Showing posts with label umroh. Show all posts
Showing posts with label umroh. Show all posts

Sunday, September 28, 2008

Mesjid (2)

Masjid Nabawi Madinah


Di hari-hari biasa
tidak pernah sepi dan tak juga ramai sekali
selalu ada orang di mesjid ini
ada yang tafakur, duduk-duduk, sibuk bersih-bersih
sampai tertidur melepas lelah

Namun di hari-hari akhir ramadhan
wajah-wajah letih kurang tidur
penuh keikhlasan silih berganti
mengisi relung-relung mesjid ini

wajah-wajah penuh persaudaraan
senantiasa sibuk dengan Al Qur'an dan tafakur
antri makan dan mandi dalam ketenangan
berbaur dalam kegelapan qiyamul lail
lenyap dalam tangis mohon ampunanNya

wajah-wajah bercahaya bersih
penuh dengan hasrat hanya padaNya
selalu ingin dan rindu tuk merapatkan barisan
dalam kemesraan iman
dan islam

siang itu, sholat dhuhur
seorang anak tertidur pulas di shaf pertama
tak ada yang merasa perlu memindahkannya
kami pun merapatkan barisan
dengan sang anak menghiasi shaf kami

*ba'da dhuhur, mesjid Elnusa, 27 September 2008*

Sunday, August 19, 2007

Tips mengambil foto Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram

Masjidil Haram between buildings ...


Berhubung ada beberapa yang menanyakan hal ini, mungkin lebih enak dibahas di sini aja kali ya ... eh, iya ini baru on lagi setelah 1 minggu lebih off. Badan rupanya capek beneran, jadi libur kemerdekaan kemarin saya pakai untuk benar-benar istirahat ... :)

Mesjid Nabawi merupakan obyek foto yang menarik. Mengapa? Karena tidak banyak bangunan tinggi di sekeliling mesjid, sehingga matahari pagi maupun sore bisa menyinari mesjid ini dengan sempurna, satu hal yang sangat penting buat seorang fotografer amatir (hehehe ...). Banyaknya lampu-lampu di pelataran mesjid juga merupakan nilai tambah untuk mencari komposisi-komposisi yang pas. Di mesjid Nabawi sendiri penjagaan askar tidak terlalu ketat, hanya beberapa orang di setiap pintu masuk. Mereka cenderung menjaga pintu masuk dan tidak terlalu berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan di luar mesjid.

Setelah melihat 1-2 hari, saya mengambil kesimpulan kalau mengambil foto seusai subuh adalah saat terbaik. Lampu-lampu masih menerangi lingkungan sementara cahaya matahari perlahan naik mewarnai langit. Dengan mengambil posisi di pelataran mesjid, lokasi saya cukup jauh dari para askar supaya mereka bisa mengenali kalau saya sedang mengambil foto memakai kamera DSLR ... :)

Sempat juga saya mencoba naik ke lantai atas hotel, sayang terkunci. Kalau tidak rasa-rasanya saya bisa mengambil foto mesjid ini dari atas ... memang sudut-sudut komposisi akan sangat terbatas, tapi keindahan seluruh mesjid akan bisa saya tangkap ...

Bagaimana kalau siang hari? Pas saya ke sana (bulan Juli) jam 7-8 pagi matahari sudah bersinar dengan teriknya, rasa-rasanya akan sulit mendapatkan foto yang bagus. Bagaimana dengan menjelang magrib? Repot rasanya, karena harus fokus pada tujuan utama, yaitu sholat Magrib yang langsung disusul dengan sholat Isya. Setelah sholat subuh rasa-rasanya memang waktu yang terbaik ... :)

Seperti halnya memfoto di tempat lain, ketenangan, seksama, teliti dan sabar adalah kunci utama. Lihat-lihat ... kira-kira komposisi ... geser satu dua langkah ... lihat lagi ... jongkok ... berdiri ... tenang ... lihat orang sekeliling ... acuh tak acuh keluarkan kamera ... angkat, bidik, jepret ... lihat ... kalau bagus, masukkan lagi ke tas ... acuh tak acuh berjalan lagi ke posisi yang berikutnya ... :). Belum bisa acuh tak acuh? Latihan dulu foto orang di pasar hehehe ... :-P

Bagaimana dengan Masjidil Haram? Menurut saya mesjid ini agak sulit dijadikan obyek foto. Banyak sekali bangunan-bangunan tinggi di sekeliling mesjid. Askar yang hilir mudik dimana-mana. Pencahayaan yang kurang. Apalagi saat ini pelataran mesjid yang agak terbuka (depan hotel Hilton) justru lokasi yang tertutupi bayangan mesjid ketika matahari naik.

