Wednesday, September 26, 2007

Great Question!

Jeddah Hajj International Airport at night


Great Question!
Paulus Bambang W.S. - Majalah Swa

John Sculley, kala itu masih memimpin Pepsi Co., hanya tersenyum simpul tatkala Stephen Jobs, ketika itu menakhodai Apple Inc., secara serius bertanya, "Maukah Anda bergabung dengan Apple?" Pertanyaan ini mudah dijawab dengan penolakan halus semacam "Berapa Anda berani bayar saya?" atau "Posisi apa yang Anda tawarkan kepada saya yang jauh melebihi apa yang saya duduki sekarang?"

Steve Jobs memang bukan recruiter by training, tapi ia memiliki insting head-hunter tulen. Ia tidak menjawab dengan gaya pedagang pasar pagi seperti "Berapa Anda mau minta?" atau serangkaian janji fantastis bak ilusionis dengan menyodorkan hamparan dolar di tataran mimpi dan visi yang belum tentu tercapai. Sebaliknya, ia melontarkan pertanyaan kedua yang tak pernah diduga oleh tokoh karismatis itu: "Do you want to sell sugar water for the rest of your life, or do you want to change the world?"

Kalimat itu seperti pedang yang membelah tubuh dan jiwa. Pepsi Challenge yang menjadi ikon Sculley untuk mendobrak dominasi Coca-Cola pada 1980-an ternyata jauh lebih mudah daripada Steve Jobs Challenge. Sculley tertusuk pada sebuah ruang yang paling ia kagumi, yakni pride.

Ketika pertanyaan tadi menusuk kepada "tantangan baru" yang tak terukur dengan uang, tapi suatu kedigdayaan baru, Sculley tak mudah menjawab ya atau tidak. Ia butuh waktu untuk merenung. Itu adalah a great question. Sebuah pertanyaan singkat yang mampu mengubah otak, hati, dan roh. Ketiganya sekaligus dibelah dan runtuhlah kedigdayaan materi.

Menjadi the company's youngest marketing vice-president hanya tiga tahun dari trainee dan pada usia 30 tahun sudah mencapai Pepsi's youngest-ever president, Scully akhirnya meneken kontrak kerja dengan Jobs. Hanya sebuah pertanyaan, dan itu yang membawa the best and the brightest man in the industry saat itu hengkang ke Apple tanpa tawaran paket keuangan yang sangat aduhai. "Change the world" mengubah paradigma jawara "sugar water".

Anda tentunya tidak mungkin mengingat banyak pertanyaan yang telah Anda jawab dalam hidup ini. Kalau mau jujur, berapa pertanyaan yang mengubah paradigma hidup Anda? Entah itu perubahan kecil atau besar seperti pekerjaan, karier, pindah perusahaan, dan bahkan nilai hidup. Ternyata, tidak banyak, bukan? Artinya, Anda tidak memiliki rekan yang mampu memberikan great question. Yang ada hanya ordinary sampai good question yang sekadar menyentuh rasio, otak, dan perasaan, tapi tak sampai mengubah hati dan roh anda. Itu berarti mudah dilupakan.

Saya teringat kejadian 20 tahun lalu, ketika saya mendapat tawaran memimpin bidang SDM. Atasan saya bertanya, "Kalau Anda mau jadi transformator kelompok perusahaan ini, Anda harus masuk untuk membenahi aspek manusianya. Bukan sistem dan komputerisasi seperti yang Anda kerjakan sekarang. Maukah Anda?" Pak Charlo, begitu kami memanggilnya, membelah seluruh jiwa dan raga saya bukan dengan iming-iming posisi, karier yang bahkan saat itu sering diklasifikasikan sebagai jabatan kelas dua dan mentok untuk jadi pemimpin perusahaan. Banyak yang beranggapan itu jabatan buangan.

