Sunday, November 05, 2006

Silaturahmi alias kenalan baru ...

Potrait of Life: Herb consultant


Tanpa saya sangka, pak Paulus Bambang, penulis artikel Antara Kopi dan Cangkir menyapa saya via email, tidak lama seusai saya muat artikel beliau. Rada kaget juga, karena pemuatan artikel tanpa seijin beliau (meski tetap saya muat sumbernya, hehehe kebiasaan dunia open-source) ... alhamdulillah beliau senang-senang saja, malah saya dapat kiriman artikel satu lagi nih ...
Btw artikel ini mengingatkan akan tulisan lama Tie A Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree. Kira-kira setahun yang lalu lebih sedikit ...

So, salam kenal pak Bambang dari 'komunitas lamunan-sejenak'. Hebat bener, siapa aja di komunitas ini? Ya minimal ada saya sendiri .... :)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427H dan Mohon Maaf Lahir Batin bagi SEMUA
Paulus Bambang

"Mohon maaf lahir dan batin", sebuah kalimat yang sangat indah diucapkan pada hari raya Idul Fitri setiap tahun. Apalagi jawaban yang biasa diberikan adalah : "Sama sama, mohon maaf lahir batin juga yah". Mulai dari nol. Zero based starts. A new Chapter. A New Beginning.

Yang lama sudah berlalu, yang baru akan dimulai dengan hati yang bersih karena sudah memaafkan bukan hanya lahir namun mencakup aspek yang lebih mendalam yakni batin. Andaikan, semua kita memahami dan mengamalkan arti salam ini, dunia akan menjadi semakin indah. Memaafkan kesalahan, kekhilafan dan pelanggaran secara lahir dan batin artinya melupakan semua dan tidak ada bekas yang menempel yang bisa diungkap kembali.

Karena melupakan berati membuang jauh dan bukan menyimpan dalam lemari arsip di hati kita. Kalau ada di arsip, bagaikan buku di perpustakaan hati kita, suatu saat bila kesalahan terulang maka akan muncul luka lama diungkapkan kembali.

Kenapa ? Karena tidak dibuang, hanya disimpan walau dengan amat sangat rapi. Tidak heran ada ungkapan : "to forgive is to forget. Buang jauh sejauh barat dari timur. Cuci bersih dari warna merah kirmizi menjadi putih seperti salju’. Hasilnya tidak ada arsip kotor di hati yang bersih.

Pertanyaan kontemplatifnya adalah : "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku kan hanya seorang manusia dengan daging dan darah yang sering menuding dan penuh amarah?". Secara bersama banyak orang akan berkata "Amin", sulit dan suatu yang mustahil kita bisa memaafkan lahir dan batin.

Namun ada banyak orang pula yang dapat mengatakan: Sulit memang namun bukan berarti tidak mungkin. Ada harga yang harus dibayar. Dan harganya adalah pada diri kita sendiri bukan pada orang yang menyakiti kita.

Apakah kita mau tersiksa karena tidak memaafkan yang artinya menyimpan virus kotor dalam hati kita? Tidak memaafkan orang akan memperburuk hubungan kita dengan orang tersebut dan hubungan kita dengan Tuhan Sang Pencipta batin.

Karena virus kotor di batin akan mengganggu hubungan kita dengan Tuhan tatkala kita berdoa. Apalagi kalau kita mau minta ampun pada Ilahi, Dia akan tersenyum dan berkata ; "Jika engkau tidak mau mengampuni orang lain, kamupun tidak akan diampuni".

Artinya walaupun sulit, pengampunan sebagai bentuk maaf lahir dan batin diwajibkan hukumnya oleh Tuhan. Itu harus dan wajib dilakukan.

Setidaknya ada tiga perubahan yang dialami bila seorang sedang berproses diri masuk pada kesungguhan hati mau memaafkan secara lahir dan batin.

Pertama, change of action – perubahan dari segi lahir. Dari mata yang menghina, bibir yg mencibir, kata yang melecehkan, hubungan yang kering menjadi hubungan yang normal. Tidak serta merta menjadi sahabat, tapi menjadi hubungan manusia lain tanpa rasa sinis.

Mulai menegur dan memberikan salam tatkala bertemu di jalan, setidaknya tidak menunjukkan masih ada virus yang menempel di tubuh fisik jasmani kita yg bisa dilihat orang yg kita maafkan. Change of action yang pasif artinya kita tidak memulai lagi gerakan fisik yang berseberangan, sedangkan yang proaktif, justru mencari titik temu agar kita bisa bersama lagi.

Kita yang merasa dibohongi, disakiti dan diperlakukan tidak adil akan lebih mudah memperbaiki hubungan dengan yang merasa bersalah. Kalau kita proaktif, maka cairnya hubungan akan semakin cepat dan yang merasa dimaafkan akan semakin menghargai. Ini maaf dalam arti perubahan lahir yang bisa langsung dilihat, bukan dirasakan dengan hati, oleh orang lain.