Mengambil foto Masjidil Haram, terus terang tingkat stress cukup tinggi hehehe ... dan setelah mengambil beberapa foto, ketahuan ama askar :-P. Untung dia dan temannya (askar juga), tidak marah. Cuma geleng-geleng dan menyuruh saya memasukkan kamera ke tas ... :)

===
Eh, tips ini hanya untuk yang umroh ya ... kalau haji, lebih baik niatkan sepenuhnya untuk berhaji ya. Sayang sekali kalau sampai terlewat berbagai kenikmatan berhaji ... :)

Tuesday, August 07, 2007

Sepanjang Madinah - Mekkah

Masjid Nabawi


Sepanjang Madinah - Mekkah

sejauh cakrawala terhampar
tanah pasir debu pegunungan
kering tandus
kerontang

     gunung gunung gunung
     lukisan cahaya sore
     di lekak lekuk
     sosok sosok terpancang

tanah kerikil merah
bebatuan di pinggir jalan
Selimut debu coklat
di tanah, jalan, gunung, udara,
   hidup

     deru sepi
     pencarian hening
     lintasan perjuangan hidup
     tuk temukan cinta yang hilang

cari apa engkau
kenapa kau disini
mau kemana kau pergi
apa yang kau cari?

     antara debu dan pegunungan
     temukan aku cinta sejati
     padamu wahai Rasul kekasih Allah
     di kedamaian taman Raudah

antara kering, tanah, pasir, dan bebatuan
kucari diriku dan yang kucari
Labbaik Allahumma labbaik
aku datang memenuhi panggilanMu Ya Allah

*ditulis dalam perjalanan bis dari Madinah menuju Mekkah, 14 Juli 2007*

Masjidil Haram

Sunday, July 29, 2007

Umroh VII – Tawaf Wada’

Morning time in a street of Madinah, just next to Masjid Nabawi


Hari itu hari terakhir kami berada di tanah suci. Pagi itu kami melakukan tawaf wada, tawaf perpisahan. Istri saya dan anak yang yang pertama kedatangan ‘tamu rutin’, sehingga pagi itu kami melakukannya bertiga, saya, ibu saya, dan anak saya yang kedua.

Tiga generasi. Ibu saya naik kursi roda, saya berjalan kaki, anak saya harus ada temannya. Tiga generasi.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami putuskan kalau Yusuf berjalan persis di belakang kursi roda, dilindungi oleh badan saya dan kedua tangan yang mendorong kursi roda. Tujuannya agar ia tetap bisa bersama kita dan tidak terbawa oleh arus tawaf jamaah yang lain.

Sambil berputar, bertawaf, otak berpikir, “Apa ini lagi hikmah dari perjalanan kali ini? Kalau sudah lewat saatnya menikmati hidup sendirian, dan saatnya untuk berfikir dalam kerangka yang lebih besar?”

Tawaf selesai, kami pun terbawa oleh arus rutinitas pulang. Bergegas kembali ke hotel, sarapan, menurunkan koper, naik ke bis, Jeddah, belanja, mesjid terapung, menunggu imigrasi, naik pesawat. Berangkat jam 9 pagi dari hotel, akhirnya pesawat kami meluncur dari Jeddah pukul 10 malam.

Umrohpun usai ... meninggalkan berbagai kenangan ... kenangan yang dalam ....

===

Berbagai hikmah perjalanan ini sempat saya catat. Namun banyak lagi yang terlewat namun mengendap dalam kepala dan hati. Saya yakin jika saatnya tiba, ia akan muncul dan memberikan pencerahan.

