Sunday, December 09, 2007

Bayu Gawtama: Amanah Lelaki



Udah lama ga resensi buku ... sebenarnya tetap rutin baca buku, cuma belum punya waktu untuk nulisnya .... :) Alasan ... hehehe ... tapi kali ini, saya sempat menulis sedikit. Buku yang mau saya ulas ini karangan Bayu Gawtama. Judulnya Amanah Lelaki: Menjemput Keping Hikmah.

Buku terbitan GIP ini dikemas sederhana, meski tetap menarik. Yang membuat istimewa, adalah tulisannya sendiri. Sederhana, membuka, ramah. Bayu mengajak kita menelusuri perjalanan dan hikmah hidupnya. Serasa akrab, karena banyak hal yang dibahasnya kita temui sehari-hari. Namun juga membuat kita malu, karena begitu banyak hal yang ia buka, sesuatu yang kita terlewat dan terlupakan dalam kehidupan kita. Satu hal yang benar-benar membuat tertegun adalah ketulusan dan keterbukaannya, jika ia dapat berbuat begitu, mengapa kita tidak?

Rekomendasi saya? Belilah buku ini. Bahkan, hadiahkan kepada teman-teman dan orang tersayang anda ....

Jejak yang Tertinggal
Bayu Gawtama


Saat masih aktif di pecinta alam, saya senang meninggalkan jejak berupa tulisan, "Gaw pernah berdiri di sini," menancapkan bendera atau apapun untuk memberitahu kepada pendaki sesudah saya bahwa saya pernah singgah di tempat itu sebelumnya. Atau sekiranya saya kembali ke gunung itu, ingin sekali saya mencari jejak yang dulu saya tinggalkan, senanglah hati saya mengetahui tanda itu masih ada. Pun jika sudah hilang, saya bergegas membuat tanda atau jejak baru.

Tidak hanya di puncak atau perjalanan mendaki, bahkan dinding kereta, bis, dan kapal laut yang saya tumpangi pun saya sempatkan untuk sekedar mencoretkan nama saya, bahwa saya pernah menumpang angkutan itu.

Saya pun pernah menulis nama saya di dinding pesawat kalau saja tak sempat dipelototi seorang pramugari. Bukannya saya mempunyai kebiasaan coret-mencoret di sembarang tempat, niatnya cuma ingin meninggalkan bekas bahwa saya pernah hadir di tempat itu. Kadang, saya sering berangan-angan suatu saat, anak cucu saya pergi ke suatu tempat mendapatkan nama saya masih terukir jelas di atas batu atau dinding angkutan umum.

Beberapa tahun lalu, adik saya yang paling bungsu masuk SMA tempat saya dulu menghabiskan 3 tahun berputih abu-abu. "Tolong sekali-kali lihat ke dinding sebelah utara toilet pria ya, Dik?" Masih ada nama abang nggak di situ?" Pesan saya di hari pertama ia sekolah. Si cantik bungsu cuma nyengir, "Lihat saja sendiri." Memang tidaklah mungkin nama saya masih ada di dinding toilet, toh jarak antara saya lulus dengan adik saya masuk sekolah itu lumayan jauh, hampir 10 tahun. Entah sudah dicat ulang, atau ada mencoretnya dan menggantinya dengan namanya.

Anda juga pernah melakukannya bukan? Tapi sadarkah kita bahwa tanpa harus menuliskan nama, atau menandai suatu tempat dengan bendera, setiap kita memang telah dan sedang terus-menerus meninggalkan bekas di setiap waktu dan tempat yang kita lalui. Di manapun saya singgah, sesungguhnya saya akan meninggalkan bekas dengan kata, tingkah dan perbuatan kita. Yang semestinya saya lakukan adalah meyakinkan bahwa bekas dan jejak yang saya tinggalkan adalah bekas kebaikan, jejak kearifan. Bukan sebaliknya.

Saya ingat, dulu pernah berkata-kata keras di suatu kesempatan, tentu saya akan teramat malu untuk kembali ke tempat itu, karena bekas yang saya tinggalkan adalah keburukan. Saya juga pernah berbuat memalukan di satu tempat, saya pasti akan selalu menangis mengingatnya, dan bekas itu masih sangat jelas membayang di pelupuk mata ini. Seketika bibir ini pun tersenyum, hati berbunga mengingat prestasi yang pernah saya lukiskan di sekolah menengah pertama. Atau di mana pun saya pernah meninggalkan jejak kebaikan. Hanya sebagai pengingat bahwa di tempat itu saya bisa berbuat baik, semestinya di lain tempat dan waktu pun saya bisa melakukannya lebih baik, dan lebih banyak kebaikan.

Masalahnya, sadarkah kita bahwa setiap langkah kita, kapanpun dan di manapun senantiasa meninggalkan jejak dan bekas yang teramat jelas? Lalu, mengapa kita masih senang meninggalkan bekas yang kemudian orang akan mengenal dan mengenang kita bukan dari kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan?

Saya terus mengingat satu kejadian di kelas satu sekolah menengah pertama, ketika tak sengaja, saya mematahkan salah satu alat olahraga milik sekolah. Dua tahun yang lalu, ketika bertemu kembali dengan guru tersebut, "O ya, bapak ingat kamu, kamu yang dulu mematahkan tongkat lembing sekolah kan?" Oooh ...

3 comments:

ichnax said...

pak bayu saya juga sering membaca karyanya bila lagi surfing....

Diana said...

Alhamdulillah, ternyata tidak salah pilihanku saat membelikan & mempersembahkan buku ini utk suami tercinta (kedip2, hehe...). Banyak hikmah berserak di dalamnya ya utk dimaknai dan dibagi.

Anonymous said...

Harus ada diskusi lebih lanjut nih.... Trims bang sharenya. TJ.