Wednesday, October 22, 2008

tuhan

symmetry


Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS Al Baqarah 2:165)

Apakah masih banyak yang lain yang mengisi hati ini? Apakah ketika sholat hati kita masih saja berpindah dari urusan dunia yang satu ke urusan yang lain lagi? Apakah sulit bagi kita untuk senantiasa menghadirkanNya dalam sholat kita? Mudah-mudahan tidak demikian ... Amiiiin.

Monday, October 20, 2008

Siapa sih Kita?

alone ... but not lonely


Sabtu pagi, 11 Oktober, Perkemahan Cibubur.

Baju sepeda warna-warni, celana panjang training, helm lekat di kepala, sarung tangan menutupi jari dan telapak, tas kamera di bahu, Nikon kesayangan dalam genggaman.

Pagi ini, lagi asyik jepret-jepret ibu-ibu penyapu yang sedang sibuk menyapu lapangan bola yang mau dipakai salah seorang parpol. Sementara saya sibuk menjepret, mereka menyapa, "Pak, jangan foto saya, jelek ...." "Pak, foto ibu yang itu aja ... " Dst .. sampai ketika ...

"Mas, mas, foto saya ...." Tutur tegas seorang ibu.

Saya bingung, lalu menoleh. Ada 2 ibu-ibu, pakaian putih, kelihatannya simpatisan parpol dan sepertinya anggota paduan suara yang sedang latihan untuk acara parpol pagi itu.

"Ayo mas, foto saya ..." Perintahnya lagi, si ibu yang lebih muda.

Namanya menghadapi orang tua, ya saya jepretlah ... sementara pernak-pernik sepeda masih bertengger pada tempatnya.

"Mas, nanti dicetak kan?" Gelagapan ... "Ya bu" dengan sopan ...

"Ayo mas foto lagi ..." Kali ini kedua ibu itu sudah mengambil posisi siap difoto. Jepret lagi ... Habis gimana, bingung ... hehehe

"Berapa harganya mas?"Wah, kali ini benar-benar gelagapan, "Ya Bu, entar ..."

"Jangan lama-lama ya? Berapa harganya?" Saya pun perlahan ambil langkah menjauhi keduanya, "Ya Bu, entar ..." Dengan wajah antara senyum, bengong, plus rada bingung saya berhasil melarikan diri dari keduanya ..

Sang ibu, sempat mau mengejar, tapi untung panitia memanggil ... ayo mulai latihan paduan suara ...

Fuiiiiih ..... :-P

===
Sempat tergeli-geli sambil naik sepeda pulang. Kok bisa-bisanya dikira tukang foto? Tapi lama-lama mikir. Jangan-jangan beginilah hidup ya. Kita kira diri kita siapa ... orang lain mengira diri kita siapa. Tapi siapakah kita yang sebenarnya? Hanya lubuk hati yang paling dalam dan Allah yang tahu ... baik, buruk, rendah hati, sombong, pemurah, pelit ... hanya hati ini dan Allah yang tahu ...

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".
(QS 112:1-4)

Sunday, October 19, 2008

Jika Punya Kesempatan, Membacalah!

Reading newspaper


Jika Punya Kesempatan, Membacalah!
Muhammad Nuh

dakwatuna.com - “Siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (Muslim)

Ada posisi khusus untuk mereka yang berilmu

Ada kemuliaan tersendiri yang Allah berikan buat orang yang berilmu. Di dunia dan akhirat. Ia bisa lebih mulia dari mereka yang banyak harta dan tinggi jabatan. Bahkan, lebih mulia dari ahli ibadah sekalipun.

Rasulullah saw. bersabda, “Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” (Abu Dawud)

Bahkan, Alquran menjelaskan bahwa orang yang paling takut pada Allah adalah para ulama. Tentunya, mereka yang memahami kebesaran dan kekuasaan Allah swt. “…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama…” (Fathir: 28)

Begitu tingginya penghargaan buat mereka yang berilmu. Khusus mereka yang tergolong pakar dalam Alquran, ada kemuliaan tersendiri. Dan kemuliaan itu mereka dapat saat bertemu Allah kelak di hari pembalasan.

Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin yang pandai membaca Alquran akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti….” (Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah saw. mengatakan kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu dari shalat (sunnah) seratus rakaat. Dan, pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan, dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari shalat seribu rakaat.” (Ibnu Majah)

Seperti apapun kita hidup, tak ada yang tanpa ilmu
Hidup dan pengetahuan nyaris tak bisa dipisahkan. Sulit membayangkan jika kehidupan ditelusuri tanpa pengetahuan. Ruang-ruang kehidupan menjadi begitu gelap. Dan jalan yang akan ditempuh pun tampak bercabang-cabang.

Itulah kenapa Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Rasulullah saw. mengatakan, “Menuntut ilmu wajib buat tiap muslim (laki dan perempuan).” (Ibnu Majah)

Dari situ bisa dipahami bahwa Islam menginginkan umatnya hidup bahagia. Dunia dan akhirat. Karena tak satu kebahagiaan pun di dunia ini yang bisa diraih tanpa ilmu. Mulai dari profesi yang menghasilkan uang, hingga pada pengokohan status hidup sendiri. Keberadaan sebuah keluarga misalnya, sulit bisa harmonis jika tanpa ilmu seni berkeluarga. Begitu pun pada yang lain: sebagai manusia, mukmin, warga negara, dan warga dunia. Jika status-status ini tidak disertai ilmu, orang akan menjadi korban pembodohan dan penzaliman.

Belum lagi persiapan menyongsong kehidupan akhirat. Tentu lebih banyak butuh ilmu. Karena kehidupan tak lain sebagai ladang amal buat akhirat. Gagal hidup di dunia bisa menggiring kecelakaan di akhirat. Na’udzubillah.

Jika mau, selalu ada cara
Persoalan sukses-tidaknya seseorang mencari ilmu ternyata bukan sekadar masalah biaya. Bukan juga kesempatan. Tapi, lebih pada kemauan. Inilah kendala berat siapa pun yang ingin sukses.

Rasulullah saw. mengajarkan para sahabat untuk selalu berlindung pada Allah dari sifat malas. “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dari kelemahan dan kemalasan….”

Inilah di antara penyakit mental umat Islam saat ini yang sangat bahaya. Malas bukan hanya merugikan diri si pelaku, melainkan juga orang lain. Bisa anggota keluarga, bawahan, dan lain-lain. Karena malas, seseorang atau sebuah kumpulan masyarakat bisa kehilangan momentum perubahan yang Allah pergilirkan.

Dalam pola konsumsi misalnya, orang lebih senang mengalokasikan uangnya buat jajan ketimbang ilmu. Harga bakso di Jakarta bisa lima kali harga koran. Tapi, tetap saja tidak sedikit yang lebih memilih bakso daripada menyisihkan dana jajannya buat pengetahuan.

Jangankan yang dengan biaya. Majelis taklim mana di Indonesia yang ikut harus dengan biaya. Semua gratis. Dapat ilmu, pahala, bahkan hidangan konsumsi; tapi tetap saja majelis taklim sepi peminat.

Jadi, yang mahal dalam modal perubahan adalah kemauan. Dari sinilah Allah memberikan jalan keluar. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

Jika ada kesempatan, membacalah
Ketika ada kemauan mengejar target sesuatu, kadang terbayang cara-cara yang jelimet. Sulit. Dan akhirnya tidak terjangkau. Begitu pun dalam mengejar ilmu pengetahuan. Yang biasa terbayang adalah kursus, beli referensi, privat, dan bentuk program lain yang enak dilalui tapi sulit ditempuh. Apalagi berhubungan dengan biaya.

Padahal, pintu ilmu yang paling dasar adalah membaca. Dan persoalan membaca tidak melulu berhubungan dengan biaya. Memang, buku di Indonesia masih tergolong mahal. Tapi, masih banyak cara agar membaca tidak menyedot isi kantong. Bisa lewat perpustakaan, patungan beli buku bersama teman, diskusi majalah, dan sebagainya.

Saturday, October 18, 2008

Setiap Saat

smileee .... :)


Setiap saat ... menikmati setiap saat. Kalimat sederhana, namun sungguh jitu jika kita bisa melaksanakannya. Jitu ... emang maen bola ya ... :)

Ketika duduk di mesjid seusai sholat sunnat, banyak sekali yang bisa kita nikmati. Rasa syukur karena kita masih sehat bisa ke mesjid, rasa syukur karena kita bisa datang di awal waktu. Rasa syukur ketika mendengar kesibukan orang sholat sunnat, suara-suara di kejauhan dari mesjid lain. Rasa syukur merasakan dingin namun segarnya pagi. Rasa syukur mata ini melihat saudara-saudara seiman yang lain yang sibuk menyongsongNya.

Subhanalloh ... lantas kenapa kita musti memusingkan apa yang akan terjadi 1 atau 2 jam ke depan? Bakal ada rapat panjang, pekerjaan yang sudah menunggu, dan banyak lagi kesibukan dunia ini. Kalau kata sang ustad, kenapa kita musti khawatir dan cemas terhadap itu semua, apakah kita yakin kita masih hidup 1 atau 2 jam ke depan? Berbuatlah yang terbaik, saat ini.

Tentu ... dalam rasa syukur itu, tak putus-putusnya kita beristigfar, memohon ampunanNya. Ampunan terhadap dosa-dosa kita, yang senantiasa kita kita lakukan. Dan seiring dengan itu, doa agar diberikan yang terbaik ... seperti yang 1 atau 2 jam ke depan itu.

Ketika ini kita bisa lakukan dengan ikhlas, berharap semata padaNya, rasanya hati ini jadi lapang. Sesulit apapun yang akan kita hadapi, insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik. Dan sesungguhnya IA selalu memberikan yang terbaik buat kita, kalau memang kita mau dekat padaNya. Dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita ... kita yang lemah ini. Begitu kata sang ustad di pengajian pagi yang saya suka dengar ... :)

Setiap saat ... setiap detiknya ...

Wednesday, October 15, 2008

Manajemen Stress ala Islam

pour ...


Tadi teringat kutipan lama soal Manajemen Stress. Kata Stephen Covey, "Bukan berat beban yang membuat kita stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. Lebih lanjut ...

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

===
Habis ramadhan ini baru sadar, bahwa sebenarnya ada tips yang lebih manjur lagi. Gunakan waktu sholat untuk meninggalkan beban itu, meski sejenak. Lupakan dunia ini beserta seluruh isinya. Lupakan semuanya. Dan ingat hanya pada satu hal, IA, Yang Maha Pencipta. IA, yang penuh kasih sayang, penuh ampunan, tempat satu-satunya untuk menyembah dan minta pertolongan.

Rasanya jika benar-benar bisa melupakan itu semua dan hanya meminta ampunan, mohon pertolongan, mohon keridhoan, minta diri agar ikhlas, berharap kepadaNya, insya Allah pundak, jiwa, dan raga kita akan mendapat semangat dan kekuatan baru.

Yuk ... kita coba terus memaknai setiap detil kehidupan kita ... :)

Tuesday, October 14, 2008

Pertahankan Keberkahan Ramadhan



Pertahankan Keberkahan Ramadhan
Republika.com

Kuncinya antara lain kita harus tetap melakukan amal ibadah dan kebajikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan.


Bulan Ramadhan telah berlalu. Selama sebulan, kita digembleng menjadi insan yang bertakwa. Semangat Ramadhan itu hendaknya bisa kita pertahankan di bulan-bulan selanjutnya. “Puasa adalah sebuah sarana ujian dan ujian ini intinya adalah sabar,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Drs KH Amidhan.

Ulama asal Banjarmasin Kalimantan Selatan ini kemudian mengurai apa saja yang harus dilakukan agar keberkahan Ramadhan masih tetap terjaga pada bulan-bulan pasca Ramadhan. Pertama, kita harus tetap melakukan amal ibadah dan kebajikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. “Itu harus kita lakukan juga di dalam bulan Syawal. Misalnya di dalam bulan Ramadhan kita tidak hanya melakukan ibadah yang wajib tetapi juga melakukan ibadah-ibadah yang sunat,'' ia mencontohkan.

Menurut mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama ini, keberkahan itu sebenarnya bisa berlanjut, asal kita mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita selama bulan Ramadhan itu. ''Takwa itu artinya kita menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syariah kita. kedua, kita bisa menjaga dari larangan-larangan di dalam syariah agama kita. Kalau dua hal itu bisa kita lakukan terus tanpa batas maka keberkahan itu akan tetap terjaga,'' jelasnya.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Wisatahati Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan Ramadhan tidak akan pernah berhasil tanpa modal. Modal yang pertama ada pada niat. ''Jadi, harus ada niat. Niat itu meliputi tekad, kemauan dan usaha untuk menjaga ibadah-ibadah di bulan puasa sampai ke bulan puasa berikutnya. Kedua, ilmu. Harus ada ilmunya, kalau tidak ada ilmunya kita tidak bisa juga menjaga. Ketiga kesabaran, sabar dalam melaksanakan sesuatu. Keempat keistiqamahan dalam menjalankan riyadhah-riyadhah, pasca-Ied, itu perlu keistikamahan dan keteguhan hati,'' jelasnya kepada Republika, Selasa (7/10).

Menurut ulama asal Betawi ini, ketidakberhasilan orang dalam menjaga Ramadhan disebabkan karena ketidakberhasilan sebelumnya. ''Sebelumnya dia bukan siapa-siapa di dalam beribadah, tiba-tiba dia masuk bulan puasa kebut-kebutan. Jadi, setelah itu ngos-ngosan. Orang yang mampu ibadah puasa sunnah sebelum Ramadhan itu sudah 'jago'. Habis itu ditambah Ramadhan, makin mantap. Tapi kalau yang tidak biasa, dirasakan sangat berat, ada saja alasannya,'' ujarnya menjelaskan.

Ia menambahkan, ''Syawal artinya meningkat, itu tarqiyyah, ada peningkatan dari ibadah kita sebelumnya. Yang dulu nggak shalat jamaah, sekarang shalat berjamaah. Atau yang tadinya nggak melaksanakan shalat sun/nah sekarang dilaksanakan. Dulu nggak ada baca Alquran sekarang rutin. Nah, setelah ada kenapa mesti hilang? Makanya Syawal. Sebenarnya dengan memahami arti bulan Syawal umat Islam termotivasi untuk meningkatkan ibadahnya,'' paparnya.

Menurut dia, tidak ada peraturan Allah yang merugikan manusia. Betapa Allah itu selalu menguntungkan manusia. ''Kalau manusia tahu dengan jalan beribadah dia bisa kaya, bisa senang, bisa sehat, bakalan dia jaga. Saya setelah tahu shalat dhuha 6 rakaat itu fadilahnya Allah akan cukupkan rezeki saya, akan saya jaga daripada saya susah, kerja juga belum tentu cukup, usaha malah terlilit hutang. Dengan menambah 6 rakaat dhuha, semua jadi beres. Nah, itu ilmu. Jadi, niat, ilmu, sabar, istiqamah dan yang paling terakhir sendiri yaitu iman.''

''Sayang, jangan sampai kita termasuk katagori hamba yang tidak bersyukur. Tidak bersyukur itu bukan karena dia maksiat, tetapi dari kebaikan. Kita sebelum kerja, dua rakaat shalat Dhuha, setelah kerja shalat Dhuhanya dua rakaat juga. Ini tidak bersyukur, mestinya nambah,” ujarnya.

Menurut dia, tidak semua orang diberi kesempatan memasuki Ramadhan, karena Allah menjanjikan pengampunan. “Ini juga satu hal yang harus kita syukuri. Wujud syukur antara lain dengan meningkatkan keimanan,'' Ustadz Yusuf Mansur menambahkan.

Sunday, October 12, 2008

Ba'da Ramadhan 1429H

starts the day


Alhamdulillah, kita masih diberikan kesehatan, kekuatan, iman ya ... . Sampai bisa baca tulisan remeh-temeh ini ... Dan tidak terasa umur blog ini sudah 3.5 tahun. Apa hubungannya? Nah itu dia ... ga ada ... :D

Saat ini, saya lagi agak bingung mau ngisi apa di blog ini. Banyak yang bersliweran seperti biasa ... Cuma masih belum tuntas mikirin yang mana yang mau dituangkan di sini. Mungkin saya isi dulu dengan tulisan orang lain dan foto-foto dulu kali ya? Ya biasanya sih suka berubah pikiran ... tahu-tahu mulai lagi berbagai ide tercurah di sini hehehe ... tapi setidaknya itulah rencana saat ini.

Yang pasti, insya Allah tetap semangat. Tetap bersyukur bisa diberikan segala nikmat. Tiada putus mohon ampunanNya. Dan terus berpikir ... bertafakkur dan berzikir, mengingat bahwa hanya Ia satu-satunya tempat kita bergantung, tiada putus-putusnya ...