Mas Harrie sempat bertanya di blog ini, “Kok umroh masih sempat nulis?” Aneh memang, namun karena sudah terbiasa menulis, saya merasakan arus keinginan menulis yang sedemikian besar, yang mau tak mau harus saya salurkan. Untung saya memakai HP yang memiliki fasilitas keyboard yang kumplit .... ;)

Apa kabar semua? :)

Wednesday, July 25, 2007

Umroh VI - Ziarah

Masjid Namirah - Arafah


Dalam acara ziarah di Mekkah kami sempat menelusuri jejak Rasulullah ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dalam perjalanan itu beliau bersama Abu Bakar RA sempat bersembunyi di salah satu gua dari kejaran kaum Quraisy. Saat itu persembunyian mereka nyaris diketahui. Abu Bakar merasa sangat was-was karena pada saat itu sang musuh terlihat jelas berdiri di luar gua. Namun Rasulullah berujar (yang kalau tidak salah ada di surat At Taubah ayat 40) "Ya Abu Bakar, janganlah engkau khawatir, karena Tuhan bersama kita."

Cerita di atas saya kutip tanpa permisi dari udztad yang mengantar kami ziarah. Sungguh, rasanya kok seperti ditempeleng. Perlu janji apalagi dari Rasulullah dan Allah SWT? Selama kita berjalan di jalanNya, tidak perlu ada rasa kahawatir, karena Allah bersama kita. Perlu pelindung apalagi kalau Allah SWT sudah bersama kita?

Jadi ingat kadang saya cemas mengenai masa depan, mengenai keluarga, mengenai pekerjaan di kantor, di jalan, bertetangga dan banyak lagi. Selama kita berjalan di jalanNya, tidak perlu kita khawatir. Sungguh, janji Allah di atas adalah jaminan di atas segala jaminan ...

Sang udztad masih meneruskan ceritanya. Saya, melihat ke luar jendela. Malu sama beliau, malu sama Allah, malu sama diri sendiri ...

*ba'da subuh, Masjidil Haram, 17 Juli 2007*

Tuesday, July 24, 2007

Umroh V - Tawaf

Masjidil Haram


Kami masuk kota Mekkah pukul 10 malam. Sampai di hotel langsung makan dan kemudian masuk kamar, beberes sedikit. Berhubung sedang dalam keadaan ihram, tak banyak yang harus disiapkan. Paling banter memasukkan koper dan mengamankan barang berharga.

Pukul 11 malam kami berangkat ke Masjidil Haram. Sempat menunggu sejenak untuk mendapatkan kursi roda bagi ibu saya. Wah! Sang peminjam kursi roda cekatan sekali membawa ibu hingga ke pelataran mesjid. Gaya bawanya seperti kombinasi tukang ojek dan taksi, gesit dan lumayan nekad ketika menelusuri kontur jalan yang menurun.

Mata terpancang pada Ka'bah, benda hitam di tengah mesjid. Kata sang udztad, "Mari kita mulai tawaf. Kita masuk perlahan ke arus orang yang berputar. Tidak perlu tergesa ataupun terburu-buru ...."

Kami pun perlahan-lahan masuk. Berkecamuk perasaan yang ada di dalam hati. Akhirnya kami sudah menyatu dengan arus manusia yang memutari Ka'bah. Air matapun mengalir tanpa dapat saya cegah. Hisak tangis mewarnai putaran-putaran. Gambar perjalanan hidup terputar jelas. Dosa, kesalahan, takabur, sombong, sibuknya mengejar dunia ....

Benar kata Ali Syari'ati dan sang udztad. Tawaf adalah arus manusia, berputar, dengan irama yang tetap, penuh dengan kesabaran dan ketekunan. Tawaf adalah hilangnya identitas diri, membaur dalam sosok-sosok yang bergerak dalam putaran tiada henti ... kaki saya melangkah, tangan mendorong kursi roda, tangan sesekali membereskan kain ihram. Tapi jiwa dan hati lenyap larut dalam putaran dahsyat ini ... setapak-demi setapak ... Bismillahi Allahu Akbar ... setapak demi setapak ... berputar ... larut ....

