Thursday, March 13, 2008

Berhitung

the crowd ...


Beberapa waktu yang lalu di ceramah subuh pagi yang saya ikuti, sang penceramah bercerita bahwa ada orang yang matanya tidak bisa mengeluarkan air mata. Sederhana sekali ya. Cuma efeknya sungguh luar biasa. Itu mata kalau secara rutin tidak mendapatkan air mata (dilumasi) niscaya akan kering dan rusak. Sang penceramah bercerita, bahwa orang itu harus membawa alat kemana-mana untuk rutin membasahi matanya ...

Ini baru mata. Belum bicara misalnya kulit kita yang secara rutin berganti, kelenjar di telinga, air liur di mulut dan seterusnya. Lalu mungkin kita mulai berpikir tentang peletakan alis yang di atas dan bukan di bawah mata, telinga yang sejajar dengan hidung, lubang hidung yang posisinya di kiri dan kanan, ah banyak lagi ...

Jeffrey J Fox - pendiri sebuah konsultan manajemen terkemuka, duduk di posisi atas di berbagai perusahaan seperti Loctite, Pillsbury, Heublein, Inc, juga sebagai pengajar di Harvard Business School - dalam bukunya How to Become CEO, menulis 75 tips, dan salah satunya adalah keharusan untuk berfikir 1 jam sehari. Ya untuk menjadi CEO, kita harus menyediakan waktu khusus 1 jam, setiap hari.

Lalu apa revelansi dengan paragraf pertama? Menurut saya, kembali pada tema merenung, tema berhenti, tema untuk selalu bersyukur. Kita memang perlu dan dituntut untuk berhenti secara rutin. Apalagi jika kehidupan kita sudah sedemikian biasanya, sedemikian rutinnya, sehingga tanpa berfikirpun kita sudah bisa membawa diri melewati waktu.

Apa yang kita kerjakan pada saaat berhenti, saat merenung? Kita lepaskan diri dari dunia yang fana ini dan menghitung diri. Benarkah langkah kita hari ini? Apa saja hal yang kita musti syukuri hari ini? Apakah kita menyakiti hati orang lain? Apakah ada kata-kata yang terlepas dari mulut ini yang tidak kehendaki? Apa ada suratan di hati yang menjadikan kita jadi iri, benci, berprasangka pada orang lain? Apakah kita sudah berbaik sangka kepadaNya? Apakah kita sudah berbuat baik kepada keluarga kita, teman kita, tetangga kita, orang yang kita temui di jalan? Apakah kita hari ini lebih baik dari kemarin? Apa rencana kita besok? Apa rencana hidup kita, sudahkah kita memilikinya?

Air mata kita mungkin kan menetes. Hati kita mungkin kan guncang menyaksikan betapa buruknya perlakuan kita pada diri kita sendiri hari ini. Kita pun mungkin kan mulai menyesali kejadian yang terlepas dari kontrol kita.

Kita manusia biasa yang sangat dekat dengan kealpaan dan kesalahan. Air mata, keguncangan hati, penyesalan itu, semoga menjadi pertanda penerimaan kita terhadap kesalahan-kesalahan kita dan semoga menjadi titik tolak untuk menjadi hari esok menjadi lebih baik.

Apa yang terjadi pada cermin yang tidak pernah dibersihkan? Dari hari ke hari, debu yang menempel di cermin itu makin tebal. Semakin tebal sehingga kita semakin sulit berkaca Sebaliknya, bagaimana dengan cermin yang selalu diseka, diseka dengan hati-hati sehingga tidak ada setitik debu pun yang tertinggal? Niscaya dengan mudah kita bisa bercermin, melihat diri kita sebaiknya-baiknya.

Berhenti, merenung, mensyukuri hidup ini bak membersihkan cermin, hati kita. Makin sering kita bersihkan, makin mudah kita untuk melihat diri kita, dan makin mudah bagi kita untuk melihat kesalahan-kesalahan kita dan memperbaiki diri. Kalau tidak diperbaiki, bukankah kita akan malu melihat kesalahan itu lagi esok hari, ketika kembali bercermin pada hati kita?

Semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk mehitung dan memperbaiki diri ...

2 comments:

Diana said...

Subhanallah, speechless baca tulisannya...Harus byk2 istighfar, Rasulullah saja yg dijamin masuk surga rajin minta ampun kpd-Nya sepanjang hari, apalagi kita?

AbahNurul said...

hmmm...wonderful thought. Tambo cie donk... kira-kira tips and trick-nya buat nyisihin waktu yang 1 jam itu gimana ya....