Monday, January 26, 2009

Kado Cinta Bagi Pasangan Nikah Beda Agama



Saya terhenyak. Berdiri di tengah-tengah toko buku dengan rasa marah. Di tengah suasana tengah di pagi hari. Apa sebabnya? Buku ini!

Bermula dari mata saya yang tidak sengaja melihat buku ini ketika mau keluar dari toko buku Gramedia. Heran plus ga percaya dengan judulnya, saya lalu mengambilnya dari rak buku. Hmmm ... judulnya sangat mencurigakan. Pengarangnya Mohammad Monib, penerbit Gramedia. Lalu saya baca ringkasan di halaman belakang. Hmmm ... katanya "Buku ini tidak menganjurkan NBA (Nikah Beda Agama), tapi menampilkan permasalahan dan arah pemikiran bagi solusinya...

Agak ragu, tapi lalu terlihat oleh saya ada buku yang sudah terbuka sampul plastiknya. Ya saya ambil dan telusuri daftar isinya. Pertama soal pengertian nikah, pendapat masing-masing agama ... hmmm okelah. Lanjut ke halaman berikutnya, lho kok ada soal melamar, malam pertama, mengasuh anak dan seterusnya??? Lalu penutup buku ini mengutip sebuah hadits mengenai pluralisme ... rasa marah perlahan muncul.

Saya baca penutupnya, katanya hadits itu mengenai pluralisme berdasarkan pemahaman seorang terkemuka di negeri ini (anda pasti kenal, tidak perlu saya sebut di sini). Haditsnya dikutip begitu saja, bahkan lebih jelek dari mengutip suatu bahan (tanpa tulisan asli - arab -, tanpa mencantum rawinya dst dst).

Astagfirullah ... buku begini sudah dijual bebas. Di toko besar Gramedia (saya menyebut nama ini karena buku ini diterbitkan olehnya) dan di salah satu mall terbesar di Jakarta. Pagi ini saya cek di gramediaonline.com, ternyata buku ini dijual di situs ini juga dan dikategorikan sebagai buku Islam. Astagfirullah ... sungguh, perang pemikiran itu benar dan sangat berbahaya ...

Kesimpulan? Hmmm ... senantiasa berhati-hati membaca buku, pastikan ditulis oleh orang yang kita kenal reputasinya, didukung penerbit yang menjaga visi misinya, 'periksa' buku itu dengan hati nurani anda ... dan, berjamaah lah agar bisa terus saling mengingatkan ...

9 comments:

Diah Utami said...

Pasangan beda agama mah nggak perlu dikasih kado ya bang, apalagi sampai diberi kado berupa buku begini.
Lainnya, umat Islam harus punya basis ilmu yang mantap juga retorika komunikasi yang tepat agar bisa sukses memenangi perang pemikiran yang dilancarkan pihak 'sana'.
Pada intinya, saya sepakat dengan bang Zuki.

Diana said...

Perang pemikiran ternyata sudah benar2 menggurita & sangat halus. Kalo kata temen-temen di komunitas penulis FLP, lawan dengan bikin karya tandingan, harus lebih bagus eye-catching, & kuat landasannya biar ngga diobok-obok.
Setuju Bang, setuju kita wajib marah!

Lia said...

Terus kalo udah marah, mesti ngapain dong? Saya juga sempat marah sih. Tapi bukan karena baca bukunya. (Mau baca gratisan aja di toko buku, kalo dibeli tar dia kesenengan.)
Minggu lalu penulisnya yang katanya lulusan Gontor itu ada di radio. Dia bilang, bla..bla..bla.. yang intinya pasangan yg sama-sama bersyahadat itu gak penting. OMG... speechless deh

Anonymous said...

Bukankah marah itu bukan sifat-sifat Tuhan??? Dan bila kita sendiri mengalaminya apakah kita tetap marah??? Mungkin kita bisa menyikapinya dengan "Zero Mind" tanpa persepsi apapun. Bukan untuk menilai itu Benar atau Salah; Suka atau Tidak Suka, karena kita pastinya hanya menggunakan akal dan rasa kita saja dan melupakan anugerah Tuhan yang lain yaitu "Hati". Cobalah memahaminya dengan hati karena suara hati adalah suara Tuhan.

bendhy_ca said...

Ah...bang Zuki itu ...
Jgn gampang marah donk bang, nanti pikirannya juga ke arah yang ngga jelas...
Tolong dipikir jernih lah bang, jangan asal komentar aja..jangan merasa benar aja... lihatlah dari beberapa segi

Thanks,
Salam hormat

A.N. Pakih Marajo said...

Ya penulisnya Moh. Monib itu alumni gontor, saya juga alumni gontor dan saya pernah debat dia di FB, logikanya kebanyakan copy paste dan yang paling jelas adalah bahwa logika dan isi kepalanya "tidak bermutu", bahkan kata2nya sendiri bisa diadu karena sangat kontradiktif. Dia udah mengalami keracunan dan kerancuan berfikir dan berakidah. Dia dan orang2 seperti dirinya hanya cari sensasi dan keuntungan dunia sesaat, agar terkenal, maka bikinlah sesuatu yang heboh. Sebaiknya jangan buang uang anda untuk membeli bukunya, bukunya tidak lebih dari seonggok kertas berisi sampah beracun. Wallaahu a'lam.

MONEY NET said...

pluralisme adalah wujud toleransi islam...tp jangan disalah kaprahkan....mentang - mentang plural eh mo nya seenak sendiri...ada norma yang diatur dalam al qur'an dan hadist...klo masalah nikah beda agama dari jaman dulu aku emang gk pernah setuju bang...yg kutakutkan itu goyahnya keyakinan dan akidah kita untuk selanjutnya ikut dengan keyakinan pasangan kita....nauzubillah

MONEY NET said...

plural adalah sifat toleransi islam...cuman jangan sampai salah kaprah dengan mengatasnamakan pluralisme...keberagaman dalam islam kudu ngikutin aturan yg udah di jelaskan dalam al qur'an dan hadist.....nah klo untuk masalah nikah beda agama aku emang gk pernah setuju ama yg namanya nikah beda keyakinan....satu hal yg aku takutkan bang...terjerumusnya akidah saudara kita untuk mengikuti keyakinan pasanangannya itu yang paling aku takutin.....karena tingkat akidah dan pemahaman agama seseorang berbeda-beda....mempelajari agama tidak seperti mempelajari cara maen Fb ...karena itu perlu proses......

Jullian said...

Ini alasannya Indonesia nggak maju dan nggak akan maju. Nikah beda agama aja kayaknya heboh banget, sedangkan korupsi dibiarkan. Bangsa kita memang terjebak kitab tapi nggak bisa menerjemahkan itu ke akhlaq.

Kita memang akan selalu dikutuk sebagai bangsa bodoh karena tidak mau pakai akal.