Monday, June 16, 2008

Kenapa Harus Berhenti Percaya?

between the mountain


Penceramah pada pengajian beberapa hari yang lalu menyentak hati saya dengan pertanyaan, "Kenapa harus berhenti percaya?" Selama ini, kehidupan orang tua kita, kehidupan kita, selalu dicukupkanNya, one way or another ... lantas ketika kita dihadapkan pada kesulitan - kesulitan yang menurut kita, kita tak sanggup menghadapinya - kenapa lantas kepercayaan kita padaNya jadi luntur?

Kata sang penceramah, mungkin kita perlu melakukan refleksi balik kehidupan kita. Begitu banyak hal yang telah kita lewati. Masa-masa senang, masa-masa sulit, situasi genting, mencekam, ketegangan dan lain-lain. Dan percaya atau tidak, kita telah melalui semua itu, berkatNya.

Seiring dengan perjalanan waktu, bekal kita, peralatan hidup kita - seharusnya - semakin baik dan komplit. Yang artinya tentu tugas - cobaan - hidup akan semakin bervariasi dan berat. Jika tidak, sepatutnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah ini artinya kita masih seperti 10-20 tahun yang lalu? Tugas dan cobaan yang kita hadapi masih seperti 10-20 tahun yang lalu? Yang artinya lebih jauh adalah ... kita tidak membuat kemajuan ..

Jadi, apapun itu yang menimpa diri kita sekarang, senang, susah, genting, mencekam, itu adalah karena memang kita pantas menerimanya. Kita ikhlas, kita ridho, dan ini tidak sedikit melunturkan kepercayaan padaNya. Kita kan selalu menyandarkan diri padaNya, berjuang sekuat tenaga melakukan apa yang Ia kehendaki dan menjauhi yang Ia larang, senantiasa berusaha memperbaiki diri dan pada akhirnya kita ikhlas dan ridho pada apapun keputusanNya setelah usaha-usaha kita ini ...

Kita harus percaya ... itulah satu-satunya pilihan kita, dan kita harus ikhlas dan ridho dengan pilihan ini ....

2 comments:

danudoank said...

jangan sampe deh, hilang kepercayaan kita ya bang, naudzubillah...

Diana said...

Jadi ingat doa yg pernah kupanjatkan st hari seusai dhuha: "Ya Allah, biarkan hanya kepada-Mu jua kutambatkan segenap cinta,kecemasan, & harapanku, jgn pernah ada celah atau khilaf di kalbu yg membuatku bertakzim dg selain diri-Mu..." Doa ini lahir dr pengalaman batin yg menyesakkan, yg alhamdulillah berhasil dilalui berkat hanya bergantung pada-Nya.