Monday, July 02, 2007

Menjadi Ayam atau Elang?

reflection


Menjadi Ayam atau Elang?
Arvan Pradiansyah

Seorang petani menemukan telur elang dan menempatkannya bersama telur ayam yang sedang dierami induknya. Setelah menetas, elang itu hidup dan berperilaku persis seperti anak ayam, karena mengira dirinya memang anak ayam.

Pada suatu hari, ia melihat seekor elang yang dengan gagah terbang mengarungi angkasa. "Wow, luar biasa! Siapakah itu?", katanya penuh kekaguman. "Itulah elang, raja segala burung!" sahut ayam di sekitarnya. "Kalau saja kita bisa terbang ya? Luar biasa!" Para ayam menjawab, "Ah, jangan mimpi! Dia makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk bumi. Kita hanya ayam!" Demikianlah, elang itu makan, minum, menjalani hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Cerita di atas saya sampaikan sebagai pembuka acara "Dialog Menyongsong Masa Depan" yang diadakan beberapa waktu lalu di Wonosobo Jawa Tengah. Sebagai konsultan Unicef, saya bertugas datang ke daerah-daerah untuk berdialog dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya mempersiapkan masa depan. Uniknya dialog ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari yang buta huruf sampai para sarjana, ibu-ibu, pembantu rumah tangga, pengambil keputusan, LSM, pelaku bisnis, media massa dan sebagainya. Alasan kenapa Wonosobo yang diambil adalah karena kabupaten ini termasuk yang terbelakang, dengan jumlah penduduk yang berpendidikan SD ke bawah 87%. Kegiatan dialog ini berfokus pada upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Wonosobo.

Satu hal menarik yang saya amati disana adalah adanya harapan masyarakat yang berlebihan pada kami untuk membawa perubahan. Seolah-olah masa depan mereka ada di tangan kami. Padahal justru kesalahpahaman itulah yang berusaha kami luruskan. Nasib Wonosobo sebenarnya ada di tangan mereka sendiri. Sebagai konsultan saya akan berjalan dari satu kota ke kota lainnya untuk menyadarkan dan membuka wawasan masyarakat. Menggantungkan perubahan di pundak kami hanyalah suatu kesia-siaan belaka.

Langkah pertama untuk memulai perubahan adalah menyadari bahwa perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Nasib sepenuhnya ada di tangan kita. Dalam agama dikatakan, "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak merubahnya sendiri." Maka untuk bisa berubah kita harus bergantung pada diri kita sendiri. Perubahan nasib tidak akan datang dari pergantian pemerintahan. Mau Soeharto, Habibie, Gus Dur atau Megawati, sama saja. Perubahan itu harus kita lakukan sendiri.

Benar bahwa kita tak dapat memilih lingkungan kita, tapi kita selalu bisa memilih respon, kita selalu mampu memilih tindakan kita. Memang ada hal-hal di dunia ini yang berada di luar kekuasaan kita. Kita tak bisa menentukan siapa orang tua kita, jenis kelamin kita, tempat kita dilahirkan, cara kita dibesarkan, bakat yang kita miliki dan sebagainya. Kebanyakan kitapun tak mempunyai kekuasaan untuk menentukan percaturan politik di negeri ini. Tapi kita senantiasa bisa menentukan perilaku kita, kita bisa mengontrol apa yang akan kita lakukan!

Kita tak dapat mengontrol pencemaran udara, tapi kita bisa memulai kebiasaan hidup sehat di lingkungan kita sendiri; kita tak dapat mengontrol keamanan di Jakarta, tapi bisa menjaga keselamatan kita dengan tak terlalu sering keluar malam. Kita tak bisa mengontrol para pelaku pemerkosaan, tapi bisa mengontrol diri sendiri untuk tak berpakaian yang merangsang. Kita tak bisa mengontrol kemacetan lalu lintas, tapi bisa ke kantor lebih pagi untuk menghindarinya. Kita tak dapat mengontrol krisis dan nilai dolar (bagaimana mungkin, pemerintahpun sulit melakukannya!), tapi kita bisa mengontrol gaya hidup kita sendiri.

Kesadaran bahwa nasib ada di tangan kita sendiri akan memberikan dampak yang signifikan dalam hidup kita. Kita punya kemampuan menentukan apa yang akan kita perbuat. Kita punya kemampuan penuh untuk menentukan skenario hidup kita. Akan jadi apakah kita 10, 20, atau 30 tahun lagi. Benar, akan ada pengaruh dari luar. Tapi Anda hanya dipengaruhi dan bukan ditentukan!

Sikap inilah yang disebut sebagai bertanggung jawab, responsibility, yang berasal dari kata response + ability, yaitu kemampuan untuk melakukan respon terhadap situasi apapun. Respon adalah hasil keputusan kita sendiri, bukan ditentukan oleh situasi yang kita hadapi.

Kesadaran semacam itu akan membuka mata kita bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Gunakan daya imajinasi Anda dan bayangkan diri Anda 10 tahun lagi. Ingin jadi apakah Anda? Dalami diri Anda dan kenalilah bakat-bakat dan potensi Anda yang terdalam. Bakat-bakat ini boleh jadi telah terkubur oleh situasi dan kondisi, padahal kalau dimunculkan Anda akan mengalami perubahan hidup yang dahsyat. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Kitalah yang sering "menggembok" diri kita dengan berbagai label yang diciptakan lingkungan maupun diri kita sendiri.

Dengan melakukan hal tersebut Anda akan menemukan sesuatu yang menggairahkan. Dan siapa tahu, Andapun bisa terbang setinggi elang di angkasa!

1 comment:

ely meyer said...

yang bisa membuat kita sukses mewujudkan mimpi memang kita sendiri.

Suka sekali tulisan di atas, bikin semangat! thanks!