lamunan-sejenak

Aaah ... tempat 'berhenti' sejenak ntuk mikir-mikir mau dibawa kemana sih hidup ini ... :-)

Thursday, May 22, 2008

Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu

can't smile without you

Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu
Bre Redana - Kompas.com

Apakah sebuah gagasan - katakanlah gagasan mengenai nasionalisme - bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan tangan, satu padu bulat tekad menuju merdeka? Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.

Pada mulanya, pembangunan Grote Postweg—sebuah jalan raya yang menyisir Pulau Jawa di bagian utara, dari Anyer sampai Panarukan, oleh Herman Willem Daendels, ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811. Pembangunan jalan itu adalah untuk menahan kemungkinan invasi Inggris dari laut (utara). Dengan pembangunan jalur itu—yang dirancang sebagai jalur militer—bisa disusun strategi untuk memobilisasi manusia, dari satu wilayah permukiman ke permukiman lain.

Lalu, semua berlangsung tak terduga. Bukan saja tumbuhnya jalan berarti juga tumbuhnya jalur perdagangan, tetapi peta kekuasaan bahkan sakralitas kekuasaan diacak-acaknya. Dalam konsep kekuasaan sebelumnya, infrastruktur semacam alun-alun yang dikelilingi oleh keraton, masjid, adalah simbol sebuah domain politik. Hanya saja, apa peduli ”Tuan Guntur” (begitu Daendels dijuluki karena ketegasannya dan barangkali perintahnya yang keras meledak seperti guntur di langit)?

Alun-alun, seperti di Pati dan Demak, dia terjang dengan proyek jalan rayanya. Dalam catatan Peter JM Nas dan Pratiwo (Java and De Groote Postweg, La Grande Route, The High Military Road, Leiden/Jakarta, 2001), di alun-alun yang terbelah itu lalu muncul kegiatan perdagangan, katakanlah lahirnya domain ekonomi baru, merongrong domain politik lama keraton. Kalau menurut budayawan Sardono W Kusumo, pembangunan jalan raya oleh Daendels juga mengalienasi keraton-keraton di Jawa, yang kemudian memilih jalur ke selatan saja, berhubungan dengan Laut Selatan, dengan Ratu Kidul. Bisa ditebak, apa implikasinya, kalau di belahan utara dunia bergerak dalam kegairahan perdagangan, sementara di jalur selatan raja asyik-masyuk bermasturbasi dengan Ratu Kidul, maka kekuasaan lama harus segera tutup buku. Tancep kayon.

Pada periode sejak awal 1800-an itulah disebabkan berbagai sebab benih-benih antikolonialisme menemukan bentuknya dalam perlawanan yang baru—bukan sekadar kisruh berebut kekuasaan seperti di zaman-zaman keraton lama sebelumnya. Menurut Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Gramedia Pustaka Utama, 1996), perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, yang sering juga disebut sebagai ”Perang Jawa” dari 1825-1830, adalah ”batas historis antara periode ’konflik-konflik feodal’ dan ’periode modern’”. Lombard mengaksaentuasi pendapat Peter Carey, bagaimana perang tadi meletus bukan pada waktu krisis, tetapi justru pada waktu pembangunan ekonomi berjalan pesat.

”Yang terjadi bukanlah pemberontakan petani yang tercetus karena kelaparan dan kesengsaraan, tetapi pemberontakan terencana, yang dikobarkan oleh beberapa orang bangsawan dan secara sadar didukung oleh sebagian elite pedesaan,” demikian Lombard menulis.

Ihwal mengenai Diponegoro ini juga menarik perhatian pelukis tersohor, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), yang banyak bergaul dengan elite bangsawan maupun para intelektual Eropa. Politik representasi sudah beroperasi pada zaman itu. Pelukis Belanda, JW Pieneman, melukis peristiwa penangkapan Diponegoro, dengan menggambarkan sang pangeran berdiri dengan dua tangan terbentang seolah kehilangan akal, sementara di belakangnya, Jenderal de Kock berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan, seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Statemen berbeda diberikan oleh Raden Saleh. Dalam lukisan karyanya berjudul ”Penangkapan Diponegoro”, Sang Pangeran berdiri tegak dengan kerut wajah tegas berwibawa, tangannya memegang tasbih dengan kencang. Jenderal de Kock dilukiskan tetap menaruh hormat, selain penggambaran kepalanya yang gede (seluruh orang Belanda dalam lukisan itu kepalanya terlihat besar melebihi proporsi. Mungkin ini semacam ”penghinaan”, menggambarkan Belanda seperti para buto seberang dalam pewayangan).

Politik representasi ini bukankah merupakan gejala amat modern? Sebagaimana pelukis-pelukis dan seniman-seniman pada zaman berikutnya menyampaikan pesan politisnya di balik karya?

Awal tahun 1900-an, Hindia Belanda menyaksikan perubahan tata cara berpakaian sejumlah kalangan pribumi. Yang disebut ”new breed” atau bibit-bibit baru dari Indonesia modern nantinya mulai mengenakan pantalon dan juga topi seperti kalangan Belanda. Nantinya, peci menjadi semacam simbol identitas kebangsaan. Melalui mode, sebuah bangsa mulai mendefinisikan dirinya sendiri—bukan didefinisikan pihak lain. Seperti kata Baudelaire, modernitas jangan-jangan berasal dari mode.

Nasionalisme, diteorikan Ernest Gellner seperti dikutip oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities (Verso, London-New York, 1983), bukanlah hal kebangkitan bangsa-bangsa pada suatu kesadaran diri, (tapi) ia menemukan (invent) bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak eksis. Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal ”terbayangkan” (imagined) karena toh pada dasarnya kita tidak pernah kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu, terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa.

Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity sekaligus perasaan percaya—trust dalam istilah Fukuyama—bahwa kita terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian besar dari kami telah kalian miskinkan.

Grote Postweg sudah terkubur sejarahnya (dari sepanjang jalur ini di seluruh Jawa, adakah sepenggal saja yang dinamai Jalan Raya Daendels?). Bersama terkuburnya sejarah, tinggallah kebangsaan—sebagai suatu konsep imajiner—juga menjadi imajinasi: imajinasi masa lalu.

Labels: , ,

Tuesday, May 20, 2008

Perayaan (Katanya) 100 Tahun Kebangkitan Nasional


Foto dari Kompascetak.com


Semalam iseng nyalain TV, eh ada perayaan (katanya) 100 tahun kebangkitan nasional. Lho kenapa ada katanya? Sabaaarrr ... :)

Perayaan awalnya sangat semarak. Peralatan perkusi bergemuruh di udara, sangat dinamis, dengan pelaku gendang yang berpakaian semarak, sungguh mempesona mata. Dari perkusi, acara lantas dilanjutkan dengan parade di tengah lapangan sementara barisan di tempat duduk silih berganti menyanyikan hiburan visual.

Acara di tengah lapangan dimulai dengan tarian dan lagu-lagu Batak (kalau ga salah hehehe). Keren banget dan ada beberapa lagu. Aransemen oleh Elfa Sectoria juga sangat dinamis dan menghentak. Jadi ingat kaset-kaset lama lagu-lagu daerah aransemen Elfa yang sudah entah kemana (eh ... tapi kaya'nya aransemennya sama persis lho!)

Dari Batak kemudian berlanjut dengan tarian dan lagu dari Sumatra Barat, Betawi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Irian. Ini kalau ga salah lho urutannya ... :)

Semua tarian dan lagu ini sangat semarak. Warna-warni baju, semangat sang penari, wajah gembira, kegairahan menari bersama ... semuanya benar-benar menggambarkan semangat tak henti bagi bangsa ini.

Yang membuat saya mengelus dada - dan menaruh kata katanya - adalah pertanyaan dimana bangsa ini berada? Saya tak pernah menyangsikan kekuatan rakyat jelata, sosok-sosok kecil yang membentuk bangsa ini. Kalau saya mendapat kesempatan bersentuhan dengan mereka, saya hampir selalu menemukan jiwa yang ikhlas, tak pernah putus asa, dan selalu berbaik sangka terhadap para pemimpinnya.

Namun apakah kita - para pemimpin - yang telah lakukan untuk mereka. Kita masih saja sibuk satu sama lain, mengendus kesempatan, memikirkan diri sendiri, tamak dengan apa saja, menjadi subyek sementara yang lain adalah obyek ... dan banyak lagi ...

Begitulah ... semalam itu kita memang benar merayakan katanya 100 tahun kebangkitan nasional ... :(

Labels: , ,

Ciwidey

White Crater


Pas akhir minggu kemarin kami sekeluarga jalan-jalan ke Selatan Bandung, ke Ciwidey. Hari Jum'at sore dari kantor jam 4 sore, kami berangkat. Diselingi dengan makan malam di restoran Sindang Reret, alhamdulillah kami sampai jam 9 malam. Hitung-hitung 4 jam perjalanan. Relatif dekat :) Pulangnya hari Minggu pagi, dalam 3 jam kami sudah sampai di rumah, alhamdulilah. Padahal jalannya santai, termasuk di tol Cipularang.

Bagaimana suasana Ciwidey? Dingin rek! Ketika hari Sabtu pagi jam 6 kami bergegas menyusuri keindahan pagi, temperatur sempat mencapai 10 derajat celcius. Menggigil hehehe ... Eh mandi ga selama di Ciwidey? :-P

Di Ciwidey cukup banyak obyek menarik seperti Kawah Putih, Situ Patenggang, perkemahan Ranca Upas dan lain-lain. Yang agak mengecewakan adalah waktu ke Situ Patenggang. Ketika saya pertama kali ke sana - tahun 2006 - pas hari kerja. Suasananya sangat tenang dan mententramkan. Kemarin? Penuh sesak! Bahkan harga gorengan jadi 700 rupiah/buah ... :-P

Secara keseluruhan, Ciwidey masih lebih ramai dari Pangalengan. Malam Minggu kami sempat turun cari makan malam, dan suasana kota cukup ramai (sampe ngantri di warung pecel lele hehehe). Beda ama Pangalengan yang jam 8 malam semua toko sudah tutup ... :)

Menarik? Alhamdulillah ... mau ke sana lagi? Jelas ... perjalanan kemarin cukup tergesa, mengejar target sang fotografer :-P Insya Allah lain kali - kalau ada umur - bisa lebih rileks dan menikmati suasana tanah Priangan ... :)

Labels: , , ,

Thursday, May 15, 2008

Taubat

high with the clouds


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Az Zumar 39.53.

Sungguh, sampai sekarang kita masih diselamatkan Allah. Segala dosa, kebodohan, kealpaan kita ditutupiNya. Padahal kalau itu dibukakan, meski cuma sedikit, kita sudah tak tahu dimana kita mau taruh muka kita, kemana kita berani melangkah di muka bumi ini. Astagfirullah ...

