai usaha untuk menghasilkan uang. "Kalau bukan untuk uang, lantas untuk apa?" demikian mungkin kata Anda. Lagi pula, apa hubungannya bisnis dengan spiritualitas?

Padahal, bisnis adalah kegiatan spiritualitas. Dalam berbisnis, terbuka berbagai pintu ke arah surga. Bukankah dasar dan hakikat bisnis adalah melayani orang lain? Bukankah bisnis berarti memberikan tenaga, waktu, pikiran dan jiwa Anda bagi orang lain? Bukankah kita hanya bisa menang kalau kita memenangkan, menguntungkan, membesarkan dan memuliakan orang lain?

Bisnis yang berfokus pada uang adalah bisnis yang berjangka pendek. Paradigmanya adalah, "Saya mencari uang. Karena itu, saya melayani." Bandingkan dengan paradigma pebisnis yang mengutamakan spiritualitas yang mengatakan, "Tujuan saya adalah melayani orang lain. Dan karena itulah, saya mendapatkan uang." Para pebisnis biasa mengatakan, "Saya memberi karena saya mendapatkan." Sementara para spiritualis mengatakan, "Saya mendapatkan karena saya memberi."

Semakin Anda merenungkan paragraf di atas, Anda akan semakin yakin bahwa kita perlu mengubah paradigma kita dalam berbisnis. Ketika berfokus pada uang, kita akan menomorduakan pelayanan, tetapi ketika berfokus pada keuntungan pelanggan, kita akan mendapatkan keuntungan sebagai konsekuensinya. Bukankah orang yang senantiasa menguntungkan orang lain selalu dicari orang? Inilah yang saya sebut dengan bisnis sebagai ibadah. Bisnis sebenarnya adalah pengejawantahan pengabdian kita kepada Tuhan dengan cara melayani orang lain dengan sepenuh hati.

Ketiga, banyak orang yang belum melihat bahwa sebuah bisnis yang benar pasti akan membuat pelakunya menjadi lebih spiritual dari waktu ke waktu. Dengan demikian, kita juga dapat mengatakan bahwa bila seseorang tidak menjadi lebih spiritual setelah menjalankan bisnisnya bertahun-tahun, berarti ia tidak menjalankan bisnisnya dengan benar.

Mengapa? Lihatlah bagaimana sebuah persaingan bisnis terjadi. Bukankah persaingan yang hakiki dalam bisnis adalah persaingan untuk menjadi yang lebih baik dalam melayani, menguntungkan dan memuliakan orang lain? Bukankah hakikat persaingan dalam bisnis adalah memperbaiki diri sendiri agar menjadi lebih dipercaya dan dapat diandalkan. Bukankah Stephen Covey dalam The Speed of Trust mengatakan, "Nothing is as fast as the speed of trust"?

Karena itu, dalam upaya memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada pelanggan, bukankah kita akan terus-menerus dipacu untuk menjadi lebih baik, lebih dapat dipercaya, lebih mementingkan orang lain, lebih memberikan apa pun yang kita miliki untuk orang lain? Sekarang, cobalah perhatikan bahasa yang kita gunakan. Bukankah semua ini adalah bahasa kemuliaan, bahasa spiritualitas? Maka, bisnis yang benar selalu merupakan penggerak yang kuat kepada para pelakunya untuk menjadi lebih spiritual dari waktu ke waktu. Hanya bisnis yang serakah dan mementingkan uanglah yang akan menggerus kemampuan menghasilkan serta memunculkan keluhan dan kecaman pelanggan.

Keempat, banyak orang yang melupakan rumus terpenting dalam hidup bahwa segala sesuatu haruslah dicapai dengan kerja keras. Tak ada makan siang gratis. Dalam kaitannya dengan uang, hal ini memunculkan dua jenis orang. Orang jenis pertama adalah yang bekerja keras, memberikan jiwa dan raganya untuk kepentingan orang lain dan menghasilkan kebahagiaan dan uang. Orang-orang ini telah membayar kenikmatan mereka di muka, karena itu mereka dapat menikmatinya dengan tenang. Namun, banyak orang yang tak percaya pada hukum alam ini. Mereka berfokus pada uang dan ingin mendapatkannya tanpa kerja keras. Mereka menyangka bisa luput dari kerja keras. Padahal, hukum alam tetap berlaku, jika Anda tidak mau membayar di muka, Anda tetap harus membayarnya di belakang, bahkan dengan cara-cara yang jauh lebih keras. Anda harus bekerja keras untuk menjustifikasi bahwa Anda memang layak mendapatkan harta tersebut. Inilah yang terjadi pada para koruptor. Ini pula yang menyebabkan mereka tak pernah merasa bahagia.

Sunday, June 22, 2008

Sensitif terhadap Waktu

play by the white lake


Sensitif terhadap Waktu
Republika - KH Abdullah Gymnastiar

Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa (Ibnu Atha’ilah) Sesungguhnya waktu akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia.

Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.

Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).

Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan. Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa.

Mengapa orang suka menunda-nunda?
Pertama, ia tertipu oleh dunia. Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan. Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.

Kedua, tertipu oleh kemalasan. Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.

Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam beramal. Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang tidak berharga.

Tidak sensitif terhadap waktu
Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk sensitif terhadap waktu. Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di masjid, berjamaah dan tepat waktu. Karena itu, orang-orang yang mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.

Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik pun waktu berlalu sia-sia. Orang yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.

Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan. Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang celaka.

Saudaraku, orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia mendapatkan prestasi maksimal. Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya 63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya sensitivitas terhadap waktu.