So ... bagaimana dengan kabar teman-teman semua? Oh ya ... per hari ini saya coba aktifkan kembali fasilitas komentar di blog ini ...

Tetaaaaaap semangaaaaaaaaaaaaaaaaaattt!!!!

Friday, October 10, 2008

lining up

lining up


lining up
in peace and harmony

Photo taken @ Sanur Beach, Bali

Thursday, October 09, 2008

Simply Batur

simply batur


yes, it is batur
indeed it is ... :)

Wednesday, October 08, 2008

Make a stop

make a stop


make a stop
especially when you don't feel you need one
make a stop
you won't regret it

Photo taken @ Senggigi Beach, Bali

Tuesday, September 30, 2008

Selamt Idul Fitri 1429 H.

Taqabbalallah minnaa waminkum shaalihal a'maal, semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan semoga kita senantiasa dalam kebaikan selama setahun ke depan.

Mesjid (3)

Masjidil Haram


Satu yang tak pernah terlupa
wajah ikhlas para pengurus mesjid
sibuk kian kemari mengurus jamaah
selalu ada, dari tengah malam sampai tengah hari
ya Rabb, berikanlah mereka balasan yang sebaik-baiknya, amiiin

Di mesjid ini
hari-hari akhir ramadhan menjelang
di karpet merah
tumpahkan segala doa dan minta ampunan

Akankah kita bertemu ramadhan kembali?

===
Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu annii
Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, cinta ampunan, maka ampunilah saya

===
...; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). (QS Yusuf 12:18)

*ba'da magrib, mesjid Elnusa, 29 September 2008*

Sunday, September 28, 2008

Andakah Alumni Universitas Ramadhan?

Jeddah Hajj International Airport at night


Andakah Alumni Universitas Ramadhan?
Ulis Tofa, LC

dakwatuna.com - Ramadhan sebentar lagi memisahkan dirinya dengan kita, tinggal hitungan hari saja. Rasanya begitu cepat hari-hari Ramadhan berlalu, tak terasa. Perlombaan amal kebaikan kita dengan Ramadhan kayaknya tidak seimbang. Ramadhan menghadirkan beragam kemuliaan, keistimewaan dan keutamaan belum bisa terkejar secara optimal, karena kekurangan dan kesibukan duniawi kita, sehingga Ramadhan belum bisa kita taklukkan. Hari-hari akhir Ramadhan ini semoga bisa kita tebus dengan kesungguhan berlipat, konsentrasi ibadah, i’tikaf qalbu, fisik, pikiran hanya kepada Allah swt.

Sehingga ketika Ramadhan memisahkan dirinya dengan kita, kita berbahagia, sekaligus haru, karena kita telah memanfaatkannya dengan sekuat kemampuan kita. Kita keluar menjadi “Alumni Universitas Ramadhan”. Bagaimana model Alumni Unversitas Ramadhan? Sebelum menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita renungkan beberapa model alumni “shaum” binatang di sekitar kita. Sebagai contoh: ular, ayam dan ulat.

Binatang ular mempunyai keunikan, merubah diri menjadi muda lagi, berkulit baru lagi, dan semua serba baru. Ternyata perubahan itu di awali dari proses panjang “shaum” alias tidak makan selama hampir satu tahun. Dalam rentang waktu yang panjang itu, ular tidak makan sama sekali, sehingga tubuhnya mengecil, mengecil dan akhirnya ular keluar dari kulit lamanya, mencelma ular baru, serba baru.

Ayam, ketika bertelur dan mau memiliki anak, ia mengeram. Dalam rentang waktu tiga pekan kurang lebih, ayam mengeram telurnya, tanpa makan dan minum. Sampai-sampai mulut ayam selalu menganga dan mengeluarkan suara. Apa yang terjadi setelah tiga pekan? Telur-telur itu menetas, dan subhanallah! Lahir anak-anak ayam yang lucu-lucu, dan warna-warni.