Pengisi ceramah pagi ini mengingatkan hal ini. Namun ia pun mengingatkan, bahwa kita tak boleh berputus asa, karena rahmatNya jauh melebihi ini semua. Kewajiban kita untuk menyesalinya, sebenar-benar sesal, dan bertaubat kepadaNya. Jika kita bersungguh-sungguh, maka insya Allah Ia akan lebih bersungguh-sungguh lagi ...

Subhanalloh ...

Labels: , , ,

Wednesday, May 14, 2008

Dunia

our house


Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS Ali Imran 3:14.

Di ceramah pagi ini kembali saya diingatkan bahwa kehidupan ini, silih bergantinya situasi senang, susah, gembira, sedih, lapang, sempit, adalah semata-mata dalam kehendakNya. Semua ini menjadi ujian bagi kita, apakah dengan itu semua kita akan makin dekat padaNya, makin menyadari bahwa kita adalah hanya seorang hamba, dan semakin menyandarkan diri pada kekuatanNya, dan hanya menyandarkan diri padaNya.

Bismillah ...

Labels: , , ,

Monday, May 12, 2008

Foto Hitam Putih

cold


Terus terang, saya heran melihat foto-foto saya dari hasil berburu (hunting) foto kemaren. Lho, kenapa bisa? Wong sendiri yang pergi, sendiri yang motret, sendiri yang ngolah, bahkan sendiri yang pasang di flickr, kok bisa-bisanya heran? :-P

Entah bagaimana, saya menangkap kesan kesepian, kesendirian, ada jarak antara sang fotografer dengan obyek yang difotonya dsb. Apa ini interpretasi saya - yang saya sendiri tidak sadar - ketika mengambil foto-foto ini? Atau bahasa tubuh mereka yang saya tangkap lewat lubang lensa? Ada kegelisahan .. Entah kegelisahan saya, atau kegelisahan sang obyek … atau kegelisahan ini hanya semata khayalan saya sendiri? Apakah seperti ini hidup di republik ini? Atau seharusnya saya lebih banyak mengambil foto yang indah .. Foto bunga misalnya, atau sepasang insan yang bercengkrama .. Atau indahnya tanaman yang segar di pagi hari? Atau romantisme di tembok-tembok usang namun sangat elok untuk acara pre-wedding.

Entahlah, sampai sekarang (waktu nulis ini) saya masih bingung dengan kumpulan foto ini. Ada sesuatu yang membius dan membuat saya terhenyak ...

Labels: , ,

Sunday, May 11, 2008

Bekal Agama

Seeing from above



Bekal Agama

Republika

Doa kepada Allah SWT itu bagaikan permintaan anak kita yang taat, shaleh banget, dan kita juga sangat mampu. Tapi, anak kita yang masih duduk di bangku kelas tiga itu minta dibelikan motor Harley Davidson. Kira-kira kita belikan? Jawabnya pasti tidak. Ada dua alasan yang mendasari mengapa kita tidak memenuhi permintaan anak kita. Pertama, kita sayang sama anak kita. Kedua, tidak cocok. Karena permintaan yang pas untuk anak kelas tiga adalah sepeda. Begitu juga doa kita kepada Allah SWT. Mengapa tidak selamanya dikabulkan? Karena Allah SWT sangat sayang kepada kita.


Kata-kata penuh bijak itu meluncur dari mulut Agus Kuncoro. Bintang film kelahiran Jakarta yang memerankan tokoh Ardan dalam film Kun Fayakuun ini sangat merasakan kasih sayang Allah SWT. Buktinya, setelah beberapa tahun pernikahannya dengan sang istri, Anggia, kini telah hamil dan di ambang kelahiran. ''Alhamdulillah, sekarang aku benar-benar merasakan kebesaran Allah SWT. Aku benar-benar merasakan kasih sayang dan rahmat Allah SWT. Allah itu Mahasempurna dengan segala rencana-Nya," ungkap Agus kepada Republika di sela-sela peluncuran film Kun Fayakuun di Jakarta akhir pekan lalu.

Pria yang sempat menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sempat goyah ketika secara bertubi-tubi mendapatkan ujian dari Yang Mahakuasa. Tahun 2002, rumahnya di kawasan Bintaro Jakarta Selatan, tiba-tiba kebanjiran sampai habis semua barangnya. Tak lama setelah itu, ibunya, Ny Nuke, meninggal. Tiga bulan kemudian, ayahnya, Ir Hari Susatyo meninggal. "Selama ibu dan bapak saya meninggal, masih kuat karena masih ada yang saya pegang. Waktu itu saya ada pacar, namanya Anggia, yang sekarang menjadi istri saya. Ternyata saya harus putus juga sama Anggia saat itu," paparnya getir.

Agus pun sampai pada titik nol dan bingung karena tiba-tiba gamang. Sejak kecil, ia terbiasa jauh dari keluarga. Kakaknya yang satu tinggal di Palembang, sedangkan kakaknya yang lain tinggal di Amerika Serikat. "Pokoknya jaraknya jauh-jauh dan tidak ada tempat untuk diajak bicara. Waktu itu yang biasa saya ajak bicara itu adalah pacar saya. Tapi, tiba-tiba putus makanya saya mau berbicara kepada siapa lagi," ungkap Agus yang mengaku sebelum tahun 2002 hidupnya serba kecukupan.

Ujian tak cukup sampai di situ. Rumah tempat dia kos, tiba-tiba terbakar ludes. Satu-satunya barang yang masih berharga adalah handuk kecil yang kemudian ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang tak mampu untuk membendung tangis. "Saat itu, dalam hati berbisik, nanti malam saya mau tidur di mana? Apa di masjid atau di rumah kakak? Hidup saya seperti jalan di tempat," tuturnya.

