Sunday, October 07, 2007

Pengenalan Diri

Masjid Nabawi


Tulisan kali ini ringkasan dari bab I buku Aa Gym yang berjudul Jagalah Hati yang bercampur aduk dengan sumber lain, seperti Stephen Covey, Maxwell, kursus-kursus di kantor, maupun pikiran diri sendiri ... :-P

Kata si Aa, langkah pertama menjaga hati adalah dengan mengenal diri. Bagaimana caranya?

1. Mencermati potensi diri
Untuk mengetahui potensi diri, langkah pertama tentunya adalah mulai dengan melakukan refleksi diri. Aa memberikan beberapa pertanyaan yang sangat bagus, yang ditujukan pada diri sendiri ...
  • Siapakah aku sebenarnya?
  • Untuk apa aku ada di dunia ini?
  • Siapa yang menciptakan aku?
  • Untuk apa Dia menciptakan aku?
  • Apa yang bisa aku perbuat untuk kehidupan duniaku?
  • Apa yang bisa aku perbuat untuk kehidupan akhiratku?
  • Apa kelebihanku?
  • Apa kelemahanku?
Ini menarik, karena dalam salah satu pelatihan kepemimpinan yang saya ikuti, ada 3 pondasi untuk menjadi seorang pemimpin (leader). Yang pertama dan paling penting adalah justru mengetahui diri sendiri.

Langkah kedua adalah melibatkan orang lain. Keluarga, teman, rekan kerja, tetangga. Bagaimana caranya? Dengan meminta feedback atau umpan balik. Umpan balik ini bentuknya bisa sapaan yang menyemangati kita ketika berbuat yang benar, dan teguran kritik ketika kita berbuat salah.

Dalam pelatihan kepemimpinan yang saya ikuti, umpan balik secara kontinyu adalah salah satu alat yang penting dalam pencapaian kemajuan yang berarti. Lebih jauh lagi, umpan balik berupa kritik haruslah yang sifatnya pedas dan jelas dan bukan sekedar basa-basi. Mengapa? Karena hanya dengan begitulah kita akan segera tersadar dengan kekeliruan kita. Menurut sang pengajarnya, bagi kita yang menerima, kritik haruslah kita terima sebagai suatu pemberian berharga (gift), sehingga hati kita bisa menerimanya secara terbuka.

Satu hal yang tidak boleh kita lupakan, adalah selain menangani kelemahan diri, yang juga tak kalah penting adalah mengolah kelebihan kita. Kalau kata Maxwell fokuskan 75% usaha kita pada kekuatan kita, 25% pada hal-hal baru, dan hanya 5% pada kelemahan kita. Dalam pelatihan lain yang saya ikuti pula, ditekankan pada pentingnya mengolah kelebihan dan fokus pada kelemahan hanyalah jika itu sifatnya fatal. Misalnya apa? Bekerja di perusahaan multinasional tapi tidak bisa bahasa Inggris .... :)

Langkah ketiga dalam mencermati potensi diri adalah ini semua harus berawal dengan niat yang kuat untuk mengubah diri. Dan sebaik-baik niat adalah dalam rangka makin mendekatkan diri padaNya.

2. Fokus pada diri sendiri
Sederhana sekali, sebaiknya kita mengurusi diri sendiri sebelum mencoba mengurusi orang lain. Kata Aa, "Mulai dari diri sendiri,mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang" sementara kata Covey, "Be proactive". Maxwell? Dalam bukunya mengenai sifat 21 pemimpin sejati, sifat pertama adalah karakter, jadilah batu karang.

Harapan kita tentunya dengan terus mengurusi diri sendiri, semoga kita semakin terasah dan lambat laun bisa menjadi pusat kebaikan, pusat solusi, pusat motivasi. Jika kita bisa mencapai ini, kata Aa, kehadiran kita akan menjadi buah kerinduan bagi orang-orang yang mendambakan kebaikan, solusi, dan motivasi.

3. Ubah persepsi
Di awal buku 7 Habitsnya Covey cukup panjang lebar membahas ini. Salah satu contohnya sempat saya kutip di blog ini. Maxwell juga menekankan ini pada sifat yang ke 13: Sikap Positif: Jika Anda Percaya Bisa, Anda Pasti Bisa. Menurut Aa - dan juga keyakinan saya - kita harus percaya bahwa kita bisa selalu lebih baik dan Tuhan Yang Maha Penyayang akan menolong hambaNya yang senantiasa memohon kepadaNya.

===
Siapkah kita mengenali diri dan potensi diri kita? :)

2 comments:

Joell de Franco said...

Wah pak, setelah baca tulisan sampeyan, saya kok jadi merasa sama sekali belom mengenali diri saya sendiri...wah wah...parah ni...ternyata selama ini saya cuma waton urip (orang jawa bilang, makasih pak...

Harrie said...

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Taqabalallahu Minna Wa Minkum
Syiyamana Wa Siyamakum