Thursday, May 24, 2007

Mengusir Kegelapan dengan Sapu

Mirror ...


Mengusir Kegelapan dengan Sapu
Gede Prama - Kompas, 5 Mei 2007

Seorang pengagum bintang sinetron Paramita Rusadi punya cara unik dalam mengekspresikan kekagumannya. Setiap kali bertemu wanita cantik—entah di jalan, di pasar, mal, kantor, di mana saja— ia selalu bergumam "paramita". Namun, begitu ia melihat istrinya di rumah yang tidak pernah merawat diri, ia bergumam, "parah banget".

Maaf. Lelucon itu hanya bunga canda yang membuat kehidupan menjadi indah, penuh tawa. Namun, inilah ciri kehidupan yang bergerak dari kegelapan menuju kegelapan. Terkait milik orang selalu penuh puji. Tetapi melihat milik sendiri selalu penuh caci. Ada saja alasan yang membuat hadiah-hadiah kehidupan yang sudah tergenggam tangan lalu terlihat tidak sempurna.

Ciri lain kegelapan adalah keseharian yang mudah marah dan tersinggung. Perhatikan di media. Semakin tinggi kadar marah publik, khususnya kepada pemerintah, semakin penting tempatnya di media. Lihat surat pembaca di media cetak, setengah lebih adalah ekspresi kemarahan. Juga tulisan atau komentar para pemuka, jika tidak marah, kecil kemungkinan mendapat perhatian publik sekaligus media.

Dalam bahasa hati, ini pertanda, banyak yang memerhatikan nasib bangsa. Masih ada yang rela berfungsi sebagai penjaga sejarah agar keburukan masa lalu tidak terulang. Tidak sedikit yang masih mencintai Indonesia sehingga tidak seluruh kemarahan sebenarnya berwajah negatif.

Dalam bahasa kejernihan, ketidakpuasan, kemarahan, ketersinggungan adalah tanda-tanda jika emosi terlalu mudah dicuri. Jangankan kejadian besar, hal sepele pun bisa membuat emosi tercuri. Sehingga dalam totalitas, kehidupan manusia seperti rumah besar yang setiap hari kecurian. Marah, tersinggung, tidak puas, protes hanya sebagian tanda-tanda emosi yang tercuri.

Pencuri di rumah kosong
Seperti dituturkan salah satu logika tua, kegelapan tidak bisa diusir dengan sapu, ia hanya bisa menghilang bila dihidupkan cahaya terang. Sehingga menimbulkan keingintahuan, apa cahaya penerang yang bisa membantu mengusir kegelapan kemarahan?

Kembali ke pengandaian ihwal rumah yang tercuri, ia mungkin terjadi jika rumahnya penuh barang, sekaligus tidak terjaga. Ada beberapa "barang" di dalam yang memungkinkan emosi mudah tercuri, yakni harga diri yang terlalu tinggi, kepintaran penuh kemelekatan, dan logika batu.

Memiliki harga diri merupakan pertanda kedewasaan, namun mengharap agar setiap hari diri dihargai tinggi, mudah sekali membuat emosi tercuri. Jangankan orang biasa, orang berpangkat serta bereputasi tinggi pun tidak bisa membuat dirinya selalu dihargai. Karena itu, banyak guru mengimbangi harga diri dengan sikap rendah hati. Dihargai adalah sumber motivasi. Dicaci adalah masukan berguna jika masih ada sejumlah hal dalam diri ini yang perlu diperbaiki.

Kepintaran memiliki perilaku unik yang tidak semua menyadari. Pertama-tama kepintaran membuat ukuran. Lalu menilai dan menghakimi semuanya sesuai ukuran itu. Bila kehidupan sesuai ukuran, senang, gembira, setuju hasil ikutannya. Namun, karena kehidupan berwajah jauh lebih besar, lebih rumit, lebih dalam dari ukuran mana pun, maka ukuran-ukuran ala kepintaran mudah membuat kehidupan bermuara pada kekecewaan.

Di sinilah kebijaksanaan bisa menjadi pengimbang kepintaran. Bila kepintaran penuh ukuran, lalu menolak banyak segi kehidupan, maka kebijaksanaan lebih banyak belajar untuk menerima semua apa adanya. Terutama karena kesadaran mendalam, kesempurnaan sudah ada dalam kehidupan sejak awal hingga akhir. Keinginan saja yang memerkosanya dengan tuntutan harus begini-begitu sehingga bahagia menjadi barang langka. Dalam bahasa kebijaksanaan, penerimaan adalah awal pembebasan.

Logika batu
Lain lagi logika batu yang laku keras dalam peradaban modern. Seperti batu bertemu batu, ia selalu bertabrakan. Pemerintah bertemu legislatif, pekerja berjumpa pengusaha, lembaga sosial masyarakat bersentuhan dengan media, terjadilah tabrakan. Fundamental dalam logika batu, kebenaran ditemukan dengan jalan melawan. Makin banyak perlawanan, makin banyak kredit yang diperoleh dalam kehidupan.

Namun, setelah teroris dengan logika batunya berhadapan dengan Pemerintah AS bersama sekutunya dengan logika yang sama, lalu berputar dari satu kerumitan menuju kerumitan lain, mulai banyak orang yang haus logika air. Seperti pendapat Lao Tzu, the people who cultivate the Way should be more like water.

Perhatikan air yang mengalir di sungai, ia bisa melewati setiap penghalang karena lentur. Bandingkan tubuh manusia yang masih hidup dengan yang sudah mati, batang pohon yang masih hidup dengan yang telah mati. Yang masih hidup lebih lentur dibandingkan dengan yang sudah mati. Dari sini bisa ditarik pelajaran, kehidupan lebih dekat dengan kelenturan. Lebih dari itu, ia lebih mudah membahagiakan.

Sadar akan aneka benturan yang ditimbulkan kepintaran, logika batu, dan harga diri yang tinggi, sejumlah guru bahkan pergi lebih jauh. Tidak sedikit yang belajar menerangi kegelapan dengan keheningan. Sehebat apa pun harga diri, kepintaran, dan logika batu, semua berlalu bersama waktu. Keheningan membuat semuanya hening berlalu.

Keburukan berlalu, kebaikan juga berlalu. Kesucian berlalu, kekotoran juga berlalu. Keberhasilan berlalu, kegagalan juga berlalu. Bila ini acuan kehidupan, maka jiwa mulai mengalir. Rumah jiwa akan jadi rumah kosong yang dimasuki pencuri. Pertama, karena kosong sehingga tidak ada yang bisa dicuri. Kedua, rumah jiwa dijaga oleh kewaspadaan dan kesadaran.

Eksekutif boleh saja amat jarang akur dengan legislatif, pekerja kerap bertabrakan kepentingan dengan pengusaha, demokrasi berubah menjadi demo like crazy, tetapi tidak ada di dalam sini yang bisa dicuri. Di Tibet, ini disebut rigpa (pure presence), keadaan jiwa yang terang akibat praktik alert mindfulness yang panjang. Sebagai hasilnya, jiwa menerangi diri sendiri. Sehingga setiap jalan kehidupan seperti penuh sinar penerang.