Great question dari Pak Charlo saya jawab dengan great decision. "Pak, saya berani ambil tantangan itu. Saya mau jadi transformator yang akan dikenang bukan karena menghasilkan angka dan bilangan kinerja keuangan, tapi nilai yang tertera di hati sanubari karyawan," jawab saya yang saat itu sedang berkobar tanpa memikirkan "Apa kata dunia, mau jadi orang personalia?"

Pernyataan itu mengubah seluruh arah perjalanan karier saya saat ini. Dari bidang TI menjadi bidang SDM. Dua disiplin ilmu yang bak bumi dan langit. Yang satu berkutat dengan mesin yang kaku, tak mudah marah dan tersinggung, yang lainnya adalah manusia yang penuh dinamika dan tak mudah ditebak ke mana maunya. Itulah tantangan yang sebenarnya. Sebelas tahun akhirnya saya terbenam dalam bidang baru yang tak pernah menjadi cita-cita sebelumnya. Kesimpulannya hanya satu: ternyata, Pak Charlo benar.

Masih jelas di ingatan, tatkala saya juga berusaha merayu calon lulusan luar negeri dan sudah berkarier di luar negeri dalam bidang piston engineering. "Anda mau jadi ahli piston seumur hidup? Hasil tertinggi Anda adalah mobil dengan ayunan yang lebih empuk dan enak dikendarai. Produk Anda tidak akan mengubah si pengendara mobil." "Maksud Bapak?" tanya si calon serius. "Dari hasil tes dan wawancara ini, saya lihat Anda memiliki kemampuan yang jauh lebih baik di bidang manajemen dibandingkan di bidang engineering. Anda bukan hanya mampu membuat piston yang baik, tapi mampu membuat mobil atau industri mobil secara terintegrasi. Anda jauh lebih besar dari sekadar piston engineer," saya menerangkannya secara serius karena ia memang berpotensi.

Beberapa saat kemudian, saya mendapat jawaban positif. Wisry, begitu saya memanggilnya, berani melepas ilmu pistonnya dan bergabung dengan kami. Ia saya tugaskan mengepalai bidang perencanaan korporasi. Dalam perjalanan kariernya, ia bukan hanya mampu mendirikan perusahaan sekuritas, tapi juga mampu membidani perusahaan rental otomotif. Kini ia diminta memimpin lembaga keuangan mikro. Ia sedang belajar menjadi seorang Muhamad Yunus dengan Grameen Banknya.

Kalau begitu, alangkah idealnya kalau seorang pemimpin memiliki ketajaman melancarkan pertanyaan yang tidak sekadar ordinary ataupun good, tapi juga great. Ini bukan hanya memerlukan kepiawaian intelektual, tapi juga kedalaman emosional dan spiritual. Bukan banyaknya pertanyaan yang penting, melainkan kualitas pertanyaan yang mampu mengubah arah perusahaan, pekerjaan bahkan pribadi seseorang. Kalau sudah salah dalam bertanya, akan ada yang salah pula dalam menjawab.

Kalau pertanyaan yang salah itu dilakukan oleh pemimpin kelas satu, arah organisasinya bisa melenceng ke luar jalur. Tidak mengherankan, hanya karena satu pertanyaan yang salah, perusahaan bisa bangkrut. Mari belajar mengajukan a great question. Larry King dan Oprah adalah guru yang dapat kita pelajari. Mereka adalah Socrates modern yang mengubah dunia melalui great questions.

2 comments:

Harrie said...

Halo Pak apa khabar?
Kata orang, salah satu kunci sukses adalah berani berpikir Out of The Box .
Mungkin PR berikut ini bisa jadi salah satu cara untuk menemukan orang yang berpikir out of the box. Coba tengok di mari

Lili said...

Pak foto Aiport jeddahitu sepiiiii dan bersih jaliiii.... kalau pas musim Haji..waaa rame dan penuh banget...

apa kabar nih? puasanya semoga lancar yaa, ammiin