Monday, August 01, 2005

Ratih Sanggarwati; Sahabat Terbaik

Saya tergelitik membaca artikel ini di koran Republika, 31 Juli 2005 ini. Sungguh bisa jadi pencerahan dalam kita memandang hidup kita ...

Lurah New York
Julukan itulah yang melekat pada seorang Ratih Sanggarwati lantaran kerap bolak balik Jakarta - New York. Siapa sangka kemewahan itulah yang dilakoni Ratih setelah dunia model membuka lebar-lebar pintunya. Dunia yang berawal dari ajang pemilihan putri-putrian. Dunia yang akhirnya membawa seorang anak dari sebuah desa di Ngawi, Jawa Timur, merambah berbagai belahan dunia.

Semua bermula ketika ia masuk SMU di Madiun. Iseng-iseng, Ratih mengikuti Lomba Pemilihan Putri Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah Gadis, satu-satunya majalah remaja masa itu.

Sebenarnya, lomba-lomba seperti itu tidak baru baginya. Ratih mengaku sering juga ikut fashion show atau lomba sanggul di kampungnya, tapi predikat juara tak pernah diraihnya.
Ternyata, Gadis membuat perjalanan nasibnya berubah. Ratih menjadi salah seorang dari 20 finalis ajang itu. Bahkan, "Ketika itu aku terpilih sebagai Puteri Photogenic Lux 1980," kenangnya.
Akhirnya, "Prestasi ini membawaku terbang ke Jakarta," katanya.
Pada 1986, Ratih mematri karirnya di dunia model. Langkahnya makin mantap.
Namanya makin kondang.

Berbalik 180 derajat
Lebih 10 tahun Ratih menikmati kemilau dunia mode. Hingga akhirnya ia akhirnya memilih banting kemudi. Penampilannya berubah sama sekali. Sebuah perubahan yang berawal dari majelis taklim.

Pada 2000, Ratih memutuskan mulai membalut tubuhnya dengan busana muslimah. Setelah mengikuti majelis taklim agak lama, ia kemudian sadar, "Saya memang harus punya pertemuan dengan Allah. Pertemuan yang Akbar adalah kematian. Pertemuan-pertemuan kecil ketika kita beramal, amalan ibadah, shalat. dalam berpuasa pun kita sedang ingin menemui Allah. Karena ketika berpuasa, kita merasa orang yang lapar. Dan biasanya orang yang lapar adalah kekasih Allah."
Perubahan berbusana dalam keseharian diakuinya sebagai keputusan yang berat. Ada pergulatan batin di situ. "Apakah saya harus terus pada dunia saya, dunia glamor, dunia yang hanya melihat fisik orang, dunia yang hanya tahu merek-merek saja. Meninggalkan itu tidak mudah. Itu juga ada pergulatan."
Tapi, setelah pergulatan itu berhasil ia lalui, banyak kalangan menyebutnya telah memenangi perjuangan. Termasuk juga untuk urusan rezeki. "Saya pernah baca puisi 6 menit, honornya 3 kali lipat dari honor sebagai model. Itu tanpa diminta. Ini rezeki dari Allah."

"Gue nggak suka lu"
Keinginan kuat untuk berbagi berujung pada peluncuran buku yang tak jauh dari dunianya sebagai model. Namun, keinginan itu beriringan pula dengan cibiran.

Ibu dari 3 anak ini telah meluncurkan sejumlah buku, di antaranya, "Kiat Jadi Model Profesional' dan 'Kerudung Cantik'. Terakhir ia menerbitkan 'Kerudungmu Tak Sekedar Cantik'.
Sayangnya, "Gue nggak suka lu kayak gitu. Lu nggak usah gitu-gitu amat deh", kata sarjana ekonomi lulusan Univ Jayabaya ini menirukan ucapakan banyak rekannya, terutama yang lebih senior.

"Tolong jauhkan ..."
"Saya berfikir, kalaupun tantangan berat saya tidak punya teman, saya masih punya teman sejati, Allah SWT."

Setelah merenung, melewati beberapa pengalaman, Ratih merasa punya sahabatpun tidak menjamin bakal terlepas dari persoalan. "Ketika kita punya persoalan, sahabat kita tidak sepenuhnya membantu. Dalam artian, dia mendengarkan, tapi belum tentu memberikan solusi yang baik. Kemudian sangat saya sadari bahwa sahabat yang terbaik itu Allah."
Ia pun berdoa, "Ya Allah, tolong jauhkan orang-orang yang menjauhkanku dariMu."
Maka ketika itu benar-benar terjadi, "Saya pikir ini ada campur tangan Allah di dalamnya. Bahwa saya tidak didekatkan lagi dengan orang-orang yang membuat iman saya tiba-tiba turun, tidak lagi didekatkan dengan orang-orang yang membuat saya menjadi tidak percaya diri dengan kepercayaan kepada Allah."

Dari buku-bukunya, Ratih juga tidak banyak berharap, "Barangkali kalau ada setitik kebenaran di dalamnya karena Allah, semoga bisa dibuat cermin. Kalau ada kejelekan-kejelekan dalam hidup saya, mudah-mudahan tidak terjadi pada orang yang membacanya."

"Itu saja."

3 comments:

Dini said...

Emmm, dikala saya lagi "pusing" nyari sahabat, posting ini mengingatkan saya pada SAHABAT sejati. Memang bener ya, aku dekat ENGKAU dekat, aku jauh ENGKAU pun jauh... Thx postingannya ya! :)

lullu said...

lg search berita ttg mbak Ratih (saya amat mengaguminya)..ga sengaja nemu posting ini. but of course aku jd ingat lagi bahwa DIA sahabat terbaik

arif rahmawan said...

artikel yang indah....