Sunday, September 02, 2007

Buku: Sekali Merengkuh Danau - Diah Marsidi

Sawung, water, mountain, and sky ...


Pas pameran buku beberapa waktu yang lalu saya iseng beli buku ini. Terbitan Kompas, 300 halaman lebih, intisari di halaman belakang cukup menarik, dan harganya hanya 10 ribu rupiah ... kalo kata orang Singapore, worth to try lah ... :)

Ternyata buku ini cukup 'membius' saya. Diah Marsidi, adalah seorang wartawan. Dalam buku ini dia bercerita tentang berbagai perjalanannya ke 5 benua. Yang berbeda, ia mengisahkan perjalanannya dari interaksinya dengan berbagai sudut kehidupan dari tempat yang ia kunjungi. Kalau kata penerbit, buku ini membawa kita pada konteks dan kerangka berpikir yang kuat atas esensi suatu perjalanan. Juga memberi tahu kita, bagaimana membuat suatu perjalanan menjadi lebih bermakna. Tidak sekedar puas berhasil mengunjungi suatu tempat yang jarang dikunjungi, melainkan memperoleh hal-hal esensial dalam kehidupan manusia seperti persahabatan, kemanusiaan, dan kepedulian yang sejati.

Begitulah ... buku menarik sekali buat saya. Tentu saja bikin ngiler juga, kapan yaaa bisa ke tempat-tempat itu .... :). Berikut saya kutip penjelajahan Diah ke Peru ....


Sekali Merengkuh Dayung, Tiga Pulau Kujejaki
Diah Marsidi

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Peribahasa itu terlintas di kepala kala aku mengunjungi Danau Titicaca dan beberapa pulaunya. Danau di ketinggian 3.810 meter di atas permukaan laut di Pegunungan Andes itu terletak di perbatasan Peru dan Bolivia. Puno, kota di tepian yang termasuk wilayah Peru, menjadi titik keberangkatanku.

Kalau bicara romantis, sebenarnya aku membayangkan untuk melayari danau ini dengan perahu dari buluh totora yang banyak tumbuh di tepian danau ini. Masih ingat perahu yang dipakai arkeolog Norwegia Thor Heyerdhal dalam pelayaran lintas samudranya? Bukan Kon-tiki yang dari kayu balsa, tapi perahu Ra yang dari buluh dan digunakan dalam ekspedisi 1969-1970 berlayar dari Maroko ke Barbados itu. Pembuat perahu buluhnya Heyerdahl itu memang orang dari sebuah pulau di Danau Titicaca, dimana seni membuat perahu buluh masih hidup. Aku membayangkan berlayar dengan perahu buluh itu bersama-sama sesama petualang, mendatangi pulau-pulau kecil di danau yang airnya teramat biru, di bawah langit yang biru lazuardi itu.

Namun bukan perahu totora yang kami naiki, melainkan sebuah kapal motor sederhana. Tak ada kayuh yang kami gunakan, namun kejernihan air di tengah danau menguatkan bayangan akan perahu buluh.

Bukan bayangan, tapi sebuah perahu totora asli melintas di dekat kami, kala kapal merapat ke sebuah pulau bernama Santa Maria. Sebuah pulaukah ini? Kebiruan yang melingkupi kami seperti menghapus batas antara kenyataan dan khayalan. Segalanya nisbi. Bahkan yang disebut pulau dan dihuni orang-orang Uros itu bukanlah danau. Mereka menumpuk-numpuk buluh totora di air danau, dan jadilah sebuah pulau terapung tempat mereka tinggal. Tiap dua-tiga minggu ditumpukkan buluh baru, karena buluh di bagian bawah telah membusuk dan hancur.

Seorang lelaki pulau kecil itu menawarkan berkeliling danau dengan perahu totora-nya. Dua gadis Jepang dalam rombongan kami mengajakku bergabung mencoba perahu itu. Seorang bocah perempuan dua tahun juga ingin ikut. Orlando, lelaki pemilik perahu itu membawanya naik bersama kami.

Bocah bernama Edith itu putrinya, anak pertamanya, kata Orlando itu sambil mengayuh. Istrinya berjualan cendera mata di depan rumah mereka. Dia sendiri kadang mengantar turis - yang datang melihat pulau ajaib mereka - berkeliling pulau berpenduduk tujuh keluarga itu selama bebeberapa menit di perahu buatan dia dan pamannya itu. Pekerjaannya sehari-hari menangkap ikan. Seminggu sekali dia ke Puno di daratan untuk membeli sayur dan bahan makanan lain. Mengapa dia bertahan hidup di pulang terapung di tengah danau itu? "Ini adalah cara nenek moyang kami. Inilah cara kami. Di sini lebih tenang. Saya tak bisa tinggal di daratan," katanya.

Dia menunjuk sebuah pulau yang juga terbuat dari buluh totora. Itulah rumahnya, katanya. Di dekat pondok itu ada panel surya, yang membuat mereka bisa menikmati televisi dalam rumah sederhana itu. Konon panel surya itu atas perintah Presiden Fujimori setelah dia mengunjungi pulau-pulau itu. Teknologi modern telah merangkak masuk ke dalam tradisi nenek moyang orang-orang Uros dan Aymara itu.

Masih dalam satu "kayuhan dayung", kapal membawa kami ke pulau Taquile. Pulau itu hanya 1 km lebarnya, sedang panjangnya 6 km. Karena saat itu sulit mendarat di bagian pulau yang bertangga batu, kami merapat di bagian lain pulau, yang juga curam dan harus kami daki tanpa bantuan tangga. Nafas yang hampir putus kala kami mencapai daratan pulau ini bagai disambung kembali oleh keindahan yang terbentang. Hidangan ikan danau yang lezat mengembalikan energi, sebelum kami menuju alun-alun desa, tempat toko koperasi cendera mata.

Satu dua penduduk pulau lewat ke arah yang berlawanan dari kami. Walau tersenyum ramah, tampaknya orang-orang yang berbahasa Quechua dan Spanyol itu menjaga jarak. Mereka memakai pakaian tradisional yang menunjukkan status perkawinan: warna merah untuk pria yang sudah menikah dan putih untuk bujangan. Perempuannya mengenakan rok yang bertumpuk-tumpuk dan syal hitam menutup kepala mereka. Konon pakaian mereka itu merupakan pengaruh Semenanjung Siberia.

Menuju dermaga perahu, kami lewat di bawah dua lengkungan batu, lalu menuruni 533 tangga batu. Sebagian besar dari kami tampak enggan meninggalkan pulau ini, membayangkan betapa penuh keajaiban malam di pulau yang seperti begitu terpencil ini.

"Dayung" perahu motor membawa kami ke pulau terakhir dalam perjalanan ini, pulau Amantani. Di sini kami dibagi-bagikan pada perempuan-perempuan yang membawa anak-anak mereka. Mereka akan menjadi nyonya rumah kami semalam. Dua gadis Jepang temanku ditempatkan di keluarga yang sama. Mereka mengajakku bergabung. Tapi mana tega aku meninggalkan ibu muda yang akan menjadi nyonya rumahku dan yang memandangku denga khawatir karena mungkin akan kehilangan tambahan sedikit uang itu.

Perempuan itu punya tiga anak, yang terbesar lima tahun. Suaminya pergi ke Lima, menjadi tukang bangunan. Menerima turis di rumahnya, di kamar yang sengaja dibangun di atas dapur, membantu meringankan hidup yang sulit itu.

Sebagai tamu istimewa, aku mendapat kamar terbaik dari rumah itu. Ada sebuah tempat tidur kayu reyot, serta setumpuk selimut dari wol yang usah dan tidak terlalu bersih. Untunglah aku membawa kantung tidur yang melindungi dari dinginnya malam Titicaca yang menusuk tulang itu. Dari dalam kantung tidur itu, bisa kulihat langit lewat jendela yang tak berdaun, dan lamat-lamat terdengar suara seseorang mendendangkan sebuah lagu tradisional, membawaku mendayungi danau mimpi.

Ketika esok sorenya tiba saat kami pergi, nyonya rumahku mengantar sampai ke kapal. Putrinya yang seharian memperkenalkanku pada dunianya juga ingin ikut, tapi dia harus tinggal di rumah menjaga dua adiknya.

Kami berangkat pulang ke Puno. Seorang dari anak-anak muda tinggal untuk lebih lama menikmati pulau itu. Seandainya saja aku juga bisa.

Kapal motor kami bergerak meninggalkan tepian. Perempuan-perempuan para nyonya rumah kami melambaikan tangan. Juga anak-anak yang berjajar di tepian Antamani. Kami balas melambai, walau terasa berat meninggalkan pulau bersahaja itu.

Suatu hari, aku akan "berdayung" lagi ke sana.

5 comments:

Fitra Seto Irawan said...

Aduh kaya nya buku yang menarik banget,kalo beli di toko buku harga nya masih segitu ga ya? :-D,walau belum tentu nymape ke tempat2 spt itu, tapi rasanya dengan buku ini bakal membawa berkelana ke tempat2 eksotik yaa? PINJEM deh kalo gitu :-p

Anonymous said...

Pinjem juga dong? He he he...emang ga bermodal neh....TJ

uny said...

saat aku beli buku ini sih gak kepikir kalau bagus banget... apalagi harganya kan murah (Obral gitu..., Btw... buku yang menginspirasi deh.... kita jadi tahu tempat2 lain di dunia... apalagi buat aku yang gak pernah jalan2 keliling dunia he...he.. so, ada yang mau ngajak nih...???
ada yang punya alamat Email diah marsidi gak...

hartati said...

percaya deh, buku ini bagussss banget. aku beli tahun 2004, tapi nggak bosen2 dibaca berulang kali. two tumbs up!

Naked Traveler said...

Saya udah baca dan suka!