Binatang ulat, boleh jadi binatang ulat adalah binatang yang paling rakus di dunia ini. Ulat hidup hanya untuk makan, bukan makan untuk hidup. Tidurnya pun makan. Sehingga warna tubuhnya nyaris menyatu dengan warna yang ia makan. Semua orang geli bahkan takut sama ulat, terutama kaum perempuan. Namun, apa yang terjadi ketika si ulat memutuskan “shaum” berdiam diri, dalam beberapa minggu, bulu-bulunya mulai rontok, berubah menjadi kepompong. Dari kepompong menjelma seekor kupu-kupu yang cantik nan menawan. Praktis semua orang, terutama kaum perempuan suka yang namanya kupu-kupun.

Itulah model alumni “shaum” binatang, melahirkan sosok baru, yang lebih baik, mempesona dan membawa manfaat. Subhanallah!

Tentu, “Universitas Ramadhan” mampu melahirkan dan meluluskan alumni-alumni manusia yang jauh lebih baik dari makhluk-makhluk lainnya.

“Universitas Ramadhan” menggembleng kita untuk totalitas taat aturan, bayangkan makanan kita sendiri, halal, namun di siang hari haram untuk kita santap, dan kita taat itu. Bagaimana dengan makanan yang jelas-jelas haram atau syubuhat yang berseliweran di sekitar kita di luar Ramadhan? Ada sebuah pesan menarik untuk direnungkan: “Ramadhan, perangi korupsi.” Atau “Ramadhan, jauhi korupsi” bukan berarti di luar Ramadhan praktek korupsi tetap merajalela!?

“Universitas Ramadhan” mengkondisikan kita untuk menjaga telinga, mata dan hati. Menjaga telinga dari mendengarkan gosip, fitnah, dan sesuatu yang tiada guna. Menjaga mata untuk tidak melirik yang tidak dihalalkan, melihat yang tidak diperbolehkan. Menjaga hari untuk tidak dendam, dengki, berprasangka buruk, dan gundah gulana, apalagi putus asa. Menjaga lisan untuk tidak mengumbar fitnah murahan, adu domba, menjelekkan orang lain. Karena Ramadhan mengajarkan kepada kita agar tidak shaum dari makan-minum dan hubungan suami-istri di siang hari saja, jauh lebih dari itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini:

“Kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak, dan jika ada salah seorang yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar (berkelahi) maka katakanlah; sesungguhnya aku sedang berpuasa…” (Bukhari)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ فَقَطْ. إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقَلْ : إِنِّى صَائِمٌ
“Bukanlah puasa itu menahan diri dari makan dan minum saja, namun puasa itu adalah menahan diri dari senda gurau dan kata-kata kotor, jika ada seseorang mencelamu atau menyakitimu, maka katakanlah kepadanya: Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.” (Hakim dan disahihkan oleh Al-Albani).

“Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah tidak membutuhkan dia untuk meninggalkan makan dan minum.” (Bukhari)

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ ، وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَر

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan pahala dari puasa kecuali hanya dahaga, dan betapa banyak orang yang melakukan qiyam (shalat tarawih) tidak mendapatkan pahala qiyam kecuali letih saja.” (Ad-Darimi, dan Al-Albani berkata: Isnadnya Jayyid)

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa shaum tidak diterima jika dibarengi dengan perkataan dan tindakan dosa.

Sadarilah, bahwa kerugian besar bagi orang yang tidak mampu membawa jiwanya berpuasa dari dosa-dosa. Ingatlah jika kita merasa haus saat berpuasa, maka haus yang sebenarnya adalah rasa dahaga pada hari kiamat, pada saat itu orang merasa rugi dan menyesal.

Oleh karena itu hendaknya kita menjaga tubuh kita dari kemaksiatan, mengkondisikan akal untuk tidak berfikir kecuali taat kepada Allah, tidak membawa hati kecuali pada kabaikan kaum muslimin dan muslimat, dan mengkondisikan kedua mata atau kedua telinga atau lisan dengan apa yang dicintai Allah swt.

Ramadhan menggembleng kita untuk menjadi manusia baru. Karena mata, telinga, lisan, hati dan perut serta anggota tubuh kita yang lain menjelma menjadi fitri, suci dan lebih taat kepada pemiliknya, Allah swt.

Muttaqin, itulah predikat “Alumni Universitas Ramadhan”, predikat tertinggi dan paling terhormat. Sebuah predikat yang Allah swt. sematkan kepada orang-orang yang benar shaumnya.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Al Baqarah:183

Karena kita tidak boleh menjadi hamba Ramadhani, namun harus menjadi hamba Rabbani, sudah barang tentu ciri-ciri muttaqin harus melekat dalam diri kita, di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan.

Di antara ciri itu adalah sebagaimana yang difirmankan Allah swt.:

“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” Al Baqarah:2-5

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” Ali Imran:133-136

“Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Al Qashash:83

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” Al Qalam:34

Semoga kita menjadi bagian “Alumni Universitas Ramadhan” yang sukses, yaitu menjadi pribadi yang ciri-ciri taqwa melekat dalam diri kita, menjadi lebih baik, di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan, Amin. Allahu a’lam

Mesjid (2)

Masjid Nabawi Madinah


Di hari-hari biasa
tidak pernah sepi dan tak juga ramai sekali
selalu ada orang di mesjid ini
ada yang tafakur, duduk-duduk, sibuk bersih-bersih
sampai tertidur melepas lelah

Namun di hari-hari akhir ramadhan
wajah-wajah letih kurang tidur
penuh keikhlasan silih berganti
mengisi relung-relung mesjid ini

wajah-wajah penuh persaudaraan
senantiasa sibuk dengan Al Qur'an dan tafakur
antri makan dan mandi dalam ketenangan
berbaur dalam kegelapan qiyamul lail
lenyap dalam tangis mohon ampunanNya

wajah-wajah bercahaya bersih
penuh dengan hasrat hanya padaNya
selalu ingin dan rindu tuk merapatkan barisan
dalam kemesraan iman
dan islam

siang itu, sholat dhuhur
seorang anak tertidur pulas di shaf pertama
tak ada yang merasa perlu memindahkannya
kami pun merapatkan barisan
dengan sang anak menghiasi shaf kami

*ba'da dhuhur, mesjid Elnusa, 27 September 2008*

Saturday, September 27, 2008

Mesjid


Mesjid antara Madinah - Mekkah, tengah malam


Ada sebuah mesjid
Tidak besar pula kecil
Tingkat dua, karpet merah di lantai dasar
Dan pepohonan yang menghiasi pelataran

Ada sebuah mesjid
Pemberi penawar bagi yang penat
Bagi yang kelelahan, bagi musafir
Musafir dalam perjalanan hidup ini

Di mesjid ini
Aku, engkau, kami, kita, mereka
Hanya sosok yang hina dimataNya
Hanya sosok manusia di antara sosok yang lain
Berbaur, bersatu, dalam jamaah sederhana

Di mesjid ini
Kutemukan diriku
Lenyap dari diriku
Bahwa ku tak lebih

dari sekedar titik kecil di alam semesta
yang ada hanya untuk satu tujuan
menyembah dan
mengharap ridhoNya

*menjelang dhuhur, 27 September 2008, mesjid Elnusa*

Sunday, September 21, 2008

Puasa dan sabar ...

Masjidil Haram


Diambil dari bab I buku Mukjizat Puasa - Yusuf Qardhawi ...

Puasa adalah proses mendidik kehendak diri dan jihad jiwa, membiasakan sabar, dan revolusi atas kebiasaan diri. Bukakankah manusia itu tidak ada kecuali dengan kehendak? Adakah kebaikan selain pasti mengandung kehendak? Adakah agama selain sabar untuk taat atau sabar menghadapi kemaksiatan? Puasa mewakili dua kesabaran tersebut.

Oleh karena itu, tidak aneh jika Rasulullah menamakan bulan Ramadhan dengan syahr al-shabr (bulan kesabaran), sebagaimana dalam hadis, "Puasa adalah bulan kesabaran. Tiga hari dari setiap bulan akan mengusir kedengkian dalam data."

Nabi juga mengibaratkan puasa sebagai perisai atau pakaian baja yang melindungi diri dari dosa di dunia dan dari neraka di akhirat kelak. Rasulullah bersabda, "Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya salah seorang dari kalian dari peperangan."
Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda, "Puasa itu perisai, dan ia merupakan benteng pertahanan seorang muslim."

===
Semalam, kami sekeluarga melaksanakan iktikaf bersama-sama, alhamdulillah. Sungguh luar biasa kekuatan iman itu. Anak-anak bisa dengan semangat mengurangi tidur, penuh semangat mengenai makanan yang berbeda maupun tempat tidur yang lain dari biasanya. Bahkan mereka bisa berdiri tegak selama qiyamul lail ... subhanalloh ... :)