Banyak orang bergerak dengan arah yang berbeda. Ada yang menerobos langsung dari pinggir menuju Ka'bah, ada yang bergerak terbalik, ada yang berhenti di tengah jalan sehingga mengganggu arus orang. Buat saya, dengan menceburkan diri ini, ternyata ini semua mengabur, hanya menjadi bentuk-bentuk tak bermakna. Sesekali memang saya berbenturan ... Tapi itu cuma lewat saja ... Setelah itu kembali setapak demi setapak ... berputar ... larut ...

Kali harus begitu kali ya kita menghadapi hidup ... Melebur dan menyatu dengan hidup tanpa membuat jarak ... Dan jangan terlalu lama pada satu hal, karena hal lain sudah menunggu ... Begitu kata salah satu teman karib saya ... (Beliau mengutip salah satu ayat Al Qur'an)

Usai tawaf, kami lalu sholat dua rakaat di depan Multazam yang diteruskan dengan berdoa. Subhanalloh ... Meski orang ramai sekali hilir mudik, saya merasakan seperti berdua saja denganNya. Sulit melukiskannya, tapi seperti ada terowongan khusus antara hati ini denganNya. Ya Allah begitu banyak dosa dan pintaku ... dan Ia mendengarkan dengan tangan terbuka ... Dalam keheningan tiada tara di sela-sela keramaian ... nikmat sekali ...

===

Tulisan ini saya buat sambil duduk menatapi Ka'bah. Misteri apa gerangan di balik benda ini? Kenapa jiwa ini begitu merasa tenang dengan melihatnya? Mengapa kita harus sholat dengan arah menujunya?

*menjelang subuh, Masjidil Haram,, 16 juli 2007*

Monday, July 23, 2007

Umroh IV - Berihram

Stone mountain ...


Di Bir Ali kami mempersiapkan diri untuk berihram. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam diri ketika saya sibuk memakaikan kain ihram pada Yusuf. Jika menuruti kata hati mungkin saya ingin berlari secepatnya memasuki mesjid, sholat sunnah ihram, untuk kemudian berihram dan mengikatkan diri pada aturan-aturan berihram.

Namun ini tentu tak bisa saya lakukan. Yusuf yang penuh semangat berihram harus dibantu. Apalagi ukuran kain ihram yang relatif besar untuk tubuhnya cukup menyulitkan kami untuk merapikan kain ihram yang melilit pinggangnya dan menutup tubuhnya bagian atas.

Selesai dengan merapikan kain ihram, kami pun melakukan sholat. Rasa gelisah masih saya rasakan, seperti tidak mempercayai diri yang sudah hampir berihram.

Usai sholat, kamipun menaiki bis yang akan membawa kami ke Masjidil Haram, ke Ka'bah, ke tempat kita biasa mengarahkan kepala dan seluruh sel tubuh untuk bersujud!

Sang udstaz mengajak kami untuk melafazkan niat berihram dan mulai bertalbiyah ....

Labbaik Allahumma labbaik ... Aku datang memenuhi panggilanMu Ya Allah ... satu, dua, tiga, berulang-ulang ...

Sambil bertalbiyah mengikut sang udztad, mata saya terpancang pada ketandusan negeri yang terlihat dari jendela bis. "Kenapa aku ada di sini? Mengapa aku harus berusah payah seperti ini? Apa yang sebenarnya aku cari?"

Air mata tak kuasa saya tahan ... mengalir ... terisak-isak ...hangat, basah ... "Aku mencari cintaMu ya Allah .... aku mencari cintaMu .... cukuplah itu bagiku ....

Doa di antara talbiyah dan salawat, Allahumma inna nas aluka ridaaka waljannata wana'uzubika min sakhatikawannaar ... Ya Allah, sesungguhnya Kami memohon keridhoanMu dan surga, kami berlindung padaMu dari kemurkaanMu dan siksa neraka ...

Ya Allah ... malu aku memintanya ... tapi sungguh berikan aku ridhoMu ... berikan aku ridhoMu ... Tanpa itu sia-sialah aku ....

*di bis menuju Mekkah, sesaat setelah berihram di Bir Ali, 14 Juli 207*

Thursday, July 19, 2007

Umroh I - Madinah

Masjid Nabawi - Madinah (1st shoot)


Alhamdulillah bisa kembali mengudara setelah 'lenyap' hampir 2 minggu. Apa kabar semua? :) Semoga dalam keadaan sehat selalu ... alhamdulillah saya sendiri baru mendarat sore ini. Cuma berhubung tulisan mengenai perjalanan ini agak banyak (ceile ...), mau nggak mau harus buru-buru mulai naik cetak ... :).

