Tuesday, October 14, 2008

Pertahankan Keberkahan Ramadhan



Pertahankan Keberkahan Ramadhan
Republika.com

Kuncinya antara lain kita harus tetap melakukan amal ibadah dan kebajikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan.


Bulan Ramadhan telah berlalu. Selama sebulan, kita digembleng menjadi insan yang bertakwa. Semangat Ramadhan itu hendaknya bisa kita pertahankan di bulan-bulan selanjutnya. “Puasa adalah sebuah sarana ujian dan ujian ini intinya adalah sabar,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Drs KH Amidhan.

Ulama asal Banjarmasin Kalimantan Selatan ini kemudian mengurai apa saja yang harus dilakukan agar keberkahan Ramadhan masih tetap terjaga pada bulan-bulan pasca Ramadhan. Pertama, kita harus tetap melakukan amal ibadah dan kebajikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. “Itu harus kita lakukan juga di dalam bulan Syawal. Misalnya di dalam bulan Ramadhan kita tidak hanya melakukan ibadah yang wajib tetapi juga melakukan ibadah-ibadah yang sunat,'' ia mencontohkan.

Menurut mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama ini, keberkahan itu sebenarnya bisa berlanjut, asal kita mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita selama bulan Ramadhan itu. ''Takwa itu artinya kita menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syariah kita. kedua, kita bisa menjaga dari larangan-larangan di dalam syariah agama kita. Kalau dua hal itu bisa kita lakukan terus tanpa batas maka keberkahan itu akan tetap terjaga,'' jelasnya.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Wisatahati Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan Ramadhan tidak akan pernah berhasil tanpa modal. Modal yang pertama ada pada niat. ''Jadi, harus ada niat. Niat itu meliputi tekad, kemauan dan usaha untuk menjaga ibadah-ibadah di bulan puasa sampai ke bulan puasa berikutnya. Kedua, ilmu. Harus ada ilmunya, kalau tidak ada ilmunya kita tidak bisa juga menjaga. Ketiga kesabaran, sabar dalam melaksanakan sesuatu. Keempat keistiqamahan dalam menjalankan riyadhah-riyadhah, pasca-Ied, itu perlu keistikamahan dan keteguhan hati,'' jelasnya kepada Republika, Selasa (7/10).

Menurut ulama asal Betawi ini, ketidakberhasilan orang dalam menjaga Ramadhan disebabkan karena ketidakberhasilan sebelumnya. ''Sebelumnya dia bukan siapa-siapa di dalam beribadah, tiba-tiba dia masuk bulan puasa kebut-kebutan. Jadi, setelah itu ngos-ngosan. Orang yang mampu ibadah puasa sunnah sebelum Ramadhan itu sudah 'jago'. Habis itu ditambah Ramadhan, makin mantap. Tapi kalau yang tidak biasa, dirasakan sangat berat, ada saja alasannya,'' ujarnya menjelaskan.

Ia menambahkan, ''Syawal artinya meningkat, itu tarqiyyah, ada peningkatan dari ibadah kita sebelumnya. Yang dulu nggak shalat jamaah, sekarang shalat berjamaah. Atau yang tadinya nggak melaksanakan shalat sun/nah sekarang dilaksanakan. Dulu nggak ada baca Alquran sekarang rutin. Nah, setelah ada kenapa mesti hilang? Makanya Syawal. Sebenarnya dengan memahami arti bulan Syawal umat Islam termotivasi untuk meningkatkan ibadahnya,'' paparnya.

Menurut dia, tidak ada peraturan Allah yang merugikan manusia. Betapa Allah itu selalu menguntungkan manusia. ''Kalau manusia tahu dengan jalan beribadah dia bisa kaya, bisa senang, bisa sehat, bakalan dia jaga. Saya setelah tahu shalat dhuha 6 rakaat itu fadilahnya Allah akan cukupkan rezeki saya, akan saya jaga daripada saya susah, kerja juga belum tentu cukup, usaha malah terlilit hutang. Dengan menambah 6 rakaat dhuha, semua jadi beres. Nah, itu ilmu. Jadi, niat, ilmu, sabar, istiqamah dan yang paling terakhir sendiri yaitu iman.''

''Sayang, jangan sampai kita termasuk katagori hamba yang tidak bersyukur. Tidak bersyukur itu bukan karena dia maksiat, tetapi dari kebaikan. Kita sebelum kerja, dua rakaat shalat Dhuha, setelah kerja shalat Dhuhanya dua rakaat juga. Ini tidak bersyukur, mestinya nambah,” ujarnya.

Menurut dia, tidak semua orang diberi kesempatan memasuki Ramadhan, karena Allah menjanjikan pengampunan. “Ini juga satu hal yang harus kita syukuri. Wujud syukur antara lain dengan meningkatkan keimanan,'' Ustadz Yusuf Mansur menambahkan.