Memang sering bisa terjadi sandiwara, kelihatan secara lahir baik, namun didalam masih banyak magma yg siap meletup kapan saja. Tapi secara naluri dan alamiah selalu dimulai dari kemampuan kita mengendalikan lahir kita walaupun secara batin belum dimaafkan. Kemampuan mengendalikan lahir, yang berarti action secara fisik, juga sebuah keberhasilan yang tidak mudah.

Kedua, masuk lebih dalam setelah change of action yakni change of mind, sebuah perubahan dalam pikiran yang meliputi perasaan, jiwa dan paradigma yang mendasari perubahan secara lahir tadi. Salam maaf yang didasari perubahan pikiran ini sudah menuntut operasi luka dalam pikiran.

Merubah tuntas pikiran negatif yang ada tentang si dia. Membuang label negatif, membuang luka batin, membuang sejarah masa lalu yang terbenam masuk dalam pikiran. Dalam artikel saya yang lalu ini membuang barang rongsongan di lemari pikiran kita agar tidak terjadi SPACE JAM.

Tanpa membuang pikiran negatif, pikiran kita tidak bisa diisi dengan pikiran positif tentang si dia tadi. Kalaupun si salah sudah menunjukkan pertobatannya, sulit menerima fakta itu selama bayang-bayang masa lalu masih tertata rapi di pikiran.

Passive change of mind berarti menunggu sampai si salah menunjukkan perubahan yang bisa dirasakan pikiran kita. Proactive change of mind berarti mencari justification dan upaya serius untuk mengerti kondisi si salah.

Merubah paradigma, bahwa si salah bukan bermaksud begitu mungkin hanya sekedar khilaf, bukan kesengajaan. Ini menuntut kemampuan kita berperang dengan our INSIDE. Sebuah peperangan di pikiran yang tidak kasat mata namun terus bergulir.

Kemampuan kita mengalahkan dan membuang pikiran negatif memerlukan sikap moral yang tinggi. No body’s perfect. Everyone can do wrong.

Ketiga, perubahan hati atau yang sering disebut ‘change of heart’. Memaafkan bukan hanya secara lahir dan pikiran namun sudah masuk ke arena batin, sebuah ruang lingkup spiritual.

Change of heart, bukan hanya memaafkan dalam arti merubah perilaku lahir kita menjadi tidak memusuhi, atau membuang pikiran negatif dalam arsip perasaan kita namun justru mempunyai sikap yang ingin membuat hubungan lebih dekat.

Sebuah upaya dari musuh menjadi sahabat. Dari bukan hanya melupakan tapi mengasihi agar dia dapat berbuat lebih baik. Dari yang jauh menjadi dekat. Ini bukan hanya menuntut sikap moral tapi sudah menuntut sikap spiritual yang tinggi.

Bukan hanya memaafkan, tapi mengampuni dan memintakan ampun dari Tuhan yang Maha Esa dengan doa yang tulus : "Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak mengerti apa yang telah ia perbuat. Dan buatlah aku mampu mengasihi dia seperti Engkau mengasihi dia. Jadikan aku saluran KasihMu".

Sampai taraf ini kita akan masuk ke area "KAIZEN, to do things EVEN IF". Artinya mengampuni dan tetap mengampuni walaupun dia nanti akan berbuat kesalahan lagi.

Sampai kapan ? Tujuh puluh kali tujuh yang artinya tidak ada batasan selama kita juga masih mau dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta.

Ketiga hal tersebut memerlukan change management pribadi yang unik. Memerlukan bukan hanya KNOWLEDGE (untuk pengetahuan) tapi juga KNEE (untuk doa). Kalau sudah sampai tahap change of heart, kita akan melihat keindahan dan kejernihan tatkala kita dengan tulus berucap "Maaf lahir dan batin (sambil bergumam dalam hati : Sudah ku maafkan kesalahanmu dalam lahir dan batin saya terlebih dahulu").

Kita sudah memulai sebelum yang lain meminta. Kalau sudah begini, segala bentuk kesombongan, arogansi akan runtuh. Sebuah rekonsiliasi batiniah dan spiritual, membangun manusia seutuhnya akan terwujud.

Selamat Lebaran, Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin

3 comments:

Anonymous said...

Pak Zuki sudah lama saya tidak berkunjung. mohon maaf karena kompi saya RIP. mumpung masih suasana lebaran, saya dan keluarga ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin

silverring said...

Maaf lahir & batin itu nggak gampang ya...

Sekalian pak, saya udah minta maaf belum ya?

Mohon maaf lahir & batin ya Pak...

Anonymous said...

Wah... serasa ditujukan buat saya. Jadi ingat satu lagu dari The Corrs,"Forgiven not Forgotten". Memaafkan kelihatannya mudah, tapi melupakan itu sulit, bahkan mungkin tidak bisa, karena pengalaman masa lalu sebetulnya bisa dijadikan cerminan untuk berbuat/melangkah ke masa depan. Tapi jadi merasa bahwa kata maaf saya mungkin belum tulus (untuk seseorang tertentu yang pernah menorehkan luka dalam). Harus memperbaharui maaf lagi nih. Saya contek ya, artikelnya. ;)