Oce lah ... badan masih capek, jadi langsung aja dah ... :-P


Umroh I - Madinah

Akhirnya perjalanan ini terlaksana. Setelah hitung bujet bolak-balik, hati saya yang sibuk meluncur antara umroh, AirAsia, Malaysia, Singapore, Thailand, Padang, Menado, Bali, Danau Toba, akhirnya berakhir meyakinkan dirinya sendiri untuk kembali pada sasaran yang sudah sekian tahun tidak berhasil ditembak dengan sukses.

Mungkin karena hati masih juga sibuk ngitung sana-sini, banyak hikmah yang saya dapat dari perjalanan kali ini, meski pada saat tulisan ini dibuat, belum genap saya dan keluarga berada 24 jam di Saudi Arabia.

Hikmah pertama adalah ketika naik pesawat. Saya udah terlalu lama dimanja oleh perusahaan kalau naik kapal terbang jarak jauh. Selalu business class, makanan berlimpah, tempat duduk luas, service tak kunjung reda, hingga kemudahan boarding maupun departure dan imigrasi.

Kemaren, saya naik kelas ekonomi. 9 jam di udara. Tempat duduk pas, kemiringan kursi kalau mau selonjoran terbatas, makanan pas (tanpa makanan ringan di antara 2 jadwal makan), bahan bacaan pas (alias bawa sendiri), tv dan entertaintment pas juga (ada layar besar untuk ditonton berjamaah dan kebanyakan isinya iklan).

Udztad dari biro perjalanan yang mengurus keberangkatan kami bolak-balik mengingatkan ... Jaga niat ... Jaga niat ... Jadi penerbangan itu saya nikmati sambil tetap berjuang sekuat hati untuk mengusir setan dan iblis yang berulang kali membisikkan saran dan petuah supaya saya merasa kesal dan kesal dengan situasi ini ... :)

Alhamdulillah, pesawat mendarat tepat waktu di Jeddah. Kami sempat tidak boleh turun dari pesawat sekitar 10 menit untuk kemudian disuruh menunggu di suatu ruang tunggu, berjamaah 1 pesawat.

Rupanya ada jamaah dari Iran yang sedang melalui proses imigrasi. Sambil menunggu, orang mulai menyalakan rokok sambil ngobrol pelan-pelan. Kebanyakan lelaki berdiri, sementara kaum wanita dan anak-anak duduk. Saya sendiri sibuk mengusir bau dan asap rokok, juga mengusir si setan yg sibuk berbisik, "Payah ya ... masa' disuruh menunggu nggak jelas begini .... nggak tahu apa kalau kita udah terbang 9 jam ... Ini orang merokokpun ngak peduli dengan sekitar dst dst dst ..."

Butuh 45 menit untuk menyelesaikan urusan jamaah Iran. Setelah kumplit, kamipun, berjamaah, disuruh pindah ke satu ruang tunggu lagi. Lalu, entah kenapa, petugas imigrasi yang bagian periksa, tanya, ngecap, tinggal 2 orang, sementara yang ngatur-ngatur kami - tempat duduk, siapa yang boleh dulu, teriak family first! dan banyak lagi - ada sekitar 4 orang.

Yang bikin tambah seru, rupanya si maskapai yg nerbangin kami ke sini ngasih formulir imigrasi yang salah. Jadi sambil berjuang supaya bisa dapat antrian di depan, kami - berjamaah tentunya seperti biasa - sibuk mengisi formulir baru ... Dan tentunya, saya pun sibuk mengusir si iblis yang masih asyik aja mengisi hati saya dengan berbagai ide cemerlangnya ...

Karena petugas imigrasi hanya 2, akhirnya tim ngatur-ngatur memutuskan agar yang berangkat dengan family harus didadulukan. Sayang dia tidak tahu, kalau di Indonesia yang namanya family tafsirannya macam-macam. Jadi tidak heran ketika sang pemimpin keluarga diperbolehkan ikutan ngantri, dia pun membawa semua orang, kalau boleh malah kami sepesawat adalah familynya. Balik-balik lagi saya sibuk mengenyahkan sang iblis yang makin pesta pora saja ...

