Sunday, November 18, 2007

Resensi Musik: Dave Brubeck



Udah lama ga ngereview musik :) Kali saya coba mengusung musik yang agak berbeda. Dave Brubeck, pianis yang sudah melegenda di pelataran jazz. Saya 'kenalan' dia secara ga sengaja, yaitu pas menjelajahi toko CD bekas di jalan Surabaya. Saya beli dua album dia, Take Five dan Private Brubeck Remembers. Sungguh album yang mempesona ... yang perlu dicatat kata mempesona ini berbeda dengan kalau kita mendengarkan album pop :) Kita akan dibawa menjelajahi dunia dengan komposisi yang ajaib dan not-not yang berkeliaran bebas, liar, namun entah bagaimana bisa berbaris rapi yang akhirnya menuntun kita untuk untuk mengapresiasinya.

Saya baru membeli satu album lagi, yang bertitel Love Songs. Isinya, seperti biasa cukup rumit namun sekaligus cukup sederhana untuk lebih mudah dicerna. Seperti biasa rekamannya live dan Brubeck ditemani teman lamanya saksofonis alto Paul Desmond.

Dari sekian banyak lagu, yang paling mempesona saya (saat ini) adalah lagu My Romance. Lagu ini dibuka dengan piano Brubeck yang tenang menghanyutkan, membawa kita ke suasana damai tenteram. Apalagi melodinya mudah dicerna. Tidak lama musiknya berubah, seakan mengajak kita dengan santun untuk bertukar kata, bertukar pikiran, bertukar isi hati. Di akhir permainan awal ini, Brubeck seakan menjulurkan tangan, mempersilahkan kita, lengkap dengan wajah yang berseri dan hati yang tulus.

Paul Desmod lalu menyambutnya dengan mulai meniup saksofonnya. Suara saksofon yang bening, dengan hembusan nafas yang terdengar jelas, mengisi udara. Sementara suara piano sesekali terdengar, seperti menanggapi kata-kata Desmod, penuh santun.

Suara perkusi lamat-lamat memberi irama dan tempo percakapan Brubeck dan Desmod. Sementara keduanya saling mengisi, tapi dengan santun, memberi kita - sang pendengar - ruang untuk menikmati percakapan mereka.

Di paruh ketiga lagu ini, Brubeck mengambil alih pembicaraan. Meski mengambil alih, yang terdengar ialah dia menyetujui kata-kata Desmond sebelumnya yang diutarakan oleh suara saksofon. Dan akhirnya ia kemudian menyimpulkan pembicaraan, seperti ia memulainya, dengan tenang menghanyutkan, dengan melodi yang sederhana.

====
Indah sekali. Saya terpukau. Bukan saja oleh permainan musik maupun melodinya. Tapi dengan 'percakapan' mereka yang santun, sopan, dengan hati yang tulus, saling mengerti, saling mengisi, mereka berdua tapi mereka satu.

Ah ... kalau saja kita punya sahabat seperti di atas ya .... saling terbuka, tulus, santun, saling mengerti, saling mengisi, dan kita adalah satu .... punyakah anda?

6 comments:

Anonymous said...

Istri adalah sahabat yang paling dekat, insyaallah kita mendapatkannya sebagai sahabat yang bisa diajak ber musik yang melantun rendah, maupun dengan ritme tinggi dengan tidak mengurangi harmoni. Salam.

Devita Umardin said...

saya lebih suka punya teman yang banyak, asik...bisa wara wiri ke sana sini, tapi untuk sharing cerita yg dalem, spt dengan sahabat... saya lebih suka dg 1 orang saja, dan itu tentunya temen spesial ;)

melati said...

Dari musik ke sahabat:D Sudah sembuh Pak?

melati said...

Dari musik ke sahabat:D Sudah sembuh Pak?

melati said...

Dari musik ke sahabat:D Sudah sembuh Pak?

NN said...

Assalamualaikum, ulasan yang sangat menarik, rangkaian kata yang memikat , seakan kita diajak menelusuri jalan Surabaya dan menyaksikan konser kelas dunia. makasih ya pak atas tulisannya, jadi penasaran neh ingen denger rekamannya.