Friday, April 11, 2008

Film Fitna: Konsep kebebasan vs penciptaan

drying ...


Kontraversi film Fitna buat saya sangat menarik. Karena buat saya ini contoh bagus dalam membahas konsep penciptaan yang sedang kami bahas di kantor dalam pengajian kami. Oh ya, saya tidak membahas isi film ini. Menurut saya sudah jelas maksudnya, saya lebih tertarik untuk mencoba melihat latar belakangnya maupun konsekuensinya ... :)

Mengapa si Geert Wilders membuat film ini? Menurut saya, salah satu alasannya adalah konsep kebebasan. Kebebasan dalam berfikir, dalam nurani, dalam bertindak. Kebebasan yang hanya dibatasi oleh kemampuan berfikir manusia, yang artinya tergantung pada pemahaman dan kesepakatan bersama makhluk yang disebut manusia ... :)

Sekarang bagaimana ini dibandingkan dengan konsep penciptaan? Coba kita lihat barang yang ada terdekat pada kita saat ini ... yang pasti komputer kali ya? :) Apakah kita percaya kalau ada orang yang mengatakan bahwa komputer ini tiba-tiba ada begitu saja tanpa ada yang menciptakan? Atau yang lebih sederhana, sebuah pulpen atau pinsil? Apakah kita akan percaya kalau ada yang bilang bahwa barang ini muncul begitu saja?

Lalu jika itu kita saja tidak percaya, bagaimana dengan penciptaan alam semesta ini? Yang begitu besar, begitu luas, begitu kompleks, begitu rumit? Juga, penciptaan diri kita sendiri, yang begitu rapi, rumit, detil namun indah?

Jika kita mau saja berpikir, kita kan mengakui bahwa ada Zat yang menciptakan ini semua. Kita tidak akan puas bahwa kita tidak setuju komputer tiba-tiba saja ada, namun kita begitu saja menerima kalau alam ini atau diri sendiri ini muncul tapi ada yang menciptakannya.

Lalu ... kembali ke komputer, apakah komputer ini memiliki manual? Sebatang pinsil pun pasti ada cara penggunaannya. Kalau pinsil dipakai untuk memasak, misalnya, niscaya akan merusak proses masak maupun pinsil itu sendiri.

Lha ... kita ini mana manualnya? Dan apa yang terjadi kalau kita menggunakan kita tidak sesuai dengan manual? So pasti rusak dan kacau tho? :-P

Si Geert Wilders menurut saya melupakan ini semua, dan beranggapan kalau ia bisa menggunakan dirinya dan pikirannya sebebas-bebasnya. Seperti sang pinsil, tak heran jika ia melenceng keluar jalur dan hanya merusak dirinya sendiri.

Anyhow busway .. ga nyambung ya? :) Sebagai penutup, mungkin segalanya harus kembali pada diri kita sendiri. Bagaimana kita mengganggap ini semua dan sejauh mana kita menelusuri penciptaan yang terjadi, termasuk pada diri kita sendiri .... semoga kita termasuk orang-orang yang berserah diri padaNya ... amiiin.

No comments: