Tuesday, August 29, 2006

Kualitas Pemimpin Sejati (bagian 14)

Tulisan ini berdasarkan buku karangan John C Maxwell, The 21 Indispensable Qualities of a Leader. Tiada maksud untuk menulis ulang buku ini (takut kena urusan copyright hehehe ...), tapi lebih berupa ringkasan berdasarkan pemahaman saya .. :-O

14. Pemecahan Masalah: Jangan Biarkan Berbagai Persoalan Anda Menjadi Masalah

Anda dapat mengukur seorang pemimpin dari persoalan-persoalan yang ditanganinya. Ia selalu mencari persoalan yang setara dengannya – John C Maxwell

Ukuran sukses bukanlah pada apakah anda menghadapi suatu persoalan berat, melainkan pada apakah itu adalah persoalan yang sama yang anda hadapi tahun lalu – John Foster Dulles, Mantan Sekretaris Negara US

Maxwell menulis bagaimana pendiri Wal-Mart, Sam Walton, mampu mengembangkan usahanya dari sebuah toko kelontong di Arkansas menjadi salah satu jaringan pengecer terbesar di Amerika Serikat. Berbagai persoalan menempa perjalanan hidupnya, mulai dari persaingan dengan lawan bisnisnya, peningkatan jaringan toko yang berarti semakin rumitnya pengaturan operasi, kebutuhan akan dana segar yang kian meningkat untuk perluasan usaha dan seterusnya. Dari semua tantangan itu, yang membedakannya Sam dengan para pengusaha kelontong lainnya ialah ia mampu memecahkan masalah-masalah dan berubah ketimbang gulung tikar.

Para pemimpin yang efektif, menurut Maxwell, adalah selalu bangkit menghadapi tantangan. Itulah satu hal yang membedakan pemenang dengan perengek. Sementara pengecer yang lain mengeluh tentang persaingan, perlunya perlindungan dsb, Sam bangkit mengatasi berbagai persoalannya dengan kreativitas dan keuletan.

Para pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memecahkan persoalan umumnya memiliki 5 kualitas:

1. Mereka mengantisipasi berbagai persoalan
Karena persoalan-persoalan itu tak terhindarkan, para pemimpin yang baik mengantisipasikannya. Siapapun yang mengharapkan jalan hidup ini mudah akan terus saja mengalami kesulitan.

2. Mereka menerima kebenaran
Orang menanggapi persoalan, dapat menolaknya, menerima dan menanggungnnya, atau menerimanya dan berusaha menjadikan segalanya lebih baik. Para pemimpin harus selalu memilih respons yang terakhir.

3. Mereka melihat gambaran besarnya
Para pemimpin harus selalu melihat gambaran besarnya. Mereka tidak boleh dikuasai oleh emosi atau membiarkan diri terpuruk dengan detil-detil sehingga melupakan hal yang penting.

4. Mereka tangani satu per satu
Ada nasihat sebagai berikut: ”Jangan pernah mencoba memecahkan seluruh persoalannya sekaligus, suruhlah mereka antri satu per satu.” Pemimpin yang paling sering mengalami masalah adalah mereka yang kewalahan akibat besarnya atau banyaknya persoalan mereka, lalu coba-coba mengatasinya.
Jika anda dihadapkan pada banyak persoalan, pastikan anda benar-benar menuntaskan yang sedang anda atasi sebelum pindah ke persoalan berikutnya.

5. Mereka pantang menyerah
Pemimpin yang efektif memahami prinsip puncak-ke-puncak. Mereka mengambil keputusan besar ketika sedang berada dalam kondisi positif, bukan ketika dalam keadaan negatif. Kata seorang pemain NFL, Bob Christian, ”Saya tidak pernah memutuskan apakah sekarang tiba saatnya untuk pensiun ketika latihan.”

Penulis G Matthew Adams menyatakan, ”Apa yang anda pikirkan jauh lebih berarti dari apapun juga dalam hidup anda. Lebih dari seberapa besar nafkah yang anda peroleh, lebih dari dimana anda tinggal, lebih dari posisi sosial anda, dan lebih dari apapun yang dipikirkan orang tentang anda.”

Setiap persoalan memperkenalkan anda pada diri sendiri. Setiap persoalan memperlihatkan bagaimana anda berpikir dan terbuat dari apa anda itu.

Jika menghadapi persoalan, bagaimanakah reaksi anda? Apakah anda mengabaikannya dan berharap persoalan itu akan hilang dengan sendirinya? Apakah anda merasa tidak berdaya untuk mengatasinya? Apakah anda mengalami pengalaman yang sedemikian buruknya ketika berusaha mengatasi berbagai persoalan di masa lalu sehingga anda menyerah? Atau apakah anda mengatasinya dengan penuh kemauan?

Kemampuan untuk mengatasi persoalan dengan efektif tergantung pada pengalaman menghadapi serta mengatasi hambatan. Setiap kali anda atasi suatu persoalan, anda menjadi lebih baik dalam prosesnya. Namun jika anda tidak pernah mencoba, gagal, coba lagi, anda takkan pernah pandai mengatasi persoalan.

No comments: