Monday, March 05, 2007

Belajar membuat foto (bagian 3) ...

Red, black, and green


Kita lanjutin ngalur-ngidulnya ... :) Seperti yang telah saya jelaskan pada bagian 2 (ceile ... resmi bener), ternyata belajar membuat foto bukan proses instan. Beli kamera DSLR, buka manual, tanya dikit-dikit, en jreng ... bisa langsung bikin foto yang bagus.

Setidaknya buat saya, belajar bikin foto ternyata suatu proses perjalanan yang panjang. Perjalanan yang bisa terasa sangat melelahkan, tapi bisa juga terasa sebaliknya. Kenapa bisa begitu?

Awal perjalanan saya dimulai dengan pelan-pelan memahami aspek teknis sang kamera. Seiring dengan itu, belajar pelan-pelan memahami teknik-teknik dasar komposisi. Lalu pelan-pelan mulai tergiur dengan 'ejekan' teman-teman tentang perlunya beli lensa baru, filter, baru, dst, dst. Lensa ini kehebatannya begini ... begini ... dengan filter ini nanti fotonya jadi begini ... begini .... berbagai racun yang diyakini bisa dengan sekejap menyulap kita menjadi fotografer unggul.

Ketika saya sudah benar-benar di ujung, siap - dengan hati meringis - merogoh kantong lagi untuk membeli berbagai peralatan baru, alhamdulillah seorang teman berkenan berbagi cerita tentang salah satu tuntunan fotografi yang kalau diringkas adalah:

1. Jauhkan darimu lensa-lensa mahal itu
2. Bergembiralah dan mensyukuri kamera bututmu
3. Jadikan kualitas sebagai motivasimu bukanlah kuantitas, karena kuantitas tidak akan membawamu kemana-mana
4. Berjanjilah tidak akan mengaktifkan burst shot.
5. Selalu merenungkan dan visualiasi sebelum menjepret
6. See the light, and feel the light

Alhamdulillah, saya bersyukur dengan pencerahan ini karena tadinya udah sangat amat luar biasa meringis karena membayangkan harus membeli berbagai lensa yang harganya rata-rata di luar kewajaran hehehe ....

Kembali ke laptop .. eh kembali ke kamera dan lensa yang saya miliki, saya coba terus secara rutin mengambil foto, menayangkannya untuk mendapat kritik/komentar, dan terus kembali lagi mengambil foto. Ternyata perlahan-lahan saya menemukan apa yang mungkin dicari seorang fotografer.

Di balik keindahan alam, saya 'menemukan' harmonisasi pagi, indahnya sinar matahari, garis-garis dan pola suatu pemandangan. Dalam 'menangkap' sosok manusia, keceriaan, ketekunan, kesedihan, pengharapan, ternyata tergambar di raut wajah maupun bahasa tubuhnya. Bangunan yang berdiri, jalan yang membentang, jalan tol yang membelah, seakan bernyanyi dengan irama yang selaras dan indah .... yang semua ini berakhir pada kekaguman yang tak terhingga pada Sang Pencipta.

Kegiatan memfoto pun perlahan-lahan menjadi suatu pengalaman spiritual. Kalau dulu gampang sekali bawa kamera, lantas jepret-jepret, kini terasa sangat susah. Mental harus disiapkan terlebih dahulu. Dimulai dengan mengemasi peralatan kamera, mengecek batere, membersihkan lensa, filter, memeriksa isi tas. Hati pun mulai melayang membayangkan obyek atau lokasi yang mau difoto. Visualisasi ... visualisasi ...

Setiba di lokasi, konsentrasi dan hati pun benar-benar terpusat. Keramaian sekitar, orang-orang yang hilir mudik, perut yang lapar, udara panas ... semua hilang, lenyap. Yang muncul adalah kesibukan memilih parameter di kamera, mencari sudut yang pas, membayangkan hasil foto, mengintip dari viewfinder, menjepret, meneliti hasilnya, mencari sudut yang pas, melihat arah matahari, membayangkan hasil foto, intip, jepret, lihat hasil, cari sudut lagi ... visualisasi, jepret, cari sudut lagi .... konsentrasi penuh, tenggelam dalam suasana ...

Sampai pada satu titik ketika jiwa merasa puas sekaligus lelah ... barulah jiwa dan raga perlahan kembali ke dunia nyata. Kesibukan sekitar pun perlahan-lahan kembali muncul. Baru terasa keringat yang mengucur, matahari yang telah tinggi, perut yang lapar dan dahaga ...

Bersambung ...

4 comments:

danu doank said...

kata tk foto langganan saya, kamera2 sekarang bikin bodoh aja, krn semua udah otomatis. slr yg digital juga otomatis semuanya. kalo belajar hrs yg manual katanya. pasti emang ada kepuasan tersendiri kalo pake yg manual ya bang.

Anonymous said...

Iya, kadang mendapatkan hasil maksimal dari alat yang sederhana akan lebih terasa kepuasannya daripada mendapat hasil bagus tapi dengan alat yang modern

Anonymous said...

Waduh saya ndak bisa motret, tapi kalo mas butuh model untuk iklan kosmetik before and after, saya bisa dipake buat bagian before nya he..he..

Anonymous said...

tapi fotonya bagus-bagus banget tuh!