Sunday, September 17, 2006

Paris: Cerita yang tertinggal

Gugur


Ada beberapa catatan yang tertinggal. Mau tak mau harus ditulis, kalau tidak takut terlupa ... :) Kalau lupa sayang juga … kan perlu untuk anak cucu hehehe ....

Hari terakhir saya menyusuri Paris, baru saya temukan keindahan kota ini. Hari seusai hujan, udara dingin tapi segar, angin yang bertiup sesekali, daun-daun yang berguguran, ranting-ranting pohon, dedaunan yang mulai berubah warna, patung-patung yang lenyap dari pandangan.

Café-café sepanjang jalan, orang yang duduk-duduk di café, bau kopi dan roti yang memenuhi udara, sosok-sosok yang berolahraga di taman, nenek-nenek yang menikmati udara pagi bersama anjing kesayangannya, aaah pagi itu indah sekali. Ini baru romantis namanya. Sayang pagi itu saya ngeluyur sendirian. Aneh dan ganjil rasanya … menikmati keindahan pagi itu sendirian.

Teman saya ada yang bertanya, bagaimana cewek-cewek Paris, cantik-cantik tidak? Hmmm ... yang saya lihat malah berbeda. Paris sudah menjadi multi-bangsa. Sulit saya melihat yang mana yang asli Perancis. Saudara-saudara dari Afrika, dari Iran, Mesir, Jerman, Inggris, Cina, Mesir, dan lain sebagainya bercampur-baur. Kalau mereka menggunakan bahasa masing-masing sih gampang membedakannya, ini semuanya pakai bahasa Perancis. Dan rasanya semua sudah membaur, tidak ada yang merasa lebih ‘tinggi’ dari yang lain. So, susah kalau disuruh nge-review karena pertanyaan pertama yang muncul di benak adalah, ini orang Perancis asli atau bukan? :)

Soal lebih ‘tinggi’ ini, sejauh ini yang saya rasakan orang Paris sangat beradab (civilized). Sopan, ramah, dan mau berbahasa Inggris. Memang sih selama ini interaksinya terbatas di hotel, café, dan petugas Metro/airport. Cuma mereka semua sopan dan cukup ramah. Memang beda dengan gaya Amerika yang meledak-ledak. Kalau Parisian cool with style .. :) Yang lucu adalah mereka rata-rata juga belajar berbahasa Inggris. Jadi kadang lucu karena kata-katanya terbalik-balik dan mereka sama paniknya dengan kita ... :)

Terakhir, dalam perjalanan ke airport, saya mencermati kuitansi dari hotel. Yang membuat terpana adalah tertulis di situ kalau saya berasal dari Iran! Mungkin dikirain adiknya Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Oh ya, BTW, rasa-rasanya cukup sering juga saya dilirik kaum wanita di Paris. Kenapa ya, biasanya di negeri lain nggak begini? Apa tampang Asia dengan janggut tipis adalah profil mode tahun ini di Paris? :-P

10 comments:

cakmin said...

Pak Zuki bikin cakmin iri saja nih, bukan soal ke Parisnya, tapi dilirik wanitanya itu lho. Gak kuku hehehe....

Lili said...

waa ternyata sedang di kota nan romatis..wow...paris..
semakin ke sini foto2nya semakin gape banget, bener deh..
waa oleh2nya dong

cikal61 said...

wah, memang romantis kedengarannya kalu di paris....
suatu saat saya juga harus kesana! biar bisa dilirik sama wanita2 juga hehehehehe

zindy said...

wah indah ya suasananya :) sering dilirik...saya tau kenapa. kan dikira sodaranya ahmadinejad ;)

la-fitra said...

Naaaaaahhhh yaaaaaaaa, mulai ada yang ngelirik....pantesan betaahhh, perasaan ga pernah ketauan deh sejak kapan si Abang ini jadi Ge-er an...hihihihih....

zuki said...

@la-fitra: ada-ada saja ... :) ini kan ceritanya jadi reporter ... kebetulan saja saya jadi obyek di situ ... :)

iFa said...

*baca kalimat terakhir postingan*
huahahahahha... ada2 aja abang ini.. wah, tapi asik banget ya bisa jalan2,,
btw, di sana dapet foto mercu suar nggak bang? hehehe :D

Yuvid said...

Bang,..tulisan terakhir itu lho yang ditunggu-tunggu, semua tentang Paris dan terkahir tentang Bang Zuki sendiri di kota Paris....ternyata kharisma Ahmad dinejad sangat terpancar kuat ketika berada di Paris.....(Ahmad dinejad lagi GR) hehehe.

Apey said...

waaaww..lama gak kesini yang punya ke Paris tho!?!? comment votre journey monsiuer ?? *ngaco* oleh-oleh Monalisa dari Louvre dong !!

Andri Wibowo said...

udah makan di resto-nya pak umar said?

serasa ketemu teman klo makan disana, maklum lidah saya gak bisa makan makanan eropa :D

salam kenal pak Zuki :)