Akhirnya ada yang mengajaknya ke seorang ulama di Parungkuda Sukabumi. Agus pun menceritakan seluruh pengalaman pahitnya, mulai dari rumahnya yang kebanjiran, kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia hingga kosnya yang terbakar. Sang ulama hanya berujar singkat, "Kamu pelit!"

Agus pun tersentak. Perasaannya selama ini ia tidak terlalu mengepal tangan kepada orang yang tidak mampu. Ia bahkan dinilai banyak rekannya sangat ringan tangan membantu yangmembutuhkan. Seakan mengerti apa yang dipikirkan Agus, ulama itu meneruskan tausiyahnya. "Ya, setiap kali kamu memberi, kami tidak pernah berdoa. Apakah ada ijab kabul setiap kali kamu sedekah? Adakah permintaan yang kami panjatkan kepada Yang Mahakuasa setelah kamu bersedekah?"

Agus mulai paham. Sejak itu, ia tak hanya rajin bersedekah dan beribadah, tapi juga memohon kepada Yang Mahakuasa atas karunia dan rahmat-Nya. Salah satu doa yang dikabulkan adalah permohonannya akan anak dari rahim istrinya Anggia. Agus merasa bersyukur, karena kedua orang tuanya membekali ajaran Islam sejak kecil. "Saya sejak kecil sudah dikenalkan Islam, guru ngaji ada yang ke rumah."

Salah satu yang membuat saya tidak kuat adalah pergaulan yang 'gila' sekarang. Jadi, ternyata fondasi agama yang dibangun ketika saya kecil, manfaatnya sangat besar. "Apalagi ketika saya mulai masuk ke SMP pergaulannya semakin luas kemudian SMA tambah luas, jadi sejauh-jauhnya saya melenceng tetap akan kembali lagi karena dasarnya sudah dikenalkan," ungkap Agus penuh syukur.

Labels: , ,

Thursday, May 08, 2008

PertolonganNya

Blue Mountain


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah 2.214)

Subhanalloh ... sungguh benar, tiada kebenaran yang mutlak kecuali dariNya. Perbaiki dan luruskan niat kita ... apa yang kita minta? Apa yang kita cari? Yang kita inginkan, impikan? Semuanya harus dalam kerangka mencari ridhoNya. Dan ingatlah, bahwa pertolonganNya sangat dekat. Terus luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, dan terus bertaubat dan berusaha. Tak boleh ada rasa putus asa, selama kita berusaha berjalan di jalanNya.

Dan sungguh, kita tak akan mampu menjalani sesuatu yang kita inginkan, kecuali dengan mengharapNya ...

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS Al Insaan 76:29-30)

Labels: , , ,

Wednesday, May 07, 2008

Menanti "Sang Pemimpin"

blue as it can be


Di sela-sela kesibukan (atau keraguan?) pemerintah untuk menaikkan harga BBM dan di antara keasyikan saya membaca buku Good to Great oleh Jim Collins yang berbicara tentang pemimpin tingkat 5 (nanti kapan-kapan saya bahas ya :) ), saya membaca artikel ini. Ditulis oleh Eep - salah seorang penulis favorit saya - menarik untuk disimak. Yuk ... :)

Menanti "Sang Pemimpin"
Eep Saefulloh Fatah - Kompas

Demokrasi tak mengajarkan ketergantungan pada pemimpin. Akan tetapi, dalam situasi krisis, demokrasi senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang ditunggu.

Di tengah krisis ketersediaan dan lonjakan harga pangan dunia saat ini, wajar jika banyak orang di Indonesia mencemaskan akan datangnya krisis pangan. Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sempat mencapai 119,9 dollar AS per barrel, pantaslah jika publik mulai berspekulasi tentang kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak dengan segenap konsekuensinya dalam waktu dekat.

Hari-hari ini, politik Indonesia pun dilanda kepastian tentang makin mendekatnya krisis sekaligus ketidakpastian mengenai kehadiran ”sang pemimpin”. Mengapa, ketika krisis begitu tegas, kehadiran sang pemimpin begitu samar-samar?

Tak mudah
Dalam situasi krisis, demokrasi di mana pun senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang ditunggu.

Sebagaimana digarisbawahi Arjen Boin dan kawan-kawan dalam The Politics of Crisis Management: Public Leadership under Pressure (2005), krisis menghadapkan pemimpin pada situasi yang tak mudah dan penuh risiko. Kesulitan dan risiko terutama menyelinap dari balik empat situasi khusus.

Pertama, keputusan pemimpin di saat krisis memiliki konsekuensi sangat tinggi. Keputusan itu akan berkait langsung dengan kepentingan masyarakat yang amat mendasar. Harga dari keputusan itu pun menjadi amat mahal. Keputusan itu punya risiko sosial, ekonomi, politik, dan kemanusiaan yang tidak main-main.

Kedua, krisis kerap menghadapkan pemimpin pada dilema. Keputusan yang diambilnya sangat boleh jadi akan menunjukkan ”pilihan barter”. Aspek politik diselamatkan (misalnya popularitas sang pemimpin), tetapi aspek ekonomi mesti dikorbankan. Bahkan, sang pemimpin akhirnya mesti mengambil ”pilihan tragis”, yakni tak mampu mengoptimalkan aspek mana pun.

Ketiga, krisis menghadapkan pemimpin pada ketidakpastian mengenai akhir dari masalah. Setiap kebijakan yang diambil akan ikut membentuk arah dan dinamika baru dari aspek-aspek dalam krisis itu. Maka, krisis mendesak pemimpin untuk mengambil tindakan berani. Pemimpin dituntut punya keberanian untuk mengelola dampak dan ekses dari langkah atau kebijakan yang diambilnya.

Keempat, krisis mendesak pemimpin untuk mengambil keputusan yang sigap. Tak ada kemewahan waktu. Tak ada peluang untuk terlampau memanjakan kehati-hatian yang berlebihan. Tak ada peluang untuk memanjakan ragu.

Keluar dari perangkap

Walhasil, dalam keadaan krisis, pemimpin berhadapan dengan situasi yang sama sekali tak mudah. Celakanya, kesulitan sang pemimpin hari-hari ini makin berlipat-lipat. Sebab, krisis pangan dan energi itu datang ketika pemilu sudah di ambang pintu.

Di satu sisi, krisis memaksa sang pemimpin mengambil kebijakan tepat dengan berani dan sigap. Sementara pemilu yang makin mendekat membikin sang pemimpin mematut-matut diri dengan hati-hati untuk menjaga popularitas secara saksama.

Krisis memaksa pemimpin untuk mengambil langkah-langkah berani dan luar biasa. Celakanya, langkah seperti itu kerap tidak populer. Maka, membuat langkah yang diperlukan untuk mengatasi krisis seolah-olah sama artinya dengan menggadaikan popularitas. Sementara itu, menggadaikan popularitas di tengah pemilu yang sudah begitu dekat bisa sama artinya dengan tindakan bunuh diri politik.

Inilah perangkap besar yang berpotensi mengurung sang pemimpin. Manakala sang pemimpin tak mampu keluar dari perangkap ini, ia terancam tak terasa kehadirannya secara fungsional dan sekadar hadir secara simbolik.

Kehadiran simbolik ditandai beragam bentuk, yakni keberadaan fisik sang pemimpin ke tengah masyarakat yang dirundung krisis, kunjungan ke lokasi bencana, dan pidato yang mengharu- biru. Sementara ”kehadiran fungsional” dibuktikan melalui aksi konkret, yakni langkah dan kebijakan yang tertata, terukur, dan mengatasi persoalan secara cepat, tepat dan cerdas.

Jika sang pemimpin gemar menghadirkan dirinya sekadar secara simbolik dan tak juga hadir secara fungsional, maka krisis bisa makin tak terkelola. Sang pemimpin pun berpotensi untuk terkena hantaman ganda: tersapu krisis sekaligus kehilangan popularitas.

Bahkan, manakala sang pemimpin tak juga menunjukkan kehadiran fungsionalnya, sederet pertanyaan serius akan diajukan publik.

Punyakah kita pemimpin? Di manakah ia berdiri? Apakah setelah 10 tahun menjalani demokratisasi dan punya empat presiden, kita tak juga punya pemimpin?

Labels: ,

Tuesday, May 06, 2008

Keajaiban yang Sederhana

Path to Eternity


Tadi pagi dengerin sang penceramah bercerita tentang keajaiban penciptaanNya. Beliau memberi contoh soal cecak dan makanannya. Sebetulnya udah berapa kali beliau bercerita, tapi baru sempat ditulis sekarang ... :)

Kata beliau, si cecak itu kan makanannya rata-rata bersayap. Entah nyamuk, lalat, laron, atau serangga lainnya. Tapi - subhanalloh - ia ga pernah mengeluh apalagi protes pada penciptaNya. Meski ia makhluk melata, namun ia tak pernah kekurangan makanan.

Pernah lihat cecak berburu makanan? Kadang saya lihat juga, terutama kalau pas di rumah lagi banyak laron (habis hujan gitu loh ... ). Si cecek itu akan berpindah ke dekat lokasi tempat banyak laron. Dengan sabar dia menunggu .. agak jauh dari kita, mungkin takut ditangkap oleh kita. Sedikit demi sedikit ia bergerak ... sampai ketika ada laron yang masuk pada jangkauannya, dengan gerak super kilat .. cesssss ... sang laron mendadak sudah ada dalam mulutnya. Subhanalloh ...

Lalu apa pelajarannya buat kita? Begitu banyak tanda-tanda di alam ini, bagi kita yang mau berpikir. Begitu sempurnanya penciptaan alam ini, keserasian satu dengan yang lainnya, dan banyak lagi. Kembali pada kita, apakah kita sanggup mencernanya untuk meyakini bahwa ada Dzat yang Maha Kuasa di balik ini semua atau tidak ....

Apa kabar, tetap semangat ya! :)

Labels: , ,

Sunday, May 04, 2008

Pembawa-pembawa Cahaya

flying ...


Pembawa-pembawa Cahaya
Gede Prama - Kompas.com

Di pinggiran Danau Toba, dari arah pusat rekreasi Taman Simalem (dekat Banjae), tidak saja alam sedang melukis keindahan, tetapi juga melukis kesempurnaan.

Bayangkan, Pulau Samosir dari kejauhan dipeluk kelembutan Danau Toba. Dan pelukan lembut antara bukit dan danau ini ditandai sinar sejuk matahari.

Bagi siapa pun yang dibekali cukup kepekaan, tempat-tempat seperti ini serupa dengan buku tua makna yang terbuka. Ia rindu untuk dibaca. Danau dengan airnya adalah simbolik kelembutan. Gunung dengan batu-batunya adalah wakil ketegasan. Ketika keduanya berpelukan mesra, ia menghasilkan cahaya terang kesejukan. Ia seperti sedang berpesan kepada manusia (khususnya pemimpin), jadilah sekeras batu dalam mendidik diri sendiri, selembut air dalam melayani orang lain. Hasilnya, engkau pun jadi bercahaya penuh kesejukan.

Bunga-bunga mekar nan indah di pinggir danau sebagai contoh lain, ia seperti tersenyum memanggil, hai manusia, tersenyumlah. Karena dalam senyumanlah letak kebahagiaan. Dalam senyuman itu tersembunyi persahabatan dengan kehidupan. Lebih mudah menemukan kedamaian melalui persahabatan dibandingkan permusuhan.

Ia yang mau mendengar lebih dalam lagi akan dapat pelajaran, ada bunga dalam sampah, ada sampah dalam bunga. Tidak mungkin ada bunga tanpa pupuk yang kerap disebut sampah. Dan bunga mana pun yang mekar hari ini akan menjadi sampah beberapa hari kemudian.

Ini juga terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kemenangan dalam kekalahan. Ada kekalahan dalam kemenangan. Ketika manusia kalah dan tidak membuat ulah, ia sebenarnya sedang memenangkan kemulyaan dirinya. Kemenangan manusia mana pun akan selalu berakhir dengan kekalahan.

”We are what we choose”

Tidak banyak orang yang terhubung rapi dengan alam, terutama karena frekuensi batinnya berbeda dengan frekuensi alam. Batin kebanyakan manusia ditandai terlalu banyak ketidaktenangan (marah, serakah, protes, benci), sementara alam sepenuhnya tenang tanpa gangguan.

Bila boleh membandingkan dengan televisi, batin seperti televisi dengan ribuan saluran. Kemarahan adalah sebuah saluran. Ketenangan adalah saluran lain. Sengaja atau tidak, kitalah yang memilih saluran-saluran itu. Saat dipuji, orang bisa memilih saluran congkak, atau memilih saluran rendah hati. Ketika dimaki, manusia bisa memilih saluran membalas memaki, atau memilih saluran kesadaran bahwa orang yang memaki sedang membutuhkan welas asih kita.

Yang jelas, bukan makian orang yang menghancurkan, tetapi konsekuensi dari memilih saluran kemarahanlah yang menghancurkan. Dengan demikian, bila sejumlah psikolog memiliki rumus we are what we think, dalam jalur pemahaman ini menjadi we are what we choose. Kita menjadi sebagaimana pilihan kita dalam keseharian. Catatannya kemudian, ada yang memilih dengan kesadaran terang, ada yang memilih karena diarahkan kegelapan hawa nafsu.

Itu sebabnya manusia yang perjalanan doa dan meditasinya telah jauh, berlatih keras untuk mengelola hawa nafsu, dan pada saat sama bekerja keras menghidupkan cahaya kesadaran. Apa pun yang terjadi dengan orang-orang ini, ia selalu memilih kesadaran yang terang, menjauh dari kegelapan hawa nafsu. Ciri lain dari pejalan kaki di jalan ini, ia tidak saja tersenyum dengan bibirnya, ia juga tersenyum dengan matanya (baca: memandang semua dengan spirit pengertian, penerimaan, dan persahabatan).

Maka, ada yang menasihatkan, less thinking more smiling. Dengan pikiran, manusia mudah sekali tergelincir ke dalam penghakiman, lalu penderitaan. Melalui senyuman, semua dipeluk dengan kelembutan, dan ini lalu menghadiahkan kebahagiaan, kedamaian, dan keheningan.

Segenggam puisi, sekeranjang matahari

Siapa saja yang rajin berlatih menerangi diri dengan kesadaran, menjauh dari hawa nafsu, hidup menjadi segenggam puisi dan sekeranjang matahari. Segenggam puisi karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman (baca: menjadi kekuatan yang membimbing pilihan dalam keseharian). Sekeranjang matahari karena makna ini sudah bisa dibawa ke mana-mana sebagai cahaya yang menerangi perjalanan. Tidak ada lagi tersisa kegelapan dengki, sakit hati, dan lainnya. Semuanya terang benderang.

Kesuksesan adalah puisi, kegagalan juga puisi. Pujian adalah puisi, makian juga puisi. Kesucian adalah puisi, kekotoran juga puisi. Disebut puisi karena semuanya kaya makna. Bila makna-makna ini menjadi pedoman keseharian, ia berubah menjadi matahari kesadaran yang menerangi.

Kehidupan boleh digantikan kematian. Keterkenalan boleh berubah menjadi ketidakterkenalan. Pujian boleh disubstitusi cacian. Namun, cahaya kesadaran tetap bersinar. Persis seperti cahaya matahari. Tanpa membeda-bedakan, demikianlah kesadaran melaksanakan tugasnya.

Barbara Marciniak dalam Bringers of the dawn, yang mengaku dapat inspirasi salah satunya di Bali, lebih konkret dalam hal ini. Cermati salah satu kesimpulannya, ”Emotions are a source of food. This is how you nourish yourself.” Keadaan emosi (senang-sedih, gembira-marah) adalah makanan berguna. Beginilah bibit-bibit di dalam disirami. Bila kebanyakan orang membenci emosi negatif seperti marah, di jalan ini semua emosi (positif-negatif) adalah petunjuk jalan.

Maka, Barbara Marciniak menulis, ”anger serves a purpose”. Kemarahan hanya pelayan, bukan penguasa menentukan, tetapi ia membantu pencapaian tujuan. Ini mudah dimengerti. Kemarahan adalah sejenis kegelapan. Marah pada kemarahan sama dengan menambahkan kegelapan pada kegelapan. Tersenyumlah pada kemarahan. Sadari saat hadir, sekaligus waspada untuk tidak mengikuti kemauannya. Setelah itu, terlihat kemarahan sebenarnya memberi tanda-tanda. Setidak-tidaknya jadi tahu bahwa di dalam sini masih ada noda. Di luar sana, ada orang atau keadaan yang perlu diwaspadai.

Perhatikan nasihat Barbara berikutnya, ”Be kind when you speak of the forces of darkness. Do not speak as if they are bad. Simply understand that they are uninformed.” Bersikaplah baik bila berjumpa kekuatan-kekuatan kegelapan. Mereka tidak jahat, hanya belum tahu saja.

Ia yang menerangi keseharian dengan kesadaran dari dalam seperti ini sebenarnya juga Bringers of the dawn. Sekumpulan pembawa cahaya di tengah pekatnya kegelapan kemarahan, keserakahan, kebencian, kebingungan, ketidakpuasan. Bersama-sama kita doakan, semoga semua makhluk berbahagia.

Labels: , ,

Wednesday, April 30, 2008

Libur!

watch the snow mountain


Horeee ... besok libur en Jum'at hari kejepit nasional. Ambil cuti ga yaaaa? :-P Met liburan yang liburan .. met cuti yang mau cuti ... :)

Labels:

Tuesday, April 29, 2008

Menyempurnakan ikhtiar ...

sound of raindrops


Pagi ini sambil berangkat ke kantor (alhamdulillah sudah pakai mobil lagi :) ) sempet dengerin ceramah pagi. Sang penceramah kembali lagi mengingatkan akan pentingnya menyempurnakan ikhtiar. Jadi merenung ...

Begitu banyak keinginan hidup ini. Sangking menggebunya, sehingga kadang tak putus doa kita panjatkan kepadaNya. Dan hati dan pikiran kita jadi berputar-putar di situ saja. Termasuk mulai meneliti bagaimana cara agar doa kita terkabul ...

Akibatnya, kita jadi sering lupa, bahwa kita tetap punya kewajiban sebagai hambaNya untuk meneruskan ibadah kita. Apalagi dengan permintaan kita itu, rasanya sudah sangat pantas untuk semakin menguatkan ibadah dan ikhtiar kita mendekatkan diri padaNya ...

Bukan itu saja, kita juga seharusnya menelusuri segala perbuatan kita di masa lalu. Dengan harapan - kata sang penceramah - membuka hati ini untuk bertaubat kepadaNya atas segala kesalahan kita. Menundukkan kepala serendah-rendahnya di hadapanNya ...

Kita manusia, tak luput akan berbagai keinginan. Saatnya untuk mengembalikan itu semua kepada tuntunanNya, memohon ampun dan taubat, serta terus menyempurnakan ikhtiar kita kepadaNya. Selebihnya ... biarlah Ia yang menentukan ... Ia Maha Tahu yang terbaik untuk kita ... amiiin ...

Apa kabar semua, tetap semangat ya! :)

Labels: , , ,

Sunday, April 27, 2008

Filosofi Sedekah

always look for hope ...


Alhamdulillah ... masih bisa menulis di blog ini. Kegiatan hidup yang terus saja bertambah, seakan mengingatkan saya pada apa yang penting dan tidak penting dalam hidup ini. Tetap semangat! :)

Eh apa kabar semuanya? :)

Filosofi Sedekah
Lihan - Republika

Dia pernah merasakan hidup yang paling pahit. Sebagai guru bahasa Arab dan bahasa Inggris di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri di Martapura, Kalimantan Selatan, Lihan hidup kembang-kempis. Gajinya hanya Rp 1.500 perhari, sedang ongkos menuju tempat kerjanya Rp 2.200. “Saya langganan berutang, karena punya tanggungan seorang istri dan dua anak yang juga butuh makan,” ujar suami Jumratul Adawiyah ini.

Desakan ekonomi membuat otaknya berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Pria kelahiran Lianganggang, Kalimantan Selantan, 9 Juli 1974 ini mencoba menjadi makelar mobil di luar tugasnya sebagai guru pesantren. ''Saya bertemu dengan seorang bos penjual intan yang memberi modal,” ujarnya.

Badai krisis ekonomi 1998 memukul usahanya. Mitra bisnisnya menguras uang dan melarikan diri. Ia memulai hidup dari nol lagi.

Namun ia belum putus asa. Pinjaman temannya sebesar Rp 5 juta dimanfaatkannya untuk memulai usaha. Namun kali ini ia mengubah haluan. Sedekah dilakukannya tanpa berpikir, juga membantu orang lain yang kesusahan, terutama para karyawannya.

Tak perlu menunggu lama, roda bisnisnya kembali berputar. Dari puluhan juta rupiah, omzet usahanya kini mencapai miliaran rupiah. Ia juga merambah bisnis perkebunan nilam di Lampung, menjadi importir mesin dari Cina, hingga rumah makan dan kursus bahasa Inggris yang tersebar di seluruh Indonesia.

Soal “Keajaiban” sedeha, ia punya cerita menarik. Saat itu ia hendak menyelenggarakan halal bihalal dengan1428 anak yatim dan panti asuhan di Banjarmasin. Ustadz Yusuf Mansur dan Snada dari Jakarta diundangnya untuk memeriahkan acara. Namun sampai menjelang hari H, uang belum tersedia.

Hatinya makin galau ketika pihak event organizer meminta kepastian. Iseng-iseng, ia pergi ke bank mengecek rekeningnya. Ajaib, ada uang Rp 1 miliar di dalamnya. Ia mengecek ke petugas bank kalau-kalau ada yang salah transfer, ternyata tidak. Namun nama pengirimnya “gelap”.

Tak hanya sekali saja. Keesokan harinya, uangnya bertambah Rp 1 miliar lagi. ''Sampai saat ini orang yang mengirim uang ke rekening saya tidak tahu,” ujarnya. Padahal untuk membiayai acaranya, ia hanya butuh uang Rp 200 juta.

Lihan sendiri mengaku senang dengan anak yatim dan acara-acara Islam. Kegiatan yang disponsori tak hanya terbatas di wilayah Kalimantan Selatan. Belum lama ini, ketika Festival Maulid Nusantara yang digelar di Jakarta Islamic Center (JIC) Jakarta, ia pun tercatat sebagai sponsor utama. ''Ya, senang saja menyelenggarakannya. Buktinya, saya harus mengeluarkan dana Rp 200 juta, eh dana yang masuk ke rekening dari orang yang tidak jelas hingga kini jumlahnya mencapai Rp 2 miliar,'' ungkap Lihan.

Lantas, apa filosofi sedekah buat pria yang sering dianggap sebagai sopir oleh kebanyakan orang ini? ''Sedekah itu seperti kita mandi Bukankah badan menjadi tidak enak kalau seharian tidak mandi?” ujarnya. Maka, ia konsisten untuk bersedekah setiap hari.

Labels: , , ,

Tuesday, April 22, 2008

Pamit bentar ...

sleep well ... have a dream


Habis rapat di luar kota langsung dilanjutkan dengan rapat marathon 3 hari. Praktis minggu ini modus operandinya gimana supaya masih bisa pulang istirahat. So, izin pamit dulu ya teman-teman .... :)

Labels:

Monday, April 14, 2008

Kualitas Pemimpin Sejati (bagian 21)

dream


Tulisan ini berdasarkan buku karangan John C Maxwell, The 21 Indispensable Qualities of a Leader. Tiada maksud untuk menulis ulang buku ini (takut kena urusan copyright hehehe ...), tapi lebih berupa ringkasan berdasarkan pemahaman saya .. :-O

21. Visi: Anda Dapat Meraih Hanya Yang Anda Lihat

Masa depan adalah kepunyaan mereka yang melihat kemungkinan-kemungkinannya sebelum menjadi kenyataan - John Sculley, Mantan Direktur Utama Pepsi dan Apple Computer

Visi adalah segalanya bagi seorang pemimpin. Visi itu benar-benar tak tergantikan. Mengapa? Karena visilah yang memimpin para pemimpin. Visi melukiskan sasarannya. Visi memacu dan membakar semangat, dan mendorongnya maju. Visi juga merupakan pemicu orang lain yang menjadi pengikut sang pemimpin.

1. Visi dimulai dari dalam
Visi tidak bisa diberikan, ia harus datang dari dalam. Ia tak dapat dibeli, didapat dengan mengemis, atau dipinjam. Visi, harus datang dari dalam.

2. Visi timbul dari pengalaman
Visi bukanlah suatu kualitas mistik yang muncul dari kekosongan. Visi tumbuh dari masa lalu seorang pemimpin dan sejarah orang-orang di sekitarnya. Bicaralah kepada pemimpin manapun, maka rasanya kita akan menemukan peristiwa-peristiwa kunci di masa lalunya yan sangat penting dalam penciptaan visinya.

3. Visi memenuhi kebutuhan orang lain
Visi sejati benar-benar luas jangkauannya. Jika visi ini benar-benar berharga, ia akan lebih dari sekedar melibatkan orang lain, visi itu bahkan akan memberikan nilai tambah.

4. Visi membantu anda mengumpulkan sumber daya
Salah satu keuntungan paling berharga dari suatu visi adalah sifatnya yang seperti magnet - menarik, menantang, dan mempersatukan orang. Visi juga menarik dukungan dana serta sumber-sumber daya lainnya. Semakin besar visinya, semakin banyak pemenang yang tertarik padanya. Dan semakin menantang visinya, semakin keras partisipannya berjuang untuk mencapainya.

Jadi bagaimana mencapainya? Menurut Maxwell hal pertama yang harus anda lakukan adalah memulainya dari dalam. Apakah kita tahu visi hidup kita? Apakah yang menggugah hati kita? Apakah yang kita impikan? Jika kita sendiri tak tahu, bagaimana kita bisa membuat orang-orang di sekeliling kita menginginkan visi kita itu.

Sebagai penutup, apa langkah-langkah yang bisa diterapkan untuk terus meningkatkan visi kita? Kata Maxwell, lakukan hal-hal berikut:
- Ukurlah diri anda
- Tuliskanlah visi anda
- Perisksalah isi hati visi anda

Dari tahun 1928 hingga 1955, Robert Woodruff menjabat sebagai presiden Coca Cola. Selama itu, ia menginginkan Coca Cola tersedia bagi setiap buruh Amerika di seluruh dunia dengan harga 5 sen, berapapun biaya produksinya! Sungguh sasaran yang berani! Namun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengn gambaran yang lebih besar di benaknya. Seumur hidupnya, ia ingin agar setiap orang di seluruh dunia pernah mencicipi Coca Cola.

Jika anda melihat ke dalam hati dan jiwa anda, visi apakah yang anda akan lihat?

Labels: , ,