Wednesday, August 22, 2007

Umar Kayam

Cloudy moment ...


Dalam salah satu perjalanan, saya berkesempatan membaca salah satu buku karangan Umar Kayam yang berjudul Dialog. Buku ini sebenarnya kumpulan tulisannya di berbagai media massa. Sungguh, mengasyikkan sekali membaca bukunya, sampai buku setebal 300 halaman lebih bisa saya tuntaskan tanpa jeda!

Mengapa menarik? Karena ia hampir selalu meninjau suatu peristiwa, masalah, atau apapun itu dari sudut budaya, kebudayaan. Yang juga tak kalah menariknya, adalah adanya unsur personalisasi dalam tulisan-tulisannya. Ia bercerita dari sudut pandangnya, penuh dengan keakraban, seakan-akan pak Kayam hadir di sebelah saya ... dan ngobrol santai ditemani kopi, kaos oblong, sarung dan musik sayup-sayup di latar belakang ... :)

Berikut adalah salah satu tulisan beliau ...

Taksi AC Jakarta
Matra, Februari 1989

Jakarta yang tahun ini berusia 460 tahun boleh berbangga hati karena nampak semakin banyak saja memiliki taksi AC. Agak terlambat memang dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia Tenggara. Tapi bolehlah. Setidaknya, sebagai patriot yang selalu siap mengibarkan merah putih tinggi-tinggi dan menangkis setiap hinaan para bule, kita sekarang bisa dengan tangan melangkrik di pinggang menghadapi mereka. Menghadapi ejekan mereka seperti: Waa, taksi-taksi Jakarta jorok, sumpek, panas, dan humid. Kita bisa bilang sekarang: Oh no, Tuan. Itu yesterday. Not now, not sekarang, tuan.

Dan kita bisa bercerita kepada mereka bahwa 80% dari semua taksi yang jalan di Jakarta sekarang ber-AC. Lihat saja tulisan di kaca depan mereka, AC, Full AC, Full AC Full Music. Sekarang begitu masuk taksi pasti langsung terasa dingin. Dan jorok, sumpek? Ya, itu pasti dengan sendirinya hilang. Kebanggaan punya AC di dalam taksi akan membuat para supir taksi bersikap lebih necis. Dia akan menegur penumpang yang seenaknya membuang kulit duku.

Dan dia juga akan merapikan dirinya. Rambutnya tidak akan awut-awutan lagi. Kan dingin AC sudah akan mengatur rambut itu jadi rapi jali? Dan dia tidak akan merasa cukup memakai hem saja melainkan jaket atau mungkin malah jas. Dan jaket serta jas juga sepatu yang serba stil dan canggih bukankah banyak digantung di Pasar Rumput? Pokoknya taksi AC is here to stay.

Begitulah, pada suatu hari saya harus bertugas keliling kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Ah, bukan masalah. Bukankah taksi sudah 80% ber-AC sekarang?

Taksi pertama yang saya lambai taksi kuning. Tulisannya jelas terpampang di kaca, AC lho! Supirnya tersenyum sopan menundukkan kepala banget. Begitu taksi berjalan, wuah, bau minyak gosok yang rupanya telah diusap secara merata dan metodis di seluruh badan sangat keras menyengat hidung. Rupanya mas sopir membaca culture shock saya. Dengan bersendawa terlebih dahulu (hak-heeekk) dia bercerita:

"Syusyah pak sekarang pake AC. Hak-heeekk ..."
"Lho, syusyah ...?" saya ikut latah bersyusyah.
"Lha, wong sejak ada AC saya masuk anginan. Glegekan terus begini Pak. Dinginnya bukan main. Ma...af lho Pak, ... hak-heeekk."

Dan taksi meluncur terus. Enak dingin. Cuma minyak gosok dan sendawa yang terus-terusan hak-heeekk itu, lho. Syusyah.

Taksi kedua sesudah tugas pertama selesai sebuah taksi hijau. Begitu berjalan memang terasa dingin tapi, lho, kok, penuh asap taksinya. Eh, di depan saya lihat bung supir dengan enak menyedot Gudang Garam.

"Lho, bung. Rokoknya dimatikan dong."
"Emangnye kenape Pak?"
"Kalo mobil AC dikepulin asap rokok terus bisa berabe semua, dong. Bisa-bisa mati keplepek kita."
"Ah, yang bener aje Pak. Bapak kok bise aje. Mati keplepek. Kalo kagak ngerokok aye yang mati kepeplek ..."

Dan taksi dengan tulisan Full AC itu terus meluncur dengan kencang. Untung tujuan yang berikut tidak jauh. Dengan rambut dan seluruh tubuh beraroma Gudang Garam saya menghadap bapak di kantor itu.

Taksi ketiga sesudah tugas terakhir selesai; sebuah taksi biru mengkilap. Supirnya memakai pet, mengunyah chewing gum, memakai jaket Levi's briu. Menyilakan saya dengan menggoyangkan kepala.

"Kemana, Om, Misterrr?"
"Cipinang, Sir"
"Oke, oke"

Dan rrruuuung mobil tancap gas. Kaset disetel. Suara Al Jerrau keluar.

"Suka eljaro, Om, Mister?"
"Suka juga, Sir"

Dan kaset eljaro bersama lajunya taksi disetel kencang-kencang. Mister supir yang rupanya bisa membaca future shock saya dengan masih mengunyah chewing gum berteriak menjelaskan,

"Kalau mau enak dengan eljaro mesti kenceng, Om, Mister."
"Yes, yes, yeeesssss ...."

Sampai di rumah pun saya semakin mantep. Taksi AC is here to stay.

No comments: