Wednesday, April 12, 2006

Mendengarkan atau 'Mendengarkan' Musik?


Gambar dari http://www.talkorigins.org


Selingan aahh ... setelah beberapa tulisan serius dan sempat 'hilang' sejenak dari peredaran gara-gara long weekend dan berbagai deadline pekerjaan ... :)

Setelah bertahun-tahun mendengarkan musik, baru belakangan ini saya sadar kalau selama ini saya 'mendengar' maupun 'menonton' musik adalah untuk mendengar ... dan sama sekali tidak mencermati lirik lagu-lagunya ... :-P

Beberapa kali terkaget oleh komentar orang yang sama-sama sedang mendengarkan musik, "Kok gitu liriknya?" Atau, "Apa ya yang dia bilang (kalau bahasa Inggris)?" Iya kaget, karena saya sama sekali nggak nyimak yang itu. Yang saya simak alias dengarkan ya musiknya ...

Telinga saya biasanya mendengarkan bunyi-bunyi perangkat musik seperti petikan maupun raungan gitar, deru drum ataupun gemerincing perkusi, dentingan piano, dam-du-di-dam bass, lengkingan maupun rayuan terompet, dan seterusnya. Telinga pun sibuk menyimak sang penyanyi mengeluarkan suara, mencoba memahami emosinya yang larut bersama lagu. Dan kesemua itu sambung-menyambung menjadi satu jahitan musik yang indah merasuk sukma ....

Kalau nonton di TV, yang saya perhatikan biasanya bagaimana gerak-gerik sang penyanyi. Bagaimana ia berinteraksi dengan penonton, bagaimana memainkan tempo maupun suara agar stamina tetap terjaga, hingga ekspresi wajahnya ...

Mungkin ini pula kenapa sebabnya saya suka mencoba berbagai jenis musik. Mencoba mengetahui, menghargai, hingga menikmati rajutan nada yang sering kadang kala di awal terdengar sumbang maupun asing ....

Mungkin inilah sebabnya sang telinga dan otak sudah sedemikian sibuknya sehingga lirik lagu pun tidak sudah tak tercerna lagi ... :)

Kadang sih nyimak juga liriknya. Tapi biasanya kalau lagunya sudah sedemikian mengakar di hati dan otak ... contoh paling gampang lagu Just the Way You Arenya Billy Joel yang sudah demikian akrabnya di telinga saya sekian tahun baru nyadar 1-2 minggu yang lalu soal isi lirik/lagunya ... :-P

Repot juga ... :)

6 comments:

abhirhay said...

katanya musik itu esensinya bunyi. dan kata pada dasarnya adalah bunyi yang dimuati makna sehingga menjadi wicara. kepekaan rasa pada bunyi - masih katanya - adalah fitrah yang terbawa. masalahnya ketika bunyi dikonsep menjadi musik lalu dilabeli macam2 jenis, bebunyian menjadi terkungkung dalam kandang. hutan dengan ketidakteraturan pepohonan punya harmoni, bukan cuma kebun raya atau taman kota saja. kira2 begitu ya pak?

igunone said...

hahaha ... sama dong Bang ... ada yg bilang orang macam gini katanya kagak romantis ... ;-P. Apa bener gitu bang?

Dini said...

whoaaaaa gimana toh? don't go changing, to try and please me, you never let me down before... hehe, aku juga selama ini tau ref-nya doang, sama awalnya don't go changing itu lho... gara2 posting ini jadi browsing liriknya deh (wah ketauan sama gak romantisnya!)

iya bang, rajin ke sini tapi isinya lagi berat euy, otak lagi ngepul sama assignment, sampe lupa kalo ada shoutboxnya :P

Anonymous said...

hebat bener si abang ini. anda diberkahi dengan selera pendengaran yang luar biasa. kalau di radio udah digaji mahal nih buat 'kejelian' pendengarannya..

cindymon said...

apa yang pak zuki maksud harmoni dari keseluruhan elemn musik itu sendiri bukan yang sedang Anda nikmati?

zuki said...

@cindymon: keharmonian seluruh musik itu nikmat, tapi kadang yang ganjil itu juga enak ... :)

Misal, penyanyi jazz itu kalau pas lagi live show suka sengaja fals 1/2 nada ... kalau nggak biasa dengerin pasti kesel .. cuma lama-lama enak, karena seperti sedang eksplorasi nada ... :)