Thursday, June 22, 2006

Berada di Sini, Saat Ini


Berada di Sini, Saat Ini
Arvan Pradiansyah - Majalah Swa

Dua astronot mendapatkan tugas melakukan penelitian di bulan. Ketika kembali ke bumi, salah seorang di antaranya menceritakan bagaimana ia harus menekan naluri seninya ketika sampai di sana.

Ia ingat ketika ia melihat kembali ke bumi dan tertegun oleh pemandangan itu. Beberapa saat ia berdiri terpaku dan berpikir, “Bukan main, sungguh indah!”

Namun, kawannya segera menyadarkannya dan berkata, “Jangan buang-buang waktu. Mari segera mengumpulkan batu!”

Cerita tadi sebenarnya menggambarkan apa yang kita alami sebagai manusia modern. Kita harus berpikir cepat dan bergerak cepat, bahkan kadang kita bergerak tanpa banyak berpikir. Moto kita adalah “lebih cepat, lebih murah, lebih baik”. Karena itu, berpikir, belajar, merenung, berkontemplasi dan rekreasi sering dianggap sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu dan tidak produktif.

Hal ini akan menjadi berlipat ganda bagi para pengusaha, mereka yang terlibat dalam bisnis inti serta mereka yang menangani penjualan. Bisnis memang sering membuat kita berorientasi pada kegiatan. Kita berusaha sedapat mungkin supaya jangan ada sedikit pun waktu terbuang tanpa melakukan kegiatan. Kita terus berjalan, bergerak, mencari peluang, menembus pasar, mengalahkan pesaing dengan kecepatan yang bertambah dari hari ke hari.

Apakah semua itu memberikan hasil yang kita inginkan? Secara jangka pendek, mungkin ya. Namun, secara jangka panjang, Anda harus membayar harganya sangat mahal. Beberapa di antara Anda barangkali akan membantah keras pernyataan saya ini. Namun tunggu dulu, saya jelaskan apa yang saya maksud.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah berkurangnya kemampuan kreativitas dan inovasi. Ini risiko yang terkait langsung dengan kegiatan bisnis itu sendiri. Kegiatan bisnis yang bertubi-tubi telah menyandera pemikiran kita. Kita jadi lupa meluangkan waktu sejenak untuk berpikir dan merefleksikan tindakan kita. Kita akhirnya hanya menjadi robot dari target-target kita. Kita hanya melakukan business as usual. Benar, kita menjadi sangat tangguh, disiplin dan memiliki motivasi yang tinggi. Akan tetapi, lama- kelamaan produk kita menjadi aus dan ketinggalan zaman. Makin cepat tidaklah akan menjadi makin baik kalau kita bergerak ke arah yang salah. Bisnis sering hanya memikirkan jam dan lupa memikirkan kompas.

Harga kedua yang harus Anda bayar adalah berkurangnya kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup Anda. Padahal, apa yang Anda cari di dunia ini: pekerjaan ataukah kebahagiaan? Di sini juga ada rumus menarik. Sementara bisnis identik dengan kecepatan, kebahagiaan justru identik dengan kelambatan. Jangan salah, yang dimaksud bukanlah kelambatan yang berarti lamban, lelet atau telmi. Kelambatan di sini adalah sikap hidup yang mantap, penuh dan tidak tergesa-gesa. Kelambatan adalah sesuatu yang sangat bermakna spiritual dan berkaitan dengan kebahagiaan hidup.

Agar bisa berbahagia, yang harus kita lakukan sebenarnya bukanlah berjalan lebih cepat, tapi justru berjalan lebih lambat. Di kantor-kantor yang sangat sibuk sekarang sudah ada kebiasaan melakukan lunch meeting, yaitu makan siang sambil rapat. Pertanyaannya, dapatkah mereka menikmati makan siang? Boleh saja Anda mengatakan bahwa yang penting perut Anda sudah terisi, tapi sebetulnya Anda kehilangan kenikmatannya. Yang Anda lakukan bukanlah menikmati makan siang, melainkan hanya menelan makanan.

Ritme hidup yang selalu tergesa-gesa ini juga menghalangi Anda menikmati hubungan yang berkualitas dengan rekan kerja. Hubungan yang berkualitas tidaklah dibangun dengan kecepatan, tetapi dengan kelambatan. Anda harus membangun kepercayaan secara perlahan, bersabar untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan, dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran Anda secara perlahan. Hubungan yang berkualitas adalah hubungan yang didasari kesabaran. Dan kesabaran identik dengan kelambatan, bukan kecepatan.

Inilah cara hidup yang berkualitas. Inilah hidup dengan penuh kesabaran. Yang terpenting, kesabaran bukanlah berarti mengurut dada seperti yang selama ini sering dikatakan orang. Kesabaran adalah rahasia terpenting menikmati hidup yang berkualitas. Hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang menikmati detik demi detik. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang mengalir perlahan, bukannya hidup yang senantiasa dilanda ketergesa-gesaan. Inilah hidup yang dijalankan dengan sabar. Sabar adalah kenikmatan luar biasa. Sabar bahkan merupakan kunci utama memasuki spiritualitas. Kita memang perlu memberikan makna baru pada kata “sabar”. Inilah yang sedang saya tulis dalam buku The 7 Laws of Happiness yang segera terbit. Dalam buku tersebut, saya menuliskan 8 makna baru kesabaran.

Untuk dapat menikmati hidup, Anda harus hidup di masa kini. Anda harus menjadi human being, Anda harus merasakan kekinian. Mengapa? Hanya masa kinilah yang nyata, yang sungguh-sungguh ada. Bagaimana dengan masa depan? Saya akan mengatakannya dengan sungguh-sungguh kepada Anda bahwa masa depan itu tidaklah nyata. Masa depan hanyalah ada dalam pikiran kita. Hal ini juga sama dengan masa lalu. Masa lalu juga tidak nyata.

Dari sini kita dapat membedakan tiga jenis manusia. Pertama, orang yang hidup di masa lalu. Orang ini tak akan pernah maju karena telah mengikat pikirannya dengan hal-hal yang telah usang. Kebalikan dari tipe ini adalah pebisnis dan profesional yang selalu tergesa-gesa dalam hidupnya. Mereka memang terus maju, tapi persoalannya, mereka tak pernah berada di masa kini. Mereka senantiasa hidup di masa depan yang juga tidak nyata. Kedua tipe ini tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Kita hanya akan menikmati kebahagiaan kalau kita mengikat pikiran kita dengan masa kini dan menikmati segala yang mengalir dengan penuh keindahan.

4 comments:

ranids said...

"Kelambatan di sini adalah sikap hidup yang mantap, penuh dan tidak tergesa-gesa...." waah dalem banget tuch... hmmm jadi menikmati tiupan angin, menatap daun yang gugur, melihat pada pedagang menata barangnya, menyapa pak satpam, tersenyum pada kawan yg berpapasan... kan? :)

alhamdulillah kabarku baek, bang zuki gimana?? :)

Diah Utami said...

"Bisnis sering hanya memikirkan jam dan lupa memikirkan kompas."
Ini juga quote cantik. Boleh dicontek ya? ;)

Lili said...

jadi, mau seperti apakah kita? Free your mind...but still in Islam path, aamiin

Pak itu photonya bagus banget deh

Vaye said...

hmm dinikmati ya pak? saya 'teh' suka takut keenakan trus jadi lupa bergerak ke depan. mungkin blum cukup 'dewasa' untuk menikmatinya tanpa kemudian menjadi lalai :)