Akhirnya saya berhasil membulatkan tekad - sambil menggempur si iblis habis-habisan - untuk berjuang agar saya dan keluarga - istri, anak 2, ibu - bisa masuk dalam antrian sambil sebisa mungkin tidak melanggar hak-hak jamaah yang lain. Singkatnya, kalau kami masuk dan duduk di ruang tunggu pukul 4.30, akhirnya kami bisa duduk di bis yang akan berangkat ke Jeddah pada pukul 8.30 ... 4 jam hehehe ...

Kami sampai di Jeddah dan check-in di hotel jam 2.30 pagi. Udztad pembimbing mengingatkan, kita berangkat subuh jam 3.30 ya ... Dihitung, berarti kita punya waktu 1 jam untuk beberes, mandi dan siap-siap ke mesjid ...

Urusan satu datang silih berganti dengan yang lain. Itulah yang terasa ketika duduk di shaf ketiga sholat subuh di masjid Madinah. Orang sibuk hilir mudik, kaki yang menyenggol sajadah, punggung, mata-mata yang menyelidik adakah ruang kosong di antara tempat duduk saya dan anak saya yang laki-laki, deru perjalanan yang belum mereda, yang ditambah pula dengan lalu lalang orang melangkahi kepala-kepala yang sedang bersujud.

Gelisah, masgul, tidak nyaman. Saya dan Yusuf (anak saya) sempat sholat dan berdo'a di Raudah. Tapi masih saja derap keramaian mengusik hati ini. Belum lagi cerita teman satu rombongan yang sepertinya sangat menikmati sholatnya di Raudah. Cemas ... takut ... sedih ... Apakah perjalanan ini bakal sia-sia? Kenapa ini? Apa karena saya terlalu mencemaskan keselamatan keluarga - seperti yang biasa saya lakukan di Jakarta - sehingga tak lagi percaya padaNya? Belenggu dunia ternyata sudah demikian mencengkram diri? Saya merasa seperti sedang berontak tak berdaya ....

Pulang dari Raudah dengan hati gelisah, saya menukar uang riyal. Urusan dunia lagi ... lagi lagi urusan dunia .... Sampai hotel, badan capek, pasang weker, bummm ... Hilang waktu itu sampai pukul 11.30. Weker berbunyi, badan yang masih pegal minta istirahat saya seret ke kamar mandi, bebersih, mandi dan wudhu ...

Ternyata keluarga semua tumbang kecapean. Saya pun ke mesjid sendirian. Saya masuk mesjid, mencari shaf di belakang. Ketentraman mulai muncul. Kesendirian, tiang-tiang raksasa yang tersusun rapi, lampu-lampu besar, ornamen indah dimana-mana, kubah, ukiran di sana-sini yang menurut mata saya jauh lebih indah dan magis dibanding segala macam ukiran di belantara Eropa. Belum lagi banjir Al Qur'an di setiap tiang, air zam-zam, juga di setiap tiang, hingga sampe pada kebutuhan dasar manusia seperti tempat penyimpanan sandal pun ada di setiap tiang.

Sholat. Allahu Akbar ... Al Fatihah, ruku', sujud, berdoa dalam sujud ..... Subhanalloh, perlahan rasa itu muncul. Nikmat sekali. Maha Besar Engkau ya Allah. Berbagai doa yang bersliweran akhirnya tergantikan dengan 1 permintaan, ampuni aku ya Allah .... ampuni aku .... aku hanyalah hambaMu yang hina ... ampuni aku ....

Sujud panjang tak terasa panjang. Terlalu pendek. Ingin sujud lagi. Lagi. Lagi. Permadani merah seperti memeluk setiap kali saya taruh kepala, tangan, kaki .... Perlahan-lahan sekitar pun mengabur ... hanya sosokNya yang terpancang ... ampuni aku ya Allah .... ampuni aku ....

*ditulis sebelum dan sesudah sholat Dhuhur hari pertama di Madinah, 12 Juli 2007*